Dear @Pandji, Apakah Gua Wongsoyudan?

Sebenarnya gua ini nasionalis, dengan cara gua. Pandji, jelas, dengan cara dia. Cara-cara kami memiliki pendukung, dan yang jelas pendukung dia – di jagad hiburan dan publisitas – jauh di atas gua. Dua kali tour stand-up comedy dunia, tiga kali tour stand-up comedy nasional dan empat kali stand-up comedy special. Sulit untuk menyangkal bahwa  Pandji adalah stand-up comedian tersukses saat ini. Kesuksesan stand-up comedian bukan dinilai dari berapa film yang dia bintangi tentunya, karena itu berarti yang bersangkutan lebih tepat disebut aktor sukses. Untuk ini, jelas Reza Rahadian lebih pantas menyandangnya.

Di atas adalah pencapaian Pandji dari sisi even stand-up comedy yang dia selenggarakan. Dari sisi materi, materi-materi beliau juga tidak begitu aman, menyulut pro dan kontra, tidak TV friendly, tapi tetap dia punya tempat khusus di dunia hiburan. Menjadi wakil golongan tertentu yang sekarang menamakan diri sebagai Wongsoyudan. Golongan ini sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum tokoh lain memiliki pengikut ideologi. Ya, memakai akhiran -an untuk sebuah golongan adalah pernyataan diri bahwa mereka adalah pengikut ideologis. Sama seperti -ist. Christian, Marxist, Leninist, Maoist, Seokarnoist, Gusdurian, Hegellian dan sekarang, Wongsoyudan. Walau belakangan berkembang golongan yang memakai akhiran -er, Ahoker. #tetep #KembaliKeLaptop

Gua rasa – bahkan gua pun tidak masuk – tidak ada stand-up comedian yang punya fanbase dengan nama seperti ini. Tidak ada kami yang memiliki pengikut ideologis. Ini sebuah sanjungan sekaligus keirian gua sama Pandji. (Buat nggak habis ini, katrok ini #kode)

Tapi Pandji, layak mendapatkan yang dia dapatkan, termasuk malam itu. 3500 orang memenuhi The Kasablanka Hall dengan harga tiket yang tidak murah.  Apa yang dia capai hari itu, adalah sebuah perjuangan, jatuh bangun. Sebelum gua ikut-ikutan masuk dunia TV (atau terseret lebih tepatnya), dia sudah dulu gua tonton di acara Kena Deh dan Hole in The Wall. Lalu tiba-tiba mem-brand diri sebagai tokoh nasionalis yang mewakili kaum muda. Sebuah brand baru yang nggak nyambung dengan acara-acara yang dia bawakan sebelumnya. Tentu menuai reaksi negatif, termasuk gua, walau gua tidak sampaikan ke publik karena saat itu gua juga hanya seoarang warga yang terlalu sering membaca berita di tengah waktu luang bekerja. Sepertinya Pandji saat itu oportunis, sebenarnya, brand seperti ini justru menjauhkan beberapa sponsor lho, jadi bisa dibilang justru take a risk.

Tapi anggapan gua soal oportunis itu sirna, setelah mengenal beliau. Gua ingat waktu pertama kali bertatap muka dengan Pandji, dia langsung menyapa gua, karena sebelumnya dia sudah nonton gua di youtube. “Materi lo keren…” Gua belum cukup dikenal seperti sekarang, jadi jaga attitude, padahal dalam hati gua mau bilang “Gak usah lo bilang juga gua udah tahu…” Tapi itulah gambaran seorang Pandji dengan semua determinasinya, dia juga menjaga cara-cara dia berkomunikasi. Walau kadang emang nyebelin dan gak perlu. Seperti pernah cukup lama ngetwit dengan ejaan lama: oe, jang, dll. #lebay

Menurut gua Juru Bicara bukan special terbaik Pandji dalam hal materi, favorit gua masih Merdeka dalam Bercanda. Tapi konsistensi Pandji terlihat dari empat special, dia ke luar dari zona nyaman, mengambil resiko, untuk karirnya di dunia hiburan, untuk brand yang memberikan sponsor. Benar saja, setelah menutup show, dia sedikit curhat bahwa ada sebuah brand yang menghentikan sponsor di tengah-tengah tur yang sedang berjalan. Pandji tidak “playing victim” untuk ini, dia tetap tuntaskan tur sampai akhir dan baru cerita. Gak sedih-sedihan kemudian kumpulin #coinforPandji. Itu membuat gua hampir nangis, ternyata Pandji lebih dari ekspetasi gua.

Hubungan gua dengan Pandji, memang agak aneh kalau dicermati, tapi gua cukup sering japri dia memberikan pendapat-pendapat sotoy gua. Mirip mungkin dengan Kartosuwiryo yang di tengah-tengah gerilyanya terus memantau Soekarno dan mengirimkan surat. Contohnya ketika Indonesia keluar dari PBB, Kartosurwiryo mengirimkan surat apresiasi tindakan Bung Karno saat itu. Ajakan Pandji untuk kolaborasi di Youtube gua juga lebih banyak menguntungkan gua dibanding penjualan tiket dia.

Materi Pandji tidak akan melenakan penonton 100%, walau kami komedian bertanggung jawab membuat penonton tertawa, tapi concern harus tetap sampai. Dalam hal ini gua begitu gembira, bahwa malam itu di Juru Bicara, Pandji banyak mengingatkan penonton bahwa Indonesia adalah “negara dunia ke-3”. Bukan dengan kata-kata itu persisnya, tapi dari pemilihan topik mulai soal ekonomi, karya, warisan budaya sampai ke konservasi hewan liar. Topik yang sulit membuat orang tertawa, tapi tak sulit ternyata malam itu bagi Pandji membuat kami yang menonton tertawa. Gua gak bisa ceritakan semua, karena akan terlalu panjang dan akan jadi spoiler dari digital download/DVD yang nanti akan dia pasarkan.

Gua adalah alumnus opener Pandji juga, gua cukup dapat publisitas sehabis jadi opener di #BhinekaTunggalTawa (ya karena memang pecah juga sih), special show pertama dia. Kalau bisa dibilang, gua adalah opener pertama dia dari semua special, karena malam itu memang gua jadi penampil pertama. Sama, di Juru Bicara, Jakarta pun, begitu fresh gua melihat penampilan Coki dan Indra Jegel. Gua yakin mereka dapat suntikan publisitas malam itu. Jadi satu lagi poin, kenapa dulu gua juga ngotot bikin special, karena opener-opener kami juga memiliki peluang karenanya. Jadi ya, masak mau disuapin terus.

Apakah gua Wongsoyudan? Gak perlu beli topi “MIKIR” untuk menyatakan hal itu. Lagi pula gua udah beli yang lebih mahal, sofa bekas dia.

Gua termasuk yang konsisten berkarya dan gua aminkan perkataan dia malam itu:

“Semoga semua orang yang berkarya bisa memiliki hubungan seperti hubungan gua dengan elo semua (red. Wongsoyudan).”

Dari Notaslimboy – Salut buat elo my comrade

Blogcast Episode 3: Bincang Santai Ilmuwan vs Pelawak tentang Lingkungan

LINGKUNGAN

Sepertinya agung sekali ya memikirkan nasib bangsa ini, ah sebenarnya tidak juga. Terutama soal lingkungan. Kita sedikit maju ketika melangkah dari mewariskan harta dan kemudian condong mewariskan ilmu. Tapi dipikir-pikir, tanpa lingkungan semua percuma. Sumber daya alam habis, lingkungan rusak, harta jelas tidak berarti dan ilmu pun akhirnya hanya dipakai untuk bertahan dari bencana, tidaklah nikmat, setiap hari memikirkan bagaimana untuk survive.

Kali ini saya berbincang dengan seorang ilmuwan, peneliti, aktivis yang juga peduli lingkungan. Beliau mengaku bahwa keberadaan seniman – pelawak – perlu untuk menjelaskan rangkaian pengetahuan yang terlalu mendetil dan njlimet. Di sisi lain saya pun tergugah mengetahui jauh lebih dalam soal lingkungan.

Beliau sedang berada di Tokyo, namun teknologi menyambungkan kami. Lewat Skype – bukan sponsor – kami berbincang tentang lingkungan dan sedikit ngalor-ngidul. Karena bukan saya kalau tanpa ngalor-ngidul. Yang jelas kami berdua menjalankan aktivitas pagi ke sore dengan menjalankan kewajiban kami masing-masing, sebagai profesional di bidang kami masing-masing, mencari nafkah, tapi malamnya sungguh sebuah keberuntungan kami bisa berdiskusi dan saling memperkaya gagasan.

Seperti kata seseorang – yang tak perlu saya kutip karena nanti saya dituduh yang bukan-bukan. Pagi berburu, siang memancing lalu malamnya jangan lupa, berfilsafat. Silakan di-googling kalau memang dapat.

Mari, kita hubungi Pak Marco Kusumawijaya di Tokyo, Jepang.

BlogCast Episode 2: Reklamasi Teluk Jakarta

Nelayan adalah profesi, sama seperti saya, seorang profesional IT, seorang pelawak juga. Laut dan pantai adalah tempat kerja mereka, seperti saya di depan komputer atau di panggung. Lalu mereka sedang mencari nafkah, tahu-tahu dibilang bahwa di teluk Jakarta tidak ada ikan, jadi tolong pergi, karena ada kepentingan yang lebih besar maka mereka harus pergi. Kepentingan pembangunan, rencana Indonesia bersaing secara global dan lain-lain. Mereka harus pergi, harus nurut, nanti dikasih tempat baru.

Seolah dengan kasih tempat baru semua beres, kalau tidak nurut berarti pembangkang. Kalau tidak nurut berarti tidak nurut sama pemerintah yang saat ini sedang bekerja untuk rakyat. Pemerintah yang mau “mengorbankan” sedikit orang kalau tujuannya untuk banyak orang. Tapi belum jelas, banyak orang ini siapa?

Kenapa pemerintah sepertinya tutup mata? Ada masalah lingkungan, ada masalah sentralistik pembangunan yang ternyata masih terus di Jakarta sehingga urbanisasi tidak henti-hentinya. Lalu sebagian kita membela, seolah aktivis-aktivis dan rakyat itu diperalat. Nelayan pendatang jadi alasan? Katanya yang protes itu hanya nelayan pendatang. Sudah tempat mereka bekerja diinvasi, lalu dituduh pula begitu. Kan masih wilayah NKRI, kok disebut pendatang. KTP kita masih laku dari Sabang sampai Merauke, kita boleh mencari nafkah di situ, boleh mengambil ikan di situ.

Di teluk Jakarta katanya sudah tidak ada ikan? Nelayan pun tertawa getir. Lalu yang mereka tangkap selama ini dan dijual di Muara Angke, di Muara Karang apa?

Mereka itu profesional, karena saya beberapa kali memancing di kolam pemancingan, tapi tidak pernah kail saya disambut oleh ikan, seumur hidup saya. Tapi, mereka, walau kondisi kapal-kapal sudah mulai melakukan pekerjaan reklamasi yang membuat ikan-ikan itu takut, masih saja dapat, walaupun jauh berkurang. Seperti pelawak saja, walau sedikit yang nonton, tetap saja bisa bikin ketawa. Itulah seorang profesional.

Kalau banyak penolakan, dari aktivis, dari warga, kenapa selalu tuduh ini-itu dulu. Ini kan masalah antara warga, bukan hanya nelayan, dengan pengembang. Kenapa pemerintah sepertinya pasang badan, jadi seolah warga lawan pemerintah. Kalau memang warga yang salah, ya biarkan mereka membela hak mereka dan pemerintah menjadi penengah, bukankah itu fungsi pemerintah? Bukankah secara politik suara kita sama. One man one vote dalam pemilu. Negara kita bukan perusahaan, dimana ada kepemilikan saham sehingga yang sahamnya lebih besar akan menentukan arah kebijakan perusahaan. Atau jangan-jangan negara kita perusahaan?

Media sedikit sekali mengangkat isu ini ke atas, terutama suara-suara yang menolak reklamasi. Suara yang menolak reklamasi perlu diberi panggung. Panggung media itu kan milik bersama, bahkan kalaupun para pendukung gerakan anti reklamasi ini salah, suaranya wajib didengar. Apalagi sekarang, belum tentu mana yang salah. Biarkan semua didengar oleh khalayak banyak dan biar khalayak yang menentukan.

Yang jelas, teluk Jakarta adalah daerah sipil, tapi ada militer di sana. Entah lagi apa. Yang jelas sebagai seorang yang beragama Kristen, saya juga teringat dengan murid-murid Yesus yang pertama, mereka adalah nelayan – atau jangan-jangan di versi yang mereka baca murid-murid Yesus adalah para pengembang.

Silakan bilang saya hanya bikin repot dan ribet. Ngurusin yang nggak jelas. Itu adalah hak, tapi melarang hak orang bukanlah hak.

Saya akan mewawancara seorang yang terlibat dalam aksi-aksi di lapangan dan juga mengerti tentang hal ini…

Tapi izinkan saya tutup dengan sebuah kalimat.

“Kenapa kita diam? karena, Semua baik-baik saja, sampai kita yang jadi korbannya..”

Notaslimboy

BlogCast Episode 1: Ini Ibu Budi

 

Baru-baru ini seorang yang penting dalam hidup banyak orang, setidaknya di angkatan saya dan kemungkinan beberapa dekade sebelum dan sesudah saya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Orang ini sangat penting, tapi mungkin jarang, atau hampir tidak ada yang tahu atau ngeh namanya. Beliau adalah: Siti Rahmani Rauf, banyak kita tidak tahu tapi membaca karyanya. Beliau adalah pengarang buku pelajaran Bahasa Indonesia yang banyak mengantarkan anak-anak Indonesia beberapa dekade untuk bisa membaca.

Ini Budi.

Ini Ibu Budi.

Wati kakak Budi.

Iwan adik Budi.

Semua – dalam hal ini murid-murid di angkatan yang dimaksud, dan mulai saat ini bila saya bilang semua artinya adalah ini – kita hapal tokoh-tokoh yang sebenarnya fiktif ini – atau jangan-jangan tidak fiktif, saya mulai ragu. Memang buku yang ditulis beliau adalah buku pelajaran membaca, tapi tokoh-tokoh dalam semua cerita pengantar seolah hidup dalam semua murid saat itu.

Entah dari mana sang Ibu mendapatkan nama ini, apa harus cari wangsit dulu, atau asal comot nama tetangga, yang jelas Budi, Wati dan Iwan adalah salah satu trio kakak beradik paling terkenal saat itu.

Entah ini sesuatu yang harus saya banggakan atau tidak. Suatu hari di komplek saya tinggal, di saat liburan sekolah, anak-anak sebaya saya bikin sebuah acara cerdas cermat antar gang di komplek kami. Saat itu saya bukan anak paling tua di gerombolan kami bermain. Sudah aturan main, sampai hari ini mungkin, belum bisa menjadi pemimpin, tidak bisa ikutan jadi tim pembuat soal atau juri. Kalau nggak salah saya kelas 4 SD saat itu. Jadi pembuat soal, juri dan pembawa acara adalah anak-anak yang kelas 6 SD. Catatan, kami teman komplek, jadi nggak satu sekolah.

Lalu target peserta juga kelas 1 dan kelas 2 SD, mungkin karena anak-anak kelas 6 ini hanya mampu membuat soal untuk mereka. Jadi sisanya hanya jadi penonton dan ya bantu-bantu pendaftaran yang sebenarnya juga tidak terlalu penting karena memang kita sudah sama-sama tahu siapa saja kelas 1 dan kelas 2 SD di komplek kami saat itu.

Apa hubungannya dengan Ibu Siti Rahmani Rauf, Budi, Wati dan Iwan? Di sini yang paling mengejutkan. Terjadi bias antara tokoh fiktif dalam buku dengan realitas. Mungkin ini bisa dikategorikan reality show pertama di Indonesia dalam bentuk teks. Saat itu tiba waktunya pembawa acara membacakan soal Bahasa Indonesia.

“Regu A, Siapa adik Budi?”

“IWAN!” Sambar juru bicara, lantang, tanpa harus berdiskusi dengan pendamping kiri dan kanan.

“100 untuk Regu A!”

Penonton tepuk tangan.

Management Program: Sistem yang Memperparah Pendidikan Kita

Hallo, bertegur sapa dulu sejenak dengan pengikut setia blog notaslimboy.com. Mohon maaf jarang sekali saya – Notaslimboy – update di sini. Untung ada beberapa kontributor yang setia mengisi kolom di blog ini. Saya sebenarnya tetap aktif berkontribusi dalam bentuk pemikiran – walaupun pemikiran gak penting – dalam bentuk video. Silakan click di sini untuk subscribe kanal youtube saya.

Okay to the point.

Apa itu Management Program yang saya maksud? Ini adalah program perekrutan level middle management untuk kemudian diproyeksikan menjadi pimpinan perusahaan di waktu ke depan. Sistem pendidikan kita sudah cukup parah, tidak usah dibahas di sini, dan sistem yang dibuat perusahaan-peruasahaan besar ini memperparah keadaannya. Melalui sistem ini perusahaan merekrut lulusan-lulusan terbaik dari banyak universitas terkemuka, lintas disiplin, yang penting memenuhi standard IPK tertentu. Artinya perusahaan tidak membutuhkan kualifikasi ilmu dari fresh graduated ini, yang penting IPK tinggi, berarti mereka cukup cerdas. Ilmu tidak penting, karena program ini akan memberikan ilmu “cepat” untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kebanyakan dipraktikan oleh dunia perbankan, tapi tidak sedikit industri lain juga melakukan ini. Tak heran lulusan teknik dari ITB, UI, UGM bekerja di bank atau menjadi kepala cabang distribusi merk otomotif tertentu.

Ilmu mereka yang dipelajari di masa kuliah, soal fisika quantum, soal keseimbangan kimia, soal integral lipat lima, soal pendekatan numerik dan aljabar, dihapus dengan kursus kilat 6 sampai 12 bulan di management program. Mereka tiba-tiba menjadi pakar “perbankan” atau bahkan pakar jual beli mobil yang sangat pakar melobby credit analyst bagaimana supaya penjualan mobil di cabang mereka meningkat. Miris? Nggak tahu juga sih.

Siapa yang salah? Sepintar-pintarnya mereka, mereka adalah fresh graduated yang butuh dapat kerja cepat dan ingin segera berpenghasilan, membahagiakan orang tua, cepat nikah. Maka tidak ada pilihan. Saat mereka di level middle management atau lebih tinggi lagi, mungkin mereka sadar, tapi mungkin – atau bahkan hampir pasti – mereka sudah terjebak dalam comfort zone, yang sebenarnya nggak comfort-comfort amat. Hanya comfort dari sisi ekonomi mungkin, tapi aspek kehidupan apakah cuman ini? Mungkin manusia sekarang hanya menganggap kesuksesan hanya dari sisi ekonomi. Disertasi, wacana, hipotesa, dianggap hanya isapan jempol, tanpa menghasilkan real money. Padahal sekarang terbukti, bahwa real money di satu sisi, ternyata berdampak pada kerusakan di sisi lain yang jauh lebih besar, bahkan ditinjau dari sisi ekonomi. Penjualan otomotif, menghasilkan kemacetan dan pemborosan energi, polusi, kredit macet, dll. Itu baru satu sisi.

Siapa insinyur yang idealis? Dialah “Si Doel”, yang tidak mau kerja di bank, maunya kerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari. Apakah dia anak ITB, UI, UGM, ITS? Bukan, dia anak Universitas Pancasila. Dan apakah dia masih ada? Dia itu tokoh fiktif, bahkan pemerannya sendiri sekarang sudah terjun ke dunia politik. 🙂

Siapa yang salah? Tidak usah ditunjuk, tapi yang jelas sistem ini salah. Mari kita perbaiki. Dimulai dari Dikti dan Dikbud 🙂

Saya sendiri, lulusan ITB, memang jadi pelawak. Tapi itu hanya sebagian kontribusi saya. Secara sadar saya membangun bisnis kecil supaya ilmu saya di ITB tidak terbuang percuma. Tidak usah diceritakan di sini, nanti jadi riya. Tapi boleh deh capture sedikit

Screen Shot 2016-04-30 at 9.28.13 PM

#TALKOFLIFELIVE

Show1: Adriano Qalbi dan Acho, Show2: Notaslimboy dan Rindra. TIDAK ADA TIKET TERUSAN.

HARGA TIKET PER SHOW PER ORANG: RP 100.000,00 yang sudah termasuk first drink (soda).

Info lengkap di poster terlampir

TATA CARA PEMESANAN dan PEMBELIAN TIKET

1. KIRIM SMS/WHATSAPP KE NOMOR: 0812-86000-810 dengan format

SHOW1 JUMLAH_TIKET NAMA ALAMATEMAIL

CONTOH:

SHOW1 2 PENONTONHEBAT penonton@kamimohonmaaf.org (artinya utk SHOW 1 ybs memesan 2 tiket). Silakan apabila ingin mememesan untuk SHOW2, pesan bisa digabungkan di SMS/Whatsapp yg sama dengan menambah baris baru dengan format serupa

2. TUNGGUS SMS/Whataspp balasan yang akan menginformasikan nomor rekening dan jumlah yang harus ditransfer.

3. Lakukan transfer, dengan metoda apapun, bisa setoran, ATM, M-BANKING, I-Banking. SETELAH itu kirim konfirmasi melalui SMS/Whatsapp dengan format:

CONFIRM NAMA JUMLAH_RP_DITRANSFER

CONTOH:

CONFIRM PENONTONHEBAT 200123

Apabila menggunakan whataspp, lebih baik bila foto bukti transfer disertakan

4. Petugas kami akan melakukan verifikasi dan bila dana sudah diterima di rekening dimaksud, e-ticket akan dikirimkan melalui email yg sudah dikirim sebelumnya melalui SMS

5. e-ticket bisa diprint atau cukup tunjukan gadget dengan e-ticket di lokasi untuk ditukarkan dengan physical ticket sebagai tanda masuk yang sah dan sekaligus sebagai bukti penukaran first drink di lokasi pertunjukan.

Kami rasa penonton-penonton kami adalah orang-orang yang cukup cepat menangkap informasi-informasi ini. Karena, tidak salah pilihan anda untuk menonton #TALKOFLIFELIVE

Sampai jumpa di PONG ME! KEMANG! 9 dan 16 April 2016, 8PM!!!

SALAM…

TALKOFLIFELIVE