Pelawak (Nirlaba)

Pelawak adalah salah satu profesi dari sekian banyak jenis penghibur/entertainer lainnya. Kalau ada pelawak wanita bisa kita panggil wanita penghibur, jangan tersinggung, justru itu adalah sanjungan, karena dianggap sudah bisa menghibur orang.

Kata pelawak itu sendiri diserap dari Bahasa Jawa, dalam Bahasa Inggris ada kata comedy yang kemudian diserap kedalam Bahasa Indonesia menjadi komedi. Kata comedian kemudian diserap menjadi komedian. Menurut rekan saya seorang penulis humor, Isman Hidayat Suryaman, pelawak berbeda dengan komedian dari segi teknis penyampaian. Pelawak melucu dengan lebih fokus terhadap pembawaan sedangkan komedian fokus terhadap materi. Namun menurut wikpediawan dan pakar Bahasa Indonesia, Ivan Lanin, secara leksikal kata pelawak dan komedian itu sama. Saya simpulkan, komedi = lelucon = lawakan, komedian = pelawak. Pendapat Isman tadi karena mungkin ada kepentingan praktisi dunia ini untuk membedakan pelawak dan komedian, sehingga makna pelawak dan komedian ini secara pragmatis harus disempitkan.

Cukup membahas tentang terminologi, kita kembali ke isi. Ada banyak profesi penghibur lain, seperti: penyanyi, pemain film, dll., tapi pelawak sering dipandang sebelah mata di negeri kita. Menjadi pelawak adalah bakat, sama dengan suara merdu yang dimiliki oleh penyanyi. Cerita yang sama belum tentu sama lucunya bila diceritakan oleh orang yang berbeda. Menjadi pelawak menurut hemat saya lebih sulit dibanding penyanyi. Menyanyikan lagu yg sama berulang-ulang masih bisa diterima pemirsa. Tapi pelawak yg mengulang-ulang lawakannya akan membuat penonton jenuh dan berteriak booo… atau melabelinya sebagai ‘pelawak garing’, tidak kreatif, tidak cerdas, membosankan dan setumpuk cercaan lainnya.

Penyanyi masih bisa membawakan lagu orang lain. Tapi pelawak yang membawakan lawakan orang lain, lagi-lagi akan disebut pelawak garing.

Pelawak biasanya menciptakan lawakan sendiri. Ada tim pembuat cerita atau penulis skrip (script writer) tapi tidak ditonjolkan seperti pencipta lagu. Saya pernah kenal dengan seseorang yang biasa membuat materi lawak untuk pelawak tertentu, orang ini sama sekali tidak pernah saya dengar namanya. Pelawak harus bisa menciptakan kelucuan, entah itu secara spontan, menggunakan skrip atau gabungan keduanya.

Penulis skrip ini belum tentu lucu kalau  ia yang membawakan sendiri lawakannya. Ia bukan  pelawak seperti pencipta lagu yang belum tentu bagus suaranya. Namun sama seperti pencipta lagu ada juga yang bersuara indah dan menyanyikan lagu gubahannya sendiri, penulis skrip ini pun bisa saja bisa membawakan lawakannya dengan lucu.

Pelawak di Indonesia saat ini masih banyak, atau tanpa survey saya berani bilang hampir semua, mengandalkan ejek-ejekan atau lebih sering di sebut cela-celaan di atas panggung. Oleh karena itu lawakan monolog tidak berkembang di sini. Saat melakukan monolog? Siapa yang mau di ejek oleh si pelawak? Dirinya sendiri? Dulu ada Warkop DKI, Prambors dan Pancaran Sinar Petromak yang menjual materi bukan sekedar ejek-ejekan, sekarang belum ada yang sefenomenal mereka di masanya.

Manusia secara sadar atau tidak sadar memang senang menertawakan kebodohan. Ini yg diambil banyak pelawak, mengejek temannya untuk ditertawakan. Padahal materi dari kebodohan bukan selalu teman kita, tapi bisa juga kejadian, organisasi atau institusi tertentu, politikus atau pejabat, dan lain-lain. Sebagai informasi, humor atau lawakan adalah media efektif untuk mengkritik, orang yang dikritik dengan humor, biasanya tidak terlalu tersinggung.

Sebuah acara yang sedang banyak digemari saat ini, Opera Van Java (OVJ), yang dijual adalah spontanitas, saling ejek, saling jahil. Pelawak spt ini, menurut hemat saya dan dengan rendah hati (terjemahan dari eng. IMHO) akan mati gaya bila harus tampil sendiri. Misalnya adegan merusak atribut panggung andalan OVJ bila ini dilakukan sendiri, hasilnya akan sangat tidak lucu, mirip permainan komputer jaman dulu (jadul) bernama Rampage.

Atau adegan Nunung tertawa sampai kencing, bekasnya di zoom di layar TV. Lucukah itu? Lucu, 100 persen lucu, tapi tidak menghibur, menurut saya. Bayangkan bila ada orang kencing sendirian, tanpa diulas oleh teman-temannya, apakah lucu, ya lucu tapi apakah menghibur?

Menjadi pelawak bukan sekedar lucu, tapi juga harus menghibur. Seperti saya pernah tulis di blog saya sebelumnya lucu belum tentu menghibur dalam tulisan “Politik Lucu”.  Saya ulang sekali lagi seorang pelawak kencing di atas panggung sangat lucu, tapi juga sangat tidak menghibur.

Apa yang dapat kita lakukan atau sumbang dalam dunia ini? Menurut saya orang yang humoris, secara positif, juga sudah menjadi pelawak di lingkungannya, membuat orang tertawa, itu adalah sebuah berkah. Ini yang kemudian saya sebut sebagai non profit comedian (pelawak nirlaba). Membuat orang lain tertawa, tanpa mencari keuntungan secara finansial.

Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan sebagai pelawak nirlaba:

  1. Syarat apa untuk jadi pelawak nirlaba? Kita harus anggap kita lucu dan minimal satu orang lain beranggapan sama, kalau hanya kita sendiri yang beranggapan kita lucu nanti jadinya narsis.
  2. Syarat berikutnya kita harus berpenghasilan lain selain dari melawak, karena tidak ada pendapatan yang bisa didapat sebagai pelawak nirlaba. Biasanya orang tidak punya uang,  pembawaannya akan marah-marah, jadi jangan anggap sepele poin ini, orang yang marah-marah sama sekali tidak lucu.
  3. Sebagai pelawak nirlaba, kita juga tidak bisa dikomplain fans (mungkin juga karena tidak punya fans), toh tidak dibayar.
  4. Seandainya kita lebih menghibur dari pelawak beneran, bagus, mereka sudah dibayar saja masih tidak se-menghibur kita. Analoginya hampir sama dengan jalan tol dan jalan biasa/reguler, belum tentu jalan tol lebih cepat. Demikian pula perbandingan pelawak asli/sungguhan/beneran dan pelawak nirlaba.

detik.com pernah memuat perkataan Ki Gendeng Pamungkas: Orang berkepribadian ganda dan humoris tidak bisa disantet. Teman saya, seorang lawyer (yang dapat dikategorikan sebagai pelawak nirlaba menurut saya), pernah twit: “@WinnerJhonshon: Makan Babi. Selamat dari santet” Lalu saya balas: Ohh.. pantas saja lawyer sukses banyak dari batak, padahal sudah jadi sasaran santet banyak orang. Ini contoh percakapan pelawak nirlaba, agak beresiko memang, tapi itulah, menghibur orang kadang ada yang suka ada juga yang tidak suka.
Kembali ke pernyataan Ki Gendeng Pamungkas tadi: Nah untuk menghindari santet tersebut? Pilih mana jadi orang humoris (pelawak nirlaba) atau orang berkepribadian ganda? Lalu ada lagi yang nyamber ohh, berarti pelawak itu berkepribadian ganda? Ini salah satu jenis lawakan juga, memadukan logika dengan pernyataan, membuat suatu logika yang sebenarnya menyalahi kaidah logika tapi dengan bungkusan seolah-olah logik, atau dalam bahasa pers disebut plintiran. Pelawak mungkin terhindar dari santet, tapi bisa saja kalau lawakan kita meyinggung orang, kita tidak terhindar dari tonjokkan orang.

Lawakan sendiri tidak mesti terlalu cerdas, terlalu cerdas pun nanti orang tertawa bila sudah sampai rumah bukan saat menonton.

Bisa mulai kita praktekkan di twit atau blog kita, sedikit-sedikit bikin orang tertawa tidak apa-apa. Terlalu serius juga tidak bagus, karena tertawa katanya memicu endorphine yang bisa membuat kita lebih relaks secara alami.

Mempermalukan diri di depan publik spt yg dilakukan Olga (maaf menyebut nama), memang lucu, tapi bagi saya (x100) tidak menghibur, cenderung membuat iba. Tapi bila banyak yang menyukai totonan seperti ini, saya juga tidak melarang, saya hanya memberikan opini saya terhadap orang tertentu.

Apapun bisa jadi produk humor tinggal diolah disentuh sedikit saja.

Saya bukan pelawak, hanya saya merasa diri menghibur (bukan sekedar lucu)  minimal ada beberapa orang yang beranggapan sama,  jadi saya tidak terlalu narsis.

Pelawak adalah orang yang beprofesi sebagai penghibur dengan menjual kelucuan. Orang menonton lawak supaya terhibur, jadi dituntut untuk menghibur. Banyak orang bisa menembak, atlet tembak disebut petembak. Banyak orang yang lucu, tapi entertainer yang menjual kelucuan lah pelawak. Pelawak nirlaba, memang jadinya bias, kontradiktif, seperti menyebutkan perusahaan nirlaba, yang ada mungkin organisasi nirlaba, jadi lebih tepat humoris nirlaba bukan pelawak nirlaba, tapi tak apalah, ini terminologi yang saya buat sendiri kok.

Salam, Non profit comedian (pelawak nirlaba)

Advertisements

4 thoughts on “Pelawak (Nirlaba)

  1. Pengetahuan yang luas, sangat menghibur memang.
    Masalahnya, di Indonesia, orang-orang umumnya punya persepsi bahwa hiburan itu seharusnya sesuatu yang bisa membuat mereka terlepas dari penat beban kehidupan. Padahal menghibur itu kan kalau hiburan itu sendiri sanggup menampung kapasitas intelektual kita. Jadi ya orang-orang lebih memilih sampai dapat lucunya aja lah, “ga usah sampe segitunya juga kali” itu routine yang sering dipakai.
    Seperti misalnya film Inception yang saya kategorikan sebagai multi-orgasme (ibaratnya wanita dia datang dengan satu paket yang eeeggghhh sekali). Tidak jauh dari kursi saya menonton ada teman yang tertidur karena bosan.
    Mungkin akan jadi hal yang menyenangkan sebagai pelawak nirlaba, karena selera humor kita ga akan harus menyesuaikan dengan selera pasar. Kesuraman yang melanda dunia musik, film, dan pers Indonesia.

    Like

  2. mantab mas terminologinya… kritis sekali.
    ane juga pengen jadi pelawak nirlaba. yang tidak hanya lucu tetapi juga menghibur.

    tulisan ini memotivasi saya agar bisa menjadi pelawak yang menghibur. smoga saya bisa mewujudkannya.

    tentang hal-hal yang disebutkan diatas memang bener banget. ane lebih suka ama lawakan jaman-jamannya Warkop DKI. kalau untuk grup lawak yang sekarang, ane paling demen ama Patrio , Cagur, ama Bajaj API (tapi udah jarang keliatan bareng lagi. pada sibuk ama kesibukan masing2 kali yak). hehe

    Like

    • Hahaha, terimakasih atas komen-nya, ini tulisan masuk kategori “Sotoy” artinya “sok tahu”, jadi saya tidak menyangka kalau tulisan ini bisa memotivasi anda. Salam kenal. Kalau ada akun twitter, mari kita saling follow. Akun twitter saya @samdputra.

      Terimakasih.

      Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s