Ayahku

Waktu itu aku masih kecil, kelas 2 SD.

Bisa dibilang aku anak kesayangan ayah.

Sudah menjadi kebiasaan setiap Hari Minggu, pagi hari, aku dibonceng ayah keliling perumahan kami. Hari itu kami mampir sebentar makan bubur kacang hijau, dan lanjut beberapa keliling lagi.

Sampai di rumah, “Ayah lelah sekali, kamu main dengan kakakmu ya, Ayah tidur dulu,” kata ayah.

Akupun segera menghampiri kakak. Kami bermain berjam-jam di teras depan. Kakak mengajariku bermain halma.

Ayah belum juga bangun tidur siang. Ibu memanggil kakak dari dalam rumah, dengan suara agak tertahan.

“Dini, coba sini,” kata ibu, suaranya sedikit dipaksakan.

“Ya Bu,” kata kakak.

“Tolong kamu ke toko depan, coba beli kertas kuning, lalu panggil Pak Ustadz Hadi datang ke rumah ya,” ibu berkata seperti orang mau menangis, kulihat matanya berkaca-kaca.

Kakak segera pergi, aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu, tapi aku juga tidak berani banyak bertanya.

Yang jelas, itu hari terakhir aku dibonceng ayah keliling perumahan kami.

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s