Misteri Masa Lalu

Aku dibesarkan di sebuah panti asuhan bernama Bunda Hati. Sejak lulus SMU, tujuh tahun yang lalu aku tidak lagi tinggal di sana.

Kini aku bekerja sebagai wartawan. Banyak berita besar yang berhasil kuliput, bahkan kasus-kasus besar yang tidak terpecahkan polisi, aku ikut melakukan investigasi dan akhirnya polisi bisa memecahkan kasus itu dengan bantuan informasiku.

Ironis, ada satu hal yang aku belum pecahkan sampai saat ini: siapa aku, orang tuaku dan latar belakangku.

Aku mengambil inisiatif untuk menjadikan diriku sendiri klien untuk profesiku. Targetku adalah mencari sejelas-jelasnya masa laluku dengan mewawancarai orang-orang dekat dalam kehidupanku, terutama mereka yang tahu bagaimana proses aku sampai di Panti Asuhan Bunda Hati.

***

Ibu Rusmiati

Beliau adalah pengasuhku di Panti Asuhan Bunda Hati. Darinya aku tahu bahwa 25 tahun yang lalu, pagi-pagi benar ada sebuah keranjang tergeletak di depan pintu panti asuhan. Dalam keranjang ada bayi dibungkus lampin sedang tertidur lelap. Itulah aku. Dia tidak tahu persis bagaimana keranjang itu bisa ada di depan panti asuhan, yang dia tahu hanya laporan dari pemilik toko kelontong yang ada di depan panti asuhan.

***

Engkong Parto

Pemilik toko kelontong di depan Panti Asuhan Bunda Hati. Setiap hari, pagi-pagi benar dia sudah membuka toko kelontongnya. Sama halnya waktu itu, ketika ada sepasang muda-mudi menggunakan sepeda motor meletakkan sebuah keranjang di depan panti asuhan kami. Engkong Parto mencoba menghentikan muda-mudi itu, tapi usahanya sia-sia karena laju sepeda motor terlalu kencang. Engkong Parto coba menghubungi polisi, namun polisi baru datang esok paginya, ketika keranjang, yang ternyata isinya bayi itu, sudah ditemukan oleh Ibu Rusmiati.

Engkong Parto sendiri sudah mewariskan tokonya pada anak semata wayangnya, dia sudah terlalu tua untuk mengelola toko ini. Hanya ingatannya soal kejadian pagi itu masih dapat diceritakannya dengan cukup jelas.

***

Pak Dermadji

Seorang dermawan yang juga pernah menjadi petinggi polisi di kota kami. Dia mengetahui keberadaan Panti Asuhan Bunda Hati karena ada anak buahnya yang menerima laporan tentang sepasang muda-mudi yang meletakkan keranjang di depan panti asuhan kami.

Siangnya beliau langsung meninjau lokasi karena walau kasus ini tidak terlalu besar namun di mata beliau sangatlah penting, karena menyangkut sendi-sendi kemanusiaan. Kasus ini telah menyentuh sisi kemanusiaan beliau.

Sejak saat itu beliau menjadi donatur tetap di panti asuhan kami. Perhatiannya kepadaku juga lebih dibanding dengan anak-anak yang lain. Aku mendapat beasiswa khusus darinya hingga aku lulus dari studi jurnalistik di salah satu perguruan tinggi terkemuka.

***

Pak Robertus

Polisi yang mendatangi tempat kejadian perkara pagi harinya. Engkong Parto sempat melihat sepeda motor Pak Robertus pagi itu, karena kebetulan beliau menggunakan sepeda motor pribadi, walau untuk kepentingan dinas. Dari Engkong Parto aku tahu, bahwa sepeda motor milik Pak Robertus mirip dengan yang digunakan sepasang muda-mudi itu saat meyimpan keranjang di depan panti asuhan.

Pak Robertus sendiri sudah tidak ada saat ini, meninggal karena penyakit kanker lima tahun yang lalu. Apakah dia ayahku? Aku kurang yakin, karena kabarnya, dan dari foto yang aku sempat dapat dari mantan rekan-rekannya di kepolisian, dia keturuan dari Indonesia bagian timur. Sedang kulitku cenderung putih dan rambutku juga lurus, tidak ikal seperti kebanyakan orang-orang dari daerah itu.

Soal sepeda motor, jenis bebek warna hitam, adalah jenis yang umum digunakan oleh orang tahun itu, jadi sulit juga dijadikan patokan. Apalagi informasi tentang nomor polisinya tidak kudapat dari Engkong Parto.

Informasi lain yang kudapat adalah: Pak Robertus seorang lajang, bahkan sampai dia meninggal dunia. Dia pribadi yang sangat tertutup, terutama terhadap wanita.

***

Penelusuranku terhenti sampai di situ. Tidak ada yang tahu siapa pasangan muda-mudi misterius itu. Aku beranggapan merekalah orang tuaku. Tapi baik Ibu Rusmiati, Engkong Parto maupun Pak Dermadji tidak bisa memberikan data yang cukup untukku dapat menelusuri lebih lanjut.

Aku sama sekali tidak dendam. Mungkin mereka sedang kesulitan saat itu. Setidaknya mereka menitipkan aku di tempat yang benar. Ada Ibu Rusmiati yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri dan semua penghuni yang sudah kuanggap saudaraku. Tidak terlupa Pak Dermadji yang juga begitu perhatian pada kami semua, terutama aku, kami di panti asuhan ini sudah seperti keluarga sendiri.

Kukubur keinginanku untuk mengetahui masa laluku, tentang keluargaku sebenarnya. Panti Asuhan Bunda Hati, itulah rumahku, semua penghuninya adalah keluargaku.

***

25 Tahun Yang Lalu

“Lapor, si jabang bayi sudah berada di Panti Asuhan Bunda Hati,” laki-laki itu menjelaskan situasi dari atas sepeda motor pada sesosok pria di balik kemudi mobil.

“Baik, kembali ke pos! Bila ada laporan, besok pagi saja kamu tangani,” kata pria dibalik kemudi tersebut.

“Baik pak, saya mengantarkan Mbak ini pulang dulu,” katanya sambil menunjuk wanita yang dia bonceng.

Sepeda motor itu segera melaju.

“Mas, bagaimana pun dia anak kita,” ada suara lain di dalam mobil itu, berkata-kata setengah terisak.

“Dik, ini yang terbaik bagi hubungan kita, karirku dan juga dia. Tenang masa depannya aku jamin.”

Mobil itu pun melaju, lampunya yang benderang memecah gelapnya pagi hari itu.

Advertisements

8 thoughts on “Misteri Masa Lalu

  1. Too many clues being given away, “Seorang dermawan yang juga pernah menjadi petinggi polisi di kota kami” sudah cukup mencurigakan, dan tidak ada “saingannya”. Mungkin sebaiknya ada tokoh lain untuk mengalihkan perhatikan

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s