Kamar 306

21.10

Seorang laki-laki baru saja cek-in hari itu di sebuah hotel bernama, The Holiday.

“Baik Pak, ini kuncinya, kamar 306, lantai 3, lift ada disebelah sana. Keluar lift bapak belok ke kanan,” jelas petugas front desk, sambil menunjuk arah di mana posisi lift.

“Terimakasih,” laki-laki itu menjawab singkat, meraih kopor dan berjalan ke arah lift.

Begitu laki-laki itu masuk ke lift, petugas front desk tadi segera meminta ijin ke temannya, “Bu, aku permisi ke belakang dulu ya,” katanya pada temannya itu.

“Iya, jangan lama-lama ya,” jawab temannya itu.

Segera ia bergegas ke kamar kecil. Sesampainya di sana segera diraihnya ponsel dan menulis sebuah pesan singkat, “Sesuai rencana, sebentar lagi dia sudah di kamar 306.”

***

22.50

Rio berjalan perlahan di gang lantai 3, tenang, tapi tidak mengendap-endap karena akan mencurigakan bila berpapasan dengan orang, atau tertangkap CCTV. Rio sudah menggunakan seragam petugas house keeping untuk semakin melancarkan aksinya.

Sampailah dia di depan pintu 306, dengan kunci cadangan yang sudah dipersiapkan dibukanya pintu itu. Sial pikirnya, orang ini memasang kunci ganda, seutas rantai menahan pintu saat hendak dibuka. Diambilnya tang potong dari saku celananya, tanpa kesulitan berarti dipotongnya rantai itu sehingga pintu dapat dibuka.

Perlahan dia buka pintu itu, diintipnya sedikit ke dalam, dilihatnya ada sesosok laki-laki sedang tetidur di depan telivisi yang sedang menyala. Tanpa menunggu lama, Rio bergerak dengan cepat sambil meraih belatinya, membekap pria itu, kemudian menghujamkan belatinya beberapa kali, tepat ke dada laki-laki itu. Darah  memuncrat kemukanya, masih diteruskan dengan beberapa tusukan lagi sampai dia yakin pria itu sudah benar-benar mati.

Diambilnya tisu untuk membersihkan belatinya, kemudian dimasukkannya kembali ke dalam saku. Sebelum keluar dari kamar, Rio melihat sebuah kopor, dibukanya dengan paksa. Di dalamnya ada sebuah amplop, isinya hanya beberapa lembar uang pecahan seratus ribu. Tidak ada isi kopor lain yang layak diambil, sisanya hanya pakaian, buku dan alat tulis.

Rio segera bergegas keluar kamar, di gang dia masih tenang, menuju service lift. Di depan lift ditekannya tombol, lama sekali terasa lift itu baru sampai. Pintu lift terbuka, yang dia tuju lantai dasar. Lift terasa begitu lambat bergerak bagi Rio, namun akhirnya sampai juga dia di lantai dasar. Dari situ ada ada sebuah gang yang menghubungkan ke pintu belakang, segera dia keluar lewat situ. Sambil membuka seragam, setengah berlari dia bergegas menjauhi The Holiday. Seragam yang telah terlepas segera dicampakkan ke tong sampah yang dia jumpai.

Sampai di jalan besar, supaya tidak mencurigakan dia kembali berjalan, tidak lagi berlari. Ada taksi yang melintas di jalan itu, segera dihentikannya. Taksi berhenti dan Rio segera naik ke taksi itu.

“Pak, Jl. Baru ya!” Rio berkata dengan napas masih terengah-engah.

Pengemudi taksi tidak berkata apa-apa, hanya berbalik mengarahkan pistolnya ke arah Rio. Rio kaget tapi tidak sempat melawan, beberapa tembakan sudah dilepaskan. Rio mati seketika.

***

H+2 Berita Kriminal di Televisi

Beberapa potongan mayat ditemukan di bantaran sungai Cakung Jakarta, potongan mayat ini hanyut dan ditemukan warga yang sedang mencari ikan di sungai itu. Warga yang melihat segera menghubungi pihak yang berwajib. Kasus sedang dikembangkan dan potongan badan lainnya juga sedang dicari.

Kemarin juga telah diberitakan bahwa ada sesosok mayat dengan luka tusuk, ditemukan di kamar 306 Hotel The Holiday. Kamera CCTV menangkap ada petugas house keeping hotel tersebut yang memasuki kamar pada malam hari sebelum mayat itu ditemukan. Polisi sedang mengembangkan kasus ini. Mayat adalah aktivis vokal yang sedang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.

Polisi menegaskan bahwa motif pembunuhan ini murni kriminal, karena diduga aktivis ini membawa kopor berisi uang yang diketahui oleh petugas hotel. Kopor ditemukan dalam kamar dalam keadaan terbuka, dan terlihat bahwa kopor itu dibuka secara paksa. Seorang petugas house keeping yang memiliki ciri-ciri fisik mirip dengan apa yang tertangkap oleh CCTV telah dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian. Sayang CCTV tidak menangkap persis muka tersangka. Tersangka juga tidak memiliki alibi yang menguatkan ketidak terlibatannya dalam kasus ini.


***

H-3

KRINGGG!!!  Ponsel Rio berbunyi, tertera tulisan di ponsel “Unknown Number, segera diangkatnya, “Ya Hallo!” Rio menjawab. Cukup lama dia mendengarkan suara yang berbicara melalui ponselnya, sampai dia menjawab, “Baik Pak!” Rio segera bergegas pergi setelah ada sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

***

H-3 Ditempat lain.

“Hai Rio! Ini Aku!” Suara itu tegas, dialeknya seperti orang dari daerah tertentu di Sumatera Utara.

Pria itu kemudian melanjutkan bicaranya,”Kau dengarkan aku ya, aku akan jelaskan proyek berikutnya. Jangan kau sela dulu sampai aku selesai menjelaskan semua,” lanjut orang itu. Dia mengambil napas sebentar dan kembali berbicara.

“Habis ini segera kutransfer uang ke rekeningmu, seperti biasa. Akan ada pesan singkat yang masuk setelah percakapan ini. Isinya sebuah alamat tautan di Internet. Kau buka tautan ini segera setelah percakapan ini. Orangku akan segera hapus sore ini juga. Jangan sampai sudah kuhapus tapi kau belum unduh  isinya ya Rio!” Pria itu berhenti sebentar.

“Isi dokumen dalam tautan itu penting, mengenai tugas kau berikutnya. Semua sudah disiapkan mulai dari seragam, peta lokasi, denah lokasi dan lain-lain. Password dari tautan itu seperti yang biasa aku pakai, nama anjing kesayanganku digabung dengan nama presiden. Nama anjing huruf besar, presiden huruf kecil!” Pria itu kembali berhenti berbicara.

“Kurasa sudah cukup jelas ya Rio, tidak ada siarang ulang!” Orang itu segera menutup ponselnya.

***

H+3 di Kantor Polisi, Bagian Reserse Kriminal

“Pak, ini hasil otopsinya!” Seorang pengantar dokumen masuk ke ruangan penyidik.

“Terimakasih, segera kau pergi, jangan lupa kau tutup pintu ruanganku ya!” Dialeknya begitu khas.

Penyidik itu segera membuka dokumen, ada catatan kecil dalam lembaran terpisah di dalam amplopnya, “Bagian arsenik sudah saya hilangkan. Orang itu mati karena ditusuk, sesuai permintaan.”

Setelah membaca catatan kecil itu, segera dikoyak-koyaknya kertas itu menjadi potongan-potong kecil dan dibuangnya ke tempat sampah.

***

Hari H 21.25

Setelah masuk ke kamar hotel, laki-laki itu mencari air mineral yang biasa menjadi compliment di hotel-hotel. Dia tidak menemukannya, dan segera menelepon bagian house keeping.

Seorang wanita menjawab, “Good evening house keeping, my I help you? Selamat malam house keeping, ada yang bisa saya bantu?”

“Mbak, sepertinya air mineral yang biasa diberikan sebagai compliment tidak ada di kamar ini, bisa tolong antar ke kamar 306?”

“Baik Pak, mohon maaf sebelumnya, segera kami antar.”

Tak lama menunggu, ada suara bel, dan laki-laki itu segera membuka pintu kamarnya.

“Ini Pak, satu dulu ya, karena kami kehabisan stok, biasanya kami berikan dua botol per kamar.”

“Tidak apa-apa Mbak, terimakasih.”

Pintu ditutup, laki-laki itu menyalakan televisi sambil membuka botol air mineral yang baru dia terima. Segera ia mengambil posisi senyaman mungkin untuk menonton televisi. Begitu hausnya laki-laki itu sehingga cepat sekali habis diminumnya air dalam botol itu.

***

In memoriam Munir, founder of KontraS. 8 December 1965 – 7 September 2004

Quote: There is no perfect crime ~ Adrianus Meliala

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s