Rumah Kos Itu

“Ibu, aku dapat panggilan wawancara ke Balikpapan!” Aku tidak bisa menutupi kegiranganku dan segera memberitahu ibu mengenai berita bahagia ini setelah membaca sebuah email dari sebuah perusahaan yang berdomisili di Balikpapan.

***

Dua Hari Kemudian

Aku sudah di Balikpapan, aku mampir dulu untuk makan di sebuah rumah makan padang. Sejak tadi saat aku makan, ada seorang lelaki paruh baya yang memperhatikan aku. Mungkin karena aku terlihat asing, dan membawa ransel yang cukup besar, pasti orang ini dari luar kota pikirnya. Aku pura-pura tidak lihat saja.

Lelaki itu menghampiri aku ketika aku sudah menyelesaikan makan siangku seraya menyapa, “Selamat siang Mas, dari luar kota ya? Dari mana?” Suaranya bukan dialek orang sini, lebih mirip seperti orang dari Jawa.

“Eh, iya pak, saya dari Jakarta, kok tahu saya dari luar kota?” Aku mencoba ramah.

“Ohh, gampang, itu ranselnya besar banget,” Lelaki itu tertawa, “Kenalkan nama saya Dibyo, Masnya namanya siapa?” Sambil mengulurkan tangan padaku.

“Nama saya David Pak, maaf tangannya masih kotor belum cuci tangan,” aku terpaksa menolak berjabat tangan dengannya karena memang aku tadi makan menggunakan tangan dan belum sempat mencuci tangan.

“Gini Mas, maaf kalau lancang, apa Mas sudah punya tempat tinggal di kota ini?” Dia bertanya saat aku sedang minum, sehingga aku hanya menggeleng. Intinya dia menawarkan aku tempat tinggal, bisa dibayar harian. Aku boleh meninjau dulu lokasi, dan kalau tidak cocok boleh saja tidak setuju. Tempat kos yang dia miliki memang dekat dari rumah makan ini, cukup berjalan kaki.

Aku keluarkan kertas yang bertuliskan tempat wawancaraku besok, “Tempat bapak dengan lokasi ini dekat tidak Pak?” Aku bertanya seraya menunjukkan alamat itu pada Pak Dibyo.

“Aduh, dekat sekali Mas, kalau jalan kaki tiga puluh menit. Naik angkot juga bisa, sebentar sekali sampai kalau naik angkot,” demikian dia menjelaskan.

Kupikir apa salahnya aku mencoba untuk melihat tempat Pak Dibyo. Ketika kami bercakap-cakap sesekali pelayan rumah makan itu melihat ke arahku seperti ada yang aneh, aku pura-pura tidak tahu saja.

“Uda, hitung.” Kataku pada pelayan.

Pelayan itu datang dengan secarik kertas, menghitung, menyodorkan jumlah yang harus kubayar. Setelah membayar aku dan Pak Dibyo segera pergi.

***

Tidak lama kami sampai di tempat Pak Dibyo, aku segera dikenalkan dengan istrinya dan satu penghuni lain, Siska. Pak Dibyo punya tiga kamar, hanya Siska yang menyewa sekarang, kebetulan dia sedang kurang enak badan jadi dia tidak pergi ke kantor hari ini, sehingga bisa bertemu dengan aku.

Lalu aku diantar menuju kamar, aku lihat, lumayan, sepadan dengan harganya. Tidak terlalu bagus memang, tapi tak apa toh tak lama aku tinggal di kota ini. Kalau nanti wawancara berhasil baru aku bisa cari yang lebih layak.

Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di situ. Pak Dibyo dan Bu Dibyo mohon pamit untuk membiarkan aku istirahat.

Aku pun membersihkan badanku, lalu bergegas meninjau lokasi wawancara. Tidak jauh ternyata memang lokasinya dari tempat kos Pak Dibyo. Aku coba lanjut keliling-keliling Kota Balikpapan hari itu sampai hari agak gelap, beberapa lokasi sempat kuabadikan. Kembali ke kos, aku langsung masuk kamar karena aku sudah begitu lelah. Suasana kos pun sepi, mungkin semua sudah beristirahat. Aku segera masuk kamar, tak lama aku segera terlelap karena memang aku sudah kelelahan menempuh perjalanan hari ini.

***

Esoknya

Hari ini sesuai jadwal adalah psikotes. Semua soal sepertinya tanpa kesulitan kukerjakan. Aku sama sekali tidak keluar kantor tempat psikotes ini dilakukan. Makan siang juga dibagikan untuk semua peserta psikotes.

Psikotes berlangsung sehari penuh, sehingga aku pulang sudah cukup sore. Begitu sampai di rumah kos aku mandi dan bersistirahat sebentar. Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarku.

“Nak David, ditunggu ya di ruang makan. Ibu masak untuk kita semua, kami semua sudah siap di ruang makan,” suara Ibu Dibyo dari luar kamarku.

“Ohh, baik Bu,” aku menjawab. Segera kuganti pakaianku dengan yang lebih layak dan bergabung mereka di ruang makan.

***

Masakan Ibu Dibyo lezat sekali. Selesai makan kami tidak langsung ke kamar, tapi ngobrol ngalor-ngidul. Bapak dan Ibu Dibyo berasal dari Kota Surabaya, benar dugaanku karena dialeknya memang khas, bukan orang asli sini.

Topik yang kami bicarakan pun mengalir bagaikan sungai, tidak tentu, semua menikmati malam itu. Mbak Siska juga ternyata orangnya doyan cerita, suasana makin hangat.

Tak terasa waktu sudah pukul dua belas malam, kami asyik sekali mengobrol malam itu. Aku harus puasa terhitung malam ini, karena besok ada tes kesehatan, untung saja aku tidak lupa saat Siska menawarkan penganan tadi.

Akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing karena semua kami memang sudah ngantuk. Terutama aku yang besok harus pergi untuk tes kesehatan.

***

“Selamat pagi Nak,” sapa Ibu Dibyo.

“Selamat pagi Bu. Maaf, hari ini hari terakhir saya di sini Bu. Pulang tes kesehatan saya langsung ke bandara, tidak mampir ke sini lagi,” kataku padanya.

Dia menyayangkan hal ini, tapi cukup mengerti. Aku menjanjikan kalau diterima nanti pasti aku akan datang ke tempat kos mereka. Aku baru ingat bahwa aku membawa kamera, kami mengambil gambar. Aku besama Bapak dan Ibu Dibyo di samping vas bunga antik mereka, latar belakangnya adalah foto Bapak dan Ibu Dibyo saat masih muda. Siska yang mengabadikannya dengan kameraku. Tak lupa aku juga berfoto dengan Siska, giliran Pak Dibyo yang mengambil gambar kami. Aku segera pamit pada mereka, berjabat dengan mereka semua, seperti keluarga baru saja.

Hari itu wawancara dan tes kesehatan berjalan lancar. Aku segera ke bandara usai tes kesehatan selesai, menuju Jakarta. Hasil wawancara akan dikabari melalui email kata orang yang mewawancara aku.

***

Dua Minggu Kemudian

Sebelumnya aku begitu sibuk. Sekembali dari Balikpapan, aku kirim lamaran ke tempat-tempat yang lain, karena memang belum ada kepastian dari perusahaan di Balikpapan itu. Beberapa wawancara di Jakarta pun aku hadiri, jadi cukup sibuk memang minggu-minggu itu. Sampai akhirnya ketika aku membuka email, ada pesan dari perusahaan di Balikpapan bahwa aku diterima.

Luar biasa girang hatiku, ayah dan ibu pun girang sekali mendengar berita ini dariku. Segera kupersiapkan keberangkatanku ke Balikpapan hari itu juga, karena perusahaan itu mau aku segera bergabung.

***

Tiga Hari Kemudian

Aku sudah sampai di Balikpapan, di depan kos milik Bapak dan Ibu Dibyo tepatnya. Sepi sekali, terasnya pun kotor tidak seperti biasanya. Kuketuk pintu beberapa kali tidak ada yang membukakan pintu. Kutunggu lama di depan rumah kos itu, mungkin mereka sedang keluar makan siang dan Siska sudah kembali bekerja pikirku.

Tiga puluh menit menunggu tidak ada tanda-tanda kedatangan mereka. Aku ketuk lagi pintu rumah itu beberapa kali, sampai ada suara yang menyapaku dari belakang.

“Nak, cari siapa?”

Aku menoleh, melihat sosok lelaki itu, beberapa saat aku diam lalu berkata, “Ini Pak, yang punya rumah ini kemana ya?”

“Pak Dibyo dan Ibu maksudnya?” Kata lelaki itu.

“Iya Pak, kemana beliau ya?”

“Lho, anak tidak tahu ya. Bahwa ada yang menginap di sini sebelumnya. Lalu menghabisi nyawa kedua orang tua itu. Termasuk penghuni lain, seorang gadis.”

Mendengar kata-kata itu aku seperti disambar petir saja, tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Walau hanya dua malam bersama mereka, tapi seperti ada satu ikatan dengan mereka. Aku tidak percaya yang baru saja aku dengar dari lelaki di depanku ini.

“Yang benar Pak? Jangan bercanda?” Aku berkata agak tertahan, tidak bisa kusembunyikan perasaanku, “Dua minggu yang lalu saya menginap di sini, masih bertemu dengan mereka juga kok Pak. Tidak sangka itu pertemuan terakhir.”

“Anak yang jangan bercanda, ini kejadian tahun lalu Nak.”

Petir kedua menyambarku dalam waktu yang singkat. Kesedihanku sirna, berganti ketakutan yang mencekam. Aku tidak lagi banyak tanya, aku pergi meninggalkan lelaki itu tanpa pamit. Sudah agak jauh aku menoleh kembali, lelaki itu masih di situ dan menatapku penuh heran, tidak mengerti apa yang membuatku begitu takut.

Sudah agak jauh dari rumah itu, segera kuraih kameraku. Memang karena aku sibuk melamar ke tempat-tempat lain, belum lagi sempat ketengok gambar-gambar hasil jepretanku dalam kunjungan ke Balikpapan yang pertama. Tak sabar gambar demi gambar kulihat, aku mencari gambarku bersama Bapak Dibyo, Ibu dan juga Siska yang sempat kuabadikan.

Petir ketiga di siang itu, ada dua gambar dalam kameraku. Dua-duanya gambarku di ruang tamu rumah itu, di sebelahku ada vas bunga antik dan di belakangku ada foto pasangan Bapak dan Ibu Dibyo. Semua sesuai dengan setting  hari itu. Hanya saja, aku sendirian dalam kedua foto itu.

Advertisements

5 thoughts on “Rumah Kos Itu

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s