The Ding-Dong King

Di Sebuah Toko Mainan

“Bapak, aku ingin yang itu!” Seru anak itu, sambil menunjuk sebuah kardus mainan. Usianya sekitar tujuh tahun, kelas 1 SD. Ya, itu anakku si sulung, Vega. Jangan salah, dia laki-laki walau banyak orang menyebut itu nama untuk perempuan. Di eropa nama ini sering dipakai untuk nama laki-laki.

Nilainya baik tahun ini di sekolah, aku berjanji akan membelikannya console game terbaru, sesuai dengan pilihan dia apabila memang nilainya baik. Terlalu sering dia pergi ke rental, susah mengawasinya, membelikannya console sendiri mungkin sedikit membuatnya lebih betah di rumah. Hari ini kami pergi ke toko mainan

“Pilih dulu, jangan terburu-buru. Kita punya cukup banyak waktu, jangan nanti sudah sampai rumah kamu menyesal,” aku mengingatkannya. Dia segera berlari, aku biarkan saja dia berdiskusi dengan pramuniaga yang melayani di toko mainan itu. Biar dia belajar memilih dan memutuskan sesuatu.

Lama dia berdiskusi, mencoba beberapa jenis permainan. Aku masih sabar menunggu sambil duduk di bangku yang disediakan oleh pihak toko. Pikiranku melayang ke masa kecilku, karena aku juga juga tergila-gila video game, dulu ketika aku masih di bangku SMP.

***

1990

Console games dan PC games sudah dikenal saat itu, tapi tetap gamers sejati pada era itu memainkan ding-dong. Anak usia sekolah dari mulai SD, SMP sampai SMA memainkan ini, terutama anak laki-laki. Tempat-tempat yang menyediakan permainan ini selalu dipenuhi oleh anak-anak berseragam sekolah. Walau di setiap tempat tersebut ada peringatan, “Anak berseragam sekolah dilarang masuk”, tapi sepertinya itu hanya sebuah tulisan yang tidak pernah diindahkan, baik itu oleh pengunjung maupun pengelola. Memang pangsa pasar ding-dong adalah anak usia sekolah, dengan melarangnya, pengelola berarti sudah membunuh bisnisnya sendiri. Tidak jarang untuk mensiasati ini, anak-anak sekolah membawa pakaian ganti dari rumah dan menggantinya sesaat ketika hendak memasuki area permainan.

Ding-dong adalah permainan berbasis komputer, dengan fungsi khusus, istilah hebatnya special purpose computing. Apa fungsi khususnya? Hanya untuk permainan. Dari sekian banyak fungsi komputer, ding-dong difokuskan untuk permainan. Lain dengan console game, ding-dong biasanya dilengkapi dengan sebuah tongkat dan beberapa tombol dan dioperasikan dengan terlebih dahulu memasukkan koin.

Koin yang digunakan bisa koin khusus, tapi tahun itu kebanyakan ding-dong menggunakan pecahan seratus Rupiah untuk sekali bermain. Jangan kuatir tidak memiliki pecahan seratus Rupiah, setiap pemain dapat menukarkan uangnya di tempat penukaran koin di tempat bermain.

Jenis permainan beraneka ragam, mulai dari kapal atau pesawat tempur, petualangan, kartu, billiard, penyusunan balok sampai perkelahian.

Itulah permainan anak laki-laki jamanku dulu, ding-dong.

***

The Ding-Dong King

Bahkan anak orang kaya yang mempu membeli console atau mesin ding-dong sekalipun masih akan pergi ke tempat permainan ding-dong. Bagi banyak anak di jamanku, ini adalah tempat nongkrong kami, tempat bersosialisasi. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mencari anaknya ke tempat ini karena belum pulang-pulang sejak bubaran sekolah.

Aku memiliki dua orang teman saat itu. Hampir setiap pulang sekolah kami selalu singgah dulu bermain ding-dong, tidak langsung pulang. Kami satu sama lain saling memberi julukan dalam Bahasa Inggris. Sebuah euphoria karena baru saja belajar bahasa itu di bangku SMP. Kami menjuluki diri kami the three lions, tiga singa, entah apa maksudnya yang penting terlihat hebat.

Aku, namaku Sendi. Aku dijuluki the ding-dong king. Namaku dimirip-miripkan dengan promotor tinju terkenal dari AS saat itu, Don King. Aku mendapat julukan itu karena memang di antara kami bertiga aku yang paling pandai bermain ding-dong. Hampir untuk semua jenis permainan, aku yang paling hebat, bahkan di tempat kami biasa bermain akulah yang terhebat. Aku sendiri tidak punya banyak uang. Setiap ada permainan baru aku hanya melihat orang lain bermain beberapa kali, kemudian aku ikut bermain, setelah itu dapat dipastikan aku menjadi yang termahir dalam permainan tersebut.

Ding-dong mengenal istilah score dan record. Setiap permainan memiliki score. Lima atau sepuluh besar score terbaik, jumlahnya tergantung jenis mesin, akan dicatat dan ditampilkan oleh mesin dalam sebuah daftar peringkat. Pemain dengan posisi terbaik itu dapat membubuhkan nama saat permainan usai. Di tempatku bermain, tidak jarang semua mesin menampilkan namaku sebagai peringkat pertama. Bukan karena aku memiliki banyak uang untuk memainkan semua mesin, kadang-kadang ada juga yang sekedar memberi koin padaku hanya untuk melihat aku bermain.

Lucunya, sering terjadi orang memberikan dua koin kepadaku untuk bermain. Aku bermain dua kali tentunya, dan ketika membubuhkan nama di daftar peringkat, orang ini ingin salah satunya diisi dengan nama dia. Semacam investasi untuk mendapatkan ketenaran. Luar biasa memang kalau diingat-ingat.

***

The Professor

Namanya Iwan, kami menjuluki dia the professor bukan karena dia pintar di sekolah, melainkan karena dia sangat pintar dalam mengakali mesin. Selalu saja ada ide dan penemuannya, entah dia tahu dari mana. Yang jelas kala itu belum ada Internet apalagi Google untuk mencari hal-hal seperti yang dia lakukan. Sebenarnya aku pikir-pikir Iwan lebih tepat dijuluki the hacker, namun saat itu kami belum tahu istilah hacker.

Iwan bisa mengubah sebatang anak sapu lidi menjadi pengganti koin. Dengan mencolok-colokannya pada tempat memasukkan koin mesin ding-dong, Iwan bisa bermain berkali-kali tanpa harus mengeluarkan uang. Soal sapu lidi ini, bukan sekedar mencolokkannya saja, tapi ada teknik khusus dan di antara kami hanya Iwan yang bisa melakukannya. Dia juga pernah menggunakan listrik pada pemantik elektronik yang telah dibongkarnya. Arus listrik ini bisa mengganggu mesin, sehingga mesin dapat dimainkan walau tidak dimasukkan koin.

Aksi Iwan sempat tertangkap oleh petugas keamanan di tempat kami bermain. Mulai saat itu Iwan sangat dicurigai. Dia tidak boleh memasuki area permainan membawa tas, harus dititipkan. The most dangerous man on ding-dong amusement center.

***

Richie Rich

Orang yang menginvestasikan koinnya supaya bisa masuk dalam daftar peringkat, dialah teman kami, Ricky. Kami menjulukinya Richie Rich, karena dia dari keluarga berada. Bagi ukuran kami saat itu dia punya dana tidak terbatas untuk bermain ding-dong.

Ricky walaupun dari keluarga kaya, dia bergaul dengan kami. Setelah Iwan menjadi target sasaran petugas keamanan, Ricky menjadi penyandang dana kami. Kadang Ricky bermain, sudah hampir kalah, aku yang teruskan sampai keadaan membaik, baru setelah itu Ricky yang kembali mengambil alih.

***

Kejatuhan The Ding-Dong King

Belakangan ada suatu inovasi dalam mesin-mesin ding-dong baru. Kami menyebutnya sebagai continue game. Dalam mesin-mesin lama fitur ini tidak ada. Fitur ini memungkinkan seorang pemain meneruskan bermain dengan terus memasukkan koin, sehingga tidak perlu mahir bermain untuk mencatatkan nama di daftar peringkat.

Ada seorang anak kaya, Santos, dengan kelompoknya yang beranggotakan anak-anak orang kaya di kota, bahkan dananya jauh lebih banyak dari Ricky. Sejak fitur ini ada namaku tidak lagi ada di daftar peringkat. Semua digeser dengan nama-nama mereka, menghiasi setiap mesin.

Setiap kami datang ke tempat bermain, mereka menatap kami dengan sinis. Sukar memang menandingi mereka dengan ketidakterbatasan koin, ditambah aku akui tingkat permainan mereka walau masih di bawah diriku, tapi tetap jauh di atas Ricky.

“Mana nih the ding-dong king, namanya doang king, tapi sama sekali tidak ada di record,” Santos sering sekali berkata-kata demikian dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya seisi ruangan tahu.

Sejak itu the three lions kehilangan semangat.

***

Kompetisi Ding-Dong

“Sendiiiii!!!!” Iwan berteriak mengejarku sepulang kami dari sekolah, sambil melambai-lambaikan secarik kertas.

Aku menghentikan langkahku, “Ada apa sih? Sepertinya kok penting banget?”

“Ini, baca ini!” Iwan menyodorkan kertas yang dia bawa tadi

 

Pertandingan Ding-Dong Nasional

Ikutilah 1, 2 Juni 1990, di  Bandung, dalam rangka mengisi liburan sekolah. 

Terbuka untuk semua umur, tidak dibatasi usia.

Pendaftaran Rp 20.000,00 untuk setiap peserta. 

Hadiah pertama Rp 2.000.000,00.

Hadiah kedua Rp 1.000.000,00.

Hadiah ketiga Rp 500.000,00.

Informasi lebih lanjut bisa didapat di tempat-tempat ding-dong kesayanganmu.

Daftarkan dirimu segera.

 


Ini kesempatan emas buatku. Tentu tidak ada istilah continue game dalam kompetisi seperti ini. Hadiahnya juga sangat besar untuk ukuran aku. 

“Wan, tapi dua puluh ribu? Aku tidak punya uang sebesar itu. Kalau minta sama ortuku pun sudah pasti tidak dikasih,” keluhku.

“Sendi, ayolah, Ricky pasti mau bantu.”

Ya benar kata Iwan, sebenarnya aku tidak ingin merepotkan Ricky. Iwan yang akhirnya bicara pada Ricky dan dia setuju untuk mendaftarkan aku pada kompetisi ini.

***

Hari Kompetisi

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Dilaksanakan di tempat yang jauh lebih besar dari tempat aku biasa bermain. Kompetisi menggunakan sistem gugur. Pada setiap babak kami boleh memilih jenis permainan yang akan dimainkan, bila pihak yang bertanding memilih jenis permainan yang berbeda, maka panitia akan mengundi jenis apa yang akan dipertandingkan.

Tanpa kesulitan aku melaju ke final, satu demi satu lawan kukalahkan. Salah satu tantangan terbesar hanya di babak semifinal, kabarnya lawanku adalah orang Singapore. Aku sendiri tidak begitu percaya, Iwan yang cari tahu, tapi ya sudah lah tidak ada pengaruhnya.

Sejak awal kompetisi, aku selalu melihat seorang yang sangat mahir, Rico. Peserta dari Jakarta, kecepatan tangannya luar biasa, aku sudah mengira dia akan menjadi penantangku nanti di final. Tidak salah memang perkiraaku, aku bertemu Rico di final. Rico mendapatkan julukan baru di kompetisi ini the fastest hand.

***

Babak Final

“Hadirin sekalian, tiba kita di babak final kompetisi ding-dong nasional. Dari kurang lebih seratus peserta yang mengikuti kompetisi ini sudah didapat dua peserta sebagai finalis. Tepuk tangan hadirin.” Pembawa acara membuka acara dengan gaya seorang ring announcer. Tentu saja disambut dengan tepuk tangan meriah dari semua hadirin yang datang.

“Di sebelah kiri saya, datang dari ibu kota Jakarta. The fastest hand, Rico!!!” Disambut tepuk tangan semua hadirin yang datang. Rico melambaikan tangan dan memberikan beberapa ciuman lewat tangannya, semua orang tertawa.

“Di sebelah kanan saya, kebanggaan Kota Bandung. The ding-dong king, siapa lagi kalau bukan Sendi!!!” Jelas sambutan hadirin lebih meriah, karena aku mewakili kota tuan rumah. Pendukungku jauh lebih banyak dari Rico.

Peraturan babak final sedikit berbeda, kami akan memainkan tiga permainan. Dua permainan kami pilih sesuai selera masing-masing. Setiap finalis memilih satu permainan. Permainan ketiga panitia menentukan jenis permainan yang akan dimainkan, kami harus memainkan Street Fighter, permainan perkelahian yang sedang hangat-hangatnya waktu itu.

Permainan pertama, Tetris. Aku memilih ini, ini salah satu keahlianku. Permainan menyusun balok, bila satu tinggat terisi penuh maka tingkat itu akan runtuh. Tidak kusangka Rico juga mahir memainkan Tetris. Keahlian kami sepadan, permainan berubah menjadi adu stamina dan kewaspadaan. Iwan dan Ricky sejak awal selalu ada di sisiku, Iwan sibuk menyediakan minuman buatku atau menyeka keringatku saat rehat. Lucu sekali anak itu. Setelah hampir dua jam kami bermain Rico sedikit lengah. Laju turunnya balok untuk setiap babak dalam permainan ini akan semakin kencang. Lengah sedikit, akan semakin sulit mengatur ulang tumpukan. Aku menang, Iwan dan Ricky bersorak. Santos juga menonton di situ, dia juga bersorak. Terus terang aku tidak suka keadaan itu.

Permainan kedua, Raiden. Jenis permainan pesawat tempur. Aku belum pernah main ini, karena di tempat kami biasa bermain belum ada mesin jenis permainan ini. Aku memberi perlawanan cukup sengit bagi Rico, karena hampir semua permainan jenis pesawat tempur hampir sama cara memainkannya. Aku terbiasa memainkan 1942 yang kurang lebih sama dengan Raiden. Tapi memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Tiga puluh menit, banyak musuh yang aneh bermunculan. Rico sepertinya sudah terbiasa dengan permainan itu, dia sudah tahu teknik antisipasinya. Aku kalah.

Permainan ketiga, Street Fighter. Kami akan bermain the best of three, siapa yang berhasil menang dua kali dia akan keluar menjadi juara dalam permainan ketiga, sekaligus juga juara dalam kompetisi ini. Aku memilih tokoh Vega, seorang petarung Spanyol, sedang Rico memilih tokoh Chun-Lie, seorang petarung wanita dari China.

“Ayo Sendi, hajar Si Rico, kamu bisa!!!” Aku menoleh ke belakang, itu suara Santos.

Aku memanggil Iwan dan Ricky supaya datang mendekat, “Wan, kenapa Santos memihak aku ya? Aku curiga dan terus terang aku tidak suka dia memihak aku.”

“Kabarnya dia ikut taruhan, jumlahnya besar, jutaan Sen. Dia pegang kamu, karena memang secara hitungan kamu bisa mengatasi Rico,” demikian Iwan menjelaskan.

Aku gantian menatap Ricky. Dia orang paling bijak di antara kami, “Biarkan Sen, kamu fokus saja di pertandingan,” Ricky menenangkan.

Pertandingan dimulai. Tanpa berpikir panjang aku segera melancarkan serangan. Vega terkenal dengan teknik cakar dan bantingan di udara. Aku kerahkan semua kemampuan Vega. Sebuah kemenangan singkat aku dapatkan, hanya kurang dari satu menit, sebuah kemenangan perfect karena energi tokohku tidak berkurang sama sekali.

Penonton bersorak, “Hidupp, Sendiii!!!” Termasuk Santos. Aku menoleh ke arah Santos, dia tersenyum bersahabat, tapi aku tetap dingin. Dalam hatiku berkata, kau tidak berguna tanpa koin-koinmu itu.

Selanjutnya, tidak ada yang menyangka, bahkan Iwan dan Ricky pun tidak menyangka itu. Aku membiarkan Vega diserang habis-habisan oleh Chun-Lie. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku sengaja mengalah, termasuk aku ingin Santos tahu itu. Sebuah pembalasan. Aku berpikir, satu juta jumlah yang cukup besar buatku. Seumur hidupku belum pernah aku punya uang sebesar itu, itu sudah cukup, tidak perlu menjadi juara pertama. Aku ingin Santos merasakan kekecewaan yang mendalam dengan kekalahanku ini. Aku ingin dia tahu aku sengaja melakukannya.

Terang Rico dengan mudah menyelesaikan pertandingan ini. Penonton sangat kecewa, mereka berteriak, “Booooo!!!!” Tapi tidak dengan Iwan dan Ricky, mereka tahu mengapa aku mengalah.

Rico adalah pribadi yang baik, usai pertandingan dia menyalami aku seraya berkata, “Kamu juara sejati, aku tahu kamu sengaja mengalah. Ada apa?”

Aku tidak menjawab pertanyaan dia, hanya berkata, “Selamat ya, jadi juara pertama.”

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Santos setelah itu. Kabarnya orang tuanya tahu dia sering bermain judi dan dia dipindahkan ke sekolah asrama. Dia tidak pernah lagi muncul di tempat kami bermain ding-dong sejak hari itu. Itu terakhir kali aku melihat dia.

***

Sahabat Sejati

Demikian aku akhirnya hanya menjadi juara kedua dalam kompetisi itu. Hanya saja bagi Iwan dan Ricky akulah the ding-dong king sejati.

“Rick, bagaimana? Kita bagi dua ya hadiahnya?” Aku menawarkan pada Ricky.

“Tidak perlu Sen. Kita semua berteman dan saling bantu. Aku bangga punya teman seperti kamu,” Ricky menjawab.

Keesokan harinya aku traktir Iwan dan Ricky nonton dan makan.

Di hari-hari berikutnya kami sudah beranjak ke kelas tiga SMP. Orang tua kami masing-masing sudah mulai melarang kami pergi bermain ding-dong karena harus mempersiapkan diri masuk ke jenjang SMA. Makin jarang aku bertemu dengan Iwan dan Ricky karena memang kami ada di kelas yang berbeda. Apalagi setelah masuk SMA kami masuk ke sekolah yang berlainan dan tidak pernah lagi bertemu.

Tidak ada pertemanan setelahnya seperti yang aku miliki bersama mereka.

***

Kembali ke Toko Mainan

“Bapak, aku jadinya pilih yang ini, boleh kan?” Vega datang dengan kardus console yang sudah dia pilih.

Kami segera menyelesaikan pembayaran dan beranjak pergi dari toko mainan itu.

Advertisements

2 thoughts on “The Ding-Dong King

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s