Pasangan Serasi

Danny adalah seorang profesional muda, dia akuntan yang sukses. Sejak lulus, bahkan sebelum lulus, dia sudah dilamar oleh salah satu big five consultant untuk menjadi associate di perusahaan tersebut. Usianya saat ini 35 tahun, selangkah lagi dia akan menjadi partner di perusahaan itu. Usia yang sangat muda untuk posisi itu.

Tujuh tahun yang lalu Danny menikahi Marry. Ia tiga tahun lebih tua dari Marry, mereka pasangan yang serasi. Masing-masing gagah dan cantik, terpelajar dan punya karir yang cemerlang di perusahaan tempat mereka bekerja. Marry adalah seorang corporate secretary di sebuah perusahaan multi nasional. Marry berpenampilan menarik, pandai bergaul dan juga cerdas, suatu kombinasi yang sangat sempurna.

Sebagai keluarga moderen mereka tinggal di sebuah apartemen mewah. Semua dalam apartemen mereka serba otomatis, apapun dari mulai televisi, musik, lampu, tirai dapat dikendalikan melalui sebuah remote saja. Keduanya juga sangat melek teknologi, gadget mereka selalu yang terbaru tentunya. Pergaulan yang tidak pernah tertinggal dengan kalangan atas di kota mereka, membuat relasi mereka semakin luas dan semakin mendukung karir masing-masing.

Demikian pasangan ini adalah pasangan yang sangat serasi dimata kawan-kawan dan keluarga mereka. Hanya satu kekurangan mereka, belum dikaruniai keturunan.

Untuk usia pernikahan yang tergolong lama jelas ini merupakan masalah bagi mereka. Ego lelaki memang tetaplah sebuah ego, bahkan untuk pasangan berpikiran maju seperti mereka. Danny sering kali menolak apabila Marry mengajak mereka berobat atau sekedar berkonsultasi dengan dokter. Selalu saja ada alasan Danny untuk menolak. Itulah satu-satunya masalah mereka yang tidak sering menimbulkan riak dalam biduk rumah tangga mereka.

***

Danny mungkin malu apabila kemudian hasil konsultasi dengan dokter menyatakan dirinya yang mandul, suatu aib bagi laki-laki tentunya. Diam-diam dia pergi sendiri ke dokter untuk berkonsultasi dan menceritakan semua masalahnya. Sehingga seandainya dia yang mandul dia akan menutup informasi ini rapat-rapat dari semua rekan, keluarga bahkan dari Marry.

Dokter menyarankan Danny untuk mengikuti tes fertilitas. Akhirnya Danny mengikut tes ini sesuai dengan prosedur yang dianjurkan oleh Dokter. Pihak klinik kemudian menginformasikan Danny agar kembali tiga hari ke depan untuk mengambil hasilnya.

***

Tiga Hari Kemudian

Danny membaca agendanya hari ini. Sebagai seorang profesional yang sangat sibuk dia selalu mencatat semua rencananya dalam agenda pada gadget yang dia miliki. Dia membaca bahwa hari ini dia harus mengambil hasil tes fertilitas ke klinik dan mengkonsultasikannya dengan dokter.

Sorenya sesuai jadwal dia mengunjungi klinik tersebut. Sesampainya di klinik dia menghampiri petugas pendaftaran seraya bertanya, “Mbak, maaf saya mau bertemu dr. Ruslan.”

“Maaf, Bapak siapa dan apakah sudah ada janji dengan dr. Ruslan, biar kami lihat di daftar antrian hari ini,” jelas petugas itu.

“Nama saya Danny Wibawa. Ya saya sudah ada janji dengan dr. Ruslan, bahkan beliau yang memberitahu saya sebelumnya untuk datang hari ini.” Danny tentunya tidak bilang pada petugas tersebut bahwa dia mau mengambil hasil tes, ini hal yang sangat sensitif baginya. Dia ingin bahkan tidak ada yang tahu masalah ini.

“Oh, Bapak Pak Danny ya. Ini ada amplop titipan dari lab kami untuk Bapak. dr. Ruslan bilang ini diberikan dulu ke Bapak, besok baru datang lagi untuk konsultasi lanjutan karena beliau ada keperluan mendadak hari ini.”

Danny segera mengambil amplop itu. Ingin segera mengetahui hasilnya namun tidak di depan petugas itu tentunya. Dia bergegas menuju mobil. Sampai di mobil langsung dibukanya amplop dengan terburu-buru. Hasilnya, infertile. Dia sepertinya sudah bisa menebak hasil ini, tapi tetap saja tidak suka membacanya. Sama seperti sebuah pertandingan sepak bola, disaat tim yang kita dukung hampir pasti kalah, tetap kita tidak senang dengan fakta yang terjadi. Tapi itulah fakta, kadang, bahkan sering kali menyakitkan.

Danny menyalakan mesin mobilnya dan segera mobilnya ke arah apartemen.

***

Sampai di apartement ternyata Marry sudah duluan sampai.

“Hai Dan, tumben cepat sampai?” Kata Marry sambil menonton televisi.

“Ya, aku capek banget pengen istirahat lebih banyak,” Danny menghampiri Marry kemudian mengecup keningnya, “Aku mandi dulu ya Honey, biar segar dikit.”

Cukup lama Danny di dalam kamar mandi, dia menyempatkan diri untuk berendam. Pikirannya kemana-mana. Mulai dari kedua orangtuanya yang tidak henti-hentinya menanyakan tentang anak setiap kali ada pertemuan keluarga, sampai Marry, istrinya yang sangat dia sayangi, yang juga merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga mereka. Danny masih berharap isi amplop itu salah, bohong, tapi sebagai seorang yang berpendidikan dia kembali harus menerima hasil itu sebagai suatu hasil kerja sebuah tim yang profesional.

Selesai mandi, Danny segera menggunakan piyamanya dan merebahkan diri di samping Marry yang  juga sudah menunggunya sejak tadi.

“Lama banget?” Tanya Marry.

“Iya, berendam dulu tadi.” Danny tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya, dia menjawab pertanyaan istrinya itu sambil menatap ke langit-langit kamar.

“Kenapa sih? Pusing kerjaan ya?” Suara Marry begitu mesra. Ia kemudian merapatkan tubuhnya pada suaminya itu dan memeluknya erat, kemudian lanjut bicara, “Aku ada berita baik buat kita. Habis ini kamu pasti tidak pusing lagi deh.”

Masih menatap langit-langit Danny bertanya, “Apa itu?”

Hening sejenak, Marry menjawab, “Aku hamil Dan.”

Advertisements

4 thoughts on “Pasangan Serasi

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s