Alibi Sempurna

Sekitar lima belas menit berlalu, Toni menunggu di coffee shop bernama Aphrodite. Seharusnya orang itu sudah datang sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati sebelumnya, orang itu bernama Jack.

Jack adalah seorang pembunuh profesional, seminggu yang lalu ada secarik kertas terlipat di dalam mobil Toni, akibat ia kurang rapat menutup kaca jendela mobil. Toni membuka kertas itu, nekad pikirnya saat itu, pembunuh bayaran sekarang melakukan direct marketing. Dunia memang sudah gila.

Tapi entah kenapa Toni tidak mau melaporkan kejadian ini pada polisi, kertas itu pun disimpannya saja dalam mobilnya. Kemarin pikirannya cukup tergoda untuk mencoba jasa ini. Siapa targetnya? istrinya sendiri, Erdina.

Setahun pernikahan Toni, ia sudah mengalami kesemuan hubungan dengan Erdina, mereka belum dikaruniai keturunan. Erdina dan keluarganya sudah menjadi benalu bagi Toni. Adik, kakak, orang tua sampai keluarga yang cukup jauh bergantian datang ke rumah untuk meminta bantuan finansial. Belum lagi Erdina dengan gaya hidupnya yang boros, cenderung sakit menurut Toni. Erdina bisa saja belanja, menghambur-hamburkan uang yang cukup besar, kemudian membagi-bagikannya pada kerabatnya. Atau bahkan sekedar untuk membeli saja dan ada yang hingga kini masih terbungkus rapi di dalam kemasan, belum sama sekali dibuka. Intinya Toni sudah sangat muak dengan statusnya sebagai suami Erdina.

Sampai suatu saat, Toni mendapat laporan dari salah satu temannya, Bimo, yang melihat Erdina dari kejauhan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang jauh lebih muda memasuki lift di sebuah hotel. Toni berulang-ulang memastikan pada Bimo apakah itu benar istrinya. Bimo benar-benar yakin itu Erdina, dia terus menunggu di tempat yang sama, menunggu Erdina selesai dengan urusannya. Benar saja tak lama Erdina melintas, segera Bimo mengabadikan dengan ponselnya.

Foto-foto itu kemudian diperlihatkan pada Toni. Jarak pengambilan cukup jauh, tapi Toni sudah bisa memastikan bahwa itu benar Erdina. Geram sekali Toni saat itu, tapi dia tetap menahan diri di depan Bimo. Dimintanya Bimo untuk menghapus file di ponselnya itu dan memastikan berulang-ulang kepada Bimo agar tidak menceritakan informasi ini pada siapa-siapa. Bimo menyanggupinya.

Demikian akhirnya Toni tergoda untuk memakai jasa Jack untuk menghabisi nyawa Erdina, istrinya sendiri. Dalam secarik kertas yang diselipkan tersebut ada sebuah informasi pin*. Toni berpikir panjang untuk menambahkan pin tersebut pada kontaknya, tapi akhirnya dia menambahkannya juga. Dia percaya dengan tingkat privasi ponsel jaman sekarang, sewaktu-waktu dia tinggal menghapus pin tersebut bila memang hendak berhenti berhubungan. Tentu Toni menghapus dulu gambar dalam profil ponselnya, tidak lupa dia mengganti namanya. Singkat cerita dia akhirnya mengatur janji untuk bertemu dengan Jack di Aphrodite hari ini.

Lima belas menit berlalu ada sebuah pesan pada ponselnya, “Lambaikan tangan Bapak, biar saya bisa lihat Bapak.”

Toni segera melambaikan tangannya. Seorang pria langsung menghampiri mejanya, tanpa permisi dia duduk di kursi di hadapannya, “Pak Toni, apakabar? Saya Jack.” Pria itu tersenyum sambil meyodorkan tanggannya menawarkan diri untuk berjabat tangan.

Dengan agak ragu Toni menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.

Jack melanjutkan bicara, dengan volume suara yang lebih pelan, “Pak jangan terlalu gugup nanti orang-orang curiga. Santai saja, pura-pura saja kita sudah saling kenal.”

“Baik, maaf saya gugup, maklum pengalaman pertama,” Toni tersenyum dan coba sedikit bercanda.

Begitulah akhirnya mereka mulai berdiskusi mengenai rencana mereka. Sebagai seorang profesional, Jack sudah menyiapkan daftar pertanyaan, rencana dan kemungkinan di lapangan. Toni tinggal di sebuah perumahan dengan sistem cluster. Hanya ada satu pintu masuk ke lingkungan mereka dan pada malam hari akan dijaga oleh dua orang petugas keamanan, satu berjaga di pos dan satu lagi berkeliling mengitari komplek. Petugas yang berkeliling selalu bergantian dengan petugas yang menjaga di pos, terus sampai jam enam pagi baru keduanya akan kembali ke pos untuk berganti jadwal dengan regu lain.

Toni menceritakan semua dengan detil, mulai dari alamat rumah dan denah rumah mereka. Hal lain yang penting, saat ini mereka tidak punya pembantu dan juga karena rumah mereka dalam sebuah cluster, semua rumah tidak berpagar.

“Bapak bawa kunci rumah bapak?” Jack bertanya.

Tanpa banyak bicara Toni memberikan dua anak kunci, satu untuk pintu depan satu lagi untuk pintu kamar. Jack Segera meraihnya mengambil sebuah cetakan dari saku jaketnya. Menekan kedua anak kunci itu pada cetakannya, sehingga terbentuk tekstur pada cetakan. Kunci siap untuk diduplikat, anak kunci asli segera dikembalikannya pada Toni.

“Baik pak, biaya sudah tahu kan? Setengah dibayar sekarang, sisanya setelah misi sukses.”

Toni segera menyodorkan amplop berisi uang.

“Selanjutnya saya sarankan bapak menciptakan alibi pada hari H nanti. Saya sarankan Bapak melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Siapkan brankas berisi uang di lokasi tertentu di rumah, tidak perlu besar, untuk mengecoh agar motifnya benar-benar pencurian dengan kekerasan. Satu lagi apa di komplek bapak ada CCTV?”

Toni hanya menggeleng.

___________________

*) pin adalah informasi delapan digit dalam bilangan heksadesimal yang menyatakan keunikan sebuah ponsel merk tertentu. Ponsel jenis ini dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan tingkat sekuriti dan privasi di atas layanan telekomunikasi standar dengan saling mendaftarkan pin satu sama lain.

***

Hari pelaksanaan misi sudah tiba, sesuai rencana Toni akan pergi melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Dia memilih Yogyakarta untuk alibinya. Kebetulan Toni memiliki klien di kota itu. Tidak ada kepentingan yang urgen menemui klien tersebut, namun pertemuan dapat saja dibuat dengan seribu satu alasan. Demikian Toni akhirnya sudah ada di Yogyakarta pada siang hari sebelum besok dini hari misi akan dilaksanakan oleh Jack.

***

02.00 Hari Pelaksanaan

Jack sudah mencapai pos penjagaan cluster perumahan milik Toni, dengan tenang dia menyapa penjaga, “Selamat malam, eh sudah pagi ya Pak. Saya mau ke tempat Pak Toni nih.”

“Hmmm, pagi-pagi benar. Apa sudah ada janji?”

“Sudah Pak, saya memang keluarga Pak Toni,” kata Jack tenang tidak mencurigakan.

“Sebentar saya telepon dulu ke rumah Pak Toni.”

Ini di luar perkiraan Jack. Tapi dia seorang profesional, dia sudah siap dengan Rencana B. Dicabutnya belati, sebelum petugas itu sempat menekan nomor rumah Toni dari telepon di pos, Jack sudah bisa melumpuhkannya, menghilangkan nyawanya.

Jack, melihat jam, sudah sepuluh menit waktu terbuang pikirnya. Ada tiga pilihan, pertama dia mencari petugas yang berkeliling, kedua menunggunya di pos, atau ketiga langsung ke lokasi target dan melakukan aksi. Nampaknya masih ada cukup waktu, jadi dia memilih opsi kedua, menunggu petugas satunya lagi datang.

Firasat Jack baik, tak lama petugas itu datang dengan menggunakan sepeda. Dia belum sadar kalau temannya tidak sedang berjaga, mungkin dia hanya berpikir bahwa temannya itu sedang tidur. Petugas itu sedang memarkirkan sepedanya, tapi malang, Jack membekapnya dari belakang, mematahkan lehernya dan menyayat lehernya dengan belati. Segera diseretnya mayat petugas kedua itu ke dalam pos.

Jack segera menuju lokasi target, rumah Toni. Sampai di depan rumah Toni dia mengintip sebentar lewat jendela, dan melihat jam, sudah dua puluh menit waktu yang dia habiskan sejak tadi sampai di depan perumahan Toni. Segera dia masuk ke rumah dengan kunci cadangan. Daya ingatnya sangat tajam, denah yang pernah diceritakan Toni sebelumnya sudah ada dalam kepalanya. Tidak lama dia mencapai kamar tidur yang pintunya terbuka, secepat kilat sambil meraih pistol dari sakunya ketika sudah di dalam kamar, Jack menembakannya pistol yang dilengkapi peredam itu ke sosok yang sedang tidur di tempat tidur dalam kamar itu.

Darah segar segera membasahi selimut putih. Jack mengarahkan tangannya ke leher korban, hanya untuk mengetahui target sudah benar-benar mati. Ya target telah berhasil dibunuh. Jack segera mencari brankas yang sudah disiapkan Toni untuk mempertajam motif, dibukanya dengan paksa diambil isinya lalu pergi meninggalkan rumah Toni. Tidak lupa dia rusak sedikit pintu masuk rumah hanya untuk memberikan jejak bahwa pintu dibuka secara paksa, bukan menggunakan kunci duplikat.

Jack segera meninggalkan lokasi, melewati pos penjagaan dan menghilang di tengah kegelapan.

***

Esok paginya ponsel Toni berbunyi, sebuah nomor yang tidak dia simpan, nomor dari area Jakarta. Segera dia angkat, “Ya, selamat pagi.”

“Selamat pagi, apa benar ini Pak Toni Adhyaksa?”

“Benar Pak, saya Toni. Bapak siapa dan dari mana?” Jawab Toni dengan suara seperti orang yang sangat khawatir.

“Saya dari kepolisian, ada kejahatan di rumah Bapak tadi malam. Istri bapak salah satu korban.”

Demikian Toni mendengar kabar kematian istrinya. Dia sendiri bingung harus senang atau sedih, yang jelas ini sesuai yang dia rencanakan. Dia segera menuju bandara untuk kembali ke Jakarta secepatnya.

***

Toni sudah sampai di depan komplek rumahnya. Dalam perjalanan tadi dia sempat menerima pesan dari Jack mengenai keberhasilan misi, dan Jack menagih sisa pembayaran. Toni meminta waktu satu hari untuk menyelesaikan pembayaran itu karena dia harus kembali ke rumah dulu agar polisi tidak curiga. Jack setuju dengan alasan Toni, dia memberi Toni waktu.

Sampailah Toni di depan rumahnya, masih ada police line di depan rumahnya. Salah satu petugas polisi menghampirinya, “Pak Toni?” Sapanya. Toni hanya mengangguk, pertugas itu meneruskan bicara, “Mari ikut masuk dengan saya pak. Istri Bapak ada di dalam, dia salah satu korban, penyusup tadi malam berhasil dia lumpuhkan.”

Toni mencoba menyembunyikan kekagetannya mendengar penjelasan dari petugas polisi tadi. Berarti istrinya salah satu korban, tapi bukan korban tewas. Siapa yang dilumpuhkan karena Jack baru saja mengirim pesan singkat padanya di tengah perjalanannya tadi.

Toni menjumpai istrinya, “Erdin, kamu tidak apa-apa?” Ia terpaksa bersandiwara dan berpura-pura sedih, dengan harapan istrinya tidak curiga. Dia tidak banyak bicara hanya memeluk Toni dan menangis sejadi-jadinya dipelukan suaminya. Toni tidak berkata apa-apa, hanya mengelus kepalanya yang jatuh di pelukannya. Perasaan paling aneh selama hidupnya.

Dari polisi kemudian Toni tahu, istrinya telah membuat laporan tadi pagi. Ketika dia mendegar suara pintu secara paksa dibuka dari luar yang menimbulkan sedikit kegaduhan, Erdina segera mengambil pistol yang biasa  disimpan Toni di dalam laci meja kerjanya di dalam kamar. Dia menunggu penyusup itu di kamar. Ketika penyusup itu masuk ke kamarnya, si penyusup langsung membongkar brankas. Menoleh ke belakang dia sadar bahwa sang empunya rumah telah terbangun dan menunggu disisi tempat tidur. Penyusup itu langsung menyerang dan pergulatan terjadi di atas tempat tidur. Erdina berhasil melepaskan beberapa tembakan ke arah penyusup itu. Polisi sudah menyelidiki bahwa jenis peluru dalam tubuh mayat, sama dengan peluru yang ada pada pistol milik Toni.

***

“Jack saya mau bertemu, tidak sesuai rencana, istriku masih hidup.” Itu isi pesan singkat Toni pada Jack.

Jawaban Jack, “Wah, itu di luar tanggung jawab saya, karena saya sudah ikuti petunjuk Bapak. Saya pastikan ada mayat di rumah Bapak, saya sudah mengecek nadinya sebelum saya tinggalkan tempat itu. Saya tetap meminta uang sisa pembayaran saya. Saya punya data Bapak, rumah Bapak, dan semua pertemuan kita diabadikan kamera dari kejauhan.”

Toni kaget sekali membaca balasan Jack. Lemah memang posisinya, sekarang dia merasa Jack sudah mulai memerasnya. Dia menulis balasan, “Baik kita bertemu lagi, di tempat yang sunyi. Parkir terminal 3 bandara. Lewat tengah malam, 01.00.”

Malamnya Toni berangkat menuju parkir terminal 3 bandara. Dia sampai lebih cepat lima menit. Uang sisa pembayaran dia sudah siapkan, jaga-jaga perkembangan tidak sesuai rencananya. Pikirannya tetap tidak tenang, posisinya sangat lemah. Membayar sisa hak Jack bukan solusi buat Toni, tidak ada jaminan pemerasan ini akan berakhir malam ini walau Jack sudah menerima uang ini.

Tak lama ada mobil lain yang parkir tepat di hadapan mobil Toni. Pemiliknya segera keluar dari mobil, Toni tahu itu sosok Jack. Sosok itu berjalan mendekat ke mobil. Toni segera keluar juga dari mobil, mengarah ke sosok itu. Berhadapan dengan jarak sekitar dua meter mereka berdua berhenti.

Toni bicara duluan, “Jack, misimu telah gagal, istriku masih di rumah, sehat wal afiat.”

“Seperti pesan singkat saya Pak. Saya tidak peduli itu, saya tetap meminta hak saya. Pekerjaan yang sudah saya lakukan begitu beresiko. Kesalahan ada pada pihak Bapak, yang kurang detil memberikan informasi kepada Saya.” Suara Jack tetap tenang, dia memang seorang profesional sejati, sama sekali emosinya tidak bermain.

“Apa jaminannya, setelah aku berikan uang ini, kamu tidak lagi memerasku?” Toni bertanya, hampir dia menangis, tapi ditahannya.

“Hahaha,” Jack tertawa berat, tapi tetap tenang, “Itu urusan nanti, yang jelas kita selesaikan dulu urusan kita sekarang.”

Benar firasat Toni sebelumnya, memberikan uang ini pada Jack bukanlah akhir dari semua kerumitan ini. Kerumitan yang telah ia ciptakan sendiri. Tanpa pikir panjang Toni segera meraih pistol dari saku jasnya. Jack tidak menyangka itu, dia mencoba meraih pistolnya, tapi terlambat. Dorr!!! Dorr!!! Dorr!!! tiga kali pistol Toni meletus dan menembus tubuh Jack. Dia segera berpaling dan berjalan tergesa munuju mobil.

Baru sekitar dua langkah Toni berjalan, tiba-tiba, Dorr!! Dorr!! dua letusan lagi terdengar. Toni rubuh seketika itu juga. Jack ternyata masih memiliki sisa napas untuk membidik dan menembak Toni dari jarak yang cukup dekat.

***

Bali, di sebuah hotel bintang lima di kawasan Nusa Dua.

“Bim, I love you.”

“Love you too, Erdin.”

Sepasang kekasih itu Bimo dan Erdina.

Bimo dan Erdina sudah lama menjalin kasih, bahkan beberapa tahun sebelum Erdina menikahi Toni. Erdina sengaja dijadikan umpan untuk Toni. Mereka sudah membidik Toni sejak lama, karena dinilai memiliki kepribadian yang labil tapi sukses dalam usahanya.

Foto-foto yang ditunjukkan oleh Bimo untuk memanas-manasi Toni hanyalah sebuah rekayasa. Orang yang bersama Erdina adalah seorang pemuda tampan, masih sangat belia, bernama Adi. Ternyata memang Toni panas benar melihat foto-foto itu.

Siapa Jack, dia adalah anggota tim mereka, eksekutor lapangan. Bimo adalah otak semua ini. Terbunuhnya Jack oleh Toni adalah sebuah kecelakaan, itu di luar rencana mereka. Bimo tidak mengira Toni akan bertindak seberani itu.

Rencana awal tidak seperti ini. Sebenarnya Bimo ingin memeras Toni lewat Jack perlahan-lahan. Bimo sendiri tidak mau membunuh Toni mengingat dia adalah pengusaha sukses, kasus pembunuhan terhadapnya akan memancing penyelidikan intens oleh pihak kepolisian. Tapi apa daya Toni bertindak di luar yang dia perkirakan.

Ketika Bimo berpikir ulang, ini sebenarnya adalah sebuah blessing in disguise. Kematian Jack malah mendatangkan keuntungan berlipat ganda bagi Bimo. Pertama, dia tidak perlu membagi hasil kerja dengan Jack yang punya peran sangat penting. Kedua, pembunuhan Toni sudah jelas adalah hasil baku tembak dengan pembunuh bayarannya, jadi polisi pasti langsung menyimpulkan ke arah sana, mereka terlalu malas untuk mencari motif lain. Ketiga, rencana awal dengan memeras Toni perlahan-lahan tentu akan menyita waktu yang lebih panjang dibanding dengan yang terjadi sekarang.

Sekarang Erdina adalah seorang janda kaya. Dia sudah menjual semua aset Toni, karena hak waris semua jatuh ke tangan Erdina. Beberapa mobil, tanah, rumah, apartemen sudah dia jual. Saham Toni di perusahaannya juga dijualnya pada partner usaha Toni. Tidak ada yang curiga karena semua beranggapan Erdina begitu terpukul dan hendak pindah dari Jakarta.

Yang terjadi malam itu adalah. Mereka hendak menghilangkan Adi, kekasih boneka Erdina. Erdina sengaja pergi ke kamar kecil ketika Jack ada di lokasi. Jack menghabisi Adi saat itu juga. Sesaat Jack pergi, Erdina memberi laporan palsu pada polisi tentang kejadian ini.

Bimo begitu detil merancang ini semua. Lewat Erdina dia mempelajari semua perangai Toni, termasuk jenis senjata api yang dimiliki Toni. Itu mengapa Jack bisa memakai jenis senjata yang sama dengan yang Toni miliki.

Bimo juga yang telah menyelipkan secarik kertas ke dalam mobil Toni saat di parkir di pelataran parkir kantornya.

“Bim, semua sukses sesuai rencana kita. Kamu memang luar biasa Bim.” Erdina masih memeluk Bimo.

Bimo melepaskan pelukannya, mendorong Erdina ke tempat tidur.

“Ahhh, sabar dong sayang,” Erdina tertawa. Senyumnya mengembang penuh arti, sangat menggoda. Namun itu semua tidak lama, Bimo menodongkan pistol ke arah Erdina. Senyum Erdina sirna seketika, berganti dengan ketakutan dan heran yang bercampur baur jadi satu.

“Ada apa Bim? Apa salahku?”

“Hah!! Setelah satu tahun kau tidur dengan Toni? Lalu sandiwara dengan Adi. Aku bilang sandiwara, tapi kau begitu menikmatinya, aku tahu apa yang kau lakukan dengan Adi.”

“Tapi Bim, itu semua kan hanya sebuah akting?” Jawab Erdina ketakutan.

“Aku hanya butuh kau sampai semua harta Toni sudah diuangkan, karena kau ahli warisnya. Pelacur!!!” Tanpa banyak bicara lagi Bimo menarik pelatuk pada pistolnya beberapa kali. Tubuh Erdina rubuh di tempat tidur bersimbah darah. Bimo segera meninggalkan kamar itu.

Advertisements

4 thoughts on “Alibi Sempurna

  1. mantap, ceritanya rumit kaya Employee of the month (yang binitangi Matt Dillon dan Christina Applegate, bukan yang dibintangi Jessica Simpson)

    Like

    • Thanks, masih banyak celah untuk dikembangkan jadi novel atau minimal novelet. Karena ini sense-nya flash fiction, jadi masih banyak yg didebat, terutama soal motif. Kenapa tdk langsung bunuh Toni. Sudah ada jawabannya, nanti tunggu versi novelet nya.

      Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s