Sutradara Sinetron Serial

“Lutfi aku begitu mencintaimu,” Inne berkata setengah menangis. Inne menyeka air matanya dan meneruskan bicara, “Katakan apa salahku Sayang? Katakan, katakan!”

Suasana hening sejenak, tidak ada yang bicara, tapi rasanya keheningan ini terlalu lama.

“Cutttttt! Lori kamu lagi-lagi lupa naskahnya! Kalau begini terus kapan kita mau selesai, kamu bagaimana sih? Saya sudah bilang kamu harus berlatih terus dengan naskah, supaya kejadiannya tidak seperti ini!” Aku tidak kuasa menahan kemarahanku karena kelakuan aktris utama  yang sangat tidak profesional ini, Lori.

Demikian salah satu masalahku dengan sinetron serial terbaru yang kugarap “Kenyataan”. Namaku Gito, posisiku dalam sinetron ini adalah sutradara sekaligus penulis skenario. Rattingnya memang sangat tinggi, tapi banyak sekali kemauan produser yang harus kuikuti. Mulai dari memutar-mutar cerita agar episode semakin panjang sampai dengan memakai aktris debutan yang sedang naik daun sekelas Lori.

Untungnya aku didukung oleh tim penulis skrip yang handal, ini sudah episode ke 109 dari 50 episode yang direncanakan sebelumnya. Setiap kali produser memintaku untuk memperpanjang cerita aku disibukkan dengan pertemuan-pertemuan dengan para penulis skrip untuk membuat suatu plot baru yang menjadikan episode kian panjang. Tantangan tentu ada karena kesinambungan cerita tetap harus terjaga.

Salah satu siasat yang paling mudah adalah dengan membuat cerita-cerita lain di luar plot utama. Cerita pendukung, ataupun tidak mendukung, bahkan dengan pemain-pemain baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan alur cerita utama. Sama sekali jauh dari bayanganku sebelumnya tentang profesi sebagai film maker, tapi inilah bisnis, idealisme harus sedikit disingkirkan atau bahkan disingkirkan sama sekali.

Jurus permainan kamera dan punyuntingan juga kulakukan. Untuk memperlambat jalannya dialog, biasanya agar menambah ketegangan dalam suatu dialog aku memakai teknik close up berulang-ulang pada wajah-wajah aktor atau aktris yang sedang beradu akting. Bayangkan dengan teknik ini sebuah dialog yang bila dibaca normal hanya membutuhkan waktu satu menit bisa diperpanjang sampai tiga atau bahkan lima menit. Jurus ampuh memperpanjang durasi.

Adegan slow motion juga aku pakai untuk memperpanjang jumlah episode. Biasanya adegan ini manjur dimasukkan untuk sebuah skenario pertemuan antara dua belah pihak yang sudah lama tidak bertemu satu sama lain. Misalnya dua kekasih yang sudah lama tidak bertemu, kemudian si laki-laki menjemput si perempuan kekasihnya itu di bandara atau bisa juga kebalikannya, tidak terlalu penting siapa yang menjemput. Ketika mereka saling melihat maka kameraku akan mulai bekerja, selanjutnya penyunting gambarku nanti akan menambahkan efek close up andalannya. Sepasang kekasih itu kemudian berlari mendekati satu sama lain, dalam sebuah slow motion tentunya, ini juga pekerjaan penyunting gambarku nanti. Seolah tidak peduli dengan kopor yang dibawa oleh pihak yang dijemput, apa negara ini sudah begitu amannya kah? Sehingga barang bawaan bisa dilupakan untuk sejenak berlari-lari melepas rindu dengan sang kekasih. Teknik ini sangat manjur untuk menambah durasi. Sebuah adegan yang hanya perlu dua menit saja bisa disulap menjadi lebih dari lima menit.

Aku mulai buntu untuk memasukkan adegan slow motion ini pada setiap episode. Pernah aku iseng membuat adegan yang tidak lajim menggunakan teknik ini. Adegan itu hanya mengisahkan seorang tokoh utama yang berjalan menuju mobil setelah keluar dari rumah. Aku meminta penyunting gambar untuk menjadikannya slow motion untuk menambah durasi, tidak ada yang protes. Luar biasa.

***

Sinetron Kenyataan: Apakah Mengangkat Isu Pemanasan Global?

Herbal Tribune, Jakarta.

Rupanya sinetron dengan ratting tertinggi saat ini yang ditayangkan di salah satu televisi swasta Indonesia sedang mengangkat isu pemanasan global. Bagaimana tidak? Saat siang set begitu terik luar biasa namun malamnya turun hujan yang deras seketika. Saat itu dua pemeran utama kembali memadu kasih setelah sekian lama dikisahkan hubungannya renggang hampir satu bulan. Mereka berlari-lari di tengah hujan yang begitu deras.

Setiap adegan di malam hari saat terjadi adu mulut antar pemeran selalu ada petir menyambar, ini  jelas untuk menambah kekuatan pada dialog yang dilakukan. Tapi pada adegan lain, di waktu yang sama, dikisahkan beberapa pemeran sedang ngobrol santai di sisi kolam renang di tengah udara yang cerah. Fenomena perubahan iklim yang begitu baik digambarkan dalam sinetron ini.

Demikian sedikit cuplikan dari kolom kritik yang dimuat harian terkemuka negeri, The Herbal Tribune. Hari ini harian ini memuat kritik terhadap serial yang aku garap. Anehnya ini dari seorang penulis anonim.

Aku tiba di lokasi syuting, semua kru sudah lengkap di lokasi, semua pemain juga sudah lengkap kecuali satu, Lori. Anak ini memang bermasalah, ingin sekali aku memberhentikannya, membuat tokoh yang dia perankan, Inne, tiba-tiba divonis dokter mengidap kanker dan umurnya tinggal satu minggu lagi. Inne mati dan tokoh utama pria mencari kekasih baru. Bisa saja kubuat seperti itu kalau memang produser megijinkannya. Hanya saja ini tidak mungkin aku lakukan karena dia anak kesayangan produser, entah mungkin Lori dan produserku sekarang masih di sebuah hotel dalam tempat tidur yang sama, belum terbangun setelah mungkin tadi malam mereka mabuk-mabukan dan pesta hingga pagi hari. Pikiranku begitu liar, segera kutepis jauh-jauh.

Aku memanggil asistenku Tike, “Mbak Tik, coba lihat ada tidak adegan sesuai skenario yang bisa diambil tanpa ada Lori dulu?”

“Oh baik Mas, tadinya sih kalau Mbak Lori sudah datang, set sudah siap untuk beberapa adegan yang melibatkan dia. Tapi saya cek dulu apa bisa seperti yang Mas minta tadi.”

Untung aku punya asisten yang cukup cekatan. Menunggu hasil dari Tike aku hampiri gerombolan kru yang sedang asik membaca koran, “Asik bener nih baca korannya?”

“Iya nih Mas, lagi baca kritik terhadap sinetron yang sedang kita garap. Panas juga bacanya nih,” jawab seseorang.

“Ah, biarkan saja, percaya deh dengan ini ratting sinetron kita malah naik.”

Aku meninggalkan mereka, mencari tempat duduk dan membuka laptop. Siapa tahu ada tulisan yang bisa kubuat sambil menunggu Tike mengubah jadwal syuting hari ini. Aku tidak terlalu gusar dengan kritik pedas yang dimuat The Herbal Tribune hari ini, karena aku sendiri yang menulisnya.

***

Ya demikianlah, karena bosan dengan skenario yang dibuat olehku sendiri maka aku memutuskan untuk menulis kritik terhadap sinetron serial yang sedang kugarap. Tentu tak mungkin mengirimkannya atas namaku, jadi aku membuat email baru dan mulai mengirimkan artikel-artikel, yang berisi kritik itu, kepada redaksi The Herbal Tribune.

Mulanya aku tidak berharap ini dimuat oleh The Herbal Tribune. Dari lima artikel pertama yang aku kirim tidak ada satu pun yang dimuat. Aku terus mengirimkan artikelku pada redaksi mereka, sampai pada akhirnya artikelku yang keenam mereka muat. Aku sendiri kaget.

Hari ini aku menerima email dari mereka, mereka meminta aku untuk menulis beberapa artikel lagi terkait dengan sinetron “Kenyataan”, mereka tidak tahu tentunya aku sutradara sinetron ini. Mereka juga meminta aku membahas tidak hanya sinetron “Kenyataan” tapi lebih umum mengenai dunia sinetron atau bahkan pertelevisian. Aku menyanggupinya.

Mereka juga menanyakan soal pembayaran, bagaimana mereka bisa membayar aku? Sementara aku memakai anomim dalam tulisanku. Untuk itu aku menghubungi kerabatku, menceritakan semua apa yang sudah aku lakukan, dia hanya tertawa saat aku ceritakan semua. Pihak surat kabar akan menyiapkan cek untuk membayar jasaku dan kerabatku ini yang akan mengambil cek tersebut setiap kali aku menerima bayaran atas artikel yang dimuat. Tak lupa aku mengingatkan pihak redaksi untuk untuk tidak mencari tahu siapa aku karena itu sangat penting bagi aku, mereka juga mengerti dan menghargai keputusanku.

Demikian aku akhirnya aku terjebak dalam permainan ego. Menulis sinetron yang tidak idealis, berorientasi pasar dan ratting, sesuai dengan permintaan produser, sambil di sisi lain menulis artikel berisi kritik terhadap dunia sinetron dan perlevisian termasuk di dalamnya kritik terhadap sinetronku sendiri.

Salah satu judul artikelku adalah, “Sinetron Indonesia: Keberhasilan Rekayasa Genetik”. Aku mengkritisi soal casting, pemilihan pemeran, yang tidak logis dalam sinetron Indonesia. Misalnya tokoh orang tua tidak punya wajah indo sama sekali, baik itu ibu maupun bapaknya, tapi mengapa bisa menurunkan seorang anak berwajah sangat bule. Aku juga menyinggung pemilihan usia yang terlalu muda untuk memerankan suatu peran, tokoh anak muda yang diperankan oleh remaja, tokoh orang tua yang diperankan oleh anak muda. Semuanya dengan tata rias yang asal jadi, hanya menambahkan rambut putih dan asesoris kacamata ditambah sedikit batuk-batuk, jadilah dia orang tua.

Artikel lain berjudul “Potret Kenyataan yang Tidak Nyata dalam Sinetron Indonesia”. Membahas tentang usaha sinetron untuk menangkap kisah dari kehidupan nyata namun justru jadi tidak nyata. Misalnya dengan anak muda yang sepertinya banyak tinggal di rumah, berdasi, tapi siang-siang sering ada di rumah. Bagaimana mungkin seorang pengusaha muda sukses tiba-tiba jadi kaya, padahal sering santai-santai di rumah, kalau bukan dari warisan sepertinya ini sulit terwujud. Atau apa mungkin si pengusaha muda sukses ini selalu pulang dulu dari kantor untuk mencapai rumah, kemudian bersantai di rumah dan kembali lagi ke kantor? Mengingat kemacetan kota besar yang luar biasa saat ini sepertinya ini sebuah usaha yang gagal dalam melukiskan suatu kenyataan.

***

Tulisanku, yang sebenarnya mengkritik diriku sendiri itu, terus dimuat oleh The Herbal Tribune. Sampai suatu hari aku menerima sebuah email dari redaksi The Herbal Tribune, bahwa produser film dan sinetron terkenal Srinivash Takur ingin bertemu dengan aku, bukan aku sebagai sang sutradara yang sudah dia kenal melainkan aku sebagai sang kritikus.

Pak Takur, demikian orang-orang biasa memanggilnya,  tentunya tidak tahu bahwa penulis anonim itu adalah aku sendiri. Dari email itu aku tahu bahwa Pak Takur hendak membuat sebuah film layar lebar atau mini seri dengan topik dan penggarapan yang cukup idealis dan menyerahkan sepenuhnya penggarapan pada si penulis skenario dan sutradara.

Firasat binis Pak Takur tidak dapat diragukan lagi, terutama dalam dunia film dan sinetron. Dia tahu bahwa si penulis anonim, dengan segala apa yang sudah dia tulis, adalah seseorang yang paham betul dunia film making sehingga dia tidak ragu untuk menawarkan proyek ini pada yang bersangkutan.

Terus terang aku agak kebingungan membaca email ini. Aku melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk mengganti haluan, tapi di sisi lain aku ragu untuk membuka kedokku, terutama kepada Pak Takur. Bagaimana nanti kalau dia marah besar karena aku telah bertindak tidak profesional dengan menulis artikel yang menyerang produk yang aku buat sendiri. Bisa-bisa kontrakku diputus di tengah jalan, atau paling tidak sinetron “Kenyataan” ini akan menjadi proyek terakhirku bersama dia. Lalu dengan jaringan yang sangat luas di dunia yang kugeluti, sangat mungkin dia menutup semua jalan bagiku untuk bekerja pada rumah produksi lain.

Aku akhirnya terpikir untuk menghubungi Joko. Dia teman kuliahku dulu, sampai saat ini dia banyak menulis naskah untuk teater dan film-film indie. Beberapa kali dia juga menyutradarai sendiri film-film low budget tersebut. Aku pernah mengajaknya untuk menggarap sebuah sinetron, tapi ditolaknya mentah-mentah, dia memang sangat idealis.

Segera kuhubungi dia dan menceritakan semua apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana aku menjadi kritikus terhadap produk yang aku buat sendiri.

“Gila kau To! Itu sangat beresiko. Tapi dipikir-pikir sih hebat juga. Aku banyak membaca artikel The Herbal Tribune yang ditulis penulis anonim itu. Aku sering terkagum dengan isinya dan aku yakin yang menulis adalah seorang jenius film. Di Indonesia hanya aku dan kau yang aku tahu jenius dalam bidang ini, hanya aku tidak terpikir penulisnya itu benar-benar kau.” Demikian Joko bertutur ketika aku menghubunginya lewat ponsel. Dia memang pribadi yang unik, cerdas dan memiliki percaya diri yang tinggi.

Akhirnya Joko setuju untuk menemui Tuan Takur.

***

Proyek pertama Joko adalah sebuah mini seri tujuh episode dengan durasi satu jam per episode. Mengisahkan tentang perjuangan Pangeran Diponogoro dari awal sebelum peperangan, ketika peperangan, sampai dia ditangkap dan perang berakhir. Momennya adalah hari kemerdekaan, sehingga mini seri ini sukses dalam penayangannya.

Setelah proyek pertama ini sukses kemudian Joko langsung terjun ke layar lebar. Berikutnya dia membuat film tentang almarhum pejuang HAM Munir. Entah kenapa animo masyarakat juga tinggi menyambut film ini.

Demikian Joko akhirnya menjadi sutradara terkenal, dikenal dengan karya-karyanya yang idealis tapi juga diminati pasar, suatu perpaduan yang luar biasa. Joko sendiri pernah menawarkan aku untuk bergabung dalam proyeknya, tapi aku menolak dan memilih dalam jalurku.

Bukan aku tidak mencoba untuk masuk ke jalur yang sudah digeluti Joko, aku pernah menawarkan karyaku pada Pak Takur, sebuah karya yang lebih idealis dibanding sinetron yang aku garap. Tapi dia menolak mentah-mentah proposalku, dia percaya aku sanggup melakukan apa yang Joko lakukan, tapi image yang aku miliki sudah lain. Orang tidak akan percaya bahwa seorang Gito akhirnya masuk dalam dunia layar lebar dengan cerita dan penggarapan yang jauh lebih idealis. Sebagus apapun karyaku nanti orang akan apriori sehingga walau dengan marketing besar-besaran, keberhasilannya tidak dapat dijamin. Pak Takur jelas enggan untuk mengambil jalan penuh resiko ini. Setelah aku pikir-pikir benar juga apa yang dikatakan Pak Takur.

Inilah aku sekarang, terjebak dalam dunia sinetron serial dan Joko dalam dunia film layar lebar yang lebih idealis tapi juga menyedot pasar. Kami sama-sama sukses di jalur masing-masing. Sudahlah kupikir, mungkin ini sudah panggilanku.

Advertisements

One thought on “Sutradara Sinetron Serial

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s