Polaroid ke Digital

“Pak fotonya Pak? Langsung jadi, tak  perlu tunggu.” Demikian aku tawarkan jasaku pada sepasang kekasih yang sedang ada di lokasi wisata Curug Panganten. Tempat wisata murah meriah tak jauh dari Kota Bandung. Ada sebuah air terjun yang cukup indah di sini, biasanya orang berfoto-foto dengan latar belakang air terjun ini. Sebagian ada yang membawa kamera sendiri, namun tidak jarang yang tidak membawa kamera. Orang-orang yang tidak bawa kamera inilah adalah target pasarku.

Aku menawarkan jasa foto langsung jadi dengan kamera Polaroid. Kamera jenis ini mampu memproduksi sebuah gambar tercetak sesaat setelah sebuah momen atau obyek diabadikan. Bisnis yang sangat cocok kala itu untuk ditawarkan di daerah wisata seperti Curug Panganten.

Aku sendiri tinggal di sebuah desa dekat dengan lokasi wisata ini. Setiap pagi aku mampir ke tempat Koh Benny untuk mengambil kamera Polaroid. Dia memiliki beberapa kamera ini untuk disewakan, aku mengambilnya pagi dan mengembalikannya sore hari setelah aku selesai menawarkan jasaku pada para pelancong di yang datang ke curug itu. Koh Benny cukup fair dalam menjalankan bisnis, dia hanya menagih sesuai dengan jumlah instant film yang terpakai hari itu. Bahkan karena sudah lama bekerja untuk Koh Benny, dia kadang membiarkan aku membawa kameranya ke rumah dan setor hasil kerja cukup saat instant film pada kamera yang kubawa habis. Dia tahu aku bekerja paruh waktu sambil sekolah, jadi dia memberikan dispensasi itu padaku.

Demikian saat itu pertengahan 90-an, usiaku 15 tahun. Aku sudah di bangku SMA saat itu dan aku bekerja paruh waktu di saat sepulang sekolah atau masa liburan sekolah.

Hari itu ada sepasang kekasih yang kulihat tidak membawa kamera. Usia yang pria kira-kira sudah kepala tiga, sedang yang wanita masih di awal dua puluh, begitu tebakanku. Aku sudah menawarkan jasa foto langsung jadi padanya, kemudian yang pria memanggil aku.

“Jang, ke sini,” katanya. Di daerah kami biasa seorang anak laki-laki dipanggil ujang kalau memang belum mengetahui namanya, terutama kalau strata ekonomi orang dipanggil lebih rendah dari yang memanggil, entah kenapa begitu.

“Ya Pak, fotonya? Mau Pak?” Aku bertanya pada mereka, memastikan mereka memang mau memakai jasaku.

“Berapa sekali foto?” Tanya yang wanita.

“Lima ribu saja Teh,” jawabku. Teteh adalah kakak dalam Bahasa Sunda, biasa untuk menyapa wanita yang lebih tua walau itu bukan kakak kandung kita.

Mereka tidak menjawab hanya mengangguk dan mengambil pose. Aku segera mengambilnya. Instant film segera keluar dari kamera, kukibas-kibaskan, entah apa maksudnya, tapi aku diajari kalau hasil foto baru keluar dari kamera segera kibas-kibaskan. Lalu mereka berciuman mesra, saat sang wanita mencium bapak itu di bagian pipi, wajah bapak itu menghadap ke arah kameraku kuambil sekali lagi gambar mereka.

Aku mendekati pasangan itu, “Ini Pak, dua foto jadinya sepuluh ribu.”

“Siapa yang suruh kamu ambil dua kali, saya ambil satu saja,” jawab yang laki-laki.

“Yah Pak, bagaimana ini, sudah kaduhung, terlanjur diambil Pak,” kataku sedikit memelas.

“Tidak bisa begitu Jang, makanya tanya dulu lain kali ya. Kami ambil yang pertama saja, jadinya lima ribu,” kata yang wanita. Suaranya begitu lembut, aku tidak banyak bicara lagi. Sambil menunduk kuambil uang yang disodorkan wanita itu, menyerahkan satu foto pada mereka dan segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, termasuk mengucapkan terimakasih.

Hari itu aku begitu murung karena tetap aku harus membayar instant film yang sudah terpakai untuk mengambil gambar pasangan kekasih itu, walaupun mereka tidak mau menebusnya. Koh Benny begitu baik padaku, aku tidak mau minta dispensasi lagi padanya, malu.

“Kenapa Asep? Cemberut begitu?” Kata Kang Hadi. Dia teman satu kampung aku. Usianya jauh di atas aku, sudah menginjak kepala dua.

“Iya nih kang. Tadi foto dua kali, tapi orang yang difoto hanya mau tebus satu saja,” jawabku.

“Ya sudah Sep, lain kali hati-hati kalau ambil foto orang. Jangan ambil kalau belum setuju orangnya. Simpan saja Sep itu foto, untuk jadi kenang-kenangan, hahaha,” Kang Hadi malah tertawa.

“Eh, Si Akang bagaimana? Orang sedang susah malah ditetertawakan begini,” keluhku.

“Coba lihat hasilnya,” Kang Hadi ingin melihat foto hasil jepretan. Aku menyodorkan foto yang tidak ditebus tadi padanya, dia langsung bereraksi, “Eyyyy, ini pasti pasangan selingkuhan Sep, pasti!”

“Ah, dari mana Akang tahu?” Aku penasaran.

“Umurnya sepertinya agak jauh Sep, terus mesra sekali, pakai cium-ciuman segala di depan umum. Tidak akan begitu kalau suami istri mah Sep, tidak akan. Seperti tidak ada waktu saja nanti di rumah Sep.”

Kusimpan foto tadi, aku kembali termenung murung. Sial orang kota itu, hanya lima ribu Rupiah saja mereka tidak mau tebus foto ini. Berapa sih arti uang sebesar itu untuk mereka, sedangkan bagi aku jumlah sebesar itu sangatlah berarti.

***

Sepuluh Tahun Kemudian

Sebelumnya bisnis foto Polaroid sudah beberapa kali tegeser. Banyak pelancong yang sudah membawa kamera sendiri di kemudian hari, aku masih bisa berjualan film kala itu. Setelah itu jaman terus berputar kamera digital sudah ditemukan, tapi harganya masih cukup mahal jadi pengguna kamera analog tetap ada walau semakin hari jumlahnya semakin berkurang. Beberapa tahun yang lalu jasa yang kami berikan sudah benar-benar mati, sejak hampir semua telepon genggam sudah dilengkapi kamera.

Usaha Koh Benny pun gulung tikar, dia kembali ke usaha lamanya berdagang sembako. Aku sendiri mencoba peruntunganku ke kota. Akhirnya inilah aku sekarang, bekerja di percetakan.

Beberapa tahun yang lalu aku coba mengambil kursus komputer di kota, uangnya kudapat dari orangtuaku dari hasil mereka menjual sepetak sawah mereka. Karena aku memiliki sedikit bakat menggambar aku mengikuti kursus desain grafis. Dengan bekal ini aku diterima sebagai asisten desain grafis di tempatku bekerja sekarang.

Sekarang aku sudah cukup dipercaya untuk mengerjakan beberapa order desain sendiri. Percetakan tempat aku bekerja skalanya tidak terlalu besar, kami bukan mencetak buku yang diproduksi secara massal. Kebanyakan orderan kami adalah undangan pernikahan. Seiring dengan perkembangan teknologi perusahaan kami juga mulai beranjak ke teknologi digital, banyak orderan dari orang-orang yang menjadi caleg atau peserta pilkada setelah kami menggunakan teknologi ini, karena kami menerima juga jasa pencetakan spanduk atau poster untuk kepentingan kampanye mereka. Sekarang aku diberi tugas untuk ini, mendesain spanduk atau poster untuk kampanye caleg maupun pilkada.

Aku biasa menerima file foto caleg atau calon bupati/walikota itu dalam bentuk file. Banyak foto politisi daerah di komputer kerjaku. Kadang mereka ingin kami menghilangkan sedikit noda di wajah, membuat kulit sedikit halus atau lebih putih. Maklum sebagian dari mereka juga orang susah seperti aku dulunya, hanya saja lebih beruntung bisa ikut pilkada atau jadi caleg. Kemudian aku baru tahu bahwa sebagian besar dari mereka terlibat hutang atau semua sawahnya di kampung sudah terjual untuk membiayai kampanye. Aku juga baru tahu belakangan bahwa beberapa politisi daerah ini tidak membayar jasa kami. Menyedihkan.

Sampai suatu hari, saat aku menerima file dari bagian penerimaan order aku segera membuka file tersebut, yang biasanya berisi foto politisi yang akan dibuatkan spanduk atau posternya, di komputer kerjaku. Ada wajah politisi yang tidak asing bagiku, aku lupa-lupa ingat siapa orang ini, wajahnya tidak asing bagiku, tapi aku belum bisa mengingat siapa dia secara pasti.

Sampai ketika aku sedang makan siang bersama beberapa teman, aku berdiri tiba-tiba, sampai teman-temanku kaget. Aku ingat bahwa politisi dalam foto itu adalah orang yang juga ada pada foto Polaroid yang masih aku simpan bertahun-tahun. Dia adalah laki-laki yang dicium wanita yang jauh lebih muda dari dia, sekitar sepuluh tahun yang lalu di Curug Panganten. Pasangan yang tidak mau menebus hasil foto kedua hanya karena uang lima ribu Rupiah.

Aku tidak menyelesaikan makan siangku segera kembali ke percetakan, mencari tasku karena foto itu selalu kusimpan dalam sebuah buku catatan yang selalu kubawa kemana-mana. Kutemukan foto itu dalam tasku dan segera aku menuju ke komputer kerjaku. Kucocokkan foto Polaroid itu dengan foto politisi yang ada di komputer itu, seratus persen aku yakin ini orang yang sama.

***

Pesanan dari orang itu tetap kuselesaikan dan tak sabar aku menunggu orang itu atau suruhannya mengambil hasil kerja kami. Biasanya ini sudah bukan urusanku, tapi khusus untuk kasus ini aku peduli. Aku memberi sedikit uang kepada bagian pengambilan order, mengatakan bahwa kalau pesanan ini diambil oleh pemiliknya aku segera diberi tahu.

Sampai pada suatu siang ketika aku sedang istirahat di halaman belakang percetakan, bagian pengambilan dengan tergesa-gesa menghampiriku.

“Kang Asep, itu orangnya ambil barang yang waktu itu,” kata Nining petugas tersebut.

“Oh, terimakasih,” kataku sambil mematikan rokok.

Segera aku bergegas ke bagian depan percetakan kami, tempat penerimaan order dan pengambilan order biasa dilakukan. Kuintip ternyata yang mengambil hasil cetakan spanduk dan poster politisi itu hanya orang suruhan.

Aku segera menyiapkan secarik kertas bertuliskan

Maaf kalau saya lancang.

Bapak ingat tukang foto Polaroid di Curug Panganten sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saya punya foto Bapak dengan seorang gadis saat itu sedang bermesraan. Temui saya di Istana Plaza, kantin supir, dekat area parkir. Besok jam 12.00.

Salam.

Segera kupanggil Nining, “Ning, sini,” kataku sambil melambaikan tangan dari balik pintu.

Nining awalnya heran, tapi dia terlihat memberi tahu pelanggan yang sedang dia layani untuk menunggu. Nining menghampiri aku seraya bertanya, “Ada apa Kang Asep?”

“Saya minta tolong selipkan kertas ini ke bukti pembayaran untuk order yang tadi.”

“Tapi kang nanti saya bisa kena marah,” Nining sedikit beralasan. Dia teman satu kampung aku, aku yang memasukkan dia ke percetakan ini, jadi dia ada hutang budi padaku.

“Sudah, masukkan saja, Akang yang tanggung jawab nanti. Jangan lupa nanti amplopnya dilem dan beritahu orang itu bahwa amplop ini hanya bisa dibuka oleh bosnya.”

Sebenarnya tidak seperti aturannya, aku sekedar mengarang aturan saja, Nining juga tahu bukan seperti itu aturannya, tapi dia lakukan juga sesuai permintaanku.

***

Hari itu sesuai dengan catatan yang kuberikan, aku pergi ke Istana Plaza, jaraknya cukup jauh dari percetakan tempat aku bekerja. Aku sudah minta ijin bosku untuk pergi makan siang agak jauh dari kantor dan kembali sekitar pukul 14.00, Karena sebenarnya waktu istirahat makan siang kami hanya satu jam, dari pukul 12.00 sampai 13.00. Foto Polaroid sepasang kekasih itu tentu saja kubawa.

Aku sampai sekitar lima belas menit lebih lambat dari janjiku, ketika memasuki kantin aku lihat bapak itu sudah lebih dulu di sana. Aku segera menghampirinya, melempar senyum ketika berhadapan dengan dia dan mengambil duduk dalam meja yang sama, tepat di hadapannya.

Beberapa saat aku dan dia sama-sama diam. Aku sengaja diam, menunggu dia yang bicara lebih dahulu. Akhirnya dia membuka pembicaraan.

“Baiklah Jang,” katanya. Dalam pikiranku, aku tidak keberatan dipanggil ujang, tapi benar-benar arogan bapak ini, walau dalam keadaan aku yang di atas angin, dia sama sekali tidak mengubah sikapnya padaku. Dia melanjutkan lagi, “Apa yang kamu tawarkan, saya tahu kamu punya foto saya sepuluh tahun yang lalu.”

“Saya tidak menawarkan apa-apa Pak,” jawabku singkat.

“Lalu buat apa kamu meminta aku bertemu aku di sini? Kamu mau aku tebus foto itu kan? Kamu tahu aku sekarang calon kuat jadi anggota DPRD, dan kamu pikir foto itu bisa membuat semua usahaku kandas.”

“Bapak sendiri yang bilang seperti itu. Saya tidak bilang seperti itu,” aku menjawab singkat. Entah kenapa aku begitu dingin hari itu, ini semua tidak kurencanakan.

“Baiklah, saya akui kalau sampai foto itu beredar, keluarga dan karir politik saya selesai. Kamu minta berapa Jang?” Dia menantangku.

“Bapak bisa beri berapa? Berapa harga yang pantas menurut Bapak?” Aku menantang dia balik.

“Baik saya berikan sepuluh juta, kamu bawa foto itu sekarang?” Tanya dia tergesa-gesa.

Aku menarik nafas, “Gaji saya jauh di bawah sepuluh juta, tapi apakah benar foto itu hanya berharga sepuluh juta buat Bapak?” Aku terus memancing, sepertinya aku begitu menikmati permainan ini.

“Kamu minta berapa. Saya tidak suka bertele-tele, seperti di pasar ikan saja. Ini penawaran terakhir saya, lima puluh juta.”

Aku cukup kaget dengan jumlah yang berani dia bayar. Seumur hidupku belum pernah aku memiliki uang sebanyak itu. Tapi bukan itu tujuanku.

“Pak, terimakasih untuk penawaran Bapak. Ingat sepuluh tahun yang lalu saya hanya minta lima ribu saja, sekarang Bapak berani bayar lima puluh juta untuk foto yang sama. Hahaha, Bapak memang lucu, sudah cocok untuk jadi politisi.” Aku tertawa pelan, penuh kemenangan.

“Saya hanya minta lima ribu saja, sesuai dengan tarif foto saya dulu Pak,” aku berkata sambil menyodorkan foto Polaroid yang dia inginkan, “Ini foto Bapak.”

Segera dia ambil dan dia lihat foto itu, dia manggut-manggut.

“Saya bukan seperti Bapak atau teman-teman politisi Bapak yang lain, yang menilai semua dengan uang. Sekarang Bapak bisa pergi walau belum memberikan lima ribu Rupiah pada saya, kalau memang Bapak tidak malu. Bapak sudah miliki foto itu, saya tidak punya duplikatnya.”

Laki-laki itu mengeluarkan dompetnya, mungkin tidak ada pecahan kecil di dompetnya, dia mengeluarkan selembar uang seratus ribu Rupiah. Segera kuambil uang itu, kumasukkan uang itu ke dalam dompetku. Aku sudah menyiapkan uang kembalian, karena aku tahu kejadiannya akan seperti ini. Keberikan uang sebesar sembilan puluh lima ribu Rupiah, kuletakkan di atas meja di hadapannya.

“Ini kembaliannya Pak.” Aku berkata sambil berdiri dan segera meninggalkan laki-laki itu, bergegas kembali ke percetakanku, tempat aku mencari nafkah.

Advertisements

One thought on “Polaroid ke Digital

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s