Buka Puasa Anak Menteri

Suatu hari anak-anak menteri berkumpul. Mereka cukup risih dengan anggapan banyak orang bahwa mereka ini orang-orang tidak berguna. Anggapan bahwa mereka hanya beruntung saja selama ini karena terlahir sebagai putra dan putri menteri.

“Baiklah kita sudah berkumpul di tempat ini,” ujar salah satu yang dituakan dari antara mereka, “Tahu tujuannya?”

Semua yang hadir hanya terdiam dan saling memandang satu sama lain. Sang ketua pun lanjut bicara, “Begini, selama ini kita dicap sebagai orang-orang yang hanya menghabiskan harta orang tua kita termasuk di dalamnya fasilitas negara.” Dia menghela napas, lalu lanjut bicara, “Ayah saya sudah terpilih beberapa periode, maka saya mengganggap penting bagi kita untuk memperbaiki citra orang tua kita, supaya bisa terpilih lagi di periode berikutnya. Ada usulan, apa yang bisa kita lakukan? Tentunya nanti kegiatan kita ini akan diliput oleh pers.”

Salah seorang mengacungkan tangan, sang ketua menunjuk orang itu, “Ya, kamu yang pakai baju biru.”

“Begini, bagaimana kalau kita membuat tulisan yang sifatnya sedikit kritis tapi jangan terlalu memojokkan pemerintah,” kata orang ini memberi usul.

“Baiklah, usulah yang baik, tapi sedikit riskan karena orang tua kita bisa marah, hal ini bisa saja sensitif bagi mereka. Lagi pula apakah ada di antara kita yang bisa menulis sebuah esai, apalagi dengan muatan politis? Saya sudah lama tidak menulis sesuatu selain formulir pendaftaran atau angket, bahkan tesis saya waktu kuliah pun saya buat dengan membayar orang.”

Semua yang hadir terdiam dan saling pandang, sampai tiba-tiba ada lagi yang mengacungkan tangan, “Boleh saya usul?”

“Silakan, kamu yang pakai baju kuning,” ujar sang ketua.

“Bagaimana kalau kita buat bakti sosial ke sebuah desa yang tertinggal?”

“Tidak setuju!” Ada suara wanita, dandanannya mirip sosialita, dari arah belakang. “Aduh, bakti sosial? Bagaimana sih, itu kan capek, keringat, panas, kulitku bisa-bisa gosong nanti. Belum lagi bertemu dengan anak kampung, orang-orang yang jarang mandi, punya banyak penyakit kulit? Ihhh, ogah. Kalau ini sampai jadi, saya sudah pasti tidak ikut.”

“Tampaknya alasan Mbak di belakang tadi masuk akal, lagi pula menunjukkan pada pers bahwa ada daerah tertinggal di tengah-tengah masa kerja orang tua kita adalah sama dengan membuka aib sendiri.”

“Saya ada usul,” kata seorang wanita lagi.

“Ya baiklah, Mbak yang pakai jilbab,” ujar sang ketua.

“Bagaimana kalau kita membuat acara buka bersama, kebetulan momennya pas, sekarang ini Bulan Ramadhan. Setelah itu bisa dilanjutkan dengan pengajian. Bila yang tidak biasa mengaji ya boleh saja duduk-duduk sambil ngobrol atau pulang setelah acara berbuka selesai. Acara ini tidak menguras energi tapi juga meningkatkan citra kita dan orang tua kita, menunjukkan bahwa kita punya nilai religi.”

“Cocok, saya setuju sekali,” kata sang ketua, “Bagaimana yang lainnya?”

Semuanya diam saja hanya manggut-manggut tanda setuju. Akhirnya disepakati untuk membuat acara buka bersama dengan tuan rumah kediaman Menteri Agama tentunya. Kepanitiaan kecil dibentuk, pers pun dengan mudah dapat dihubungi.

***

Hari itu Darso sedang ngabuburit, berjalan-jalan di daerah komplek menteri, karena komplek itu masih rimbun dengan pepohonan, cocok untuk menunggu waktu berbuka puasa.

Dia dikagetkan oleh deru mobil mewah, mirip dengan mobil tempur. Darso sampai terheran-heran, buat apa di negara yang begitu aman dan tidak ada perang ada orang yang memakai mobil seperti itu. Mobil kemudian berhenti, sang supir turun membuka pintu untuk tuannya. Turun dari mobil seorang pemuda dengan pakaian militer lengkap memasuki sebuah rumah. Beberapa orang dalam rumah menyambut pemuda ini. Ini pasti anak Menteri Pertahanan, pikir Darso.

Tak lama muncul ambulans mendekati rumah yang sama. Darso sempat kaget, siapa yang sakit keras di komplek menteri ini? Atau adakah yang baru meninggal? Ambulans itu berhenti di depan rumah yang sama, seorang perempuan usia belasan turun dari Ambulans itu dan mendapat sambutan dari tuan rumah. Pasti ini anak Menteri Kesehatan, Darso menyimpulkan.

Tak lama ada sebuah bus besar mendekat ke rumah itu. Walau dari luar, terlihat bus itu sangat mewah. Ukuran bus sangat besar, tapi tetap dipaksakan untuk dapat memasuki komplek menteri. Bus itu dikawal beberapa petugas yang menggunakan sepeda motor besar di depannya. Bus berhenti di depan rumah yang sama, seorang anak usia belasan turun dari bus tersebut dan disambut oleh tuan rumah dengan ramahnya. Ini pasti anak Menteri Perhubungan, pikir Darso Lagi.

Tetamu mulai berdatangan satu per satu, sampai pada akhirnya ada seorang anak laki-laki keluar dari sebuah mobil mewah. Anak itu keluar dari mobil seperti tidak memperhatikan sekitarnya, hanya sibuk dengan gadget dalam genggamannya. Dia baru sadar ketika tuan rumah mengulurkan tangan dan sedikit menepuk bahunya. Sambil sedikit malu-malu anak itu menyimpan gadgetnya dalam saku dan bersalaman dengan tuan rumah. Tidak salah lagi, itu pasti anak Menkominfo, kata Darso dalam hati.

Darso heran dan penasaran, acara apa ini pikirinya. Dia memberanikan diri untuk mendekat ke tempat penyelenggaraan acara itu. Lama dia mengamati ke dalam, akhirnya dia memutuskan untuk masuk.

“Stop!” Ujar pria tegap yang menjaga gerbang.

“Ya Pak, ada apa?” Darso mencoba tenang, padahal jantungnya hampir saja copot.

“Kamu siapa? Ini acara buka puasa khusus anak-anak menteri.” Kata petugas galak itu.

“Bapak jangan macam-macam,” kepalang tanggung pikir Darso, “Saya juga anak menteri. Saya berhak bergabung di acara ini.”

“Oh ya? Kok saya tidak tahu. Siapa nama kamu? Biar saya lihat di daftar undangan.”

Darso agak kaget, dia tidak terpikir bahwa ada daftar undangan, bodohnya dia pikirnya. Tapi sudah kepalang tanggung, Darso tetap menjawab, “Nama saya Darso Pak, bisa saja belum ada dalam daftar undangan karena bapak saya menteri baru.”

“Oh ya? Departemen apa?” Kata petugas itu.

“Kantor bapak saya yang paling banyak dibanding menteri-menteri lain Pak,” Darso semakin percara diri.

“Ya sudah, saya percaya, departemen apa biar saya catat.” Petugas mulai tidak sabar.

“Department Store.”

Advertisements

3 thoughts on “Buka Puasa Anak Menteri

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s