Penghuni Kamar Sebelah

Hari ini aku begitu lelah, dua minggu penuh aku bekerja di lapangan. Aku bekerja sebagai salah satu supervisor di perusahaan pengeboran minyak dengan lokasi pengeboran di lepas pantai Kalimantan. Jadwalku dalam satu bulan normalnya adalah dua-dua, artinya dua minggu aku ada di lepas pantai, aktif mengawasi timku melakukan pengeboran minyak, lalu dua minggu lainnya aku kembali ke Jakarta dan dalam dua minggu itu benar-benar aku sama sekali tidak punya kewajiban kerja. Waktu ini biasanya kugunakan untuk berlibur, mengunjungi keluarga, melakukan hobiku atau sekedar bermalas-malasan di apartemen, maklum masih bujangan.

Aku baru sampai tadi malam di Jakarta dengan penerbangan terakhir, tidak kupedulikan pakaianku dan barang yang kubawa, kubiarkan berserakan dan aku segera tertidur pulas. Rasanya belum puas aku tidur untuk menghilangkan lelahku, barusan ada suara bising dari kamar di sebelahku, seperti ada orang memukul-mukul palu untuk memasang paku di tembok. Aku terbangun dan melihat jam, masih jam dua lebih sedikit, orang ini sudah bertukang, sial pikirku. Siapa penghuni sebelah ini, setahuku kamar di sebelahku kosong selama ini, berarti kamar sebelah sudah laku pikirku. Maklum aku jarang ada di apertemenku, jadi tidak terlalu update dengan perkembangan lingkungan.

Agak lama kegaduhan di kamar sebelah berlangsung, sampai akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamarku dan menegur tetangga baruku itu. Aku sudah siap keluar dari kamar, tapi ketika aku hampir membuka pintu suara gaduh itu hilang. Kutunggu beberapa lama, sekitar lima menit, ya suara gaduh itu sudah benar-benar hilang. Akhirnya kuputuskan saja untuk kembali tidur.

Pukul tiga kembali aku terbangun, kali ini karena ada suara gaduh lain. Rupaya karena jarang kutempati, tikus sudah mulai bersarang di apartemenku. Mereka berlarian dan menabrak gelas yang kusimpan di dapur tadi, hingga gelas itu jatuh dan suaranya membangunkanku.

Ada-ada saja pikirku, kubersihkan dulu pecahan gelas itu. Aku kemudian teringat bahwa dulu aku pernah membeli perangkap tikus, kupasang saja siapa tahu malam ini sahabat kecil itu masih berani-berani nakal di apartemenku. Segera setelah kupasang perangkap itu, aku kembali tidur.

***

Esoknya aku terbangun lagi, pukul enam, sial aku lupa mematikan alarm pada ponselku, masih sesuai dengan setting bila aku sedang ada di lapangan. Sulit bagiku untuk tidur lagi bila sudah terbangun jam begini, padahal rencananya aku hari ini hanya akan bermalas-malasan di kamar. Ya sudah, kuputuskan saja untuk pergi ke kantin di lantai dasar, untuk sekedar baca koran sambil menikmati secangkir kopi.

Aku hanya menggunakan celana pendek dan polo shirt saat keluar dari apatermenku, segera aku menuju ke lift. Saat melintasi kamar tetangga baruku, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, jantungku hampir copot. Tak lama kekagetanku berubah menjadi kekaguman, karena keluar sosok wanita berseragam yang sangat cantik. Entah ini halusinasiku atau kenyataan, yang jelas aku benar-benar terpesona dan memperlambat langkahku, sambil menoleh ke sosok wanita itu.

Dia mulai sadar aku memperhatikannya dan memperlambat gerakannya mengunci pintu, aku terus melangkah menuju lift, padahal ingin sekali aku berhenti dan memandangi tetangga baruku itu. Maklum dua minggu di lapangan, jarang lihat yang bening-bening seperti ini. Tapi tetap aku menjaga sikapku, apalagi aku dari kalangan berpendidikan, lagi pula aku harus menjaga peluang siapa tahu aku dan dia bisa punya hubungan ke depannya.

Sampai di depan lift aku menekan tombol turun. Aku tinggal di lantai 12A, ada dua lift, yang pertama menunjukkan ada di lantai 16 dan lift kedua menunjukkan lantai 3. Aduh sial pikirku, aku ingin satu lift dengan tetangga baruku ini. Lift pertama terbuka, sepertinya dia sengaja memperlambat langkahnya, dia sepertinya menghindari berada satu lift denganku. Ada beberapa orang dalam lift, sebenarnya masih ada tempat yang cukup untukku bisa masuk, tapi aku sengaja tidak masuk ke lift itu, orang-orang dalam lift terlihat agak kesal.

Tetanggaku yang cantik itu gagal dengan siasatnya, dia sudah ada di sebelahku menunggu lift kedua. Aku sedikit tersenyum dan melirik padanya. Dia menggunakan tanda pengenal, sepertinya dia bekerja di bank. Lift terbuka, aku kembali tersenyum karena lift kosong dan kami berdua masuk ke lift, tanpa sepatah kata aku mempersilakan dia masuk terlebih dahulu. Kami berdua sudah ada dalam lift dan pintu lift tertutup.

Beruntung pintu lift terbuat dari logam mengkilat, sehingga permukaannya nyaris seperti cermin. Aku bisa dengan bebas melihat tetanggaku itu dari pantulan pintu lift. Memang benar-benar cantik, ingin aku kenal dia lebih jauh, tapi aku tidak punya keberanian untuk memulai perkenalan. Tanda pengenal yang dia gunakan juga dapat aku baca, Shanty Rumingkang, itu namanya. Aku harus sedikit bekerut kening untuk dapat tulisan itu karena tentu cermin memantulkan tulisan dengan aksara yang terbalik. Dia tampaknya sadar bahwa aku mencoba membaca namanya, dia tersenyum melihat tingkahku. Aku sedikit malu karena aksiku tertangkap basah, aku membalas senyumnya, kami bertukar senyum lewat bayangan kami dari pintu lift.

Tidak terasa sudah sampai di lantai dasar, kami segera keluar dari lift. Kembali kami bertukar senyum saat keluar dari lift. Aku berjalan menuju ke kantin dan dia menuju ke lobby. Dari kantin aku bisa mengamati dia sedang menunggu taksi di depan lobby apartemen, cukup lama dia menunggu taksi tapi selalu saja diserobot oleh orang lain yang juga akan menggunakan jaksa taksi. Aku sedang membaca daftar menu untuk membaca apa saja yang aku bisa pesan di kantin ini, ketika aku memalingkan pandanganku kembali ke lobby, Shanty sudah tidak ada di tempat dia menunggu taksi tadi.

***

Hari-hari berikutnya aku selalu mengatur waktuku pergi ke kantin setiap pagi, agar kembali bisa satu lift dengan Shanty. Aku selalu berhasil untuk bisa dalam satu lift yang sama dengan Shanty. Entah aku yang hebat dalam menyesuaikan jadwal atau mungkin Shanty juga punya keinginan yang sama denganku.

Ini sudah hari ketiga aku dan dia dalam satu lift. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kami, hanya saling melempar senyum baik itu saat bertemu, saat di dalam lift maupun saat berpisah di depan lift. Entah kenapa aku sangat menikmati ritual baruku ini. Itulah, dari tiga hari ini belum ada satu patah katapun keluar dari mulut kami.

Sampai pada hari keempat kami belum juga bertukar kata, hanya bertukar senyum saat masuk ke lift, di dalam lift dan keluar lift. Pagi di itu di kantin kuambil selembar tisu dan dengan meminjam ballpoint dari pemilik kantin aku menulis sebuah pesan.

Dear Shanty Rumingkang,

Namaku, Gerard, lengkapnya Gerard Patikawa. Aku mengundangmu untuk datang ke kamarku besok malam. Aku siapkan makan malam untuk kita berdua.

Mohon maaf sebelumnya. Bila kamu anggap aku terlalu lancang abaikan saja.

Salam, Gerard.

Seusai aku sarapan di kantin pagi itu, aku segera ke lantai 12A menuju kamarku. Tepat melintasi pintu kamar milik Shanty aku menghentikan langkahku, berjongkok dan kemudian menyelipkan tisu tadi ke celah bawah pintu kamarnya.

Ketika aku berdiri dan berbalik, alangkah kagetnya aku karena tiba-tiba ada sosok laki-laki berdiri hanya berjarak satu meter di hadapanku.

Kuatur napasku dan bertanya pada laki-laki itu, “Maaf Mas, ini kamar Mas?”

“Bukan, ini kamar Mas?” Dia balik bertanya padaku.

“Bukan juga,” aku menghela napas lagi, “Saya hanya menitip pesan pada penghuni kamar ini, apa dia rekan Mas?”

“Oh bukan kok, maaf saya sudah mengagetkan anda,” katanya sopan, “Saya hanya curiga saja siang-siang ada yang jongkok di depan kamar. Mari, saya pamit dulu.” Dia segera berlalu tanpa aku sempat membalas ucapannya.

***

Ini hari kelima aku dan Shanty dengan ritual kami. Menunggu lift, masuk lift dan bertukar senyum. Sampai ketika kami keluar lift aku beranikan bertanya padanya.

“Shanty,” benar-benar aku sok akrab sekali, kami tidak pernah berkenalan secara formal, hanya lewat tanda pengenalnya dan selembar tisu yang kuselipkan melalui celah bawah pintu kamarnya, “Bagaimana pesannya sudah dibaca?”

Sambil berlalu dia menoleh padaku, mengangkat jempol tangan kanannya padaku dan tersenyum. Kuanggap itu sebagai jawaban setuju untuk undangan makan malam yang kuberikan kemarin dari secarik tisu.

Saat sedang menikmati sarapanku laki-laki yang pernah bertemu aku di depan kamar Shanty, tiba-tiba ada lagi di situ. Dia menghampiriku, tanpa permisi duduk di depan aku.

“Mas nama saya David. Saya tahu Mas janjian sama Shanty. Hanya satu kata dari saya, jauhi dia. Jangan tanya kenapa, cukup jauhi dia.” Kata-katanya begitu sopan, tanpa intimidasi, malah sedikit memohon. Aku tidak sempat bertanya balik dia sudah pergi dari mejaku dan segera keluar dari kantin tempat aku sarapan.

Tak kepedulikan kata-kata laki-laki yang bernana David itu, paling-paling juga mantan pacar yang masih ada perasaan, pikirku. Lagi pula badannya kecil, aku bisa mengatasinya. Aku sendiri masih belum tahu kelanjutan hubunganku dengan Shanty ke depannya, orang itu terlalu mengada-ada pikirku.

Selesai sarapanku pagi itu, aku pun bergegas untuk mempersiapkan acara nanti malam.

***

Meja sudah kutata, pesananku dua porsi spaghetti dan pizza ukuran medium juga sudah datang. Sengaja kupesan tadi siang dan kuminta agar diantarkan sekitar pukul tujuh malam sehingga masih bisa dinikmati dalam keadaan hangat. Tak lupa tadi siang aku mampir juga untuk membeli sebotol red wine. Lagu-lagu instrumental romantis juga mengalun dari CD playerku.

Aku sudah siap menunggu kedatangan Shanty. Sampai akhirnya kudengar ada suara ketukan pada pintu kamarku, ah ini pasti Shanty pikirku. Tak sabar segera kubuka pintu, benar yang datang Shanty. Cantik sekali dia hari ini.

“Silakan masuk Nona Shanty,” kupersilakan dia masuk, aku mencoba sedikit melempar humor untuk mencairkan suasana.

Dia belum juga mengucapkan sepatah kata hingga kini, misterius sekali wanita ini kupikir, tapi membuatku kian penasaran. Segera kami berjalan ke arah meja yang sudah kupersiapkan. Lampu apartemenku sengaja kubuat agak redup untuk menambah romantis suasana.

Kupersilakan dia duduk kutuang wine di gelasku dan gelasnya, aku duduk dan kami bersulang.

“Untuk perkenalan Shanty dan Gerard,” kataku sambil mengangkat gelas. Shanty juga melakukan hal yang sama. Kami mulai meneguk wine itu dari gelas kami masing-masing.

Shanty meletakkan gelasnya di meja, kemudian dia memijat-mijat pelipisnya, seperti orang yang sedang pening.

“Kenapa? Pusing?”

Shanty hanya mengangguk.

“Mau kuambilkan obat? Aku ada persediaan,” kataku menawarkan.

Shanty lagi-lagi hanya mengangguk.

Aku segera menuju ke kamar kecil tempat aku menyimpan persediaan obat-obatanku. Ketika aku mencari obat-obatan itu kudengar irama instrumental yang tadi kupasang berganti ke irama rock n roll yang cukup menghentak. Aku juga memang memasang CD dengan irama rock n roll dalam multiple playerku.

“Shann, kamu yang ganti musiknya?”

Shanty tidak menjawab. Obat yang kucari sudah kutemukan, aku segera bergegas ke ruang tengah. Tapi Shanty tidak lagi ada di meja makan. Dari CD playerku masih terdengar irama rock n roll tadi.

“Shann, dimana kamu? Shann dimana ka..” aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba seperti ada yang membentur kepalaku dari belakang dan aku tak sadarkan diri.

***

Aku terbangun, pandanganku berkunang-kunang kulihat Shanty di hadapanku, tersenyum sinis dan menamparku, keras sekali, sampai aku tersadar.

“Bangun, pengecut!” Suara Shanty melengking, diiringi dengan irama heavy metal dari CD playerku. Setelah kupikir-pikir ini kata pertama yang kudengar dari mulutnya, sejak pertemuan kami. Aku tidak menyangka bahwa kata pertama yang akan kudengar dari bibir manisnya itu adalah kata-kata setajam ini.

“Dasar laki-laki buaya, tidak ada bedanya dengan semua laki-laki lain. Pikirannya pasti mau tidur denganku, dasar pikiran kotor!” Dia berkata sambil mondar mandir di depanku yang terikat erat pada meja, mulutku juga disumpal dan dililit dengan lakban. Kulihat di tangan kirinya menggenggam botol wine, dan tangan kanannya menghunus sebilah pisau. Mengerikan sekali, sosok manis dalam seragam itu telah berubah menjadi sosok menakutkan. Mondar-mandir dihadapanku yang terikat tak berdaya dan  masih setengah sadar, menghunus senjata tajam sambil terus mendikteku dengan tuduhan-tuduhan yang tidak bisa kubalas karena mulutku juga tersumpal.

“Apa mau kamu, Gerard Patikawa? Tidur denganku? Boleh saja kalau kau nanti sudah jadi mayat yaaa!” Shanty berkata sambil menghunus pisau yang diarahkan kemukaku, jelas aku ketakutan.

“Hahahaha!” Shanty tertawa, “Lucu sekali muka kamu kalau ketakutan Gerard sayanggg, harusnya kamu bisa lihat di cermin.”

Shanty terus mondar-mandir depanku, aku tidak terlalu dengarkan lagi apa yang dia racaukan karena aku begitu ketakutkan saat itu. Sampai suatu saat.

“Aduhhhhh!!!!” Dia berteriak.

Aku sedikit kaget mengapa dia berteriak. Shanty tersungkur dan memegangi kakinya. Aku baru ingat bahwa aku pernah memasang perangkap tikus di dekat dapur, rupanya dia menginjak perangkap itu. Tanpa pikir panjang, aku segera bangun, dalam keadaan terikat ke kursi aku merangsek ke arah Shanty. Kubenturkan badanku sekeras-kerasnya padanya, berulang-ulang kuhantamkan kursi yang terikat padaku tepat kemukanya. Aku tidak peduli lagi bahwa itu akan melukai wajah cantiknya. Terus kuhantamkan kaki kursi itu ke arah wajah Shanty, telak mengena berulang-ulang, darah segar keluar dari wajahnya.

Aku masih belum yakin, beberapa kali kududuki saja tubuhnya, mukanya, entah bagian badannya yang mana lagi yang menjadi sasaranku, aku membabi buta setengah sadar. Yang penting kaki kursi ini kuarahkan saja ke sekujur tubuhnya, sampai aku sadar Shanty sudah tidak lagi bergerak, tubuhnya kaku.

Segera aku lari ke kamar kecil, kubenturkan badan dan kepalaku pada cermin yang ada di sana hingga cermin itu pecah dan pecahannya berserakan di lantai. Kepalaku mengucurkan darah karena benturan tadi. Dengan susah payah kuraih pecahan cermin yang cukup besar dan mulai menyayat tali yang mengikat tanganku. Cukup lama utas demi utas tali mulai putus dan ikatanku mulai mengendur.

Sampai akhirnya aku bisa membebaskan diri. Aku masih tetap berada di kamar kecil, sambil memegang pecahan kaca tadi untuk jadi senjataku. Tanganku satu lagi coba meraih ponsel di kantongku, tapi tidak ada. Pasti Shanty sudah mengambilnya ketika aku tidak sadarkan diri tadi.

Kuberanikan diriku untuk keluar dari kamar kecil menuju ruang tengah. Tetap siaga, siapa tahu dia menyerang lagi seperti tadi ketika aku mencarikan obat buatnya. Sampai di ruang tengah, kulihat Shanty sudah tidak ada lagi di situ.

Kuterangkan lampu agar aku bisa lebih mudah mengawasi ruangan. Terlihat ada tetesan darah menuju pintu keluar apertemenku. Kusimpulkan Shanty sudah keluar dari apartemenku. Aku tidak mau mengambil resiko dengan kesimpulanku, aku segera berlari ke dapur dan mengambil pisau.

Pisau sudah dalam genggamanku, perlahan-lahan aku menuju ke pintu keluar apartemenku. Bagaimanapun kalau terjadi pergulatan, sebaiknya itu terjadi di luar ruangan sehingga bisa tertangkap kamera CCTV pikirku.

Aku berhasil mencapai pintu apartemenku dan segera aku keluar dari apartemenku.  Ingin aku langsung berteriak, tapi takut Shanty malah tahu posisiku dan menyerang aku. Aku melambai-lambaikan tanganku pada kamera CCTV berharap petugas jaga bisa melihatku dan segera memberi pertolongan

***

Di Ruang Pemantau CCTV

Petugas sedang asyik chat lewat gadget murahan yang baru dia beli tadi siang. Dia tidak melihat ada orang yang melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan pada kamera di lantai 12A.

***

Kembali ke Lantai 12A

Tampaknya usahaku sia-sia, tapi kondisi pandang di depan apartemenku, ke kiri dan ke kanan juga cukup untuk aku bisa bertahan kalau tiba-tiba Shanty  menyerangku dari sisi manapun. Aku tetap siaga, aku akan berteriak dan bila tiba-tiba Shanty mengetahui posisiku aku juga sudah siap bertahan.

“Tolonggggggg, tolongggggggg!!!!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya.

Ada satu kamar yang terbuka, keluar sosok laki-laki dari kamar tersebut, “Ada apa Mas?” Dia tentunya heran melihat aku yang memegang pisau dan berlumuran darah.

“Segera hubungi polisi!” Aku berteriak.

Pria itu mengambil ponselnya, sambil terus waspada, mungkin dia sedikit mencurigai aku.

***

Demikian akhirnya polisi berhasil dihubungi dan segera datang ke tempat kejadian perkara, yaitu apartemenku.

Aku ditanyai beberapa kali oleh pihak kepolisian, kuceritakan saja semua apa yang sudah terjadi. Salah satu dari antara mereka juga sudah melihat rekaman CCTV dan tampak di sana Shanty sudah meninggalkan gedung apartemen ini. Sayang petugas tidak siaga saat itu, kalau tidak mungkin Shanty bisa diringkus.

“Mas, anda cukup beruntung,” kata seorang petugas, “Wanita ini adalah pembunuh berantai yang sedang kami cari-cari. Korbannya adalah laki-laki mapan dengan usia seperti Mas. Bila berhasil membunuh korbannya, wanita ini akan menjarah harta korban dan pindah ke tempat lain atau bahkan kota lain. Dalam diarynya dia menjelaskan bahwa dia adalah korban perkosaan saat usinya masih enam belas tahun. Sejak itu dia menjadi seorang psikopat seperti sekarang.”

“Dari apartemennya kami menemukan kliping korban-korbannya sebelum Mas. Dia mengoleksi semua pemberitaan tentang korbannya. Nih kalau mau lihat, sebentar saja ya,” kata petugas itu seraya menyodorkan kliping yang dia maksud tadi.

Aku meraihnya, melihat satu demi satu pemberitaan tentang korban-korban Shanty sebelumnya. Sampai aku dikagetkan dengan sebuah pemberitaan tentang korban bernama David Kartasasmita, seorang pengusaha muda, wajahnya sama dengan orang yang pernah menegur aku di depan kamar Shanty saat menyelipkan tisu dari celah bawah pintu dan kemudian memperingatkan aku keesokan harinya di kantin lantai dasar apartemen ini.

Advertisements

6 thoughts on “Penghuni Kamar Sebelah

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s