New World Record

Di suatu pagi sekelompok orang berkumpul di pelataran parkir sebuah mal. Mulanya mereka hanya sepuluh orang saja dengan satu pemimpin dengan pengeras suara seadanya. Lalu sang pemimpin mulai berorasi.

“Kawan-kawan sekalian! Merdeka!” Katanya lantang.

“Merdeka!!!” Dijawab oleh anggota kelompok yang lain.

Sang pemimpin melanjutkan, “Bangsa kita sedang sakit, sakit sekali dan sudah sangat parah. Seandainya bangsa ini kita umpamakan sebagai manusia, maka sudah terjadi komplikasi yang luar biasa dalam tubuh orang itu.”

Orang-orang yang mengunjungi mal melihat dan mendengar orasi ini dan mulai tertarik dengan apa yang disampaikan. Satu per satu orang bergabung dalam kerumunan itu dan mulai menyimak orasi orang itu.

“Mulai dari badannya yang sakit.” Dia menghela napas, “Kemacetan lalu lintas, jalan-jalan yang rusak bahkan amblas. Itu ciri dari negara yang sakit secara fisik.”

“Apa lagi yang sakit?” Dia mengajukan pertanyaan retoris, “Ya benar, pikirannya. Pemerintah dan aparat laksana pikiran yang mengendalikan tubuh. Semuanya tidak becus, sakit.”

“Belum lagi virus dan bakteri, yaitu kelompok atau orang yang menggerogoti bangsa ini. Baik itu dari dalam pemerintahan atau para teroris yang entah membela kepentingan siapa. Yang jelas bangsa kita memang sedang sakit, kita semua tinggal di negara yang sedang sakit. Tapi apa kita semua mau sakit?” Suaranya lantang, menantang kerumunan orang yang kian banyak berkumpul di pelataran parkir itu.

Semua mulanya hening, tapi pemimpin ini rupanya seorang orator yang ulung, dia menantang sekali lagi, “Apa kita semua mau sakit saudara-saudara? Saya tidak dengar suara kalian!”

“Tidak mau!” Kata sekelompok orang ragu-ragu.

“Saya tidak dengar suara kalian!”

“Tidak mau!” Kali lebih banyak orang yang berteriak.

“Ah masih belum kompak!”

“TIDAK MAU!!!”

“Lebih keras lagi!”

“TIDAK MAU!!!” Orang semakin banyak berkumpul dan suara di pelataran parkir itu mulai bergemuruh.

“Sekali lagi lebih kompak, lebih keras!”

“TIDAKKKK MAUUUU!!!!” Suara terakhir diikuti dengan tepuk tangan orang yang kira-kira jumlahnya sudah ratusan orang.

“Baiklah saya suka seperti itu, semangat. Kita tidak menuntut apa-apa dari pemerintah. Kita tidak menuntut apa-apa dari penguasa. Tapi dari pada kita sakit, ijinkan hari ini saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk tertawa, karena tertawa itu sehat. Kita tertawakan apa saja, orang di sebelah kita, bahkan saudara-saudara sekalian boleh menertawakan saya. Kalau punya masalah coba bayangkan dan tertawakan. Kalau benci pada pemerintah atau aparat coba bayangkan muka mereka dan tertawakan, mungkin hanya itu fungsi mereka, ditertawakan.”

Semua mendadak hening dan saling pandang.

“Baiklah saya akan mulai tertawa, hahahahaha!” Pemimpin itu mulai tertawa.

Di antara kerumunan orang yang berkumpul di situ ada yang lalu mulai tertawa, mereka adalah orang-orang pertama yang memulai aksi ini. Mereka tertawa sejadi-jadinya seperti orang tidak waras, mereka saling menertawakan satu sama lain.

Ternyata orang-orang lain yang ikut berkumpul mulai terpengaruh, lucu memang melihat orang tertawa tanpa sebab. Karena itu akhirnya satu persatu mereka mulai tertawa. Setiap orang yang mulai tertawa, orang yang di sebelahnya tak kuasa menahan tawa melihat tingkah orang yang mulai tertawa. Akhirnya semua orang yang berkumpul di tempat itu, yang jumlahnya sekitar ratusan, semuanya tertawa sejadi-jadinya, membuat suara yang cukup untuk memancing perhatian.

Terang saja orang-orang yang melihat mereka, yang tadinya hanya berjalan di trotoar jalan, bertanya-tanya satu sama lain, apa yang terjadi, mengapa mereka tertawa. Anehnya orang-orang ini pun ikut tertawa menertawakan orang-orang yang berkumpul di pelataran parkir itu.

Demikian tertawa menjadi sebuah penyakit menular hari itu, orang yang tidak tahu ujung dan pangkal masalah ketika melewati pelataran parkir itu semuanya ikut tertawa. Akhirnya ini menjadi gerakan yang cukup masal. Pedagang, supir, tukang ojek, karyawan kantor, semua yang melewati kawasan itu tertular virus tawa ini. Bahkan ada beberapa petugas polisi yang sedang bertugas di perempatan di dekat area itu juga tak sanggup menahan tawa mereka.

Jumlah orang yang berkumpul pun kian banyak, semuanya tertawa sejadi-jadinya. Pria, wanita, tua, muda dari berbagai kalangan semua ikut tertawa. Bahkan orang-orang yang sedang makan di sebuah restoran cepat saji di dekat area itu, atau orang-orang yang sedang menikmati kopi di coffee shop di lingkungan mal itu pun ikut tertawa.

Sampai suatu saat ada iring-iringan presiden melintasi jalan di depan pelataran parkir itu. Entah kenapa semua orang tertawa sejadi-jadinya, terpingkal-pingkal bahkan ada yang sampai berguling-guling. Mereka menunjuk ke arah iring-iringan itu sambil tertawa terpingkal-pingkal, tidak ada yang dikatakan, hanya tertawa sejadi-jadinya. Sebagian besar tertawa begitu keras, sampai-sampai muka mereka merah sekali saat rombongan itu melintas.

***

Sore Harinya, Konferensi Pers Istana

“Saudara-saudara, rekan-rekan pers sekalian,” demikian membukaan yang disampaikan oleh juru bicara istana.

“Seperti kita ketahui bahwa tadi pagi ada sebuah insiden saat iring-iringan presiden melintasi sebuah mal. Sekelompok orang rupanya telah melakukan koordinasi yang matang untuk merancang sebuah kegiatan yang hendak mempermalukan presiden. Sekelompok orang telah memprovokasi masa secara sistematis untuk menertawakan presiden dan iring-iringannya saat melewati mal tersebut.”

“Bukan hanya mempermalukan, gerakan atau aksi ini jelas juga telah membahayakan keselamatan presiden karena bahkan polisi yang berjaga-jaga di sekitar lokasi, yang tadinya harus membuka dan mengamankan jalur yang akan dilintasi presiden, juga ikut tertawa mengikuti kelompok itu.” Lanjut juru bicara ini.

“Untuk itu pihak kepolisian akan menyampaikan lebih detil, saya persilakan,” lanjut juru bicara itu dan turun dari mimbar.

“Kami telah menangkap satu orang tersangka yang memimpin gerakan ini, berikut sembilan pengikutnya. Ini adalah jaringan terorganisir yang meresahkan dan kami dari kepolisian telah mengamankan keadaan, terutama presiden yang saat ini terancam. Semua pihak diharap tenang dan tidak terpancing keadaan ini.” Demikian disampaikan kepala kepolisian.

Entah apa yang terjadi, usai konferensi pers tersebut ada suara gemuruh di seluruh pelosok negeri. Kencang sekali, asalnya dari setiap rumah penduduk di seantero negeri.

***

Esoknya

New World Record: Di sebuah negara, lebih dari seratus juta orang tertawa bersamaan di depan layar televisi.

Advertisements

3 thoughts on “New World Record

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s