Tugas Rahasia

Robert begitu bingung, minggu depan dua anaknya harus segera melunasi tunggakan uang sekolah selama tiga bulan. Mereka juga masih punya anak kecil berusia dua tahun, ditambah kondisi istrinya, Sundari, yang sedang hamil tua. Menurut perkiraan anaknya akan lahir satu bulan lagi, jelas ini akan memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalau harus melalui operasi sesar.

Robert bekerja di sebuah kantor swasta sebagai petugas keamanan. Penghasilan satpam jelas tidak sebanding dengan apa yang dia butuhkan dalam waktu dekat ini. Desakan kebutuhan yang luar biasa ini membawa dirinya ke dalam keadaan sangat membingungkan dan cenderung mengarah ke frustasi.

*

Suatu hari Robert sedang makan siang di kantin belakang kantornya. Sampai matanya tertuju pada lelaki yang asing, setahu dia orang ini baru sekali dia lihat. Semua yang makan siang di kantin ini biasanya adalah orang-orang yang Robert kenal. Kalau bukan orang-orang satu kantornya, ya bisa juga orang-orang lain yang berkantor di gedung yang sama. Tapi orang ini benar-benar baru sekali dia lihat makan di kantin ini.

Dari segi pakaian pun, menurut Robert, orang ini terlalu necis untuk berada di kantin ini. Kantin ini kelasnya untuk orang-orang seperti dirinya, pikir Robert.

Robert terus memperhatikan lelaki itu, dia makan tepat di sebelah meja Robert. Tiba-tiba lelaki itu menoleh kearahnya, Robert segera membuang muka, takut beradu pandang dan membuat lelaki itu tersinggung. Entah kebetulan atau memang tersinggung dengan tatapan Robert lelaki itu segera pergi dari kantin tempat mereka makan.

Robert meneruskan makan, sampai dia sadar bahwa ada amplop tertinggal di meja tempat lelaki itu makan tadi. Segera diambilnya, lalu ia berkata pada penjaga kantin.

“Pak, sebentar ya, ini amplop orang yang tadi makan di meja ini, tertinggal,” katanya sambil menunjukkan amplop itu pada si penjaga kantin.

“Oh, iya, kejar Bert, mungkin belum jauh,” jawab bapak penjaga kantin.

Karena Robert sudah sering makan di situ, Pak Parno, penjaga kanti itu, memperbolehkan Robert keluar menyusul lelaki tadi walau dia belum membayar.

Robert segera berhambur keluar kantin untuk menyusul lelaki tadi, tapi cepat sekali lelaki tadi menghilang. Dia coba mencari ke arah jalan raya, ditengoknya ke arah kiri maupun kanan, sosok lelaki tadi sudah tidak nampak lagi dari pandangannya.

Dia berpikir, apa dititipkan saja pada pemilik kantin? Robert kembali ke kantin untuk meneruskan makan siangnya.

“Gimana Bert? Sudah balik ke orangnya?” Pak Parno bertanya.

“Sudah Pak, untung saja orangnya belum jauh tadi,” Robert menjawab. Dia mengatakan bukan yang sesungguhnya. Dia ingin tahu dulu apa isi amplop yang sekarang sudah dikantonginya itu. Tak sabar Robert menyelesaikan makan siangnya.

Setelah itu segera dia pergi ke kamar kecil. Di kamar kecil tak sabar diambilnya amplop dari kantong lalu dibukanya. Ada sebuah kertas bernomor, sebuah anak kunci dan secarik kertas bertuliskan:

Ada tugas besar untukmu, bayarannya akan sangat besar. Sebelum pukul 19.00, ambil tas yang dititipkan di petugas penitipan tas di Swalayan Gelael, Tebet. Di dalam tas itu akan ada petunjuk tugas ini lebih lanjut.

Robert segera melipat lagi kertas tersebut dan dengan rapi dan dimasukkannya kembali ke dalam amplop. Dia kembali ke kantornya karena waktu istirahat memang sudah habis.

*

Usai jam kantor entah kenapa Robert tidak langsung pulang. Dia memberanikan diri untuk mengikuti petunjuk yang ada pada kertas yang didapatnya tadi siang. Dia tidak peduli bahwa sebenarnya tugas itu bukan untukknya. Pikirannya begitu buntu untuk mencari biaya untuk banyak kebutuhannya yang begitu mendesak.

Sesampainya di swalayan yang ditulis dalam kertas itu, Robert segera mencari tempat penitipan tas. Robert menghela napas panjang beberapa kali untuk memberanikan diri. Dia sebenarnya begitu ragu dan hampir memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Segera ditepisnya keraguannya itu dengan seribu tekad untuk menghidupi keluarganya.

Robert segera menghampiri tempat penitipan tas tadi, lalu memberikan nomornya pada petugas yang sedang menjaga. Petugas juga tidak banyak bertanya, hanya mencari tas yang Robert cari, mencocokan nomor yang dia terima dengan nomor kotak dimana tas itu disimpan. Tanpa kesulitan petugas sudah menemukan tas tersebut, sebuah ransel warna hitam. Mirip dengan ransel yang biasa dipakai anak-anak sekolah.

Petugas memberikan tas tersebut kepada Robert dan Robert segera mengambilnya. Tanpa banyak bicara Robert meninggalkan tempat penitipan tas dan pergi ke area parkir swalayan itu. Segera dicarinya tempat yang cukup sepi. Dibukanya gembok tas tersebut dengan kunci yang dia terima tadi siang, ternyata kuncinya cocok. Segera setelah tas itu dibuka ada sebuah amplop di sana. Dibukanya dan didalamnya ada selembar kertas betuliskan:

Kalau kamu memang serius dengan tugas ini, segera menuju ke parkiran P2-A12. Di sana akan ada mobil dengan plat nomor B 1431 KFD. Kunci mobil ada saya sertakan dalam amplop ini.

Buka mobil itu, di dalamnya ada sebuah tas berisi pistol yang sudah terisi penuh dengan peluru. Siap untuk ditembakkan, tinggal tekan pelatuknya.

Biaya awal sebesar lima juta Rupiah saya siapkan dalam mobil itu sisanya empat puluh lima juta Rupiah lagi akan diberikan usai pelaksanaan tugas.

Bila kamu berhasil melakukan tugas ini, segera kembali ke parkiran ini, simpan tas ini dan kami sudah siapkan sisa pembayarannya untukmu.

Dalam tas akan ada sebuah ponsel, ambil tas itu. Perintah soal target dan alamat target akan kami beritahu melalui ponsel. Segera setelah ponsel itu ada padamu, hanya ada satu kontak pada phonebook-nya, kirim pesan singkat pada nomor itu, singkat saja: “sudah”.

Robert segera terduduk. Berat sekali hidup ini pikirnya, tapi belum pernah terbersit dalam pikirannya harus membunuh orang untuk mencari uang. Jumlah yang ditawarkan tidak kecil, total lima puluh juta Rupiah. Itu jumlah yang sangat besar menurut dia.

Sekitar lima menit Robert menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Mundur atau lanjut. Terbayang wajah dua anaknya yang sedang sekolah dan anaknya yang masih bayi. Wajah Sundari, yang kini sedang hamil tua, pun terlintas dalam benaknya.

Dia berpikir, lima puluh juta Rupiah, bunuh saja orang ini. Pasti target ini juga bukan orang baik-baik, jadi tidak begitu salah menghabisi nyawa orang ini. Robert memutuskan untuk pergi ke area parkir. Dia akan melakukan tugas ini, sekali dalam seumur hidup dia membunuh orang. Setelah itu punya modal lima puluh juta untuk melanjutkan hidup dengan modal yang menurutnya cukup besar ini.

Cukup lama dia mencari-cari mobil tesebut, setelah menemukannya dia membuka pintunya dengan kunci yang diberikan. Tepat di balik kemudi mobil sudah ada tas yang disiapkan. Robert coba-coba  menyalakan mesin mobil, tapi ternyata tidak bisa dinyalakan. Dia tidak berani mencoba lebih jauh bila tidak sesuai dengan instruksi.

Masih dalam mobil itu, dibukanya tas terakhir. Benar di dalamnya tersimpan sebuah pistol dan telepon genggam. Ada sebuah amplop, Robert membukanya. Di dalamnya ada segepok uang pecahan seratus ribu Rupiah. Robert tidak menghitungnya tapi ini mungkin uang lima juta yang dijanjikan.

Dia segera mengambil ponsel yang baru saja diterimanya dan mengetik “sudah” lalu mengirimnya pada satu-satunya kontak pada phonebook ponsel itu.

Sekitar dua menit Robert menunggu, ponsel tadi bergetar, sebuah pesan singkat: “Apartemen Mediterania, Tower 1, lantai 2, Kamar 209. Ada seorang laki-laki, dia tinggal sendiri. Pukul 23 biasanya dia sudah tidur. Ada kunci magnetik untuk masuk ke apartemen itu, gunakan. Gunakan Taksi untuk mencapai lokasi. Bawa kunci mobil ini tapi jangan gunakan mobilnya. Uang lima juta boleh kamu ambil”

Robert segera bergegas, pistol sudah dikantongi dalam jaket. Dia merogoh amplop tadi, memang benar di dalamnya ada kunci magnetik.

*

“Dik Sundari, aku pulang agak malam ya. Aku ada obyekan malam ini, hati-hati di rumah.” Demikian Robert menelepon dulu istrinya, Sundari, memberitahu keberadaannya saat ini.

Robert segera mengambil taksi dan meminta supir untuk mengantarkannya ke Apartemen Mediterania.

Sekitar dua jam, dia menunggu di depan apartemen, sampai kira-kira lima menit sebelum pukul 23, dia masuk ke Tower 1 Apartemen itu.

Dia sudah mencapai lobby dan mengarah ke lift. Ada petugas keamanan yang sedang mengantuk di situ. Beruntung Robert, dia tidak mempedulikan kedatangan Robert. Agar tidak mencurigakan, Robert sama sekali tidak mempercepat langkahnya, perlahan berjalan menuju lift.

Ditekannya tombol naik, apartemen sudah cukup sepi sehingga lift tidak sibuk, pintunya segera terbuka. Robert masuk dan menekan lantai dua, tujuannya. Lampu indikator lift sudah menunjukkan angka dua dan pintu lift segera terbuka. Robert segera keluar dari lift, dibacanya petunjuk di tembok depan lift bahwa kamar 209 ada di sebelah kanan lift. Dia segera berjalan menuju kamar itu.

Sampai di depan kamar 209, dimasukkannya kunci magnetik dan dibukanya pintu perlahan. Sepi dalam kamar. Ini jenis kamar studio, dimana ketika pintu dibuka langsung dapat dijumpai tempat tidur. Tidak ada ruang tamu pada jenis kamar studio.

Robert melihat ada sesosok laki-laki sedang tertidur di atas tempat tidur, tanpa pikir panjang, sambil berjalan mendekati tempat tidur diraihnya pistol. Robert mengarahkan pistol itu pada sosok yang tertidur pulas itu.

Tiba-tiba keraguan datang dalam dirinya. Ini bukan hal yang benar yang harus dia lakukan. Aku harus urungkan ini, harus, demikian suara hatinya. Robert mulai berbalik, bermaksud untuk meninggalkan kamar itu. Ia berniat mengembalikan lima juta yang sudah dibawanya, kembali ke mobil yang terparkir di swalayan tadi.

“Hey siapa kamu!” Robert mendengar suara lakit-laki membentak di belakangnya. “Berani-beraninya kamu masuk ke kamarku!”

Robert begitu kaget, membalikkan badan. Laki-laki itu langsung merangsek ke arahnya, secara refleks Robert menembakan empat kali pistolnya ke arah laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya mengerang sebentar pada tembakan yang pertama, tapi tembakan kedua, ketiga dan selanjutnya dia sudah tidak bernyawa lagi. Tubuhnya roboh ke lantai kamar. Darah mengalir membasahi lantai kamar apertemen itu.

Robert segera meninggalkan kamar itu. Ini pertama kali dia menghabisi nyawa seseorang, sebenarnya gugup sekali perasaannya saat itu. Tapi entah mungkin sudah bakat alami dia mencoba menenangkan diri dan terlihat seperti seorang pembunuh profesional.

Menuju lift, kembali ke lobby, melewati petugas keamanan dia berhasil mencapai jalan raya. Sebenarnya aksinya cukup sembrono, maklum seorang amatir. Hanya Robert memang beruntung, walau keluar masuk melewati pintu depan yang dijaga petugas keamanan dia dapat menyelesaikan tugasnya.

*

Robert sudah kembali ke Swalayan Gelael. Sesuai perintah sebelumnya dia harus kembali ke mobil yang terparkir di area parkir swalayan ini. Segera ia menuju tempat mobil diparkirkan.

Ia masuk lagi ke dalam mobil itu, benar sudah ada amplop baru di belakang kemudi. Segera dibukanya amplop itu. Ada beberapa gepok uang, ini pasti uang yang dijanjikan sebelumnya. Ada secarik kertas lagi:

Selamat, kamu telah berhasil melaksanakan tugas. Sesuai janji kami sebelumnya, sudah ada uang empat puluh lima juta Rupiah dalam amplop ini. Uang ini milikmu. Kamu boleh pulang sekarang. Tinggalkan pistol, kunci mobil, kunci magnetik di dalam mobil ini.

Besok akan ada tugas lagi, jangan coba-coba untuk menolaknya.

Robert sangat terkejut membaca surat ini. Tadinya dia hanya akan sekali mencoba tugas ini, setelah itu mengambil uangnya dan memulai hidup baru dengan modal yang lebih dari cukup. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya malah akan terjebak menjadi seorang pembunuh bayaran. Tidak bisa hanya hari itu saja dia menjadi pembunuh.

Advertisements

3 thoughts on “Tugas Rahasia

  1. Great,,simple sebenernya,seorg yg sdg kepepet dgn kebutuhan hidup mjd pembunuh bayaran,sgt mainstream…tpi klo bang sammy yg bikin,alurnya jd sgt menarik,pnya kekuatan tesendiri,,GREAT!!! bnar2 pengen baca klo bang sammy bikin novel 🙂

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s