Serba-Serbi Pembunuhan

“Kenapa kalian akrab?”

“Memangnya kenapa? Nggak boleh ya orang akrab?”

“Boleh saja, tapi ya kok tumben-tumbenan.”

“Ya sekali-sekali kan tidak apa-apa, masak mau berantem terus, ya capek juga lah lama-lama.”

“Biasanya kan kalian berebut pacar, nggak pernah akur.”

“Oh soal itu. Kami sadar bahwa dia penyebab kami selalu bertengkar. Jadi ya kami bunuh saja.”

*

“Aku dapat kabar luar biasa tentang pacarmu.”

“Apa itu?”

“Dia selingkuh.”

“Hah, terus?”

“Kau sahabatku.”

“Ya lalu?”

“Aku seorang pembunuh bayaran.”

“Oke, lalu?”

“Kalau pacarmu selingkuh sama orang, kau boleh minta bantuan apa saja padaku.”

Okay, bunuh pacarku dan bunuh juga selingkuhannya.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan bunuh pacarmu, habis itu aku akan bunuh diri.”

*

Negara dinyatakan dalam keadaan darurat. Tadi malam terjadi pembunuhan terhadap presiden. Pelakunya sudah diketahui tapi sama sekali tidak dapat dijerat oleh hukum.

“Kamu baca berita di koran hari ini tidak?”

“Tentang apa? Berita di koran kan banyak.”

“Itu tentang pembunuhan presiden kita. Kok pelakunya tidak bisa dijerat hukum ya? Pembunuh presiden saja susah dijerat hukum, bagaimana dengan nasib kita-kita?”

“Oh itu, permasalahannya sederhana. Dia bunuh diri. Makanya kalalu baca berita jangan sepotong-sepotong.”

*

Suatu hari di sebuah sel penjara tahanan politik.

“Apa kejahatanmu?”

“Aku sebenarnya tidak jahat, aku hanya tukang kritik presiden.  Aku paling bisa cari-cari kesalahan pemerintah terutama presiden. Itu sebabnya mereka cari-cari kesalahanku.”

“Oh, jadi kamu tidak tahu kesalahanmu apa?”

“Sama sekali tidak tahu, mereka hanya cari-cari kesalahanku saja.”

“Memang, pemerintah kita mengada-ada sih.”

“Kamu sendiri apa kesalahanmu?”

“Bayangkan aku hanya membunuh seekor cicak.”

“Hah, kok bisa?”

“Ya aku pukul cicak yang ada di jidat presiden pakai balok kayu waktu itu.”

*

“Pak membunuh itu dosa ya?”

“Iya Nak.”

“Berzinah juga ya?”

“Iya dua-duanya dosa.”

“Apa semua orang tahu itu dosa Pak?”

“Iya sepertinya.”

“Lalu kenapa masih banyak yang melakukannya, kalau tahu itu dosa?”

“Bapak tidak terlalu mengerti Nak, mungkin ada beberapa orang yang ketagihan hal seperti itu.”

“Memang membunuh dan berzinah bisa bikin ketagihan ya Pak?”

“Sepertinya iya, banyak persamaannya kok.”

“Kalau pembunuh bayaran itu apa Pak?”

“Itu mirip kayak WTS atau PSK, mereka dibayar untuk berzinah.”

“Kalau genocide itu pembunuhan masal ya Pak?”

“Iya, banyak orang yang suka melakukan pesta seks juga kan?”

“Terus, kenapa orang bunuh diri pak?”

“Ya sama saja dengan kenapa banyak orang onani.”

“Pembunuhan atas nama agama dibenarkan tidak Pak?”

“Itu sama saja dengan kamu mau seks tapi nggak mau dibilang dosa.”

“Ya tinggal kawin saja kan Pak?”

“Oh kalau soal kawin itu beda lagi.”

“Apa tuh Pak?”

“Itu orang yang membunuh karena tugas. Misalnya algojo untuk hukuman mati.”

“Kalau di film-film, orang jahat mau bunuh kok pakai ditunda-tunda dulu. Banyakan ngomong, jalan mondar-mandir, bukan langsung ditembak saja ya Pak?”

“Oh, suatu saat kamu tahu yang namanya foreplay.”

“Lalu…”

“Sudah, sudah, jangan banyak tanya terus. Tidur sana! Bapak juga mau tidur dulu.”

“Mau ngapain Pak?”

“Mau menjalankan tugas.”

“Tugas apa Pak?”

“Tugas untuk bunuh Ibu kamu!”

*

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s