Jane Doe

Seorang gadis ditemukan tewas di kamar kos di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Gadis itu tewas dengan leher lebam dan empat tusukan di sekitar dada.

Demikian pemberitaan pada halaman kiriminal sebuah koran ibu kota hari ini. Korban tidak memiliki identitas, penyidikan dan pemyelidikan sedang dikembangkan dan polisi sudah mendapat dua orang yang kemungkinan akan diberikan status tersangka pada kasus ini.

*

Interograsi orang pertama.

“Langsung saja pada inti permasalahan, jangan bertele-tele. Malam itu ada yang melihat kamu datang ke kos-kosan korban. Lalu kamu masuk ke kamar korban,” kata petugas pertama.

“Bagaimana kamu bisa melakukannya? Semua keterangan akan direkam. Perkenalkan dirimu, hubungan dengan korban, sejak kapan kalian berkenalan dan ceritakan kejadian di rumah kos korban malam itu,” ujar petugas kedua.

“Nama saya Jemmy, umur saya 25 tahun.”

“Gladys, demikian saya mengenal gadis itu. Dia adalah pacar saya, demikian kalau boleh dibilang begitu, setidaknya dalam tiga tahun belakangan saya sudah sering tidur dengannya.”

“Kami berkenalan di Starbuck dekat Sarinah Thamrin, tiga tahun yang lalu. Saya baru saja selesai dari lembur hari itu, karena mengejar target untuk menyelesaikan proposal yang harus dipresentasikan keesokan harinya.”

“Sudah lewat tengah malam, dia baru saja datang, sedangkan saya sudah lebih dulu ada di coffee shop itu, tengah menikmati secangkir black coffee.”

“Sesaat ingin membayar dia sepertinya sibuk mencari-cari dompet dalam tasnya. Saya hampiri dia, dia tampaknya memang kehilangan dompetnya, tidak bisa membayar minuman yang sudah dia pesan. Saya tawarkan untuk membayari dia kopi malam itu dan dia setuju. Itu lah awal saya dan dia berkenalan”

Petugas pertama tidak sabar, “Okay saya tidak tertarik dengan cerita asmara kalian. Saya simpulkan kalian akhirnya pacaran. Lalu loncat ke malam saat kejadian. Jam berapa kamu tiba di lokasi?”

“Sekitar jam sepuluh malam, mungkin kurang lima menit pak. Karena saya biasa mempercepat jam saya.”

“Dengan apa kamu bisa masuk?” Tanya petugas kedua.

“Sudah setahun saya pegang kunci duplikat kamar kosnya.”

“Lanjut.,” kata petugas pertama.

“Saat saya masuk ke kamar kosnya, dia sedang tidur, saya langsung cekik lehernya, dan tutup mukanya dengan bantal. Dia tidak meronta sama sekali, apa mungkin tenaga saya yang luar biasa hebat? Saya memang rajin fitness sih.”

“Saat saya keluar saya melihat ada orang baru akan naik ke lantai dua, tempat kamar Gladys berada. Saya pura-pura menyanyi seperti orang mabuk saja.”

“Begitu sampai bawah saya langsung menuju mobil saya dan segera pergi.”

“Jadi anda mengaku bahwa anda yang membunuh Gladys?” Kata petugas pertama.

“Iya Pak.”

“Apa motifnya?” Tanya yang lain.

“Ternyata dia punya pacar yang lain. Sedangkan selama ini saya sudah menanggung hidup dia dan keluarga dia.”

*

Interograsi orang kedua.

“Ada orang yang melihat kamu datang ke kamar kos malam itu, coba kamu ceritakan!” Petugas pertama memberi perintah.

Berlum sempat dijawab, suara lain langsung saja nimbrung, “Bagaimana kamu bisa melakukannya? Semua keterangan akan direkam. Perkenalkan dirimu, hubungan dengan korban, sejak kapan kalian berkenalan dan ceritakan kejadian di rumah kos korban malam itu,” ujar petugas kedua.”

“Nama saya Mike, umur saya 30 tahun.”

“Saya tidak mengenal korban, saya hanya tahu alamatnya dari bos saya Pak Sasongko.”

“Saya biasa mengantarkan Pak Sasongko ke kos Mbak itu.”

“Korban maksudnya?” Sambut petugas pertama.

“Iya, Mbak korban.”

“Dari Pak Sasongko saya tahu namanya Gita.”

“Sudah sekitar dua tahun terakhir, rutin seminggu sekali atau dua minggu sekali saya mengantarkan Si Bos ke kos-kosan itu. Saya biasa menunggu Si Bos di bawah sejam atau dua jam.”

“Sampai suatu hari saya melihat ada seorang laki-laki naik ke lantai dua. Dia mengintip ke kamar Si Mbak, langsung main gedor pintu kamar aja tuh orang. Si Mbak keluar dari kamar dan cekcok mulut dengan laki-laki itu.”

“Si Bos kamu gimana?” Kata petugas kedua.

“Si Bos sih nggak ikut campur.”

“Nggak lama laki-laki itu pergi. Sekitar lima menit setelah itu Si Bos juga turun dan kami pulang.”

“Saya disuruh habisin nyawa Si Mbak besoknya.”

“Jam berapa kamu datang?” Kata petugas pertama.

“Sekitar jam sepuluh lewat dikit. Saya dikasih kunci cadangan sama Si Bos. Pas saya naik saya lihat laki-laki yang kemarinnya cekcok sama Si Mbak baru turun dalam keadaan mabuk. Saya nunduk saja supaya tidak saling tukar pandang saat papasan sama dia.”

“Masuk ke kamar Si Mbak, saya langsung keluarkan pisau dan hujamkan beberapa kali pisau saya tepat ke dada Si Mbak.. Dia nggak sempat melawan karena kondisinya sedang tidur pulas.”

“Jadi anda mengaku bahwa anda yang membunuh Gita?”

“Iya Pak.”

“Apa motifnya?” Tanya yang lain.

“Saya hanya disuruh Pak Sasongko, bos saya sejak lama. Si Bos sakit hati mungkin. Saya orang setianya beliau. Tugas apapun pasti saya lakukan untuk beliau.”

*

Usai interogasi.

“Gimana nih?” Kata petugas pertama.

“Gimana apanya?” Pertugas kedua bertanya balik.

“Kita sudah wawancara dua orang, dua-duanya mengaku yang membunuh korban.”

“Ah nggak usah bingung, tinggal lempar koin saja, kita mau menjarain yang mana?”

“Semudah itu?”

“Ya semudah itu?”

“Tapi saya baru terima hasil otopsi, katanya itu cewek dalam keadaan overdosis putau saat dia dibunuh. Jadi ada kemungkinan tidak satu pun mereka yang membunuh cewek itu.”

“Kamu mau kasus ini lari ke bagian narkoba? Saya sih tidak rela, ini kasus penting bisa menarik perhatian pers. Lumayan kan nampang di TV atau koran sekali-sekali.”

Okay kalau itu alasanyanya, jadi masalahnya tinggal satu  mau pilih Jemmy atau Mike?”

“Saya sih cenderung ke Si Mike.”

“Kenapa?”

“Saya rasa Si Sasongko itu orang penting, dia lebih menarik untuk dikonsumsi pers. Kalau si Jemmy orang biasa, hanya anak muda yang putus cinta, kurang menarik menurut saya.”

“Tapi saya tidak kenal nama politikus atau pejabat sekarang dengan nama Sasongko tuh.”

“Goblok!”

“Loh?”

“Kita harus interogasi terus Si Mike, saya yakin Sasongko itu bukan nama asli. Kalau Sasongko itu ketua KPK misalnya, pasti kita jadi terkenal di pers. Atau kalau kita bisa telusuri siapa Sasongko ini dan bisa deal dengan dia lebih dulu, saya yakin kita bisa kerjain tuh Si Sasongko.”

“Peras dia maksudnya? Mirip kasus Antasari dong.”

“Tepat.”

“Kamu nggak takut masalahnya jadi panjang?”

“Semakin panjang semakin bagus, kita punya gaji tambahan rutin dari Si Sasongko.”

“Kamu terlalu berani kawan.”

“Hahaha, kartu Si Sasongko itu ada sama kita. Pejabat paling takut skandalnya terbongkar, percaya deh sama saya.”

Okay deh.”

“Jadi kamu ikut atau tidak?”

“Iya saya ikut aja deh, kamu lebih paham.”

“Nah, gitu dong.”

Advertisements

2 thoughts on “Jane Doe

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s