Arti Perbedaan

Suatu hari aku sedang makan siang di sebuah mal di bilangan Senayan, Jakarta.

Aku sedang menunggu temanku yang belum juga datang, sampai mataku terpaku pada seorang tokoh yang tidak asing dimataku, dia sering tampil di televisi belakangan ini. Tampaknya dia baru saja menyelesaikan makan siangnya.

Kuberanikan diri untuk menghampirinya.

“Mas boleh gabung?” Aku bertanya.

“Boleh, silakan,” dia menjawab. Awalnya seperti agak ragu, tapi dia mencoba untuk ramah padaku.

Aku segera duduk dan lanjut bicara, “Saya tahu Mas, sering bicara soal pluralisme di televisi dan koran kan?”

“Anda wartawan?” Katanya.

“Bukan hanya orang biasa.”

“Ohh.”

“Saya hanya terkesan dengan Mas saja.”

“Ohh, terima kasih.”

“Mas sedang tidak sibuk kan? Saya hanya ingin ngobrol-ngobrol saja.”

“Boleh, tapi anda bukan wartawan kan?”

“Bukan Mas. Kenapa sih Mas getol membela pluralisme?”

“Keanekaragaman kan memang sudah ada dalam semboyan negara kita, bhineka tunggal ika, berbeda-beda tapi satu jua. Saya kira sejak SD kita belajar itu.”

“Iya benar juga sih, tapi sepertinya kalau soal pluralisme kok ya Mas sudah menjadi icon-nya. Bahkan sudah dibilang the new Gus Dur.”

“Hahahaha,” orang itu tertawa, mengambil seteguk minum dan melanjutkan bicara, “Itu kan hanya istilah yang dibuat oleh media saja. Media kan senang membesar-besarkan.”

“Media senang membesar-besarkan, karena banyak orang suka dibesar-besarkan. Di sisi lain banyak juga orang yang senang melihat, mendengar atau membaca hal-hal yang dibesar-besarkan.”

“Bicara anda seperti wartawan, yakin anda bukan wartawan?” Sepertinya orang ini tidak percaya padaku.

“Benar Mas, saya hanya orang yang kebetulan saja mampir di tempat ini untuk makan siang, dan kebetulan sok akrab untuk menyapa mas.”

Dia Isabella lambang cinta yang lara

Terpisah karena adat yang berbeza

“Hallo, ya.”

Diam sejenak.

“Oh okay dua jam lagi saya sampai di kantor, kita ngobrol-ngobrol nanti, lewat telepon kurang afdol.”

Diam sejenak.

Okay see you.”

“Maaf tadi angkat telepon dulu, sampai dimana kita tadi?” Katanya padaku.

“Oh, soal saya yang sok akrab mas. By the way, ring tone-nya oke juga tuh Mas.”

“Oh, hahahaha. Kamu memperhatikan juga. Itu kan lagu tentang pluralisme, cinta yang terpisah karena perbedaan adat, how silly.”

“Benar juga tuh Mas, tragis ya untuk hal yang sepele saja harus mengorbankan cinta.”

“Betul, padahal banyak di dunia ini yang bisa tarik menarik kalau ada perbedaan.”

“Pendapat yang menarik Mas, contohnya apa?”

“Misalnya kutub magnet, U dan S, kutub yang sama akan saling bertolakan, tapi kutub yang berbeda akan saling tarik-menarik dengan sangat kuatnya.”

“Hahaha, good point¸ apalagi tuh Mas contoh lainnya?”

“Kok anda tanya-tanya udah mirip wartawan?”

“Maaf Mas, kalau Mas sedang sibuk atau ada keperluan sih nggak apa-apa silakan dilanjut saja acaranya.”

“Tidak kok, maaf ya, saya lanjut. Contoh lain adalah masalah cinta. Normalnya manusia tertarik kepada lawan jenis, jenis yang berbeda. Memang sekarang sudah banyak juga cinta sesama jenis, tapi tetap ini dianggap tidak normal, walau itu hak masing-masing pribadi.”

“Saya semakin tertarik dengan pola pikir Mas.”

“Anda tahu pelangi?”

“Tahu.”

“Kapan dia muncul?”

“Saat setelah hujan.”

“Tapi tidak sehabis semua hujan dia muncul. Pelangi muncul bila sehabis hujan, masih ada rintiknya sedikit dan saat bersamaan sinar matahari menerpa titik hujan itu. Sinar matahari akan terbias oleh titik hujan dan terbentuk spektrum warna yang indah. Tau sejarahnya berdasarkan agama?”

“Apa tuh Mas?”

“Tau kisah Nabi Nuh?”

“Ya kurang lebih tahu Mas.”

“Usai air bah diturunkan, muncul pelangi. Itu suatu perlambang dari berhentinya sebuah bencana besar, sekaligus janji bahwa bencana seperti itu tidak akan turun lagi selama kita melihat pelangi. Pelangi adalah sebuah janji dan harapan.”

“Oh, begitu agung ya Mas.”

“Ya, dan spektrum warna yang indah itu selalu hidup berdampingan. Seharusnya kita juga begitu, warna kita bisa beda dari segi apapun. Agama, ras, bahasa, ideologi politik, apapun itu. Hidup berdampingan pasti jauh lebih indah.”

Aku manggut-manggut, “Filosofi yang keren Mas.”

Dia Isabella lambang cinta yang lara

Terpisah ka..

“Ya, hallo.”

Diam sejenak.

Okay saya jalan segera ke tempatmu.”

“Maaf Mas, saya harus pergi duluan, sudah ditunggu nih.” Katanya padaku.

“Okay Mas.”

“Ini kartu nama saya, SMS atau BBM ya habis ini atau follow di Twitter saya, hahaha.”

“Oh, hahaha, baik Mas, hati-hati di jalan.”

“Tapi anda benar kan bukan wartawan?”

“Bukan Mas, yakin deh. Memangnya kalau saya wartawan kenapa Mas?”

“Kalau situ wartawan saya ya minta fee untuk wawancara ini, hahaha. Okay see you.”

Orang itu segera berlalu.

*

Aku sedang memegang kartu nama yang baru saja aku terima tadi sampai ada suara yang mengagetkanku.

“Hey!!”

“Aduh, kaget aku, ternyata kamu, lama banget sih?”

“Iya sorry agak macet tadi. Bosen ya nunggu?”

“Nggak juga kok, untung tadi ada orang yang aku ajak bicara di sini. Dia kasih kartu nama lagi, nih kartu namanya,” kataku sambil menyodorkan kartu nama itu pada temanku.

Dia mengambilnya, lalu berkomentar, “Oh, ini kan tokoh pluralisme, the new Gus Dur. Ngobrolin apa saja sama dia?”

“Banyak, dari mulai pluralisme, magnet, ring tone, homoseksual, pelangi, kisah Nabi Nuh,” tiba-tiba aku diam, tidak menyelesaikan kalimatku.

“Lalu apa lagi, kok tiba-tiba diam?” Temanku itu mulai penasaran.

“Aku baru ingat, kamu kan wartawan?”

“Iya aku memang wartawan, memangnya kenapa?”

“Mulai sekarang aku harus minta fee untuk setiap wawancara dengan kamu.”

***

Advertisements

4 thoughts on “Arti Perbedaan

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s