Pertemuan Keluarga

Keluarga kami cukup disegani karena profesi kami, yaitu: pencopet.

Ya benar, pencopet. Ayahku bisa dibilang god father untuk kelompok pencopet ini, dia paling dituakan di sini. Kami tidak sembarangan dalam merekrut orang. Bisa dibilang hanya orang yang mempunyai pertalian keluarga baik itu secara darah maupun perkawinan yang bisa masuk dalam kelompok kami.

Kami saling melindungi satu sama lain. Apabila ada anggota kami yang ditangkap, itu adalah kesusahan semua anggota kelompok. Semua harus berusaha untuk menebus mereka keluar dari bui. Oleh karena itu kami memiliki uang kas yang bisa dijadikan dana untuk hal ini.

Orang yang tertangkap pun tidak boleh seenaknya, bila berulang-ulang tertangkap dia bisa dicap tidak berbakat dan dikeluarkan dari perkumpulan. Atau bekerja di bagian administrasi, mengurus uang kas dan pengelolaan administrasi lainnya seperti KTP. Hampir semua dari kami memiliki lebih dari dua KTP.

Aku baru bergabung sekitar dua tahun terakhir di lapangan. Sebelumnya bahkan aku tinggal di desa, tiga tahun yang lalu aku datang ke ibu kota menyusul bapak. Setelah melalui satu tahun masa training aku akhirnya boleh terjun ke lapangan.

Awalnya aku bahkan hanya menjadi asisten. Misalnya bila kelompok kecil – biasanya terdiri atas tiga atau empat orang – sedang beraksi di angkutan umum. Fungsiku dulu hanya sebagai pengamat atau penjaga pintu. Orang yang beroperasi dekat dengan target biasanya orang yang sudah berpengalaman, dan segera mengestafetkan hasil copetannya bila memang aksinya dicurigai. Awalnya aku ada di titik terakhir, dekat dengan pintu, untuk menerima hasil copetan dari orang yang beroperasi langsung pada target.

Terus terang setelah aku bergabung ke ibu kota aku baru tahu bahwa bapak adalah pemimpin kelompok pencopet yang anggotanya adalah keluargaku juga. Mulai dari paman-pamanku, abang dan sepupu-sepupuku.

Sebelumnya aku hanya heran, setiap kali aku meminta dikirim barang keperluan atau keinginanku, bapak selalu mengirim barang-barang bekas. Memang kondisinya masih baik, tetap saja aku tahu itu barang bekas.

Aku pernah minta dompet, jam tangan, handphone, bapak selalu saja mengirimkannya, hanya semua adalah barang second. Sampai suatu hari aku ingat, aku meminta ikat pinggang. Lama bapak tidak mengirimkannya, seminggu kemudian dia mengirim uang lewat wesel dengan pesan:

Anakku sayang, kau beli saja ikat pinggang yang kau mau. Ini bapak kirim uangnya.

Saat itu aku heran, tidak biasanya bapak mengirimkan uang untuk aku dapat membeli kebutuhanku. Tapi sekarang aku sudah tahu apa alasannya, ternyata semua barang yang aku terima sebelumnya adalah barang-barang hasil mencopet, dan aku akui sekarang: memang sulit sekali untuk mencopet ikat pinggang, dan resikonya sangat tinggi dibanding dengan nilai yang didapat.

*

Ini hari yang besar, karena keluarga besar kami mengadakan pertemuan. Semua anggota keluarga terutama yang sudah berumur di atas tujuh belas tahun diwajibkan hadir, kecuali memang ada yang berhalangan.

Acara diadakan di rumah kami, karena memang bapak yang memprakarsai acara ini. Ini adalah pertama kali semua anggota berkumpul secara resmi. Setelah sekian lama kami beroperasi di ibu kota.

Hari ini aku dipercaya bertindak sebagai penerima tamu karena aku termasuk yang termuda. Tidak terlalu formal fungsi dari penerima tamu ini, hanya sekedar berbasa-basi ketika ada tamu yang datang.

Gandhi – kakakku usianya dua tahun lebih tua dariku – hanya duduk saja di sudut ruangan. Maklum minggu yang lalu dia baru tertangkap tangan saat melakukan aksi. Hampir saja dia habis dihajar massa. Badan dan mukannya lebam akibat hajaran massa. Untung polisi datang cepat, meyelamatkan Gandhi dari amuk massa. Bapak baru menebus dia tiga hari yang lalu. Hari ini badannya masih terasa sakit-sakit, dia kurang semangat mengikuti acara hari ini.

Bapak banyak tidak suka dengan gaya Gandhi berakasi. Belakangan dia sangat malas beraksi, mungkin karena dia merasa dirinya kurang berbakat. Gandhi banyak melakukan aksi kurang menantang. Pernah dia berjalan kaki dari Bekasi ke Tangerang, melintasi Jakarta. Setiap ada warung atau kios dia mampir hanya untuk pura-pura menanya alamat atau meminjam korek api untuk menyalakan korek. Tapi tangan lainnya beraksi entah meraih sebungkus permen, shampo atau kopi sachet, atau apapun yang bisa disabet.

Sambil berjalan, Gandhi terus mengumpulkan hasilnya ke dalam tasnya. Dia bisa jual itu di warung atau kios berikutnya yang dijumpainya, atau sekedar dikumpulkan untuk dijual ke penadah nantinya.

Bapak kurang suka cara ini karena resiko digebukin massa tetap ada, tapi hasilnya tidak seberapa. Walau memang disaat buntu pikiran, melalukan teknik Gandhi cukup menghibur dengan resiko yang relatif lebih kecil daripada beraksi di kendaraan umum, terminal atau tempat keramaian lain.

“Hai, Edhi,” sapa seorang laki-laki yang baru datang padaku.

“Hallo Paman,” sapaku.

Kami berpelukan, tak lama, karena aku segera juga harus bersalaman dengan istri dari laki-laki itu dan kedua anaknya yang keduanya masih duduk di bangku SD.

Paman Welly – adik bapak satu-satunya, terpaut lima tahun lebih muda dari bapak, anggota yang lain hanyalah sepupu bapak – baru saja datang. Bisa dibilang dia tangan kanan bapak. Lain dengan bapak, Paman Welly masih aktif di lapangan, dan setiap anggota baru dalam kelompok kami terlebih dahulu dilatih oleh paman.

Paman Welly lah yang menciptakan semacam standar baik itu personel dan strategi. Dari sisi personel, Paman Welly yang menentukan standar pelatihan dan kelaikan seseorang sudah bisa terjun ke lapangan atau tidak. Dari sisi strategi, Paman Welly yang menentukan standar kode tangan, lirikan, dan lain-lain. Karena sering kali dalam operasi di lapangan sama sekali kami tidak boleh berbicara sama sekali.

Paman Welly juga mengajarkan cara-cara melindungi kawan yang tertangkap, bagaiman kita berpura-pura ikut memukuli – pura-pura tentunya – lalu menyeret kawan kita jauh-jauh dari amuk massa untuk selanjutnya menghilang dari massa. Atau bagaimana kita bisa berpura-pura sebagai petugas polisi yang tidak menggunakan seragam, pura-pura mengamankan tersangka, padahal membawanya kabur.

Bapak – umurnya sudah lima puluh tahun – datang menhampiri kami, dia mengajak Paman Welly dan keluarga untuk masuk ke ruang tengah.

Bapak hanya bekerja di belakang  meja. Tapi tetap soal kemajuan kelompok ada di tangan Bapak. Bapak juga mengatur jatah pada polisi, menjaga hubungan dengan pihak yang berwajib untuk kelancaran hidup kelompok kami. Ini jelas perlu karena saat salah satu dari kami tertangkap tentu harus ada yang mengurusnya ke pihak yang berwajib agar bisa dilepaskan sesegera mungkin.

Bapak juga yang menentukan prinsip dari kelompok kami, bahwa kami adalah pencopet tidak lebih dari itu. Kami bukan kelompok perampok yang mencederai bahkan membunuh orang. Kami bukan penodong yang mengancam orang. Kami murni pencopet yang mencuri secara diam-diam, dan bila ada yang mengetahui aksi kami, kami lari atau bersandiwara untuk meloloskan diri.

Maka dari itu kami dilarang membawa senjata tajam dalam semua aksi kami di lapangan. Bilapun membawa kami hanya membawa replica-nya saja, hanya digunakan untuk menakut-nakuti, itu pun saat kami dalam keadaan terdesak.

Satu semboyan yang bapak terapkan adalah “Mau apa tinggal ambil”. Bapak sering menjelaskan bahwa mencopet bukan hanya uang, tapi bisa juga barang-barang lain. Kalau kita mau jam ya tinggal ambil, mau topi yang tinggal ambil, butuh handphone ya tinggal ambil. Bahkan aku sendiri mengalaminya, untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kecil seperti sabun, sikat gigi, dan lain-lain, kami tidak pernah membeli. Kami hanya akan membeli barang-barang yang sulit untuk dicuri, seperti sayuran, ikan, beras, dan lain-lain.

*

Satau per satu tamu berdatangan ke rumah kami. Sampai waktunya semua anggota kelompok sudah datang. Acara pun dimulai. Sebelumnya anggota keluarga yang belum cukup umur dan para wanita berkumpul di halaman belakang agar tidak mendengar percakapan kami yang memang kurang layak didengar oleh anak-anak.

Bapak memberi sambutan.

“Selamat sore teman-teman semua.”

Suara bapak disambut oleh tepukan hangat semua yang hadir. Jumlahnya ada lima puluh orang. Semua memiliki talian persaudaraan dengan kami.

“Ada beberapa hal yang akan kita bicarakan hari ini. Terlalu membosankan kalau saya terlalu panjang berbicara hari ini, jadi saya jamin ini tidak akan memakan waktu lama.”

“Pertama. Saya ingin katakan mengapa saya mengumpulkan semua kita di tempat ini berikut anggota keluarga masing-masing. Saya ingin kita semua mengenal satu sama lain termasuk anggota keluarga, istri dan anak kita. Saya tidak mau mendengar di lapangan, salah satu dari kita menjadikan anggota keluarga sendiri sebagai target operasi kita. Oleh karena itu kenali masing-masing anggota kita dan keluarganya. Paham?”

Semua yang datang hanya manggut-manggut.

“Kedua. Saya ingin katakan bahwa karena kelompok yang semakin besar maka kita akan memperluas jaringan kita ke kota lain, yaitu Bandung. Oleh karena itu Welly akan saya tugaskan untuk membuka jaringan di kota itu. Dia akan membawa sepuluh orang dari kalian untuk di bawa ke Bandung. Nanti Welly akan pilih sendiri anggota-anggotanya, jadi tidak perlu panjang lebar saya jelaskan di pertemuan ini. Nanti kalian bosan, lalu tertidur, dompet kalian bisa-bisa hilang saya buat.”

Kata-kata bapak terakhir memancing tawa semua yang hadir.

“Ketiga. Saya mengumumkan bahwa kelompok ini akan membuat usaha yang legal. Kita mempunyai uang kas yang cukup. Tadinya digunakan untuk kebutuhan darurat untuk menjamin anggota yang tertangkap. Tapi karena belakangan kalian sudah semakin lihai, jarang sekali diantara kita yang tertangkap. Oleh karena itu saya akan gunakan uang ini untuk mendirikan sebuah rumah makan. Keuntungan dari rumah makan ini akan kita bagi bersama dan laporannya dilakukan secara terbuka.”

Semua yang hadir menyambut dengan tepuk tangan gagasan bapak tersebut.

“Apa ada diantara kita semua yang terus menerus mau menjadi pencopet?”

Semua menggeleng.

“Nah oleh karena itu gagasan ini harus didukung supaya berhasil. Nantinya akan ada usaha-usaha lain  yang akan kita bentuk, untuk kemajuan bersama.”

“Baiklah, saya sudah bosan bicara di sini, apalagi yang mendengarkan saya bicara, pasti lebih bosan lagi. Silakan kalian bicara-bicara satu sama lain, bertukar pikiran mengenai teknik masing-masing dan pengalaman di lapangan dan silakan bergabung dengan keluarga di halaman belakang. Hidangan sudah disediakan.”

*

Semua kami membaur dalam suatu acara informal. Organ tunggal juga sudah disiapkan, ada yang menyanyi, anak-anak berlarian kesana kemari, ibu-ibu cekikikan sambil tidak henti-hentinya memakan cemilan.

Suasana kekeluargaan begitu terasa, sehingga tidak terasa hari sudah cukup larut. Sebelum bubar kembali bapak ingin semua berkumpul di ruangan.

“Apakah kalian menikmati acara ini?”

Semua menjawab, tidak beraturan, tapi intinya semua menyatakan bahwa mereka menikmati acara hari ini.

“Tapi ada satu aturan yang kalian langgar. Saya mau sesama kita tidak saling menjadikan target. Kalian meremehkan saya. Walau saya sudah lama tidak beroperasi di lapangan, tapi mata saya masih sangat jeli mengamati semua kalian tadi. Untuk kali ini saja saya maafkan.”

Semua hanya menggeleng.

“Coba cek kantong belakang masing-masing.”

Semua memeriksa kantong belakang masing-masing, termasuk aku. Dompetku masih ada di kantong belakang.

“Apa masih ada dompetnya di kantong masing-masing?”

Semua menggangguk.

“Coba ambil dompet kalian dan periksa.”

Aku ambil dompetku, aku periksa, ini bukan dompetku. Ternyata semua sudah tertukar. Memang sudah refleks, susah dihilangkan.

***

Advertisements

One thought on “Pertemuan Keluarga

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s