Anak-Anak Berbakat

Saat itu aku sedang berkumpul bersama ibu-ibu yang lain di sebuah halaman sekolah taman kanak-kanak. Anak-anak kami baru saja selesai keluar dari kelas masing-masing. Kami ibu-ibu belum selesai dengan urusan kami, ngerumpi, jadi kami biarkan anak-anak bermain di lapangan sekolah.

“Stephen! Ayo sini kita harus pulang, kamu kan ada les nanti!” Teriak salah satu ibu.

Dia memanggil anaknya, Stephen. Anak ini luar biasa cerdas dalam hal bahasa. Usianya masih empat tahun, tapi sudah bisa bicara beberapa bahasa internasional. Bahasa Inggris sih bukan hal yang aneh, itu sudah menjadi semacam standar. Stephen malah bisa bahasa-bahasa lain seperti: Spanyol, Perancis, Mandarin dan Jepang. Pernah kemampuannya didemonstrasikan kepada kami, dan ini membuat ibu-ibu yang lain terkagum-kagum. Memang selain Bahasa Inggris, tidak satu pun di antara kami yang menguasai bahasa-bahasa yang Stephen kuasai. Tapi tetap ketika Stephen mendemonstrasikan kemampuannya kami mendengar dia begitu fasih dalam berbicara dalam bahasa-bahasa itu. Tak pelak decak kagum pun terlontar dari mulut kami masing-masing.

Stephen, are you finished yet? We have to go now. Remember your French class son?” Sang ibu kembali memanggil Stephen untuk kedua kalinya. Kali ini menggunakan Bahasa Inggris.

Stephen sagera datang.

“I’m sorry mom, we can go now,” Stephen menjawab. Pelafalan kalimatnya sungguh luar biasa, atau dalam istilah bahasa sering disebut native speaking. Lain dengan sang ibu yang walau berbahasa Inggris tetap terlihat dialek medok Jawanya.

“Jeng, saya pergi dulu ya, ada les Inggris nih, sore juga ada les Perancis lagi. Sampai ketemua besok.” Temanku berpamitan.

Ibu-ibu yang tersisa masih asyik mengobrol, sementara anak-anak kami masih asyik bermain di lapangan.

“Anaknya ikut kursus apa Jeng?” Tanya salah satu ibu.

“Ah belum serius Mbak. Untuk kegiatan di luar sekolah paling sekarang hanya berenang, itu juga bukan kursus, hanya have fun dengan keluarga saja di akhir pekan, atau sekedar jalan-jalan ke luar kota, ke tempat yang udaranya masih fresh,” Jawabku.

Ibu yang bertanya tadi adalah orang tua dari Aurel. Anak perempuan yang cerdas dalam soal matematika. Orangtuanya memasukkan Aurel ke sekolah mental aritmatika, sehingga Aurel bisa menghitung dengan sangat cepat. Pernah kami memberi beberapa soal perkalian yang cukup rumit, Aurel bisa menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator maupun kertas untuk menghitung. Aurel juga memiliki keahlian lain yang cukup mencengangkan, dia bisa menulis dengan baik menggunakan tangan kanan maupun tangan kirinya. Bahkan untuk hal ini kami pernah ditunjukkan keahliannya, dia bisa menulis beberapa kalimat dengan tangan kiri dan tangan kanan secara bersamaan. Kalimat yang ditulis dengan tangan kiri berbeda dengan kalimat yang ditulis dengan tangan kanan. Sungguh mencengangkan.

“Mari Jeng, saya duluan, Aurel masih harus pergi ke les,” katanya padaku berpamitan.

“Oh, hati-hati di jalan Mbak,” aku menjawab sambil mengangguk.

Satu per satu teman-temanku mulai pulang. Budi – anakku semata wayang – masih bermain dengan salah satu temannya, Jason. Jemputan untuk Jason belum datang, sehingga kuputuskan membiarkan Budi menemani Jason sampai jemputannya datang.

Jason ini juga anak yang berbakat. Dia menguasai lima alat musik, mulai dari piano, flute, biola, drum dan gitar. Setiap hari Jason harus berlatih kelima alat musik ini, entah datang ke tempat kursus atau sengaja didatangkan guru ke rumahnya. Sodorkan sebuah partitur dalam not balok pada Jason, dengan mudah dia dapat menguasainya.

Jemputan Jason sudah datang, Budi segera menghampiriku dan kami pun pulang.

*

Percakapan di tempat tidur.

“Kang, aku kok minder ya sama ibu-ibu yang lain kalau jemput Budi ke sekolah?” Aku mengadu pada suamiku.

“Kenapa sih?” Katanya sedikit kesal.

“Tuh Si Stephen, dia bisa bahasa macem-macem. Inggris-nya sih udah pasti bagus, jangan ditanya lagi. Selain itu dia juga bisa bahasa asing yang lain Kang, contohnya: Spanyol, Perancis, Jepang, Mandarin.”

“Lalu kenapa?”

“Kamu ini tidak peka ya Kang!”

“Loh kok nyalahin aku sih? Aku dulu bahkan dulu sebelum masuk SD, Bahasa Indonesia saja belum lancar, bisanya ya Bahasa Sunda. Sekarang bisa juga tuh Bahasa Inggris, belajar dari SMP. Emangnya anak kecil mau nulis proposal pakai Bahasa Inggris Neng? Apalagi bahasa Spanyol, hahahaha.”

“Kamu itu Kang nggak ngerasain sih mindernya aku. Belum lagi ada anak perempuan nih, namanya Aurel. Masih TK juga sama kayak Si Budi anak kita, tapi hitungan matematikanya luar biasa Kang, sama dengan kalkulator.”

“Ya tinggal beli kalkulator saja Neng, yang made in china kan murah?”

“Ah Si Akang, nih ada lagi nih, Si Jason. Aduh, main musiknya juga sangat hebat, bisa empat atau lima alat musik Kang.”

“Aduh hebat itu Si Jason, mau konser dimana dia ya?”

“Kang serius atuh!”

“Saya juga serius ini Neng, dua rius malahan,” suamiku menjawab. Dari tadi dia tidak pernah serius menanggapi keluhanku, aku sedikit kesal.

“Aduh Si Akang, sepertinya tidak perhatian sekali sih dengan nasib Budi?”

“Nasib Si Budi atau nasib kamu Neng?”

“Kok nasib aku Kang?”

“Iya, Si Budi sih tidak pernah mengeluh kok soal dia tertinggal dengan anak-anak yang lain. Lagipula kan dia masih TK, singkatan dari apa TK coba Neng?”

“Taman Kanak-Kanak.”

“Nah itu kamu tahu, kan ada lagunya.”

Tempat bermain, berteman banyak

Itulah taman kami taman kanak-kanak

“Idih si Akang, malahan nyanyi dia mah.”

“Iya itu kan lagunya kamu juga tahu. TK itu tempat bermain dan berteman, tapi malahan kamu pakai minder segala dengan teman-teman Si Budi yang bisa macam-macam begitu. Si Budi juga hebat kan, dia sudah bisa baca sekarang, saya dulu masuk SD saja belum bisa baca.”

“Iya sih.”

“Anak TK sekarang harus bisa baca, hebat euy, saya sebenarnya kurang setuju, tapi buktinya Si Budi bisa mengikuti. Berarti dia mampu bersaing.”

“Iya tapi apa kamu tidak ngiri Kang?”

“Ngiri apa?”

“Ngiri sama kemampuan teman-teman Si Budi yang jauh di atas Si Budi.”

“Apa Si Budi minder Neng?”

“Tidak sih.”

“Nah berarti kamu yang minder Neng, kamu saja sok yang ikut les, mau apa? Les Perancis, Spanyol, Kumon atau les musik seperti biola gitu Neng?”

“Ih Si Akang malah nyuruh saya yang les, kita kan sedang bicarain soal anak kita, Budi.”

“Habis kan yang minder kamu bukan Budi.”

“Tapi Kang, saya khawatir nanti Budi tertinggal.”

“Tidak akan Neng, hidup anak kita masih panjang. Si Budi itu masih empat tahun, kayak nggak ada waktu saja untuk belajar sih? Daya serap manusia sampai usia belasan bahkan di atas dua puluh tahun masih cukup tinggi, yang penting sekarang tanamkan kemauan saja. Nanti takutnya kalau dari sekarang kita cekokin, dia bisa bosan, jadinya nanti antiklimaks.”

“Alah si Akang bahasanya tinggi euy pakai antiklimaks segala.”

“Eh Neng, ini serius.”

“Iya saya juga serius, dua rius malahan,” kubalikkan perkataannya tadi. Suamiku tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ya sudah besok tanya anak kita, dia mau les apa? Kalau sesuai keinginan dia saya setuju untuk kita ikutkan dia les, tapi tetap saya tidak mau kalau nanti Si Budi dikasih target yang terlalu membuat dia stress.”

“Iya Kang, coba saya tanya dulu, saya ngiri tuh sama ana-anak berbakat itu.”

“Berbakat? Anak berbakat atau anak sirkus?”

Aku terdiam. Kata-kata terakhir suamiku begitu skeptis, tapi mengena. Memang sebenarnya apa gunanya mampu berbagai macam bahasa, menghitung cepat atau bisa berbagai macam alat musik dalam usia yang terlalu dini, kalau toh si anak terpaksa melakukannya. Toh kalau memang dia punya minat nanti dia pasti mendalaminya, asal diarahkan tentunya.

Benar juga kata suamiku tadi, walau dalam percakapan kami tadi suamiku banyak bercanda, tapi inti yang dia sampaikan akhirnya bisa aku terima.

“Bener juga ya Kang.”

“Aduh, kirain sudah tidur kamu Neng. Sudah dulu ah Neng, kita tidur saja ya?” Keluhnya setengah tertidur.

***

Advertisements

3 thoughts on “Anak-Anak Berbakat

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s