Dengar Pendapat

“Silakan masuk.”

Aku segera berdiri dan mendekati penjaga yang memanggil aku.

“Rentangkan tangan.”

Aku mengikuti perintahnya. Petugas menemukan ponselku dan segera mengambilnya.

Okay anda sudah bersih, sekarang boleh masuk. Bapak Presiden sudah menunggu anda. Handphone anda bisa diambil nanti sesudah menghadap Bapak Presiden.”

Aku segera masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh petugas itu.

Entah mengapa aku mendapat panggilan dari presiden hari ini. Katanya sih dia mau mendengar pendapatku. Aku mewakili pengusaha kecil-menengah. Baru-baru ini profilku masuk dalam sebuah majalah ekonomi lokal. Mungkin presiden atau stafnya membaca pemberitaan itu dan tertarik untuk mengetahui tentang diriku lebih dalam lagi.

Sepertinya dalam pemberitaan majalah tersebut, tidak ada kata-kataku yang memojokkan pemerintah. Ya sudahlah, lebih baik aku datang saja memenuhi panggilan beliau.

“Eh, Imam sudah datang, silakan duduk.”

“Baik Pak.”

Pak Presiden menunjukkan sofa dimana aku harus duduk dan dia mulai melangkah dari meja kerjanya ke sofa itu.

“Maaf menunggu lama di luar ya tadi?” Katanya sambil menjabat tanganku erat.

“Oh, tidak apa-apa Pak.”

Entah kenapa, aku yang biasanya begitu disiplin terhadap waktu, terutama dalam hal menjalankan usahaku, sekali tidak mengeluh walau harus satu jam menunggu Pak Presiden di ruang tunggu tadi. Aku menjadi sedemikian permisif. Itu mungkin yang jadi faktor penyebab orang-orang yang dekat dengan kekuasaan sebegitu permisif-nya terhadap presiden. Aku mulai merasakannya, walau dalam hal sepele.

Kami sudah sama-sama duduk.

“Bagaimana kabar?”

“Baik Pak.”

“Usaha bagaimana?”

“Selalu ada tantangan tapi so far so good.”

“Saya suka anak muda seperti anda.”

“Wah, jangan berlebih-lebihan Pak.”

“Tidak kok. Berapa karyawan anda?”

“Sepuluh orang.”

“Coba ada empat juta orang seperti anda, tidak perlu ada TKI ke luar negeri, anda empat puluh juta lapangan usaha. Sekali lagi saya kagum.”

Aku tersenyum, empat juta usaha kecil? Bisa saja, tapi dengan kondisi birokrasi negeri ini, rasanya itu mimpi di siang bolong.

“Banyak kendala tidak saat menjalankan usaha?”

“Banyak suka dan dukanya Pak.”

“Coba berikan saya contoh, saya sengaja mengundang anda bertemu empat mata, saya mau menggali pendapat anda yang sejujur-jujurnya tanpa ada tekanan dari pihak mana pun.”

“Contohnya, maaf ya pak jangan tersinggung.”

“Kenapa memang?”

“Listrik sering padam.”

Hening sejenak, Bapak Presiden manggut-manggut, sementara aku harap-harap cemas menunggu jawabannya.

“Hmmm, masalahnya pelik, tapi sesegera mungkin akan kami tangani.”

“Terima kasih Pak. Sebagai solusi kami membeli genset untuk mengatasi ini, tapi Bapak kan tahu sendiri, harga solar dan bensin kan juga naik terus, jadi kami hanya pakai genset kalau memang benar-benar ingin mengejar target saja. Untuk produksi normal lebih baik kami tunggu sampai listrik menyala.”

Aku terdiam sejenak, kulihat dari tadi ada segelas air putih di hadapanku.

“Pak ini, boleh saya minum?”

“Oh iya, maaf, maaf, silakan diminum dulu Mam.”

Wah aku baru saja dipanggil Mam oleh Bapak Presiden. Suatu kebanggaan, presiden mencoba akrab denganku.

Aku meminum air dalam gelas itu, hilang dahagaku. Sejak tadi di ruang tunggu sebenarnya aku sudah sangat haus, apa daya aku tidak berani untuk meminta penjaga di depan untuk segelas air.

“Soal listrik ini, pernah mati sampai dua hari, terpaksa kami gunakan genset. Ongkos produki jadi tinggi, sebenarnya saat itu kami menanggung rugi, tapi tak apa Pak, yang penting pelanggan puas dan tidak kabur karena pesanannya molor.”

“Ya memang dalam menjalankan bisnis perlu sedikit inovasi.”

Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar pernyataan beliau, dia menyebutkan kata inovasi. Membeli genset masuk dalam kategori inovasi menurut beliau. Beruntung aku bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa saat itu.

“Lalu ada lagi?”

“Masalah keaamanan Pak. Sering ada preman yang minta jatah, ada saja alasannya. Saya pernah mencoba untuk berani tidak memberi mereka jatah, besoknya sepeda anak saya hilang Pak. Saya bukan menuduh preman itu yang melakukan. Akhirnya saya tidak berani menentang preman-preman itu, tidak pernah ada kehilangan lagi setelah itu.”

“Kenapa tidak kamu laporkan pada Polisi saja? Negara kita kan negara hukum.”

Aku hampir tertawa untuk kedua kalinya. Kali ini aku masih bisa menahannya.

“Maaf Pak, premannya anak Polisi.”

Bapak Presiden hanya diam, manggut-manggut. Aku juga diam aku takut beliau bereaksi negatif terhadap kalimat terakhirku tadi.

“Baiklah, sudah saya catat, ini adalah agenda reformasi dalam tubuh instansi pemerintah dan alat negara. Terimakasih anda sudah mau jujur. Apa ada lagi yang menggangu?”

“Sebenarnya banyak Pak, tapi saya yakin Bapak tidak punya banyak waktu berbincang-bincang dengan saya.”

Entah mengapa, aku semakin percaya diri berbicara dengan orang di hadapanku ini. Aku bahkan hampir tidak sadar bahwa orang ini adalah presiden, lembaga eksekutif tertinggi di negeri ini.

“Coba apa sekiranya yang paling penting untuk disampaikan.”

“Pajak dan pungli Pak.”

“Imam, pajak kan sudah menjadi kewajiban semua warga negara. Kalau soal pungli dari preman itu maksud kamu? Itu kan sudah saya jawab, bahwa saya sedang melakukan reformasi birokrasi.”

“Oh kalau jatah preman sudah saya anggap gaji karyawan saja Pak.”

“Lalu siapa lagi yang melakukan pungli?”

“Maaf ya Pak, orang-orang Bapak, oknum dari instansi pemerintah. Mereka selalu mencari-cari kesalahan saya, soal peruntukan rumah tinggal yang dipakai untuk usaha misalnya. Padahal kan memang kami ini usaha kecil, untuk menghemat biaya kalau masih bisa dilakukan di rumah dan tidak mengganggu lingkungan, saya pikir mengapa tidak?”

“Lalu?”

“Intinya bukan masalah peruntukan bangunan Pak, buktinya kalau akhirnya kami berikan amplop mereka tidak mengungkit lagi masalah itu.”

“Lalu?”

“Biasanya kalau ada pergantian pejabat, akan datang lagi orang yang baru, dan solusinya tetap sama Pak, sodorin amplop.”

“Hmmm, cukup rumit.”

Aku tidak menunggu dipersilakan lagi, kuminum lagi air putih tadi beberapa teguk, dan kembali bicara.

“Belum lagi kalau dekat hari raya, preman dan oknum instansi pemerintah itu juga minta THR.”

“Hmmm, rumit.”

Kami berdua diam cukup lama. Aku lihat dia termenung dan berpikir keras.

Akhirnya Bapak Presiden membuka pemberbicaraan.

Okay Mam, informasi yang bagus dari kamu. Apa yang perlu saya bantu? Apa kamu perlu referensi saya untuk mengambil pinjaman di bank?”

“Oh, terima kasih Pak, tapi rasanya saya tidak perlu itu.”

Okay, bagaimana kalau saya tawarkan bantuan pemerintah bentuknya modal yang tidak perlu kamu kembalikan.”

“Wah, sekali lagi itu juga tidak perlu Pak.”

“Kamu butuh mesin apa untuk meningkatkan produksi usahamu, saya akan pesankan buat kamu, gratis, hibah dari pemerintah.”

“Tidak perlu pak, terima kasih banyak untuk niat Bapak yang mulia ini.”

“Jadi kamu perlu apa?”

“Maaf Pak, saya hanya butuh satu..”

Belum selesai aku bicara Pak Presiden memotong kalimatku karena tidak sabar.

“Apa itu kakatan Mam?”

“Jangan ganggu kami Pak”

***

Advertisements

3 thoughts on “Dengar Pendapat

  1. Lanjutannya :

    “Hmm. Rumit. Saya sangat prihatin atas apa yang menimpa usahamu, Mam.”

    Beberapa hari kemudian Imam ditemukan tewas dengan beberapa luka tembak di tubuhnya.

    Tamat.

    Hihihi. :p

    Good one, Sir. Love it. 🙂

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s