Cita-Cita Badu

Suatu hari sepulang sekolah, Badu berjalan kaki sendirian melintasi sebuah peternakan sapi. Dia melihat ada seorang kakek yang kesulitan mengangkat beberapa wadah susu dari aluminium ke atas pedati.

Badu menghampiri kakek itu.

“Kek, bisa saya bantu angkat?”

Kakek itu menatap Badu, sedikit curiga.

“Nggak apa-apa kok Kek, saya ikhlas.”

Kakek hanya mengangguk.

Akhirnya Badu membantu kakek itu menaikkan semua wadah susu itu ke atas pedati, sampai akhirnya semua wadah susu sudah ada di atas pedati.

“Siapa namamu?”

“Badu Kek.”

“Apa Badukek?”

“Maksud saya Badu.”

“Ohhh, kamu tinggal dimana?”

“Di kampung sebelah,” kata Badu sambil menunjuk ke arah kampungnya.

“Ayo naik ke pedati saya, kebetulan saya juga akan menuju kampungmu.”

Akhirnya Badu naik ke pedati kakek itu tadi dan segera dua ekor sapi menarik pedati itu perlahan menuju kampung tempat Badu tinggal. Lumayan pikir Badu, hari ini tidak terlalu capek harus berjalan dari sekolah menuju rumah.

*

“Kek, sudah sampai itu rumah saya,” kata Badu sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Kakek itu segera memberhentikan pedatinya.

“Terima kasih ya Kek,” kata Badu seraya turun dari pedati.

“Sebentar Nak, kamu boleh ambil satu wadah susu sapi itu buatmu.”

“Tidak usah Kek,” kata Badu.

“Sudah ambil saja, itu tanda terima kasih dari saya buat kamu.”

Badu akhirnya setuju dan segera mengambil satu wadah susu tersebut.

“Wadahnya bagaimana Kek?”

“Saya sudah tahu rumahmu. Kamu titipkan saja sama orang di rumahmu, besok atau lusa mungkin aku kembali ke kampungmu ini. Aku akan mampir untuk mengambilnya.”

“Baik Kek, terima kasih banyak ya.”

Kakek itu segera berlalu dengan pedatinya. Badu melambaikan tangan dan kemudian berjalan menuju rumah sambil membawa satu wadah susu.

*

Sampai di rumah, Badu langsung meyimpan wadah susu itu dan duduk di depan kursi tempat dia meletakkan wadah susu tadi.

Dia begitu haus, ingin sekali dia menikmati susu itu, tapi Badu berpikir adalah lebih baik menjualnya ke pasar atau kepada tetangganya, dia akan memperoleh uang.

Jadi diurungkannya untuk meminum susu itu. Dia mulai merencanakan apa yang dia akan lakukan dengan susu ini.

Dia akan menjualnya untuk mendapatkan uang yang cukup lalu akan pergi bersenang-senang ke kota, mungkin nonton  di bioskop.

Tapi kalau dipakai nonton, habis nonton, sudah habis uang itu pikirnya. Ditambah ongkos kendaraan ke kota yang cukup mahal. Tidak jadi pikirnya, lebih baik uangnya dipergunakan untuk hal yang lebih berguna.

Badu terpikir untuk membeli telur ayam saja. Ibu punya ayam betina, dia berencana untuk membeli telur ayam untuk dierami oleh ayam betina miliki ibu. Pasti ibu akan mendukung rencananya ini.

Setelah ayam-ayam itu nanti menetas dia berencana untuk merawatnya sampai besar dan bisa bertelur untuk dapat dierami lagi. Terus demikian sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang kambing.

Dia akan rawat kambing itu sampai besar dan berkembang biak. Terus dia akan rawat kambing-kambing tersebut sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang sapi.

Badu terus berkhayal. Kali ini dia berternak sapi, merawatnya sampai berkembang biak sampai beberapa mungkin bisa dijual. Tidak semua sapi akan dia jual beberapa saja untuk dibelikan kuda.

Memiliki kuda adalah cita-cita Badu sejak lama. Dia sering meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan kuda. Badu sangat memimpikan berjalan-jalan keliling kampung atau bahkan pergi ke sekolah dengan menunggang kuda.

Sambil tersenyum-senyum Badu terus berkhayal. Kali ini dia sedang mengkhayalkan dirinya menunggang seekor kuda keliling kampung. Khayalannya kali ini begitu hebat sampai tak sadar dia menirukan gaya orang menunggang kuda dari atas kursinya.

Sampai tiba-tiba, “Klontang!!”

“Badu! Suara apa itu di depan!”

Seorang wanita bergegas dari dapur menuju ruang depan. Wanita itu adalah ibu Si Badu.

Badu hanya diam.

“Aduh kamu lagi apa sih Nak? Itu kok ada susu yang tumpah kemana-mana! Ayo kamu bersihkan!”

***

Ditulis kembali dengan beberapa perubahan dari cerita rakyat Sumatera Utara yang biasa diceritakan dari mulut ke mulut.

In memoriam bapak yang kukasihi, Alm. Peltu. A. Ginting.

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s