Calon Legislatif

Di sebuah lobby hotel.

“Hey, David ya?”

“Iya, Aduh pangling, Henry ya?”

“Hahahaha, lama kita tidak jumpa ya? Sejak lulus kuliah dul, udah berapa tahun ya?”

“Sudah lama sekali yang jelas aku lulus duluan, kau kelamaan kuliah, kebanyakan demo kan?”

“Hahahaha, iya, bisa aja kau Vid.”

“Duduk dulu lah di sini, tidak buru-buru kan? Mari kupesankan minuman buat kau.”

Okay, masih ada waktu satu jam untuk ngobrol-ngobrol.”

David segera memberi kode kepada pelayan tanda akan memesan sesuatu.

Pelayan segera datang.

“Mbak, coba tanya Bapak ini mau pesan minum apa?” Kata David pada pelayan itu.

“Maaf Pak mau pesan apa?” Seraya menyodorkan buku menu.

Orang yang menyapa David tadi – bernama Henry – mulai membuka-buka buku menu yang disodorkan oleh pelayan tadi.

Okay saya pesan satu hot tea saja.”

“Mau yang apa pak hot tea nya?”

English breakfast saja.”

“Baik Pak,” kata pelayan itu, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Henry tadi.

“Gimana nih kabarnya Vid?” Kata Henry lagi.

“Baik saja Hen, kau bagaimana?”

“Kabarku baik. Aku menginap di hotel ini, kau juga?”

“Aku? Nggak. Aku sedang menunggu tamu dari luar negeri. Sebenarnya janjinya sekitar satu jam lagi. Berhubung tinggal di pinggiran Jakarta, terpaksa berangkat cepat-cepat supaya tidak kena macet di jalan.”

“Ohh..”

“Kau tinggal di kota apa?”

“Aku tinggal di Pekanbaru.”

“Lalu ada urusan apa di sini?”

“Sebenarnya aku sudah jadi anggota DPR-RI.”

“Oh, selamat Hen.”

David menjulurkan tangan menjabat tangan Henry. Mereka berjabat tangan. David mengayun jabatan tangan itu begitu kencang sampai tubuh Henry terguncang-guncang.

“Aduh, cukup deh,” Kata Henry.

“Iya, maaf, aku senang sekali kau bisa jadi anggota DPR, tingkat pusat lagi.”

“Haha, padahal nilaiku dulu waktu kuliah jauh sekali dengan kau ya Vid?”

“Kan ada tesisnya Hen?”

“Apa tuh?”

“Banyak A akan jadi peneliti kerja di lab.”

“Lalu?”

“Banyak B akan mudah cari pekerjaan, sehingga akan jadi karyawan atau dosen, paling banter jadi profesional.”

“Haha, bisa saja kau Vid, lalu yang banyak C?”

“Susah dapat kerjaan lalu buat usaha sendiri, akhirnya jadi pengusaha.”

“Kalau aku?”

“Kau kan dulu terlalu sering demo. Jelas lah banyak D, kau ulang lagi baru jadi C. Kalau banyak C jadi pengusaha, kalau sering dapat D malah jadi penguasa seperti kau ini.”

“Hahahaha,  bisa saja kau Vid.”

“Ini tesis main-main tapi valid, setidaknya untuk kondisi kita berdua.”

“Kau sendiri apa sekarang Vid?”

“Aku bekerja di perusahaan multi-nasional Hen. Ini tamu yang mau kujemput teknisi-teknisi dari India. Mereka menginap di sini. Kau sendiri ngapain nginap di sini? Bukannya dapat jatah rumah di Jakarta.”

“Ya, dapat, tapi tadi malam ada acara di hotel ini, sekalian menginap di sini saja, lagian sudah ngantuk banget. Dari sini ke gedung DPR/MPR tidak jauh. Kalau terlambat, sekarang gawat, bisa-bisa dibocorkan ke wartawan lagi.”

“Hahaha, bener juga.”

“Kau masuk partaiku lah, pemilu berikutnya bisa deh aku usahakan jadi caleg.”

“Yang bener aja Hen?”

“Bener, kau kan dulu pintar juga. Sering nulis juga di majalah kampus. Demo juga kau ikut, hanya kau tetap fokus di studimu tidak seperti aku yang benar-benar berantakan.”

“Boleh saja sih, aku mau-mau aja jadi caleg, hanya banyak ganjelan.”

“Apa salah satunya?”

“Aku nggak mau buat poster, terus lalu dipajang di pinggir jalan?”

“Kenapa?”

“Nggak pede.”

“Hahaha, bisa aja kau ini.”

“Apalagi kalau ada anak-anak kecil yang iseng, nanti posterku itu dicoret-coret, ditambah-tambahin kumis lagi. Malu ah.”

“Hahaha, serius kau. Masak itu jadi alasan?”

“Itu alasan yang serius menurutku Hen.”

“Aku menawarkan ini bukan basa-basi Vid.”

Pelayan datang dengan membawa satu poci teh dan satu cangkir kosong. Henry dan David menghentikan percakapan mereka sebentar, sementara pelayan meletakkan poci, cangkir dan sendok ke meja mereka.

“Silakan Pak, ini gulanya, bisa dicampur sendiri,” kata pelayan itu.

Henry menuang isi poci ke dalam cangkir, mengambil satu bungkus gula, membuka sachet-nya dan menumpahkan isinya ke dalam cangkir. Sambil mengaduk teh, Henry mengulang kalimat terakhirnya.

“Tawaranku itu bukan basa-basi Vid, benar kami dari partai butuh figur profesional seperti kau. Aku memantau juga perkembanganmu, jangan kaukira tidak. Beberapa kali kau menulis soal telekomunikasi dan IT di majalah ekonomi dan harian nasional, aku tahu itu.”

“Hahaha, itu iseng. Aku sering buat proposal, aku copy paste dari proposalku itu lalu kukirim ke redaksi mereka, eh ternyata malah dimuat.”

“Ah, kau suka merendah, tak mungkin mereka memuat begitu saja kalau tulisanmu itu asal-asalan. Bagaimana, tertarik?”

“Boleh saja, tapi banyak syaratnya, hehe.”

“Apa saja? Kita punya cukup waktu untuk membicarakannya.”

“Satu, aku tidak mau jadi caleg dari partai gurem, hanya menghabis-habiskan waktu dan tenaga saja. Pasti tidak terpilih.”

Okay, dalam hal ini partaiku bukan partai gurem kan?”

“Ya benar, masih ada syarat berikutnya.”

“Apa itu?”

“Aku tidak mau keluar uang sepeserpun, untuk biaya kampanye atau beli nomor urut.”

“Hmmm, kau mau enaknya saja kalau gitu.”

“Kok? Kau kan tanya syarat dari aku, ini aku sebutkan sejujur-jujurnya. Kalau tadi tidak kau tanya pun aku tidak akan sebutkan syarat-syarat ini.”

“Hahaha, baiklah, jangan tersinggung dong. Soal dana kampanye bisa kucarikan sposor nanti. Silakan lanjut.” Henry meminum sedikit tehnya.

“Syarat ketiga, aku maunya jadi anggota DPR-RI, tingkat I atau tingkat II, nggak main.”

“Aku memulai dari tingkat I, baru kali ini aku masuk ke pusat Vid.”

“Itu kan kau, kalau kau tanya apa syaratku mau kau rekrut, ya ini syaratku.”

“Hahaha, pede kali kau ini Vid, tak berubah.”

“Mau tahu syarat berikutnya?”

“Oke boleh.”

“Syarat keempat, aku tidak mau jadi caleg dari dapil daerah diluar DKI seperti kau. Malas aku kampanya ke daerah, lagi pula aku tidak tahu kondisi masyarakat di sana, mana mungkin aku bisa mewakili aspirasi mereka.”

“Hmmm, berat, banyak politisi senior yang mengincar dapil yang kau sebut itu Vid.”

“Ya aku tak peduli, toh aku kan berhak mengajukan syarat. Lagi pula resiko jadi anggota legislatif, mendapat cap buruk sebagai oportunis dari anggota masyarakat, sekalian saja aku minta yang muluk-muluk.”

“Syarat yang kau ajukan itu hampir mustahil Vid.”

“Memang kok, bukan hampir lagi, tapi memang mustahil.”

“Lalu kenapa kau ajukan syarat itu padaku?”

“Karena kau memintanya? Lupa ya? Ah kau ini, sudah sama dengan politisi yang lain Hen, hehehe, memang pantas kau jadi anggota legislatif, cepat lupa?”

“Hahaha, jangan begitu kawan.”

“Iya, kan kau yang minta aku masuk partaimu untuk nanti jadi caleg, lalu aku mangajukan syarat, kau ingin dengar katanya. Sudah kusampaikan, lalu kau yang malah keberatan, hehe.”

“Baiklah, sepertinya kau tidak cocok jadi anggota legislatif.”

“Terimakasih untuk pujiannya Hen.”

“Loh?”

“Iya, aku senang kau bilang aku tidak cocok jadi anggota legislatif, hehehe.”

“Sial kau Vid.”

Henry mengeluarkan kartu namanya.

“Ini kartu namaku.”

David menerimanya.

“Mana punya kau?”

“Tak perlu, nanti aku sms kau ke nomor yang di kartu nama ini ya?”

Okay, jangan lupa ya?”

Henry memberi kode tanda memanggil pelayan.

“Buat apa kau panggil pelayan Hen?”

“Mau bayar bill.

“Ah tak usah, segera kau ke kantormu, jangan terlambat, aku bisa marah, kau kan wakilku, jangan sering-sering terlambat ya, hahaha.”

“Hahaha, bisa saja kau Vid. Ya sudah, aku pergi dulu ya? Jangan kau lupa kontak aku.”

“Sip.”

 

***

 

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s