Surat Kaleng

“Dian, jadi kamu nerima aku nih?”

“Iya, Yan.”

“Makasih ya?”

Dian hanya terdiam, aku pegang tangannya dia tidak menolak. Coba kukecup tangannya, dia menarik dengan halus.

“Jangan dulu ya?”

Aku hanya mengangguk tanda setuju.

*

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku begitu tertarik dengan salah satu murid dari kelas lain yang namanya Dian. Orangnya bukan yang paling cantik di sekolahku, tapi gayanya yang begitu kalem, keibuan, membuat aku ingin tahu lebih dalam tentang dia.

Aku termasuk yang pandai bergaul baik itu dengan temanku laki-laki maupun perempuan. Tapi entah kenapa dengan Dian, aku begitu hilang akal, sama sekali tidak berani untuk memulai pembicaraan atau sekedar berbasa-basi mengajak kenalan.

Kami belum pernah berkenalan secara formal, tapi karena kelas kami bersebelahan tentu aku tahu namanya, dan aku juga yakin bahwa dia pasti tahu namaku.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri untuk menulis surat. Memang terlihat kurang jantan, tapi yang penting dia bisa tahu bahwa aku begitu ingin untuk dekat dengan dia dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan dia.

Masalah kedua datang lagi, akut tidak berani memberikan surat itu kepada Dian, sehingga aku harus meminta bantuan sahabatku satu kelas Widhie.

“Waduh Yan, kamu kok cemen ya?” Demikian komentar Widhie saat pertama kali aku menjelaskan padanya soal bantuan yang aku minta darinya.

“Iya please Wid, kali ini aku bener-bener minta tolong.”

“Satu, kamu sudah tidak berani ngomong langsung sama dia. Kamu pakai surat untuk berkenalan, itu saja sudah satu masalah besar buat aku. Yang kedua, eh untuk nyampaikannya saja kamu nggak berani?”

Aku terdiam.

“Gimana mau diterima?” Kata Widhie lagi setengah mencibir.

Aku tidak sakit hati dengan kata-kata Widhie, kami sudah satu sekolah sejak SMP, dan sudah biasa saling ejek. Walau dengan kata-kata yang sedikit tidak enak didengar, aku sadar bahwa apa yang diucapkannya seratus persen benar.

“Aku tahu Wid, tapi bantu aku sekali ini saja.”

Okay kali ini aku bisa maklumi, mana sini suratnya?”

“Ini,” kataku sambil menyerahkan surat itu pada Widhie.

“Payah lo!” Masih saja dia mencoba untuk menghinaku. Aku tidak peduli dan sama sekali tidak tersinggung. Yang penting dia sudah bersedia membantuku.

Widhie segera masuk ke kelas Dian. Ini jam istirahat dan kami memang sudah lihat tadi, Dian sudah masuk ke dalam kelas.

Sekitar dua menit aku menunggu di depan pintu kelasku sampai akhirnya Widhie keluar dari kelas Dian.

“Gimana sudah kan?” Tanyaku tak sabar.

“Sudah, Dian nggak ada di kelas, jadi aku titip aja sama temannya.”

“Yah gimana sih kamu Wid?” Aku begitu emosi.

“Gimana apanya?”

“Kan aku minta tolong kamu, kenapa kamu malah minta tolong lagi sama orang lain?”

“Lho, kan kamu nggak kasih perintah yang spesifik harus Dian langsung yang nerima? Aku lihat Dian tidak ada di dalam kelas, ya jadi aku titip aja sama orang yang ada di dalam kelas? Masak aku celingukan di kelas orang lain? Yang bener aja Yan?”

Pembelaan Widhie masuk akal. Aku mengurungkan niatku untuk marah-marah padanya.

“Terus kamu titip siapa?”

“Hendra.”

“Aduh kamu ini Wid, nanti seluruh kelas Dian tahu aku sedang pendekatan sama dia, sialan kau Wid.”

“Yan, kamu itu udah aku bantuin bukannya malah terima kasih malahan begini. Aku nggak mau bantuin kamu lagi deh kalau gini caranya.”

“Jangan gitu dong. Ya udah sorry, sorry, aku minta maaf deh.”

“Tenang aja pasti surat itu sampai ke tangan Dian.”

*

Sudah tiga hari sejak surat itu kutitipkan pada Widhie untuk diserahkan kepada Dian, setiap berpapasan dengan Dian, aku dan dia selalu bertukar senyum. Hanya saja, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua ketika kami berpapasan.

Aku jadi ragu apakah benar di Widhie menyampakan surat itu. Aku sangat percaya pada Widhie, dia sahabatku. Mungkin suratku itu disabotase di tengah jalan oleh Hendra. Mendamprat Hendra sungguh aku tidak berani, bukannya karena taku bekelahi, tapi aku akan hanya mempermalukan diriku sendiri.

Sampai suatu hari usai pelajaran olah raga, aku kembali ke kelas. Aku menemukan sepucuk surat dalam amplop tergerletak di mejaku. Surat itu berbunyi:

Dear Yan,

Saya tahu kamu suka sama Dian, tapi jangan  coba-coba dekati dia. Dia milikku.

Dia juga tidak suka kamu kirim-kirim surat. Ini suratnya aku kembalikan.

Dalam amplop itu, disertakannya surat yang kutulis untuk Dian dalam keadaan sudah kusut.

Aku kemudian coba menduga-duga, siapa yang menulis surat ini? Yang tahu urusan ini hanya Widhie dan Hendra. Widhie sudah pasti tidak mungkin menghkianati aku, dia orang yang sangat terbuka dalam bergaul dengan siapa pun. Kalau suka dia akan bilang suka, sebaliknya kalau tidak suka dia juga tidak pernah mencoba-coba menutupinya.

Hendra, aku tidak banyak mengenal pribadinya. Ada kemungkinan dia yang melakukan sabotase ini. Tapi buat apa? Apa dia juga naksir Si Dian?

Kelas masih kosong, sedang asyik aku menduga-duga, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan aku.

“Hey, Yan! Jangan ngelamun gitu ah!” Widhie baru saja sampai di kelas.

Aku tidak banyak bicara kusodorkan dua lembar surat itu pada Widhie. Satu suratku pada Dian dan satu lagi surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya.

Widhie mengambilnya dan mulai membacanya dengan serius. Dia juga jadi tahu isi surat yang kutulis buat Dian. Ketika dia membaca bagian itu Widhie sedikit tersenyum sambil memandangku.

“Tuh kan malah ngeledek,” keluhku.

“Rumit juga nih. Aku sih bukannya takut sama Si Hendra, tapi kalau kamu labrak dia, masalahnya bisa panjang dan kamu jadi malu sendiri. Berkelahi urusan pacar? Nggak deh,” katanya.

“Jadi lebih baik kamu temuin aja Si Dian nanti pulang sekolah, supaya semuanya jadi jelas,” saran Widhie.

*

Pulang sekolah aku menunggu Dian di depan kelasku karena mau tidak mau dia harus melintasi kelasku untuk menuju gerbang keluar.

Aku sudah dapat melihat Dian datang ke arah kelasku. Dia sudah semakin dekat dengan aku. Tapi entah kenapa aku belum juga berani untuk menyapa dia duluan. Sampai akhirnya dia tersenyum, aku juga membalas seyumannya. Tapi kubiarkan dia berlalu melewatiku.

Sampai tiba-tiba ada yang mendorong aku begitu keras kearahnya. Aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diri dan tubuhku menabraknya dari belakang. Aku dan Dian sama-sama tersungkur di lantai. Sedikit kutengok ke belakang ternyata itu kerjaan si Widhie, yang langsung senyum-senyum dan pura-pura tidak tahu. Belum sempat aku bereaksi dia sudah lari duluan.

“Aduh maaf ya, nggak apa-apa kan? Soalnya ada yang dorong aku dari belakang.”

“Eghh, nggak apa-apa sih.”

Aku ulurkan tanganku untuk membantu dia bangun. Dian segera merapikan pakaiannya.

Ini pertama kali aku akhirnya bicara dengannya. Tadinya aku mau marah saja pada si Widhie, tapi ternyata maksudnya baik. Mungkin kalau tidak didorong Widhie, sampai sekarang aku belum juga bicara dengan Dian.

“Sudah baca surat saya?”

“Sudah. Tapi kemarin aku simpan di meja, suratnya hilang, nggak tau siapa yang ambil.”

“Ohh.”

Aku pura-pura tidak tahu saja. Aku juga tidak menceritakan bahwa ada yang mengirimiku surat kaleng berisi ancaman untuk tidak mendekati dirinya. Aku juga tidak cerita bahwa surat itu sudah kembali ada di tanganku.

“Jadi gimana?”

“Hmmm…”

“Kamu sudah punya pacar ya?”

“Belum kok.”

“Atau belum mau pacaran?”

“Mau aja kalau ada yang cocok.”

“Atau aku bukan tipe kamu?”

“Belum tahu, orang kita kan belum kenalan.”

Okay kalau gitu kita sekarang kenalan, nama aku Yan.”

“Aku Dian.”

Kami berjabat tangan, canggung, tapi tanpa sengaja saling melempar senyum.

“Jadi setelah ini gimana?” Tanyaku.

“Gimana apanya?”

“Ya boleh nggak aku jadi pacar kamu?”

“Soal boleh ya pasti boleh, itu hak semua laki-laki, tapi masalahnya aku mau atu tidak?” Dian tersenyum sambil menggodaku.

“Aduh, jangan bikin bingung dong.”

“Kamu juga, baru nulis surat sekali aja sudah langsung nembak kayak gini.”

“Iya, maaf ya.”

“Jalanin aja dulu, tapi aku nggak tertutup kok orangnya.”

*

Mulai saat itu setiap pulang sekolah aku selalu bersama dengan Dian. Kadang dia dijemput orang tuanya, tapi saat giliran orang tuanya tidak menjemput, kami pulang bersama naik angkot. Kebetulan arah rumah kami sama.

Anehnya surat kaleng itu masih datang juga sesekali. Sekali surat itu datang ke kelas, sekembalinya aku ke kelas sehabis jam istirahat, kulihat ada amplop di atas mejaku. Isi surat itu adalah:

Oh masih berani ya? Saya sudah bilang jangan dekati.

Aku tetap tidak gubris surat itu. Bahkan aku makin lengket saja dengan Dian. Sampai suatu hari Surat itu datang ke rumahku.

Kamu nggak percaya sama saya? Saya tidak main-main. Bahkan saya tahu alamat rumat kamu.

Orang ini tidak pernah berpanjang-panjang dalam menulis surat, tapi surat-suratnya cukup membuatku kecut. Aku masih tetap merahasiakan hal ini kepada Dian dan orang-orang lain tentang keberadaan surat-surat ini. Aku hanya terbuka pada temanku Widhie dalam hal ini, tapi isi surat pun tidak pernah aku beritahu padanya.

Widhie menyarankan untuk aku terbuka pada Dian. Usulnya ini kutolak mentah-mentah karena sebagai laki-laki aku tidak ingin terlihat penakut di mata Dian.

*

Demikian sebulan pendekatanku dengan Dian, aku sering menunjukkan perhatianku pada dia. Misalnya sekedar membelikan roti atau makanan lain pada jam istirahat. Bila ada kesempatan kami pulang bersama naik angkot, sering kami bercanda tertawa-tawa di dalam angkot sampai sering penumpang yang lain merasa terganggu.

Sampai akhirnya aku berani menyatakan sekali lagi perasaanku padanya bahwa aku suka padanya. Dian tidak menolak, status kami sekarang pacaran, istilah anak mudanya: jadian.

Sampai suatu hari aku begitu kaget, sesampainya aku di rumah, ada sepucuk surat. Isinya:

Jadian ya? Selamat.

Singkat saja, tapi bagi aku itu mendatangkan teror yang membuat hidupku tidak tenang. Ingin aku menelusuri siapa orang ini, tapi usaha yang aku keluarkan akan terlalu memakan waktu dan tenaga, sedangkan sekarang aku sedang dalam persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Aku pun masih tetap tertutup pada Dian soal ini. Bahkan pada Widhie, hal ini pun sudah tidak lagi kuceritakan.

Aku tetap tidak setuju dengan pendapat Widhie, bisa-bisa Dian mengganggap aku cengeng dan penakut, simpati Dian padaku bisa hilang, dan akhirnya hubungan kami bisa kandas di tengah jalan.

Kecurigaanku tetap pada Hendra. Karena surat pertama yang kutitipkan pada Widhie, dia titipkan lagi pada Hendra. Mungkin sebelum sampai ke tangan Dian dia sudah terlebih dahulu membaca surat itu. Kemudian dia juga yang mengambilnya dan mengembalikannya padaku disertai dengan sebuah ancaman untuk tidak mendekati Dian.

Pernah aku sengaja memancing Hendra. Aku sengaja menjatuhkan amplop-amplop surat kaleng yang pernah aku terima tersebut di depan Hendra. Aku ingin tahu reaksinya. Dia hanya pura-pura tidak lihat saja.

Tapi aku perhatikan sejak aku dekat dengan Dian, Hendra sering sekali memandangi aku dari pintu kelasnya, saat aku juga sedang bersama teman-temanku di depan pintu kelasku. Biasanya kutatap balik dia, dan dia akan segera memalingkan pandangannya ke arah lain atau pergi masuk ke dalam kelas.

*

Hubunganku dengan Dian malah kian mesra. Sekarang Dian sengaja meminta orang tuanya untuk tidak menjemputnya sepulang sekolah. Alasannya dia mau belajar mandiri.

Karena tahun ini kami mempersiapkan diri unruk masuk ke perguruan tinggi, kami pun mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, supaya bisa tetap belajar tapi juga makin lengket.

Surat-surat kaleng itu masih terus datang. Si pengirim tahu tentang acara-acara kami, mulai dari mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, atau kalau kami pergi makan siang bersama, dan lain-lain. Terus terang aku sedikit terganggu awalnya, tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kuanggap angin lalu saja. Kalau memang itu orangnya Hendra, senekat apapun nanti dia aku tidak akan takut sama sekali padanya.

Sulit juga bagiku untuk mencurigai orang di sekolah atau di bimbingan belajar, karena rata-rata yang ikut di bimbingan belajar kami ya murid-murid dari sekolahku juga.

*

Waktu terus berlalu sampai akhirnya kami lulus dari bangku SMA dan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Aku dan Dian sama-sama lulus dalam ujian kami, kami sama-sama masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya aku di terima di Yogyakarta dan Dian tetap di Bandung.

Kami tidak mau permasalah jarak ini membuat hubungan kami makin renggang. Kala itu ponsel masih barang yang sangat mewah dan Internet adalah barang yang langka. Jadi terpaksa kami hanya melakukan hubungan lewat surat menyurat.

Sesekali kalau ada kiriman lebih dari orang tuaku di Bandung, aku pergi ke wartel untuk meneloponnya.

Sudah pasti kalau liburan semester aku pulang ke Bandung. Niatnya untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, tapi yang terjadi malah kami lebih banyak bersama-sama, bertemu keluarga hanya saat sudah mendekati waktu tidur.

Itulah hebatnya, aku dan Dian sama-sama menjaga hubungan kami. Kami ingin hubungan ini lanjut ke jenjang pernikahan. Karena jarak yang jauh, kami justru terpacu untuk menyelesaikan kuliah kami secepat-cepatnya.

Surat-surat kaleng itu pun tidak pernah kuterima lagi. Nampaknya semua sudah berjalan menurut rencana kami, tanpa ada aral melintang.

*

Lima tahun kemudian.

Kami lulus hampir  bersamaan. Sebelum lulus aku bahkan sudah diterima di sebuah perusahaan konsultan keuangan di Jakarta. Tak perlu repot mencari pekerjaan sudah ada pekerjaan yang menungguku di Jakarta.

Dian juga sudah lulus, tapi dia masih melamar ke sana ke mari, sudah enam bulan belum juga ada lamarannya nyantol.

Enam bulan aku bekerja aku banyak menabung. Gajiku lumayan sehingga dengan gaya hidupku yang terbiasa susah, aku bisa cukup mengumpulkan modal yang lumayan. Aku memberanikan diri untuk melamar Dian. Aku datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarnya. Kami sama-sama dari keluarga menengah, tidak kekurangan tapi juga tidak berlebih.

Suasana lamaran juga sebenarnya hanya basa-basi kenalan antar sesama calon besan, tidak ada keluarga lain yang datang, hanya keluarga inti.

Ayah dan ibu Dian juga tampaknya tidak keberatan dengan rencanaku. Terserah Dian saja kata mereka, jelas Dian pasti setuju karena memang sebelum datang ke rumahnya kami berdua sudah pernah mendiskusikan tentang hal ini.

*

Menjelang pernikahan.

Pernikahan dilaksanakan di Bandung karena orang tua kami sama-sama tinggal di kota ini. Rencananya acara tidak akan bermewah-mewah. Setelah akad nikah, resepsi akan dilakukan di rumah Dian. Undagan pun sangat dibatasi, hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang diundang.

Karena dilaksanakan di Bandung, aku tentunya tinggal di rumah orang tuaku dua hari sebelum pernikahan. Masa kerjaku di perusahaan tempat aku bekerja belum genap satu tahun. Sebenarnya menurut aturan perusahaan, aku belum boleh mengambil cuti. Tapi karena atasanku cukup perhatian padaku dia memberikan dispensasi.

Aku titip pada atasanku untuk jangan dulu gembar-gembor sama teman-teman di kantor, karena acara yang kurancang hanya acara sederhana. Tidak enak rasanya kalau banyak orang tahu, tapi tidak aku undang ke acaranya nanti.

Satu yang membuat aku kaget, surat kaleng itu datang lagi ke rumah orang tuaku, sehari sebelum hari pernikahan. Aku kira aku sudah terbebas dari teror kampugan ini, tapi tertanya tidak. Isinya singkat saja:

Berani ya kamu? Kamu tidak gubris sama sekali surat-suratku sebelumnya. Kamu kira aku main-main?

Selamat menempuh hidup baru.

Kalimatnya penuh ancaman walau diakhiri dengan ucapan selamat.

Aku coba menduga-duga siapa yang mengirim surat kaleng ini? Apa orang yang sama dengan yang mengirim surat-surat kaleng itu dulu ketika aku SMA? Aku masih simpan semua surat itu, tak ada satu pun yang tahu isi surat itu, kecuali Widhie sahabatku. Itu pun hanya beberapa surat di awal-awal aku menerimanya. Waktu berikutnya aku tidak lagi menunjukkan surat-surat itu kepada Widhie.

Pernikahan ini pun tidak terlalu banyak orang yang tahu. Hanya keluarga dekat, beberapa teman SMA dan kuliah yang benar-benar dekat denganku atau Dian saja yang diundang. Aku coba menduga-duga, tapi rasanya tidak mungkin salah satu dari antara teman-teman itu yang tega melakukan ini pada diriku.

Apa daya, semua sudah dijalankan. Masak hanya gara-gara surat kaleng dari orang iseng saja aku mundur? Pernikahan tetap dilaksanakan, aku simpan saja surat itu pada sebuah amplop coklat, tempat aku menyimpan semua arsip surat kaleng iseng itu.

*

Dua minggu setelah pernikahan.

“Sayang aku pergi belanja dulu.”

Hari Sabtu, hari untuk bermalas-malasan. Aku masih tidur pagi itu.

“Hmm…”

“Mau dimasakin apa nanti?”

“Egghh, apa aja deh boleh.”

Okay, aku jalan dulu ya, nggak lama kok.”

“Iya, hati-hati ya sayang.”

Okay.”

Begitulah, aku sudah mengontrak rumah di Jakarta. Untuk ukuran pasangan baru, ini sudah lumayan. Dua kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu walau kecil. Sudah lebih dari cukup bagi kami.

Gara-gara dibangunkan istriku, aku tidak bisa lagi kembali untuk tidur. Jadi segera aku ke kamar mandi untuk membasuh mukaku dan gosok gigi.

Aku kembali ke kamar dengan segelas air putih, berencana untuk bersantai-santai kembali di tempat tidur setelah seminggu yang lalu jadwalku begitu penuh untuk mengejar target dari kantor. Maklum ambil cuti satu minggu jadi kerjaan numpuk.

Sampai di kamar kulihat di meja rias ada sebuah buku, bentuknya mirip buku harian. Penasaran aku ambil buku itu dan memang ini buku harian. Buku ini milik Dian tentunya, ada namanya tertera di sampul buku.

Aku buka saja, walau sebenarnya tidak etis untuk membuka sebuah buku harian walau itu milik istri sendiri. Tapi rasa penasaranku jauh mengatasi etikaku.

Sambil takut-takut kalau tiba-tiba Dian kembali ke rumah, aku mulai membaca halaman demi halaman buku hariannya. Aku jadi tahu siapa mantan-mantan dia dulu, sambil senyum-senyum aku terus baca buku hariannya. Sampai masuk ke bagian-bagian dimana aku mulai mendekati dia. Hampir aku tertawa membaca bagian-bagian itu, ingatanku langsung terbawa ke masa-masa aku mendekati Dian, yang sekarang adalah istriku. Begitu detil Dian menuliskan itu semua.

Sampai pada suatu halaman, ada satu kalimat yang tidak asing bagiku. Kalimat singkat yang merupakan isi surat kaleng pertama yang aku terima dulu waktu SMA. Aku semakin penasaran, kulewati saja halaman demi halaman buku harian itu, aku mencari surat-surat kaleng berikutnya, semua ada di dalam buku harian ini. Semuanya sama dengan surat kaleng yang pernah aku terima, termasuk yang terakhir aku terima beberapa hari sebelum hari pernikahanku.

Aku langsung lemas, tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari arah pintu ruang tamu.

“Sayang.”

Segera kututup buku harian itu kusimpan kembali di meja rias dan aku pura-pura sedang tidur.

***

Advertisements

13 thoughts on “Surat Kaleng

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s