Pulang Kampung

Siang tadi ujian terakhir dalam rangkaian UAS semester ini. Lega rasanya setelah dua minggu terus dihadapkan dengan ujian dan persiapannya yang tentu tidak bisa diwakilkan. Aku tidak kembali ke rumah kosku. Dari kampus langsung berangkat ke terminal bus antar kota karena sudah tidak sabar kembali ke kampungku. Maklum laki-laki, barang bawaanku tidak banyak, hanya beberapa pasang pakaian saja. Lagi pula aku berpikir di kampung nanti bisa pinjam baju adikku, yang walau masih SMU badannya sudah sama denganku.

Aku kuliah di Bandung dan kampungku adalah sebuah dusun kecil di Garut, Jawa Barat. Dari Bandung ke Kota Garut menggunakan bus kira-kira membutuhkan waktu satu jam. Dari Kota Garut aku masih harus naik bus tanggung satu kali lagi. Orang di daerahku menyebut bus ini dengan nama elep. Sebenarnya ini dari kata Elf, yang merupakan salah satu merek pelumas yang cukup terkenal. Sejak dulu banyak sticker produk Elf yang ditempel di mobil-mobil minibus ini. Namun karena Orang Sunda cukup susah menyebutkan huruf ‘f’ maka kami menyebutnya dengan kata elep, bukan Elf.

Hari ini nampaknya banyak yang pulang ke Garut dari Bandung, sehingga aku sulit mendapatkan bus dengan tempat duduk. Rasa rindu akan kampung halaman membuatku punya tenaga ekstra untuk berdiri di dalam bus. Hanya satu jam pikirku.

Sangkin lelahnya – karena selama UAS memang kurang tidur, setengah perjalanan aku tertidur – sambil berdiri – pulas. Sempat-sempatnya aku bermimpi Ibuku di kampung sedang tawar-menawar dodol – penganan khas Garut – dengan seorang pedagang dodol. Aku terbangun tiba-tiba karena ibuku marah-marah di dalam mimpiku. Rupanya di dalam bus sedang ada seorang ibu yang sedang tawar-menawar alot dengan seorang pedagang dodol. Ibu tersebut marah-marah karena dodolnya ditawarkan terlalu mahal.

Lumayan juga tidur tadi, sedikit menyegarkan tubuhku, dan tidak terasa bus sudah hampir sampai di terminal Garut.

Sampai di terminal Garut segera aku turun dan bergegas mencari elep jurusan Kadu Pandak, kampungku. Sama sulitnya dengan mencari bus di Bandung tadi.

Akhirnya dapat juga walau berdesak-desakan. Aku duduk di depan. Normalnya mobil jenis ini hanya diisi dua orang plus satu supir di bangku depan, tapi sudah menjadi kebiasaan, dengan motif mencari keuntungan berlipat, bisa diisi sampai tiga orang, belum termasuk supir. Belum lagi kalau ada penumpang anak kecil bisa nyempil di samping kanan supir. Jadi supir tidak lagi duduk paling kanan, dia duduk agak ke tengah. Butuh keterampilan khusus mengendarai elep dengan kondisi supir terhimpit penumpang di kiri dan kanannya. Saya kira Michael Schumacher pun belum tentu bisa mengendarainya.

Sering kali kernet tidak duduk di dalam kabin, melainkan di ruang paling belakang yang biasa digunakan sebagai bagasi. Setelah mengutip ongkos setiap penumpang, kernet akan pergi ke bagian bagasi dan mengambil posisi rebahan karena langit-langitnya yang rendah dan tumpukan barang yang disimpan di bagasi. Namun dengan posisi seperti itu kernet tetap saja cerewet, bercanda tentang banyak hal, seolah-olah ingin menghibur kami penumpang yang sedang berdesak-desakan dalam elep.

Penumpang elep biasanya saling kenal, mungkin karena secara rutin melakukan perjalanan bersama. Hari itu sepertinya hanya aku yang tidak mereka kenal di mobil itu.

Cep, dari mana?” sapa seorang ibu memulai pembicaraan padaku.

“Dari Bandung, Bu?” kataku menjawab, mencoba untuk ramah.

“Ohh, sakola di Bandung?”

Sumuhun, Bu, saya sekolah di sana.”

“Ah, kadang Cimahi ge ngaku-na di Bandung sih.” kernet menimpali dari belakang.

Penumpang yang lain tertawa. Aku sedikit kikuk, wajahku sedikit memerah tapi tidak mencoba membela diri.

Cep, jangan dibawa ke hati ya, ini namanya hanya bercanda supaya tidak bosan di jalan.” kata kernet lagi, membesarkan hatiku.

Benar kata kernet tadi, tidak terasa sudah hampir sampai di jalan masuk ke kampungku. Kampungku memang terletak sebelum terminal, jadi jangan sampai ketiduran di elep, karena bisa bablas sampai ke terminal nanti. Tapi dengan kondisi berdesakan di elep, memang tidak mungkin juga bagiku untuk tidur.

“Kiri!!” Aku berseru untuk menghentikan laju mobil.

Elep berhenti dan dengan susah payah aku bisa turun darinya. Jalan keluar dari elep tertutup oleh barang bawaan penumpang lain yang sebagian besar adalah pedagang.

Aku sekarang sudah berdiri di depan jalan masuk ke kampungku. Hari sudah agak gelap, sekitar pukul 18.15 hari itu. Segera kulangkahkan kakiku menuju rumah. Jaraknya sekitar tiga puluh menit berjalan kaki, melewati areal persawahan.

Jalanan cukup sepi, tidak ada warga berkeliaran di jalanan. Warga kampung masih mengikuti dengan patuh tradisi yang diajarkan orang-orang tua dulu. Pamali katanya kalau keluar rumah saat maghrib.

Sekitar lima belas menit berjalan, ada seorang kakek bersepeda menysulku. Kakek itu menoleh ke arahku dan segera menyapaku.

Cep Agung?” katanya sambil menghentikan sepeda.

“Iya,  Aki Barja?” kataku, sambil setengah mengingat-ingat.

“Iya, baru dari Bandung, Cep?

“Iya, Ki.”

Sinih atuh, Aki bonceng saja.” Kakek itu menawarkan jasa untuk memboncengku.

“Aduh, nanti merepotkan Aki. Lagi pula tidak pantas sepuh membonceng yang muda.”

“Tidak apa-apa, Aki masih kuat atuh, Cep.”

Aku agak ragu awalnya, tapi tidak enak menolak tawarannya. Langsung saja aku naik di jok belakang sepedanya.

Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Jadi hanya menunggu dia bertanya baru aku jawab. Aku tidak pernah memulai pembicaraan. Kupikir, beruntung juga ada Kakek Barja, perjalananku jadi bertambah singkat dan memang aku sudah sangat letih.

“Nah, Cep, ini sudah sampai.” katanya sambil menghentikan sepeda.

Aku segera turun sambil berkata, “Aduh, nuhun pisan, Ki. Mampir dulu atuh.”

“Ah, lain kali saja, Cep Agung juga sudah capek kan? Salam saja buat Emak ya.” Dia langsung mendayung lagi sepedanya.

Aku melangkah ke arah rumah mengetuk pintu beberapa kali, sambil mengucapkan salam, “Asalamualaikum.”

Terdengar ibuku menjawab salam dari dalam rumah, “Waalaikumsalam.”

Pintu segera terbuka. Ibu masih menggunakan mukena, sepertinya dia baru selesai menunaikan shalat. Aku hampir kaget melihat sosok putih yang membukakan pintu.

“Eh, Agung udah dateng.” Dua ciuman bertubi-tubi mendarat di pipiku. Aku memang sangat akrab dengan ibu.

Aku segera masuk, membuka sepatu dan menanggalkan ranselku. Belum sempat duduk aku sudah dinasehati oleh ibu.

“Eh, mau apa kamu? Udah mandi, ambil wudhu, mumpung masih sempat maghriban.”

Kuturuti saja kata ibu, walau badanku masih pegal-pegal setelah hampir setengah hari menjalani pejalanan cukup melelahkan.

Selesai shalat aku segera bergabung dengan ibu dan adikku di meja makan.

“Bawa oleh-oleh apa, Kang?” kata adikku.

“Kiriman masih cukup saja sudah untung, bawa oleh-oleh lagi.” kataku sambil melirik ibu.

“Udah, jangan nyindir. Makan dulu.” kata ibu sambil mengunyah.

“Capek ya, Kang? Jalan dari depan? Nggak naik ojek?” kata adikku lagi.

“Iya capek, untung di tengah jalan tadi ada yang nawarin bonceng, jadi setengah perjalanan naik sepeda.”

“Ohh, siapa, Kang?” tanya adikku.

“Itu, Ki Barja.”

“Astagfirllahhhh….” kata ibuku setengah berteriak.

Aku kaget dan memandang ibuku, adikku juga terdiam.

“Kamu ambil wudhu lagi sana! Ki Barja itu sudah meninggal sekitar dua minggu yang lalu.” kata ibuku.

***

Advertisements

8 thoughts on “Pulang Kampung

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s