Kompetisi Stand Up Comedy @StandupIndo

Sejak bergulirnya ‘demam’ stand up comedy pertengahan Juli 2011, ada ada suatu perasaan campur aduk antara antusias dan khawatir di antara para penggerak komunitas @StandupIndo. Apakah ini sebuah kebangkitan dari sebuah genre baru dalam dunia komedi, atau hanya tren sesaat dalam dunia hiburan.

Tentu saja @StandupIndo yang dari awal memiliki semangat membangun industri stand up comedy berharap ini bukan sebuah tren sesaat. Pertumbuhan yang ‘terlalu’ cepat dari komunitas-komunitas – di setiap daerah maupun kampus – membuatnya seolah ini adalah sebuah tren sesaat. Sampai tulisan ini dibuat, 24 Januari 2011, sudah ada 45 komunitas daerah maupun kampus.

Bayangkan sebelum Juli 2011 hanya ada satu ajang open mic rutin di Indonesia, yaitu di Canda Comedy Cafe, Kemang, Jakarta. Namun di akhir 2011 di area Jabodetabek sudah ada lima open mic lain dari Hari Senin sampai Hari Jumat, hanya tersisa Sabtu dan Minggu dimana open mic tidak dilakukan. Belum lagi di Bandung sudah ada dua open mic yaitu di Hari Minggu dan Selasa. Tidak terhitung kota-kota dan kampus lainnya yang juga sudah memiliki jadwal rutin untuk melakukan open mic. Semua itu dicapai dalam waktu relatif singkat saja, enam bulan.

Tolok ukur untuk mengetahui apakah ini hanya sebuah tren sesaat atau sebuah pertumbuhan yang sehat adalah dengan melihat kwalitas dari comic yang muncul. Sebuah tren rentan terhadap mentalitas ‘ikut-ikutan’ yang membuat banyak muncul comic baru namun tidak diikuti dengan kwalitas yang baik. Oleh karena itu  muncul gagasan dari beberapa penggerak @StandupIndo: Sammy (@notaslimboy), Luqman (@luqmanbhq), Rindra (@ponakannyaom) dan Isman (@ismanhs) untuk membuat sebuah acara kompetisi stand up comedy. Sebuah kompetisi yang lebih independen dibanding apa yang digagas sebelumnya oleh TV. Tidak adanya campur tangan media terhadap materi yang disampaikan oleh peserta kompetisi akan memberikan aura kejujuran yang lebih dibanding apa yang tersaji di TV selama ini. Singkatnya ini sebuah proyek yang lebih idealis.

Gagasan ini ‘gayung bersambut’ dengan sebuah venue di Jakarta, eX-Plaza Indonesia, yang sudah memiliki agenda rutin melaksanakan acara untuk komunitas. Bulan Desember 2011 mereka membuka peluang ini untuk komunitas @StandupIndo untuk memakai fasilitas mereka untuk acara komunitas. Tawaran ini segera disambut dengan mengusulkan untuk melaksanakan stand up comedy festival, dimana di dalamnya ada: talk show, kompetisi dan show dari beberapa comic yang sudah cukup dikenal.

Diputuskan acara ini akan dilakukan tanggal 18 Desember 2011 di eX-Plaza Indonesia dengan cakupan Jabodetabek dan Bandung. Publikasi dimulai melalui jejaring sosial twitter, menuai sedikit protes berkenaan dengan cakupan wilayah yang dinilai terlalu sempit. Protes ini kami tanggapi sebagai sesuatu yang positif, cerminan dari sebuah antusiasme terhadap perkembangan stand up comedy.

Juri ‘dadakan’ dibentuk. Sammy, Luqman dan Rindra melakukan gerilya ke beberapa open mic di wilayah Jabodetabek dan Isman bertanggung jawab untuk melakukan seleksi di wilayah Bandung, juga lewat ajang open mic.

Tidak disangka pesertanya membludak dan membuat juri sulit untuk menentukan siapa finalisnya. Khusus untuk daerah Jabodetabek akhirnya dilakukan semifinal untuk menyaring peserta. Acara semifinal dilakukan di Marley, sebuah bar di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, 12 Desember 2011. Luar biasa, suasana persaingan antar wilayah sudah terasa. Comic-comic dari Bogor sebagai contoh, menyediakan sesi khusus untuk mereka mempersiapkan materi bersama-sama, menguji dan mengevaluasinya. Mereka sengaja meminjam tempat khusus untuk persiapan kompetisi ini.

Semifinal di Marley adalah gabungan antara gelak tawa dan hangatnya keluarga. Ada aura persaingan antar comic yang diusung masing-masing wilayah, tapi ada kehangatan layaknya sebuah keluarga yang saling menyayangi. Salah satu anchor yang cukup dikenal, Rosiana Silalahi, yang juga adalah pemilik Marley terlihat ‘betah’ di kursinya dari awal acara sampai akhir, padahal acara terbilang cukup lama, lebih dari dua jam.

Dari hasil semifinal didapat delapan finalis dari Jabodetabek dan empat dari Bandung untuk akhirnya ‘diadu’ di babak final. Antusiasme dari sebelum acara dimulai sudah terlihat. Hal yang mengharukan masing-masing comic diantar rekan-rekan dari kotanya masing-masing layaknya sebuah kontingen olah raga yang akan berlaga mengharumkan nama kota mereka.

Acara dimulai dengan talk show yang menghadirkan Luqman, Isman, Rindra dan dipandu oleh Sammy. Walau bentukya sebuah talk show, keintiman acara ini sudah terasa. Bukan hanya audiens yang berasal dari komunitas, para pengunjung mal yang hadir bukan untuk menyaksikan acara ini pun ikut tertahan. Ini sebuah sinyal positif, apalagi saat talk show banyak dibicarakan soal sejarah stand up comedy, teori dan contoh. Sebuah informasi positif bagi pengunjung mal yang notabene bukan para stand up comedy enthusiast.

Acara semakin ‘pecah’ saat memasuki kompetisi. Pergantian comic selalu diiringi dengan hentakan musik dari DJ yang membuat acara mengalir dan tidak sempat ‘mati’. Gaya comic finalis pun beragam, sebut saja Adjis yang spesialis riffing, Khrisna Harefa dengan komedi observasi, Jui dan Boris yang membawa persona masing-masing, sampai Ge yang kental dengan ekspresi dan act out. Penonton dibuat tidak henti-hentinya tertawa dan semakin banyak pengunjung mal yang tertahan untuk menyaksikan aksi para comic.

Semua finalis usai beraksi. Menunggu proses penilaian, giliran comic senior: Adriano Qalbi, Sammy, Luqman dan Mongol yang tampil beraksi. Stamina penonton begitu luar biasa, tawa masih menggelegar di atrium eX-Plaza Indonesia saat comic-comic senior ini tampil di panggung.

Usai penampilan semua comic, pengumuman pemenang pun dilakukan. Tampil sebagai juara 1: Adjis (Bekasi), juara 2: Boris (Bandung), juara 3: Jui (Bogor) dan juara favorit pilihan penonton: Ge (Bandung). Sampai akhir acara masih ada kejutan yang diberikan panitia, semua hadiah diberikan secara tunai dengan pecahan kecil, pecahan 5.000 dan 10.000, jelas ini mengundang tawa dari para penonton, “Gokillll!!!!!” teriak mereka.

Juri, host dan semua comic yang perform hari itu tidak menerima bayaran, padahal mereka adalah comic professional yang sudah biasa tampil baik di televisi maupun acara off air lain. Semangat kekeluargaan ini menular kepada penonton dan pengunjung mal, suasana begitu hangat sampai akhir acara.

Tampak juga saat itu comic-comic senior seperti: Soleh Solihun, Acho Muhadkly, Asep Suaji yang hadir dan mengikuti sampai akhir acara. Dengan jujur Soleh, yang kita kenal sangat lucu saat di panggung, mengakui bahwa semua finalis tampil memukau, lucu, dan ini membuat dirinya merasa sedikit terancam (dengan bercanda tentunya, atau serius ya, susah dibedakan). Juara kompetisi stand up comedy Indonesia KompasTV, Ryan Adriadhy, juga hadir. Kalau Ryan adalah juara kompetisi stand up comedy versi TV pertama di Indonesia, maka hari itu, tanggal 18 Desember 2011, juga lahir juara stand up comedy versi jalanan atau ‘Street Fighter’, dia adalah: Adjis.

Viva la komtung.

Advertisements

4 thoughts on “Kompetisi Stand Up Comedy @StandupIndo

  1. Semakin banyak Openmic, maka kesan trennya memang menguat, kalau tidak mau disebut “demam”. Karena “demam” di kebanyakan kasus ada “mendinginnya”. Sembuh.

    Sebut saja bunga, begitu.

    Lho???

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s