Pilkadal, Golput dan Kebijakan Publik

Pilkadal, pemilihan kadal! Iya kadal, karena setiap pilkada berlangsung politisi hanya beradu jargon. Mengaku bersih, mengaku ahli, mengaku cepat. Bosen ya?

Gua bukan pemuda, walau terlihat muda. Usia gua 36 tahun saat ini. Ini tulisan gua merespon hingar bingar pemilihan Gubernur Jakarta dalam waktu dekat.

Tulisan ini dimuat di Republika, 26 Mei 2012, tapi gua kurang puas dengan hasil editannya. Gua rasa editor telah menghilangkan makna tulisan gua yang sesungguhnya.

Pemimpin yang dibutuhkan Jakarta saat ini – mungkin terdengar klise – adalah yang jujur dan tegas. Jujur dalam artian tidak korup, tegas dalam artian berani mengambil keputusan  cepat. Sebenarnya bukan hanya Jakarta yg butuh figur seperti ini, tapi juga Indonesia. Bukan figur yg terlalu banyak pencitraan seperti, ‘pura-pura naik mobil esemka’. Bagus kalau memang itu dari hati dengan berdasar ingin men-support karya anak bangsa, tapi gua melihatnya cenderung hanya sekadar menjual citra ke publik. Atau pejabat yang sekadar ngamuk di pintu tol untuk menunjukkan dia tegas, padahal waktu menjabat Dirut PLN ya pemadaman bergilir juga. Memang Dahlan Iskan gak nyalon jadi gubernur, ini hanya sebagai perbandingan saja.

Ada lagi Gubernur yang ngakunya ‘ahli’ dengan slogan ‘serahkan pada ahlinya’. Ini juga sebenarnya gak penting-penting amat. Toh dia bisa hire ahli nantinya? Asal dia jujur dan tegas, dia tinggal bayar staf ahli yang kompeten.

Sikap apatis terhadap politik itu sebenarnya berbahaya, tapi menjadi golput bukan artinya kita apatis. Apatis adalah justru ketika kita diam saja melihat pejabat yang korup, kita tidak menyampaikan opini kita – dengan cara kita tentunya – terhadap yang pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Sekadar pergi ke TPS supaya tidak dianggap tidak berpartisipasi pun sebenarnya sikap yang apatis, bukan?

Soal menjadi golput atau tidak, itu pilihan. Justru ketika kita menjadi golput dengan suatu sikap terbuka bahwa kita tidak/belum percaya terhadap kandidat yang ada, itu artinya kita tidak apatis.

Gua bisa aja kasih solusi, sederhana, mungkin nanti yang terpilih tertarik untuk hire gua sebagai salah satu staf ahli mereka. #ngarep

Masalah yang paling dekat dengan masyarakat Jakarta dan kota-kota satelitnya saja dulu: macet.

Bagaimana menyelesaikan macet Jakarta:

1. Wacana pemisahan pusat pemerintahan ke luar Jakarta, sehingga ada pemisahan pusat bisnis dan pemerintahan, harus mulai direalisasi. Malaysia saja sekarang sudah punya Putra Jaya, semua sudah keluar dari Kuala Lumpur

2. Transportasi umum – ini lagi-lagi klise – diperbaiki. Apa yang terjadi sekarang dengan Trans Jakarta? Yang terjadi sekarang siapa yang naik Trans Jakarta? Mereka adalah penumpang Bus Reguler dulunya, bukan pemilik kendaraan pribadi. Kenapa? Karena golongan menengah ‘ngehe’ yg punya mobil – walau belum lunas – mana mau naik Trans Jakarta. Kalaupun mau ya mungkin mereka yang lagi sulit beli bensin.

Mana tuh monorail, cuman tiang doang, ditinggalin.

3. Secara nasional: bangun infrastruktur di daerah-daerah di luar Jakarta. Ini urgent, sehingga urbanisasi dapat distop!

4. Beberapa jenis usaha bisa mulai digalakkan model officeless, SOHO (small office/home office). Orang bisa bekerja dari rumah. Jenis usaha yang bisa seperti ini: IT dan industri kreatif. Rangsang pertumbuhan industri ini, jangan malah kalau ada industri rumahan dipersulit, dipalak sama petugas, kalau bisa malah diberikan ‘tax holiday‘. #ngarep

Gua udah pelajari semua calon untuk pilgub Jakarta terdekat, kayaknya ada yang cukup baik, tapi tetap tahun ini gua golput dulu. Karena terlalu berharap akan membuat kita kecewa. Seperti halnya banyak yang terlalu berharap pada SBY, jadinya kecewa.

Sedikit berharap, sedikit kecewa, banyak bekerja, sambil terus nyinyir.

Sammy, comic, pemegang KTP Jakarta yang tinggal di Bekasi.

Advertisements

11 thoughts on “Pilkadal, Golput dan Kebijakan Publik

  1. Golput menurut logika anak sekolah dasar… kalo kalian punya mainan, tp mainannya udah lama dan sering kalian mainin pasti bosen. Entah karena kalian emang udah bosen sama itu mainan atau kalian tidak merasa puas terhadap mainan yg kalian miliki. Pada akhirnya kalian akan menginginkan mainan yg baru, yg lebih canggih mungkin, atau paling tidak bisa memusakan perasaan anda… Tetapi keinginan kalian tidak di penuhi sama orang tua kalian, atau kagag di beliin mainan yg baru. Lalu bagaimana kalian menyikapinya? Kalo gua siah lebih milih ga mainin mainan lama gua karena udah bosen, atau gua pinjem mainan temen gua yg lebih canggih atau keren :)) itulah golput.

    Like

  2. Asik nih. Golput, adalah pilihan saat sulit mencerna dengan akal unuk bisa menentukan pilihan. Mumet.

    Erland, pemegang KTP SUkabumi, dan berharap tak akan pernah jadi pemegang KTP Jakarta.

    Like

  3. Karena perusahaan² itu, menerima pegawai dari luar kota. brengsek! Makanya kontrakan penuh, penduduk aseli malah cuma kebagian jagain kampung begadang setiap malam karena gak ada kerjaan. Apa susahnya sih liat KTP? kalo emang dari luar kota ya jangan diterima. Mending kerjaan skill, masa Office boy aja dari luar kota *geblek*

    Udah keliatan keren belom, numpang marah² di blog orang, hehehe..
    @danywicaksono , yang mentionnya gak pernah dibales sama Sammy 😥

    Like

  4. Jakarta itu terlalu sentralistik. Sepertinya hampir semua hal dipusatkan di Jakarta. Ya pemerintahannya, pembangunan-pembangunannya, lapangan-lapangan kerja yang (nampaknya) menjanjikan, event-event besar, dll dsb dst…

    Otonomi Daerah. Ini kedengerennya keren. Pemerintah pusat ‘melepaskan dan mempercayakan’ begitu saja urusan kemajuan daerah-daerah ke pemimpin masing-masing. Seolah-olah, baik masing-masing daerah itu maupun yang memimpinnya siap.

    Lagi-lagi, gak ada perhatian dari pusat dan sibuk menata pusat kota yang bahkan udah berantakan.

    Sementara, para pemimpin daerah itu juga belum tentu bisa diharapkan dan diandalkan. Apalagi kalau saat pilkada dulu kemenangannya dibayang-bayangi kecurangan. Kita bisa lihat juga tuh dari banyaknya gugatan pilkada yang masuk ke Mahkamah Konstitusi.

    -Kiki, pemegang KTP Bogor yang bekerja dan bermain di Jakarta, cuma mau numpang komen- :))

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s