#Berani Stop Korupsi?

#Berani stop korupsi? Pertanyaan mendasar untuk masalah pelik bangsa ini. Mungkin kita – saya dan kamu – bukan pelaku korupsi, tapi apakah kita berani menghentikannya? Dengan cepat mungkin kita bisa menjawab: BERANI! Lalu bagaimana caranya? – imo – tidak perlu dengan menjadi jadi pahlawan pembongkar kasus-kasus korupsi besar di negeri ini yang entah meluap kemana, tapi dimulai dari mempertanyakan nilai-nilai dan sikap dalam keseharian kita, dan merevisinya. Terdengar klise, tapi dalam artikel ini saya coba mengungkap beberapa nilai yang sepertinya kita anggap wajar terjadi di masyarakat, dan inilah sebenarnya akar korupsi.

Kita banyak ingin mau gampangnya saja, mau simple-nya saja.

Misalnya kasus yang paling sering adalah kalau kita melanggar peraturan lalu-lintas. Kita sering mengambil jalan ‘damai’. Kata ‘damai’ yang berarti baik sudah terpeyorasi sehingga memiliki konotasi negatif. Kita malas repot datang ke sidang, jadi memilih jalan ‘damai’ yang jauh lebih simple di jalanan. 

Ada cerita, seorang teman malah pernah kena tilang, lalu dia tidak bawa uang tunai. “Pak saya tidak bawa cashnih.” Lalu si oknum aparat malah menawarkan jasa, “Bapak ATM-nya apa? Mari saya antar ke ATM.” Dan mereka pun pergi ke ATM terdekat.

Bahkan tidak jarang kalau pecahan tunai yang dibawa terlalu besar, oknum aparat bersedia menyediakan ‘uang kembalian’. Sudah seperti tawar-menawar di pasar ikan, hahaha.

Memang kadang birokrasi yang rumit memancing hal ini terjadi. Contoh saja dalam pengurusan KTP, sudah menjadi rahasia umum ada tarif ekspres dan ada tarif reguler. Artinya apa? Sebenarnya kalau mau dibuat cepat juga bisa, kalau mau dibuat gampang ya bisa, tapi yang terjadi sebaliknya. Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah? Tapi kalau kita sedikit mau repot, kita semua pakai cara yang sulit, maka oknum birokrat tidak bisa ambil keuntungan dari sini. Tapi apa mau dikata, kita memang sering maunya simple.

Kita tidak mau terlihat pelit.

Ada beberapa stigma untuk suku-suku tertentu di Indonesia, misalnya – maaf – Padang dan Cina, selalu diidentikkan dengan orang-orang yang pelit.

Menurut saya stigma ini salah, generalisasi, mungkin karena banyak mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Saya sendiri pedagang, tahu kondisi perniagaan sekarang. Untuk komoditas yang umum, dimana pelayanan menjadi nomor dua, harga adalah faktor utama pedagang bisa bersaing dengan kompetitornya. Misalnya pulsa, apakah kalau isi pulsa di tempat saya dan toko lain itu berbeda? Sama saja, pulsa yang dibeli di toko saya tidak lebih awet dibanding kalau beli pulsa di toko sebelah. Sehingga jurus terakhir tinggal masalah harga. Akhirnya untung pedagang terpangkas. Wajar mungkin jadi ‘terlihat’ pelit sekali lagi ‘terlihat’, bukan pelit sungguhan, karena cari untung susah, ya jadi pengeluaran juga harus ditakar.

Kita lalu membandingkan dengan para dermawan di lingkungan kita, kita akan lebih menghormati mereka. Padahal belum tentu mereka mendermakan sesuatu yang mereka peroleh secara benar. Tanpa bermaksud menuduh, tapi dermawan jenis seperti ini banyak di lingkungan saya, nanti saya jelaskan soal penilaian kita terhadap dermawan jenis seperti ini. Dalam bagian ini saya hanya ingin bilang bahwa saya memilih jauh terlihat ‘pelit’ dengan apa yang saya peroleh dengan susah payah dengan cara yang benar, dibanding menjadi dermawan dari hasil yang tidak benar. Sebenarnya masyarakat bisa memperoleh lebih besar lagi dari sang dermawan, apabila dia tidak melakukan korupsi misalnya.

Biar pelit yang penting halal.

Kita terlalu takut berprasangka

Terkait dengan kasus dermawan di atas, kadang masyarakat melindungi dermawan-dermawan ini. Sepertinya kok sedikit mustahil kalau melihat seorang pegawai negeri di instansi tertentu bisa memiliki harta sebanyak itu, tapi kita sangat tabu untuk mempertanyakannya. Kalau ada anggota keluarga yang seperti itu, lalu kita mempertanyakan dari mana asal kekayaan mereka, sudah pasti kita yang dituduh tidak baik oleh anggota keluarga yang lain, dianggap iri.

Secara hukum memang ada asas ‘praduga tidak bersalah’, tapi kita punya norma masyarakat, seharusnya boleh mempertanyakan, ‘buktikan tidak bersalah’.

Saya memilih beribadah di rumah ibadah yang reyot dibanding di rumah ibadah yang bagus tapi disumbang oleh dermawan yang hartanya tidak jelas dari mana. Jangan karena banyak menyumbang untuk kegiatan keagamaan lalu semua diterima dengan wajar. Lagi pula, pasti yang disumbangkan hanya sebagian kecil dari apa yang diambil.

Katakan tidak pada dermawan jenis ini, yang ingin cepat jadi Robin Hood.

*

Baiklah itu hanya tiga dari banyak nilai yang terjadi di masyarakat. Semoga semua kita #Berani stop korupsi.

Sammy @notaslimboy — stand-up comedian, computer programmer dan pedagang pulsa.

Advertisements

One thought on “#Berani Stop Korupsi?

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s