Report as Spam

‘REPORT AS SPAM’ kalimat yang tidak asing bagi orang yang melek Internet, terutama pengguna aktif jejaring sosial twitter. Belakangan kalau ada akun-akun twitter yang kurang disukai, entah karena gaya bahasanya/cara bertuturnya, atau topik bahasannya yang dianggap menyinggung kaum tertentu, maka ramai-ramai -atau setidaknya ada orang yang berusaha bikin ramai- untuk melakukan aksi report as spam di twitter. Harapannya nanti pengelola twitter menggubrisnya dan akun ini pun bisa kena suspend.

Katakanlah ada akun yang bicara soal SARA, baru bicara, belum menghina golongan tertentu, bisa saja kena aksi report as spam. Bila orang yang pertama kali mengajak aksi ini adalah influencer yang lumayan dianggap di jagad twitter -padahal kalau ke WC umum belum tentu orang ini ada yang mengenali- bisa saja ajakan aksi ini berhasil dan akun yang menjadi target akhirnya kena suspend, sehingga tidak bisa ngetwit dalam waktu beberapa lama.

Ini jelas salah kaprah. Apa arti kata spam sebenarnya? Menurut Wikipedia Indonesia, spam adalah penggunaan perangkat elektronik untuk mengirimkan pesan secara bertubi-tubi tanpa dikehendaki oleh penerimanya. Mari kita resapi dalam-dalam dulu. Mengheningkan cipta mulai.

Mengheningkan cipta selesai.

Artinya dalam spam ada kriteria ‘mengirimkan informasi bertubi-tubi’ tanpa dikehendaki penerima. Kalau dalam twitter, itu seperti mention bertubi-tubi tanpa kita kehendaki. Kalau mention bertubi-tubi dari gebetan sih bukan dalam kategori ini. Misal, ada orang yang asik ngomong sendiri di timeline-nya, nulis soal pendapatnya yang kita tidak sukai atau tidak sesuai dengan nilai yang kita anut, sekalipun soal yang sensitif terkait SARA, itu -imo- bukan masuk dalam kategori spam. Contoh spam misalnya seperti: bot yang tiba-tiba mention kita karena keyword tertentu.

Misalnya kita tulis twit:

“Aduh ingin iPad baru nih … #galau”

Lalu ada yang nyamber:

“Hallo @notaslimboy, kamu mau iPad? Follow @DennyJA_WORLD deh. Tiap minggu ada hadiah iPad kalau kamu beruntung…”

Nah ini yang namanya spammer. Layak untuk kena REPORT AS SPAM.

Kalau sekadar kita tidak suka dengan isi twit seseorang, ya unfollow saja, atau kalau dia memenuhi terus tab mention kita, tinggal blok. Kita punya kebebasan untuk itu.

Sama halnya dalam menjalankan agama. Ada orang-orang yang tidak kita setuju ajarannya, selama dia menjalankan di tempat dia sendiri, kenapa kita repot? Kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot?” Mungkin kalau almarhum masih ada, dia akan ngomong, “Gitu aja kok repot as spam …?” Eh, kepeleset.

Saya terlahir dari keluarga Kristen. Dalam ajaran Islam ada bida’ah, kami menyebutnya bidat. Ajaran-ajaran yang dianggap bidat oleh Kristen -khususnya Indonesia- ada beberapa seperti: Mormons, Saksi Yehovah (Jehovah Witness), Children of God, Christian Science, dll. Dari semua ajaran itu orang Kristen boleh saja tidak setuju, tapi tidak boleh melarang kegiatan mereka, walaupun kita anggap menyesatkan. Karena ‘sesat’ atau ‘tidak sesat’ itu adalah masalah dogma, bukan masalah fakta. ‘Sesat’ atau ‘tidak sesat’ itu masalah apa yang kita percaya, bukan masalah apa yang nyata. Kenyataannya orang punya nilai-nilai yang berbeda, yang dia percaya berdasar terhadap latar belakangnya masing-masing.

Contoh spam dalam kehidupan nyata misalnya adalah tentang Saksi Yehovah. Satu yang tidak saya setuju hanya cara para pengikut Saksi Yehovah. Mereka datang ke rumah-rumah orang Kristen, lalu mengajak diskusi tentang agama dan coba memasukkan dogma-dogma mereka. Ini jelas mengganggu privasi orang yang dikunjungi. Sang tuan rumah bisa aja lagi asik tidur siang, atau baru baikan sama istrinya dan mau ML, kan jadi terganggu. Ini perlu report as spam. Lain halnya kalau mereka memberikan undangan untuk datang ke tempat mereka, lalu di sana mereka mencoba menyampaikan dogma-dogma mereka.

Saya orang yang tidak percaya terhadap sensor. Orang bilang sensor itu perlu, untuk melindungi masyarakat. Saya berada di golongan orang-orang yang justru bilang sensor adalah tindakan generalisasi. Sebagian orang tidak bisa mencerna sebuah informasi, lalu digeneralisasi bahwa semua orang tidak akan mampu mencerna informasi tersebut. Saya nggak suka makan lumpia Semarang, karena ada rebungnya (rebung = bambu muda). Saya sering mencium bau pesing (bau kencing) dari rebung itu, lalu saya report as spam atau saya sensor itu lumpia Semarang. Semua teman nggak boleh makan itu, atau minimal rebungnya saya hilangkan dari semua lumpia Semarang yang ada di pasaran. Saya percaya, pasti ada orang yang justru suka sekali rebung. Aneh, tapi itulah prilaku beberapa -atau mungkin kebanyakan- orang di twitter. Kalaupun harus ada, lebih baik rating saja, misalnya: 17+, BO (bimbingan orang tua), dll. Setelah melihat rating tersebut, orang kemudian baru memutuskan melanjutkan atau tidak melanjutkan untuk menerima informasi yang dimaksud.

Kalau pola pikir untuk aksi report as spam hanya masalah suka atau tidak suka, maka sangat bahaya kalau kita berseberangan ide dengan seseorang seperti Raditya Dika, misalnya. Dia bilang “Report as spam si Sammy!!!” bisa-bisa saya kena suspend. Follower dia hampir 4 juta. Sedikit lagi sama dengan penduduk Singapura. Bedanya dengan penduduk Singapura, follower dia lebih militan, hahaha.

Kalau kasus yang ini gimana? “Seharian kamu cerewet terus sayang, aku pusing nih! Aku report as spam kamu!!” Hahaha, silakan nilai sendiri.

Jadi, masih mau sembarangan report as spam?

– Sammy @notaslimboy, silakan kalau mau report as spam.

Advertisements

14 thoughts on “Report as Spam

  1. kalo begini kenapa ya? gue ga bisa ngetwit + DM
    “Permintaan ini terlihat otomatis. Untuk melindungi pengguna kami dari spam dan aktivitas berbahaya lainnya, kami tidak dapat memenuhi tindakan ini. Silakan coba lagi nanti.”

    Like

  2. Maaf, ada sedikit yang harus di luruskan. itu kalo di dalam islam namanya bid’ah bukan bida’ah. Dan itu juga ruang lingkupnya hanya dalam soal peribadatan bukan dalam konteks keseluruhan kehidupan sehari – hari. Kurang lebih sama konsepnya dengan yang diterangkan di atas tentang bidat dalam kristen ๐Ÿ™‚

    Saya suka tulisannya ^_^

    Like

  3. Ada kalimat yang keren menurut saya yang ada di artikel ini: ” Karena โ€˜sesatโ€™ atau โ€˜tidak sesatโ€™ itu adalah masalah dogma, bukan masalah fakta.” Setuju pisan bang..:)

    (saya jangan di report as spam ya bang #berlutut)

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s