#StudyTour: Setelah Kemal Palevi dan Imot, Sekarang Giliran Irawan Raharja

StudyTourPagi itu, 12 Januari 2013, sekitar pukul 11, saya, Ence Bagus (@encebagus), Adjis (@adjisdoaibu) dan Awwe (@awwe_) janjian di Indomaret dekat rumah saya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Kami bersama hendak pergi ke Kampus Unida untuk mengikuti #StudyTour. Hmm … paragraf ini terasa seperti gaya mengarang anak SD, yang menjadi standar tugas pertama guru bahasa Indonesia habis libur panjang nggak sih? Dasar guru pemalas, habis kasih tugas seperti ini, biasanya langsung balik lagi ke ruang guru untuk ngobrol dengan guru yang lain. Hahaha.

Kembali ke laptop.

#StudyTour ini bukan seperti yang ada dalam benak kalian semua. Ini adalah sebuah pertunjukan stand-up comedy yang digelar oleh salah satu comic asal Bogor, Irawan Raharja (@irawanraharja). Kenal nggak sama dia? Jangan kecil hati kalau kalian nggak kenal, memang dia belum terkenal kok. Jangan-jangan kalian juga nggak kenal lagi sama saya? Terus kok bisa baca blog ini?

Ya sudah kita fokus lagi.

Irawan Raharja adalah comic jebolan kompetisi stand-up comedy  Indonesia Kompas TV season 2 (SUCI 2). Agak cepat memang dia tereliminasi dalam kompetisi itu *puk-puk*. Tapi ternyata seperti kata Om Mario, “Orang super selalu bisa bangkit dari kegagalan. Salam super!” Irawan Raharja membuktikannya hari itu dengan menggelar mini-shownya yang bertajuk “#StudyTour: Belajar Bercanda”.

Saya tiba-tiba tersadar, bahwa dari semua finalis SUCI 2, baru Kemal Palevi (@kemalpalevi), Imot (@oomimot) dan terakhir Irawan Raharja yang menggelar tour/special/mini-show mereka sendiri. Ini bukan masalah cepat-cepatan memang, tapi setidaknya saya kagum dengan langkah mereka bertiga. Terutama Irawan yang saya kenal cukup lama – nggak lama-lama amat sih, biar kelihatan dramatis aja – lalu habis tersisih dari SUCI 2 saya tidak dengar kabarnya. Tiba-tiba saya lihat di timeline dia mau buat mini-show, sebuah kabar gembira yang membuat hari saya begitu cerah ceria – sorry agak lebay.

Ternyata memang, ini bukan sekadar adu cepat. Hari itu Irawan tampil total, menunjukkan semua talentanya. Bukan hanya standup, Irawan juga tampil menghibur dengan hip-hop. Membuka dengan sebuah lagu sambutan freestyle rap (sorry kalau istilahnya salah), dan usai tampil sekitar 45 menit dia menutupnya dengan sebuah penampilan rap lagu ciptaannya sendiri.

Materi stand-up comedy Irawan sendiri berkelas. Mulai dari yang ringan sampai hal-hal yang sebenarnya penonton – yang jumlahnya sekitar 90 orang siang itu – mungkin belum alami, yaitu soal hubungan suami-istri. Irawan mampu “brought the audiences to his level”. Dia mampu membuat penonton mengerti apa yang sedang dia ceritakan, walaupun saya yakin penonton hari itu kebanyakan mahasiswa yang belum berkeluarga.

Irawan terlihat sekali mengerti teknik stand-up comedy, memulai dari materi yang sangat personal, meraih simpati penonton dengan menjelek-jelekkan dirinya sendiri.

“Kalian kenal saya, nggak?”

Penonton hening, sebagian bilang tidak. Tapi penonton malah jadi tertawa.

“Ini show, bayar 20 ribu, tapi dapat buku dan CD yang kalau dijual di toko buku harganya 30 ribu. Jadi penampilan saya hari ini minus 10 ribu.”

Pecah! Setelah bit itu, Irawan mendapatkan simpati penonton dan nampak dia semakin pecaya diri dengan materi-materi yang lebih ‘berat’. Semua dikeluarkan malam itu, act-out, rule of three, call-back, semua ada. Catatan saya untuk teknik call-back, saya perhatikan banyak sekali comic yang memaksakan untuk memakai teknik ini supaya terlihat keren. Saya melihat Irawan sedikit terjebak di sini, sehingga sedikit terlihat ‘maksa’ memang ketika dia memakai teknik ini. Maksanya gimana? Jangan saya ceritakan, nanti jadi spoiler. Siapa tahu #StudyTour mau jalan ke kota-kota lain. Amin (mendadak religius). Catatan soal call-back ini bukan saya tujukan pada Irawan saja, tapi pada kebanyakan comic, termasuk saya.

Saya suka semua jenis kesenian. Makanya hari itu saya terhibur sekali oleh Irawan yang menunjukkan dirinya seorang seniman multi-talenta. Menjadi lucu bagi seorang comic adalah sebuah kewajiban, tidak boleh tidak, dosa kalau nggak lucu. Tapi memberikan sajian yang lain dari sisi materi dan kemasan itu adalah sebuah nilai lebih.

Dua MC hari itu juga heboh dan bikin ngakak.  @Ridwanremin dan @cahyadikit sudah seperti MC profesional saja. Begitu seharusnya MC dalam sebuah acara stand-up comedy. Dia tidak “steal the show”  karena memang show ini milik Irawan, he is the boss. Tapi kedua MC tetap bisa menghidupkan suasana saat jeda antar performer, tanpa mencuri spotlight dari Irawan. Bravo untuk kedua MC kita hari itu. Apalagi show dilakukan siang hari, jam 14.30 sampai jam 16.30, ini jamnya tidur siang, tapi suasana sama sekali tidak bikin ngantuk.

Penampil lain, catatan saya secara global, cukup baik. Namun saya melihat mereka sedikit-banyak terpengaruh comic-comic yang sekarang sedang naik daun. Mudah-mudahan itu hanya pengamatan saya, karena saya baru menyaksikan mereka satu kali tampil. Ada juga comic yang  coba memainkan karakter tertentu. Memainkan karakter tertentu dalam penampilan stand-up comedy itu sedikit beresiko, karena kalau itu dibuat-buat, -imo- comic malah justru bisa terjebak dalam karakter yang sebenarnya bukan dirinya. Sah-sah saja untuk dilakukan, dengan resiko yang saya sebut tadi. Aktor dan comic asal Amerika Will Ferrel melakukan hal ini. Saya tidak berani melakukan hal ini, karena saya memang tidak punya skill ini.

Selamat untuk semua yang terlibat dalam #StudyTour: Irawan, semua opener, MC dan panitia dari @Standup_unida dan @StandupIndo_BGR. Saya yakin ini sebuah hasil kerja tim yang solid. Bentuk special/mini-show seperti ini yang terus menjaga lokomotif stand-up comedy terus berjalan di Indonesia. Sorry kalau lebay.

Tulisan ini pasti mengandung unsur subyektif, apalagi saya juga seorang comic yang juga masih aktif berkarya dalam dunia ini. Tapi saya rasa pengamatan saya terhadap #StudyTour bisa diterima sebagai pengamatan penonton biasa. Sangat tidak sempurna kalau tulisan ini dianggap sebagai kritik, karena referensinya juga sangat terbatas. Tapi saya percaya karya dan kritik adalah sesuatu yang harus terus bersanding bila sebuah kesenian ingin bertahan lama.

Viva la komtung!

Sammy @notaslimboy, peserta #StudyTour yang baru sempat nulis laporan.

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s