Double Standard Moralis Bahasa

Moral dalam berbahasa sering dikaitkan dengan moral sesungguhnya. Itu kenapa banyak pejabat korup memakai kesantunan sebagai bungkus dari kebusukan mereka. Sudah lama kita tertipu dengan kesantunan seperti ini. Kita seolah rela mereka maling, selama tutur kata mereka santun. Ada sebuah istilah yang cocok untuk golongan yang lebih mementingkan kesantunan berbahasa dibanding moral yang sesungguhnya: moralis bahasa.

“Permisi, saya boleh ambil dompetnya, Pak?”

“Oh, silakan…”

Nah seperti itu kira-kira ilustrasinya.

Posting ini mungkin akan sedikit menuai pro-kontra. Pertama saya mau jelaskan, saya adalah orang sangat setuju bahwa kita tidak boleh merendahkan orang yang tidak berdaya, seperti orang cacat, no excuse. Tapi ada yang menurut pengamatan saya masih berada di grey area, yaitu mengambil kecacatan sebagai analogi sebuah pernyataan.

Kata yang paling sensitif sekarang ini adalah kata ‘autis’.

Perhatikan kalimat ini:

“Eh, dasar kamu autis!”

Dengan kalimat ini:

“Eh, simpan dulu itu BB, kayak orang autis saja!”

Kalimat pertama itu jelas ditujukan untuk merendahkan orang autis, orang autis sebagai orang kedua yang diajak bicara. Kalimat kedua memakai salah satu ciri penderita autis untuk menggambarkan sikap orang yang tidak bisa diam dan terus saja main BB. Masyarakat ‘intelektual’ (dalam tanda petik) sering sekali menghakiminya sebagai penghinaan terhadap penderita autis, padahal menurut saya tidak. Saya tidak pernah memakai jenis kalimat seperti ini dalam statemen saya. Terus terang saya malas ribut, makanya saya hindari pernyataan-pernyataan yang memakai analogi seperti di atas. Tapi mari kita lihat contoh yang lain.

“Eh! Hati-hati kalau jalan, pakai mata, kayak orang nggak bisa lihat saja?”

Kalimat di atas jelas tidak akan di-judge telah menghakimi orang buta. Padahal tuna netra juga adalah jenis keterbatasan fisik bukan? Kalimat di atas dengan mudah diinterpretasikan ditujukan kepada orang kedua yang diajak bicara, bukan dimaksudkan menghina orang ketiga yaitu penderita tuna netra.

Atau yang lebih umum:

“Lalu-lintas Jakarta lumpuh.”

Kalimat di atas juga tidak akan diinterpretasikan merendahkan orang-orang yang lumpuh.

Atau yang seperti ini:

“Torres nggak cetak gol lagi nih, dasar striker mandul.”

Kemandulan adalah hal sensitif untuk dibahas bagi beberapa pasangan yang sudah lama menikah dan tidak diberi keturunan. Tapi sepertinya kalimat di atas sama sekali tidak akan memicu kontroversi.

Ya tak apa menjadi moralis bahasa, asal konsisten saja. Menjadi konsisten memang agak susah, bahkan orang goblok pun kadang-kadang bisa pintar.

Double-standard!

Sammy @notaslimboy, pengamat nggak penting.

 

Advertisements

10 thoughts on “Double Standard Moralis Bahasa

  1. Gue pribadi lebih concern ke intonasi dan dimana dia berbicara.
    Dalam percakapan yang tidak melibatkan banyak orang, dalam hal ini berdua/bertiga dan mereka semua dalam kondisi fisik dan mental yang normal. (tidak ada pengidap autis).

    kecuali dengan maksud menghina dan atau ditambah intonasi tinggi, penggunaan kata autis buat gue masih ‘wajar’ apa lagi yang elu contohkan di blog itu.

    tapi, jika di tempat umum (dalam konteks banyak orang disitu dan ga semua lu kenal tapi mereka denger apa yang lu omongin). penggunaan kata “autis” dengan intonasi selembut apapun juga sebaiknya jangan.

    karena ga semua orang ngertimaksud apa yang lu omongin.

    Gue punya ponakan autis.

    Dan gue pernah ngerasain gimana ga enaknya denger kata “autis” dengan intonasi yang tinggi, meskipun ga ada maksud ngehina ponakan gue itu.

    emm.. gitu kali yaa

    Like

    • Selama tidak ada orang Autis di sebelahnya, apa bedanya dengan bilang bahwa Torres itu mandul? Saya kira tidak akan ada orang mandul yang tersinggung. Kecuali mungkin penggemar Chelshit.. hahaha. Walaupun dia sekarang sudah pindah juga.

      Like

  2. ketika wanita terancam bahaya pemerkosaan, wanita tidak akan memilih untuk menggunakan kalimat “oh kang mas, tolong jangan perkosa aku, plis, tolong, jangan ah” dan secara alamiah akan lebih memilih “ANJING! BANGSAT! SETAN KURAP! KEPARAT! JAHANAM! BABI PANGGANG! SOP KAMBING! SATE KELINCI! UDANG REBUS!”

    Siapa yang tidak sopan? pemerkosa atau yang diperkosa? 🙂

    Like

  3. (Masyarakat ‘intelektual’ (dalam tanda petik) sering sekali menghakiminya sebagai penghinaan terhadap penderita autis, padahal menurut saya tidak.) Bro, klo km punya adik autis, km bakal tersinggung klo ada penggunaan kata autis, jangan anggap remeh, gak usah sok intelek

    Like

    • Penjelasannya sudah jelas. Saya mengkritisi standar gandanya. Bagaimana dgn jenis kecatatan lain spt lumpuh yg tdk mengundang kontroversi.

      “sok intelektual”? Anda tau apa arti kata itu?

      Like

  4. Gue termasuk orang yang menganggap sensitifnya penggunaan kata ‘autis’ itu terlalu berlebihan, thank God i’m not the only one. 😀

    Kebanyakan orang kita itu latah. Sekali ada orang yang kontra terhadap sesuatu, semuanya jadi ikut-ikutan kontra.

    Like

  5. Hehe. Sepakat bang. Mungkin kita emang perlu memperluas pengetahuan tentang bahasa kita, supaya benar-benar paham ketika marah akan sesuai dan ga jadi double standard.

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s