Apakah Ekonomi Berbohong?

Ngomong sedikit serius ah, tentang ekonomi. Saya bukan pakar ekonomi, dan mari kita bicara ekonomi dari sudut pandang orang biasa yang bosan dengan teori-teori. Mari kita sekadar bicara dari sudut pandang orang yang punya logika saja. Ya logika tanpa referensi saat ini sering dikesampingkan. Posting ini adalah intisari dari beberapa buku dan film dokumenter yang pernah saya baca dan tonton.

Dari kebiasaan sehari-hari saja deh. Apa itu ‘paket ekonomi’? Paket yang murah, paket yang terjangkau. Apa itu ‘kelas ekonomi’? Kelas yang terjangkau. Lalu apa itu ‘pertumbuhan ekonomi’?

Tingkat konsumsi biasa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Makanya angka penjualan mobil/motor sering dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Banyak mobil jadinya macet. Jadi macet adalah indikator pertumbuhan ekonomi.

Saya pernah ngetwit, “Macet indikator pertumbuhan ekonomi katamu? Coba mobil yang belum lunas nggak boleh keluar rumah, pasti nggak macet.” Twit saya ini merangsang pakar ekonomi timeline untuk mendebat saya. Saya nggak peduli juga sih, biarin aja biar dia bangga dengan referensinya, saya tetap pada logika saya.

Apakah ekonomi sudah berbohong? Ekonomis adalah sifat yang identik dengan irit dan terjangkau. Tapi pertumbuhan ekonomi malah dihitung dari tingkat konsumsi. Konsumtif artinya boros. Katanya irit tapi boros, nggak konsisten, berarti bohong dong?

Ekonomi juga menciptakan kesenjangan, menciptakan strata dalam masyarakat. Di tingkat global, ekonomi menciptakan status negara, dari negara miskin, berkembang sampai maju. Negara dunia ke-3 (third world country) sampai negara dunia ke-1 (first world country).

Perbedaan status ini memicu perbedaan nilai tukar mata uang di masing-masing negara, perbedaan standar hidup, perbedaan biaya hidup yang akhirnya memicu perbedaan standar gaji (labor cost) masing-masing negara. Nah mari kita ungkap lagi kebohongan ekonomi yang lain.

Perbedaan labor cost mengakibatkan sebuah produksi bila dinilai dari nilai uang – saja – akan lebih murah dikerjakan di negara lain lalu hasilnya dikapalkan ke negara pemakai.

Sebagai contoh, mainan anak di Amerika Serikat (AS) diproduksi di jauh-jauh di Cina, karena labor cost di Cina jauh lebih rendah dari labor cost di AS, bahkan setelah ditambah dengan biaya pengiriman (shipping cost). Apakah ekonomi berbohong? Nilai yang dipakai hanya nilai uang (Dollar) padahal sebenarnya terjadi pemborosan. Mengapa untuk sesuatu yang dipakai di AS harus jauh-jauh diproduksi di Cina,  boros energi, boros BBM, itulah sebabnya sekarang kita diambang krisis energi. Secara Dollar untung, tapi secara sumber daya yang terpakai rugi. Siapa yang bego? Pakar ekonomi atau kita?

Apakah ekonomi berbohong?

Masih banyak yang lain, tapi lagi males nerusinnya.

Sammy @notaslimboy, bukan pakar ekonomi.

Advertisements

5 thoughts on “Apakah Ekonomi Berbohong?

  1. menarik, sayang di prolog disebutkan film dokumenter dan buku yang jadi referen, tapi hingga akhir kok gak disebut filmnya dan buku, ini bikin gue jadi meraba-raba buku dan film yang kakak maksud. Aduh!

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s