Tua Di Jalan

Ada istilah ‘tua di jalan’ untuk orang-orang pekerja sekarang, terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Sebagian besar orang-orang ini bekerja dan menghabiskan banyak waktu di jalanan karena macet. Sangkin lamanya waktu yang dihabiskan di jalan akhirnya muncul istilah ini. Ada untungnya sih, artinya mereka tidak butuh lagi panti jompo, karena sudah ‘tua di jalan’.

Di Jakarta khususnya, ada banyak kota satelit (suburban) seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Banyak warga kota-kota satelit ini yang setiap hari menjadi komuter ke Jakarta, ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada pula yang menggunakan kendaraan umum. Orang-orang ini kalau pergi ke daerah lain di Indonesia tetap akan mengaku orang Jakarta, haha.

“Tinggal di mana, Mas?”

“Di, Jakarta…”

“Ohh, Jakarta-nya di mana?”

“Di, Bekasi…”

Tidak belajar geografi rupanya waktu SMP dulu.

Menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, misalnya, di Jakarta bisa memakan waktu tiga jam, pulang pergi enam jam. Bayangkan enam jam adalah seperempat waktu kita dalam sehari. Jadi kalau orang ini berkarir dari usia 25 sampai 55, 30 tahun makan 7,5 tahun waktunya dihabiskan di dalam mobil. Sudah sampai mana tuh harusnya? Bayangkan kalau orang ini naik sepeda dari Jakarta selama 7,5 tahun tanpa henti, sudah sampai mana dia? Ya palingan sampai Tanjung Priok, karena mentok di laut, sih.

Untuk mengatasi macet, di banyak kota besar sudah dibangun jalan tol. Khususnya di Jakarta, jalan tol yang seharusnya bebas hambatan juga ikut-ikutan macet. Sudah bayar macet pula, tambah stres dan makin cepat tua di jalan. Kadang-kadang jalan biasa malah lebih lancar dari jalan tol. Itulah, lalu-lintas memang tidak bisa diprediksi, makanya saya kira kita perlu satu profesi lain: peramal lalu-lintas, dan ini bisa jadi lebih sulit dari meramal jodoh.

Belum lama ini saya masuk ke salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Di sana ada sebuah spanduk yang bertuliskan kira-kira seperti ini

“Sayembara berhadiah, solusi bagaimana mengatasi kemacetan di Jalan tol.”

Saya masuk jalan tol supaya terhindar dari macet, lalu masuk jalan tol baca spanduk ini, terus terang spanduk ini membuat saya semakin putus asa, karena pengelolanya sendiri membuat sayembara untuk mencari solusi kemacetan di jalan tol. Seumur-umur saya belum pernah masuk ke Rumah Makan Padang lalu pelayan atau bahkan kokinya menghampiri saya dan kemudian bertanya,

“Mas, Mas, tahu caranya masak rendang yang enak, nggak?”

Menjelang Pemilu 2014 nanti juga para pengguna jalan yang sudah cukup stres di jalanan akan dibuat tambah stres lagi. Apa yang bikin tambah stres? Spanduk, baligo, billboard partai dan caleg akan semakin banyak menghiasi jalanan. Menghiasi atau mengotori, ya pokoknya begitu deh. Lagi kesal kena macet, tambah kesal karena foto-foto itu tersenyum manis pada kita pengguna jalan. Rasanya ingin teriak,

“Ngapain lo, ketawain gue ya!?”

Eh dia malah jawab,

“Makanya, pilih gue dong.”

Salah satu yang menghibur dari foto-foto tersebut adalah ulah anak-anak yang terlalu kreatif melakukan aksi vandalisme terhadap foto-foto tersebut. Kadang-kadang ditambahin kumis, atau yang lagi senyum giginya diwarnai hitam jadi terlihat ompong, atau ditambahi tahi lalat, diberi kacamata, dll. Terima kasih pada tangan-tangan ‘kreatif’ yang sudah menghibur kami pengguna jalan.

Layaknya orang tua, orang yang tua di jalan juga jadi semakin peka terhadap kondisi jalanan, selain spanduk partai dan caleg, yang lain adalah spanduk-spanduk layanan masyarakat. Saya semakin peka mengamati spanduk-spanduk ini. Rata-rata yang diiklankan adalah pariwisata sebuah daerah atau sebuah gerakan tertentu dari sebuah kementerian. Namun spanduk-spanduk itu lebih menonjolkan tokoh dibanding apa yang diiklankan. Misalnya iklan pariwisata sebuah daerah, obyek wisatanya minim sekali ditunjukkan, tapi kepala daerahnya dibuat besar-besar. Saya jadi bingung, apa yang harus dilihat nanti di lokasi wisata? Mau lihat gubernurnya?

Pada dasarnya semua orang itu mungkin taat terhadap peraturan, termasuk peraturan lalu-lintas, tapi mungkin karena terlalu lelah di jalanan sepanjang hari – walau ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran – mereka akhirnya melanggar peraturan lalu-lintas. Semata-mata hanya ingin cepat sampai di tujuan. Hal ini salah, tapi ya kita tetap harus pelajari sebabnya.

Saya bukannya tidak pernah melanggar peraturan lalu-lintas, dan sesekali berurusan dengan polisi juga. Polisi mungkin juga sama-sama lelah dengan kami pengguna jalan, sehinga emosinya juga kadang tidak terkontrol. Ya, polisi juga manusia. Kadang-kadang suka bertanya hal-hal yang memojokkan,

“Maaf Pak, Bapak tahu salah Bapak apa?”

Ini pertanyaan jebakan, seolah-olah jawaban saya berpengaruh pada tindakan Pak Polisi ini terhadap saya nanti. Dan kalau saya jawab,

“Tidak tahu, Pak, saya pergi dulu ya …”

Pasti Pak Polisi tadi – yang juga sudah kelelahan karena seharian bertugas di jalanan – bisa saja terpancing emosinya. Layaknya orang Indonesia, kalau sudah emosi maka kata-kata bisa saja tidak terkendali, dan kalimat seperti ini sering sekali terlontar,

“Kamu tidak tahu siapa saya!?”

Ini pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang kita pikirkan maknanya. Jelas saya tidak tahu siapa orang ini, orang baru pertama kali bertemu di jalan, sama-sama sedang lelah. Saya membayangkan kalau saja saya bisa tertegun sebentar, menatap Pak Polisi itu dengan mata nanar, beberapa detik kemudian saya berteriak dengan mata berkaca-kaca,

“Ayahhhh……”

Advertisements

4 thoughts on “Tua Di Jalan

  1. hahahaha…lucu banget. Langsung terbayang tour #tanpabatas2. Tapi, ini kayak spoiler ya, ga takut ya bang Sam, punchline nya udah ditulis disini?

    Like

  2. Kalo ngomongin jalanan, jalanan di Solo waktu Lebaran kemaren parah banget, om. Macet di mana-mana dan sukses bikin emosi. Kalo udah emosi level akut takutnya nanti jadi anarki. Misal kaca mobil dipecahin, motor dibakar, truk digulingin. Jangan-jangan Reformasi ’98 dulu sebenarnya bukan gara-gara Soeharto tapi gara-gara macet ya, om? Patut diselidiki nih. Kasihan Pak Harto difitnah…

    Like

  3. jalan tol = jalan bebas hambatan ≠ jalan bebas macet
    hambatan maksudnya gak ada persimpangan sebidang, gak ada orang nyebrang, gak ada angkutan umum yang berenti naik/turunin penumpang
    jd macet mah sah-sah aja di jalan bebas hambatan
    ini salah satu salah kaprah dari guru SD nih

    kalo mo dibahas lebih lanjut jalan bebas hambatan itu padanan benernya freeway
    jalan tol mah masalah pendanaannya, dibikin dari investasi swasta sehingga harus dibayar kembali melalui pengenaan tarif tol
    di Amrik ada freeway yg non-tol alias gratis
    di Singapur ada non-free yg kena tol alias road pricing/ ERP

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s