Negara Konsumen…

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya mampu membeli rumah di lingkungan saya yang sekarang. Masih asri, tidak macet, jarak mini market terdekat adalah sekitar 300 meter dari rumah. Apa yang terjadi sekarang? Setahun yang lalu, 50 meter dari rumah sudah ada mini market baru dan dua bulan yang lalu ada restoran fast food cukup terkenal yang juga waralaba asing, 200 meter dari rumah saya. Macet pun menyertai kehadiran bisnis-bisnis baru ini.

Orang Jakarta seharusnya sudah tidak lagi asing dengan restoran fast food seperti ini, tapi tetap saja saat launching restoran yang bersangkutan, antrian panjang macam antrian sembako murah. Bisa dibilang kampungan sih. Dan saya juga ikut mengantri.

Kenapa sesuatu yang dari asing terlihat lebih keren? Contohnya kontes Miss World yang baru-baru ini digelar di Bali. Saya tidak pro dan juga tidak kontra, netral saja, hanya mau mengomentari bahwa kontes ini nggak keren-keren amat. Walau saya sedikit salut sama para kontestan, yang sepanjang acara mampu tersenyum, bisa berjam-jam terus tersenyum. Kalau ada masalah dengan pacar pun, harus tersenyum. Kalau kebelet harus tersenyum.

Yang paling saya salut adalah ketika pengumuman pemenang. Kontes Miss World di Bali dimenangkan oleh Miss Philippines. Saat announcer mengumumkan, “And the winner is from Philippines…” Saya perhatikan kontestan dari negara lain tetap tersenyum, padahal kan mereka kalah, kan seharusnya sedih?

Kemudian ada yang memberikan ucapan selamat, mungkin mereka bilang, “I am happy for you…” walau mungkin juga dalam hatinya bilang, “Ahh, you are b*tch…” *bercanda

Saya pernah mencoba untuk menekuni olah raga golf. Sempat punya perangkat golf club walau saya jual, karena waktu itu lebih butuh untuk beli beras *maaf curcol. Saya kurang bisa menikmati olah raga ini. Bola dipukul, jauh, lalu kita jalan mendekat, dipukul lagi jauh, seperti kurang kerjaan. Lalu olah raga dalam golf adalah saat pemainnya berjalan, karena lapangan golf yang relatif luas dibanding lapangan-lapangan lain. Namun belakangan banyak orang memilih memakai mobil golf, jadi kapan olah raganya? Belum lagi perangkat golf club dibantu dibawa sama seorang caddy, jadi ini olah raga apa sih sebenarnya? Saya jadi ingat sama kakek saya di kampung yang dulu bertani. Kakek biasa pergi ke sawah bawa cangkul, dan dia bawa sendiri cangkulnya, nggak dibawain sama caddy. Bayangkan kalau kakek saya pergi ke sawah bawa caddy. Bayangkan kalau kakek saya yang petani ini punya caddy – katakanlah namanya Rani – dan dia pergi ke sawah bersama Rani. Sesampainya di sawah, kakek menghitung sudut kemiringan, angin, dan lain-lain, seperti pemain golf yang berusaha memukul bolanya. Lalu dia bilang sama si Rani ini,

“Tolong cangkul nomor 7.”

Saya tidak bisa menyalahkan kalau produk-produk dalam negeri lebih banyak dipilih oleh konsumen Indonesia, semangat nasionalisme bukan hanya milik konsumen, tapi juga produsen dan penentu kebijakan. Kalau ada jargon, “Cintailah produk-produk dalam negeri.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Perbaiki dulu mutu produknya.”

“Tontonlah film-film nasional.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya tapi filmnya jangan pocong semua dong. Dari Pocong Keramas sampai Pocong Perawan.” Walau Pocong Perawan ini punya keuntungan, dia boleh masuk sekolah seandainya nanti diberlakukan tes keperawanan.

“Berpartisipasilah dalam pemilu, jangan golput.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya, tapi calegnya dan capresnya jangan kayak elo dong.” Jangan sebut nama, karena nggak enak, takut orangnya sensitif.

“Cintailah produk-produk dalam negeri.” Jargon ini terdengar sakral di tengah himpitan produk impor yang membanjiri Indonesia. Lain dengan era sebelumnya, katakanlah zaman Orde Baru (Orba), produk impor indentik dengan barang mahal, prilaku konsumtif. Sekarang tidak, kita sebagai konsumen memang tidak bisa lepas untuk tidak menggunakan produk impor. Kebutuhan pokok pun kita impor, bahkan garam pun kita impor. Jadi produk impor tidak lagi identik dengan kemewahan.

Apakah kita harus menonton sinetron Indonesia, misalnya, yang makin tidak masuk akal. Antrian untuk naik haji dikabarkan sudah begitu panjangnya, jadi kalau kita mendaftar hari ini, maka 15 tahun lagi baru bisa naik haji. Jelas ada sinetron yang tidak survey dulu dalam membuat jalan ceritanya, padahal sinetron tersebut mengambil dari realita hidup, bukan genre science fiction.

Saya hampir tidak pernah menonton sinetron, apakah saya tidak nasionalis, kalau memilih channel dokumenter dari asing? Tapi pernah tidak sengaja ‘tertonton’ sebuah sinetron di TV lokal. Baru beberapa detik, saya sudah menemui kejanggalan dalam sinetron ini. Dikisahkan ada seorang supir bajaj, tapi ganteng banget. Ini jelas tidak sesuai dengan kehidupan nyata, kalau memang ada orang seganteng itu jadi supir bajaj, saya pasti minder untuk naik bajaj dia. Yang ada saya bilang, “Bang, duduk di belakang ya, biar saya yang bawa bajaj-nya.”

Yang jelas, kalau ada orang seganteng ini dan memilih jadi supir bajaj, maka orang ini aneh. Apa dia tidak tahu, ada banyak profesi untuk orang gateng selain jadi supir bajaj. Kan bisa jadi pemain sinetron, kan lumayan, bisa dapat peran supir bajaj. *Walah sama saja dong…

Advertisements

6 thoughts on “Negara Konsumen…

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s