Demokrasi, Kolak Pisang dan Pisang Goreng

Kalau demokrasi kita ibaratkan pisang. Pilkada langsung itu kolak dan pilkada lewat DPRD itu pisang goreng. Maka Indonesia sedang makan kolak. Tiba-tiba Menteri Gamawan ajukan proposal, “Bosan ah makan kolak. Pisang goreng lebih mantap, biaya murah lagi…”

DPR mau mengesahkan, cara apa kita masak nih pisang. Terbagi dua kubu, satu lebih suka, “Kami tetap kolak.” Satu lagi bilang, “Pisang goreng harga mati!” Lalu ada Partai Demokrat. Dia belum menentukan sikap. Namun nampaknya condong ke kolak, hanya dengan 10 syarat tambahan. Eh, 10 syarat ini tidak bisa diakomodasi saat pleno, akhirnya Demokrat memilih walkout, dan rela makan pisang goreng dibanding kolak yg tdk disertai 10 syarat.

Besoknya Presiden SBY kecewa kok pisangnya jadi digoreng. Beliau notabene bosnya Gamawan dan bosnya Demokrat. Akhirnya diajukanlah Perppu yg mengusahakan pisang tetap dikolak dengan 10 syarat tambahan. Pembahasannya tentu nanti di DPR. Bisa dibuat sederhana malah inginnya ribet…

Sepertinya tukang pisang goreng dan tukang kolak pisang tidak pernah seribet ini.

Hidup kolak pisang….

Kenapa contohnya pisang, kolak dan pisang goreng? Sebenarnya mau babi, saksang dan panggang, tapi takut blognya tidak dapat stempel halal.

Advertisements

7 thoughts on “Demokrasi, Kolak Pisang dan Pisang Goreng

  1. Hehe. Bang Sammy kapan DVD #TanpaBatas dan #TanpaBatasVol2 rilis? Gue pengen nonton, soalnya kan gue di daerah sangant perlu hiburan seperti Bang Sammy ini

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s