Egoisme Dua Pihak

Ini tulisan yang saya simpan-simpan untuk sebuah buku yang sedang saya susun, dan entah siapa yang mau menerbitkannya. Ya mudah-mudahan saja jadi terbit. Tapi setelah menonton standup comedy special, milik Soleh Solihun, 31 Januari 2015, di Usmar Ismail, Jakarta, ingin sekali saya membagikan artikel ini. Saya melihat Soleh bisa mengambil peran penengah, don’t let him fight alone. Maaf kalau artikel ini terlalu serius, Leh. Selamat ya untuk #MajelisTidakAlim -nya yang menjadi rekor MURI untuk banyak hal: kostum, gimmick dan durasi tampil. Ada bule yang nonton lagi, walau di #tanpabatasvol2 juga ada 🙂

 

Ada dua kubu yang sengaja atau tidak sengaja terbentuk dalam masyarakat. Kubu yang pop dan kubu yang idealis. Entah mereka melabeli diri sendiri atau bagaimana, tapi yang jelas seolah yang populer tidak akan idealis, lalu yang yang punya idealisme selamanya tidak akan populer. Sebenarnya definisi populer dan idealis pun belum jelas. Jelas idealisme orang berbeda-beda karena memang tujuan perjuangan orang berbeda-beda. Popularitas juga ternyata sesuatu yang tidak mutlak, tergantung kalangannya. Saya cukup bangga ternyata di antara keluarga saya ada yang tidak mengenal Raditya Dika. Ini melegakan sekali.

Baiklah, mari kita ikuti dikotomi pop dan idealis ini, mari kita larut ke dalamnya. Yang pop lebih mengejar eksistensi, yang idealis lebih mengutamakan esensi. Menurut saya keduanya egois, karena idealisme pun butuh eksistensi, perlu diakui, perlu dimengerti – walaupun tidak disetujui – oleh sebanyak-banyaknya khalayak. Seandainya kita membuat karya film dokumenter yang bagus, percuma saja kalau yang menonton kalangan terbatas, LSM dan sesama orang yang sudah mengerti. Itu seperti masturbasi bersama-sama. Yang mengejar eksistensi tanpa idealisme pun egois, karena saya yakin mereka punya nilai yang diperjuangkan, tapi takut kehilangan massa kalau menyampaikannya ke depan para penggemar mereka.

Kedua belah pihak egois, tidak mau mengalah. Satu pihak terlalu gengsi kalau dibilang terlalu mengejar popularitas, satu pihak terlalu takut mengungkapkan idealisme kepada massa yang dia miliki. Apa salahnya menjadi popular, dan apa salahnya kehilangan beberapa penggemar ketika mengungkapkan apa yang menjadi concern kita.

Sama halnya dengan mana lebih penting gagasan atau aksi. Boleh dibilang sekarang semuanya serba membingungkan. Intelektual sibuk berwacana dan berdiskusi. Pedagang sibuk berniaga. Intelektual enggan terjun ke dalam sistem, dan pedagang merasa rugi untuk membaca buku karena tidak menghasilkan direct profit. Sebuah gagasan tanpa aksi akan menjadi tulisan di atas kertas, sebuah aksi tanpa gagasan yang jelas akan mudah dipatahkan. Tidak ada yang sempurna di sisi gagasan maupun detil aksi, tapi semuanya patut dilaksanakan.

Banyak yang menyalahartikan bahwa aksi nyata itu harus dalam bentuk turun ke jalan, lobi-lobi politik, atau perjuangan politik dan pergerakan. Aksi nyata itu bisa dalam bentuk yang sangat sederhana, membayar pajak itu terlalu sederhana. Aktif dalam komunitas, membangun komunitas dengan orang-orang seide, itu bentuk aksi nyata. Tentu saja komunitas yang maksudnya bukan utuk mengganggu pihak lain. Baru masuk ke dalam kegiatan sosial dan kalau bisa menjadi entrepreuner dan menciptakan lapangan kerja baru. Aksi nyata tidak harus – bahkan tidak perlu – lewat kabinet, parlemen, partai politik, ormas, dsb. Cukup dari hal-hal sederhana.

Sebaliknya gagasan itu perlu, hanya mengumpulkan massa untuk joget-joget, itu hak semua seniman, atau public figure. Tapi tanpa gagasan, maka sebenarnya public figure tersebut sedang dimanfaatkan oleh media untuk keuntungan media semata dan sementara. Kebanyakan kemudian memakai prinsip aji mumpung, mumpung laku. Tapi sampai kapan? Banyak seniman yang jaya di masa muda lalu masa tuanya menderita dan meninggal dalam keadaan miskin. Ini sungguh rugi dua kali, saat laku tidak pernah menyampaikan idealisme, setelah tidak laku mereka dibuang, tidak laku dan tidak punya idealisme, atau kalaupun punya tidak sempat menyampaikannya kepada khalayak. Tragis sekali.

Gagasan saya mungkin tidak sempurna, eksekusi aksi kita pun mungkin banyak celah, tapi dari pada tidak sama sekali. Ketika kita punya banyak gagasan yang jadi aksi nyata, wajar akan timbul banyak celah untuk diserang, celah untuk disalahkan. Tapi tak apa, anggap saja kita sedang menulis sebuah buku, semakin tebal halaman buku yang kita tulis semakin banyak typo yang tejadi.

Saya teringat dengan Mahatma Ghandi yang punya gagasan Satyagraha, melawan tanpa kekerasan. Gagasan yang luar biasa, namun dia wujudkan dalam sebuah aksi “Salt March”, mengajak sebanyak mungkin warga India untuk pergi ke pesisir untuk membuat garam. Gerakan perlawanan tanpa kekerasan ini mungkin saat itu tidak membawa dampak ekonomi langsung dan signifikan bagi India, tapi sampai tulisan ini dibuat Indonesia masih mengimpor garam dari India.

Cerdas dan banyak referensi itu berbeda. Cerdas masalah logika dan gagasan, referensi masalah seberapa banyak pengetahuan yang dia tahu. Keduanya kadang egois, apa salahnya orang cerdas menambah referensi, dengan cara membaca atau berdiskusi karena memang beberapa orang tidak kuat lama-lama membaca.  Lalu orang yang banyak referensi melatih untuk meciptakan gagasan-gagasan baru, jangan hanya jadi pencuplik. Orang banyak referensi ini semakin banyak sekarang, di era informasi, we are full on information but lack of knowledge.

Terlalu normatif, saya sudah merasa bosan, baiklah kita mulai dengan sebuah usulan saja. 25 September 2014 sebuah film Indonesia berjudul “Yang Ketu7uh” disutradarai oleh Dandhy D. Laksono, berkisah tentang kontestasi Pilpres 2014. Bayangkan Bung Dandhy sampai rela membuat judul filmnya dengan cara alay menulis, huruf ‘j’ diganti dengan angka ‘7’. Entah sebuah kebetulan atau apa, ini juga adalah film dokumenter Indonesia yang ke-7 berhasil masuk jaringan bioskop 21 dan Blitz di Indonesia, dan hanya bertahan 7 hari di sana. Nampaknya bagi Bung Dandhy angka sial itu bukan 13 tapi 777. Tapi mari berikan kredit untuk film ini, film dokumenter masuk bioskop, pencapaian luar biasa. Dari pada hanya diputar di basecamp LSM-LSM, informasi berharga yang tidak mendatangkan perubahan signifikan. Nah, harus banyak sineas seperti Dandhy, tapi di lain pihak bagaimanapun industri perfilman dituntut untuk untung.

Kalau Dandhy D. Laksono bisa kita kelompokkan dalam kategori idealis, yang mencoba masuk ke pasar pop, ini bukan upaya cari popularitas menurut saya. Kalau akhirnya karyanya bisa dinikmati masyarakat dan akhirnya mendatangkan popularitas, apa salahnya? Sepertinya bagi kelompok idealis, popularitas adalah sebuah dosa. Sebaliknya, kalau ada wakil dari kategori pop yang ikut dalam proyek Bung Dandhy mungkin hasilnya tidak menjadi tragedi 777. Andai Raditya Dika menjadi narator atau host untuk film “Yang Ketu7uh” yang judulnya sudah mencoba alay ini, bukan tidak mungkin film ini akan menjangkau khalayak yang lebih banyak dan heterogen. Jangan-jangan walau menembus bioskop, saya curiga yang menonton film ini ke bioskop pun sebenarnya orang-orang LSM yang menyelenggarakan nobar dan membeli tiket memakai dana operasional mereka. Semoga tidak ya, Bung.

Di Hollywood Michael More adalah film maker yang memproduksi film-film dokumenter berkelas yang juga laku di pasaran. 9/11, Sicko, Capitalism Love Story, dll. Di lain pihak Aktor sekelas Matt Damon, actor yang main di Bourne Identity, Departed, dll. juga dilibatkan (mau melibatkan diri) dalam film dokumenter Inside Job. Saya masih berharap, semoga saja Radit bisa jadi Matt Damon-nya Indonesia, dan Dandhy D. Laksono jadi Michael More-nya Indonesia. Ajak saya main film ya.

 

 

Di-post diblog untuk Soleh Solihun (Wartawan, Komedian, Aktor, TV Host, Radio Personality)

Advertisements

3 thoughts on “Egoisme Dua Pihak

  1. mantepp tulisannya om.. menggelitik dan menggugah, apalagi lsg lo post setelah nongton shownya solehsolihun yg ngobrak-ngabrik seluruh tatanan ras yg ada di kita, hihhii

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s