Reformasi, Seperti HP yang Tidak Bisa Diservice Lagi

Indonesia.

Negara kepulauan, sekitar 13.000 pulau.

Ada seorang asing yang pernah bertanya pada saya, yang mana Indonesia, negaramu. Saya menunjuk ke bagian peta. Dan orang itu kaget. Hah! Itu satu negara. Memang ajaib.

Karena kita lahir di Indonesia, mungkin menganggap itu tidak aneh, tapi coba kita pakai pikiran banggsa asing melihat kita. Memang terasa aneh.

Kenapa bisa seperti ini? Ini konon adalah bekas nusantara yang dulu dipersatukan oleh Gajah Mada, Mahapatih Majapahit. Sang Raja, Hayam Wuruk, malah agak kalah popularitasnya.  M. Yamin sejarawan kita membuat itu jadi acuan sebagai bersatunya Indonesia modern. Masih ada perdebatan di kalangan sejarawan soal wilayah kekuasaan Majapahit dan Gajah Mada.

Selain perdebatan soal wilayah Nusantara itu sendiri, masih ada keanehan lain. Gajah Mada pernah bersumpah, sumpahnya kemudian dinamai Sumpah Palapa. Sumpah itu menggambarkan tekad Gajah Mada dalam mempersatukan wilayah Nusantara. Rakyat Indonesia melalui buku pelajaran menerima begitu saja isi sumpah palapa. Tanpa harus menggali lagi.

Sumpah itu sebenarnya berisi, bahwa Gajah Mada akan berpuasa tidak makan bambu muda (rebung) bila wilayah Nusantara belum dipersatukan. Selain cakupan wilayah Nusantara yang masih diperdebatkan, ternyata dasar Nusantara bersatupun adalah seseorang yang berjanji tidak makan bambu muda sebelum Nusantara bersatu. Bambu muda (rebung), hari ini hanya kita temui di oleh-oleh khas, Lumpia Semarang. Jadi, Nusantara/Indonesia ini sebenarnya harus bersatu karena janji orang yang tidak akan makan Lumpia Semarang sebelum Nusantara bersatu.

Mungkin itulah, tak heran, sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 1945 oleh Presiden pertama Soekarno dan Wakil Presiden Moch. Hatta, banyak sekali gerakan separatis tokoh-tokoh, yang sebenarnya dulu kawan-kawan Soekarno saat wilayah yang sekarang Indonesia ini masih di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Muso (tokoh komunis), Kartosuwiryo (tokoh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) adalah teman masa remaja Soekarno. Jadi mereka yang ikut berjuang, mungkin merasa memiliki Indonesia juga, mungkin tidak tepat disebut gerakan separatis, tapi sudahlah, itu yang ada di buku pelajaran kita.

Belum lagi gerakan-gerakan lain, seperti PRRI/Permesta, RMS sampai yang terakhir Fretilin di Timor Timur (sekarang Timorleste) dan GAM di Aceh. Banyak sekali, tidak cukup diceritakan dalam artikel yang rencananya singkat ini.

Indonesia (pasca proklamasi) sudah melalui beberapa era: Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, tetap saja pembangunan Indonesia masih berpusat di wilayah Barat, khususnya Jawa dan khususnya lagi Jabodetabek. Saat ini jumlah penduduk Jabodetabek wilayah yang sangat sempit terdiri dari Jakarta (Ibukota), Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, mencapai 24jt. Kita bandingkan dengan Australia, sebuah negara yang sangat luas (bisa dikatakan satu benua) yang hanya sekitar 20jt. Tidak heran, raksasa retail Internasional seperti Carrefour atau franchise makanan cepat saji seperti McDonalds berbondong-bongdong ingin berbisnis di Indonesia khususnya Jabodetabek. Daerah yang sempit dengan jumlah penduduk yang melebihin benua Australia, tentu akan menciptakan kepadatan yang luar biasa. Dan ini adalah surga bagi bisnis retail. Mendirikan satu outlet, bisa menghasilkan revenue berkali-kali lipat dibanding satu outlet di sebuah daerah di Australia.

Saya pernah bekerja untuk perusahaan asing. Sebagai “kuli” IT, pernah panas kuping ini mendengarkan boss saya yang orang bule,  pengetahuan seadanya, soal IT maupun soal bisnis di Indonesia, menerangkan tentang apa itu Indonesia pada calon rekanannya. Dia bilang, di Indonesia ini sebagian besar masih menggunakan sistem barter. Belum mengenal uang. Wah, wah, wah, saya ingin sekali mendebat, tapi saya hanya kuli, dan percuma juga, tidak mengubah apapun. Saya biarkan saja, karena memang rencana sudah mau cabut juga dari si boss itu.

Saya masih ingat kata-kata dia, “They trade chicken for coconuts.” Wajar, mungkin ada juga orang-orang Indonesia yang masih berpendapat bahwa di negara Barat itu seks bebas, sebebas-bebasnya, pesta seks di mana-mana. Dan ketika mereka sampai di kota seperti Paris, tidak ada pesta seks, mungkin mereka kecewa.

Kembali ke Indensia. 1965, pernah terjadi pembunuhan terhadap 7 perwira AD di Jakarta, lalu setelah itu ada pergantian kekuasaan yang tidak terlalu berdasar terhadap kejadian 30 September 1965. Gerakan tersebut disebut kudeta (coup). Kudeta adalah usaha menggulingkan kekuasaan yang sah. Salah atau tidak pembunuhan terhadap 7 perwira AD, itu urusan lain, yang jelas itu bukan tindakan kudeta, karena presiden saat itu Soekarno baik-baik saja. Setelah itu buku pelajaran sekolah harus mempercayai bahwa itu sebuah gerakan makar. Anak-anak dicekoki, bahwa PKI penjahat, dan ABRI penyelamat Indonesia. 7 perwira dibunuh, lalu ada pembunuhan massal setelah itu, terhadap massa komunis. Dan tidak lama sejak saat itu, ajaran Marx dan Lennin dilarang di Indonesia. 7 perwira yang diculik dalam sebuah misi rahasia yang belum jelas siapa penggeraknya, diserahkan tanggung jawabnya pada massa komunis, tanpa kecuali. Ada yang dibunuh, ada yang dibuang ke Pulau Buru, ada yang dipenjarakan, tanpa proses pengadilan. Dan kami di sekolah diajarkan bahwa semua itu adalah tindakan yang wajar. Sejak itu Indonesia ada di bawah pemerintahan Militer. Parlemen diatur oleh kekuasaan yang kuat, partai disederhanakan menjadi tiga saja. Letupan-letupan kecil terjadi, tapi bisa segera diselesaikan dengan pendekatan militer tentunya.

1998, Soeharto yang berkuasa setelah kejadian 1965, pun harus turun. Tekanan begitu besar, dari dunia luar, terutama AS yang tiba-tiba tidak mendukung Soeharto lagi. Melalui Forbes, Soeharto diberitakan sebagai 6 pemimpin tekaya dunia. Rupiah terpuruk. Menteri-menteri Soeharto, yang dia bina, beberapa tidak lagi mau dipimpin Soeharto, tiba-tiba mereja jadi tokoh vokal dan pemberani, jadi rebel. Harmoko yang ada di MPR (mungkin kecewa karena Habibie yang jadi Wakil Presiden), tidak tahan terhadap tekanan mahasiswa, dan menyerukan dari Senayan supaya Soeharto mengundurkan diri. Itulah pertama kali saya (yang waktu itu mahasiswa), melihat dari televisi, bertepuk tangan untuk suatu kalimat yang keluar dari mulut Harmoko. Harmoko yang lebih satu dekade menajadi menteri penerangan (corong propaganda Soeharto), yang selalu bicara dengan sebuah intro “atas petunjuk bapak Presiden… (dlm hal ini Soeharto), tiba-tiba menjadi seorang ketua MPR yang menyuarakan hati nurani rakyat.

Muncul 3 tokoh reformasi yang didukung Mahasiswa. Namun, sebelumnya jangan kita lupa, ada dua orang yang berani menerobos dominasi 3 partai, dengan mendirikan partai sendiri. Sri Bintang Pamungkas, dengan PUDI dan Budiman Sudjatmiko dengan PRD. Btw, tiga tokoh reformasi itu adalah Gus Dur, Megawati dan Amien Rais. Masing-masing mengusung partai politik sendiri. Megawati dan PDIP kemudian menjadi pemenang pemilu pertama setelah reformasi, 1999. Dia calon kuat presiden, yang saat itu masih dipilih di Majelis Permusyarawaratan Rakyat (MPR). MPR  yang saat itu cukup besar masih porsi utusan daerah, golongan dan TNI/Polri, nota-bene anggota-anggota MPR yang bukan hasil Pemilu. Ditambah maneuver Amien Rais (terlalu panjang bila diceritakan), Megawati gagal jadi Presiden, Gus Dur yang naik dan Mega menjadi wakil.

Tapi 2001, Amien Rais juga yang mendalangi impeachment terhadap Gus Dur. Mega dan Gus Dur yang tadinya bersahabat, pecah. Mega berhasil dihasut, lalu menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Gus Dur keluar dari Istana, dipermalukan sahabatnya sendiri. Mega dan Amien lalu masuk dalam kontestasi pencalonan presiden 2004. Namun saat itu nampaknya rakyat sudah tidak percaya lagi pada kaum sipil, dan memberikan tampuk lagi kepada SBY, Jenderal, militer. SBY naik, melenggang dengan mulus untuk dua periode.

Rakyat Indonesia rindu militer, bahkan stiker “Enak jamanku to..” bergambar Soeharto, berseliweran di mana-mana. Sepertinya spontan dan sporadic tanpa komando.

Kontestasi terakhir, 2014, Militer-Sipil, memuncak di Prabowo vs Jokowi. Saling lempar kampanye hitam dilakukan. Soal Prabowo dan kasus HAM dicuatkan begitu rupa, padahal 2009, Mega berpasangan dengan Prabowo dan isu ini tidak pernah dilempar oleh pihak PDIP (partai Mega). Budiman Sudjatmiko, revolusionist muda pun bergabung ke PDIP. Sri Bintang Pamungkas, lenyap ditelan riuhnya politik pasca reformasi. Reformasi sudah mati. Gus Dur sudah meninggal (mati secara harfiah), dan tokoh-tokoh yang lain semangat reformasinya sudah mati. Reformasi sudah mati total. Ibarat HP, harus diganti baru, tidak bisa lagi di-service.

Sisa pemilu dan pilpres masih terasa sampai saat ini. Drama politisi kian melelahkan. Orang-orang yang tidak kompeten memegang kekuasaan, orang-orang yang korup ada di posisi penting, orang-orang yang kompeten memilih menjadi profesional yang tidak bersentuhan dengan kekuasaan.

Itulah Indonesia hari ini, yang bersatu karena Lumpia Semarang. Rakyat menjadi penonton kontestasi elit. Mereka membutuhkan rakyat saat pemilu, lalu sibuk dengan lobi-lobi yang tidak ada henti setelahnya. Sampai hari ini, keributan di elit masih seputar urusan mereka. Urusan pemilihan mereka secara langsung atau tidak. Urusan penggantian Kapolri, ya itu kan bagian dari mereka. Urusan tata tertib mereka, bagaimana mereka bersidang dan menentukan ketua, itu kan urusan mereka, bukan urusan rakyat. Mereka saling tangkap, saling sangka, seolah kita sudah kekurangan penjahat, mereka saling tangkap. Atau memang mereka penjahatnya? Dan ingat, kita harus tetap bersatu, karena kita suka Lumpia Semarang.

Advertisements

18 thoughts on “Reformasi, Seperti HP yang Tidak Bisa Diservice Lagi

  1. ironis sih, kesatuan wilayah & bangsa sebesar indonesia didasarkan pada sumpah. Jadi inget sumpah pemuda nih, persatuan tanah air, bangsa, & bahasa disandarkan pada sumpah juga

    Like

  2. Lumpia isi rebung atau rebung di sayur santan , enak gila seperti kata sepupu saya di luara negri yg masih kecil Indonesia makan rumput gara gara lihat Nenek pergi ke hutan pulang bawa sayur rebung intinya dau daunan lah, daun apa sih yg ngak di makan di negara ini daun ganja aja kayanya soalnya haram kata MUI .
    Reformasi yg di lakukan kemarin oleh abang abang ku mahasiswa itu, ada positif dannegatifnya, positifnya akhirnya Bapak Pembangunan bisa pensiun dini istirahat ngumpul bareng keluarga, Negatifnya buanyak banget yang mendadak jadi munafik terutama abang abang mahasiswa yg bercuap cuap dan menjadi bintang di reformasi tersebut. lihat lah mereka sekarang tempeleng gua pake batu akik klo mereka kaga mendadak kaya, dan semoga anak anak mereka sekolah di negri bukan swasta lebih buruk lagi luar negri.
    Bang Sammy saya sangat setuju mengenai pendidikan, karna cuma hal itu saja yang bisa membawa perubahan,
    sorry kepanjangan heheheheh peace ..

    Like

  3. Betul banget bang Sam, Reformasi Indonesia menurut gue, nggak fokus. Terlalu melebar, akhirnya, reformasi yang digembor-gemborkan itu, antiklimaks. Sama halnya dengan cita-cita Gie, yang nggak mau berhenti dalam hal ‘perlawanan’ ketika Sukarno udah turun. Gie masih kritis ketika Suharto naik, meski di sisi lain, angkatan 66 masuk parlemen. Memang begitu, benang merahnya, habis manis sepah dibuang. Seringkali justru menjadi peluang bagi para oportunis. Sangat mengecewakan juga, ketika rakyat cuma sebatas pengantar politikus menduduki kursi. Setelah itu, lobi-lobi.

    Like

    • Kamu salah menurut saya. Justru sejarah Indonesia selalu dibuat satu. Sejarah adalah rekaman peristiwa dengan insterpretasi Sejarawan. Jadi justru harus banyak versi dan kita yang menerjemahkan mana yang paling logis dong. Semakin banyak semakin bagus. Menurut saya justru sejarah Indonesia sudah coba dikerucutkan jadi satu versi. Soal versi Nusantara dan Sumpah Palapa yang artinya tidak makan rebung saja, jarang yang tahu kok!

      Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s