Ada Apa dengan Kita

Ini bukan judul filmnya Dian Sastro. Karena film Dian Sastro judulnya Ada Apa dengan Cinta. Cinta — Kita, berarti ini judul filmnya Dian Katro, deh. #Bebas

Itu ungkapan kekesalan saya terhadap pertengkaran suporter bola di Indonesia soal tim yang mereka sukai. Sekadar bercanda sih menurut saya wajar. Tapi sering kali saya perhatikan sudah mulai menjurus ke emosi yang menyentuh nilai paling mendasar dalam hidupnya. Sudah seperti fundamentalist saja, tapi bukan dalam hal beragama. Eh, tapi memang mungkin sepakbola sudah bisa dikategorikan agama. Dan yang tidak suka terhadap olah raga ini, mungkin lama-lama akan dicap atheist. Bisa saja terjadi.

Hey, rata-rata yang diributkan para suporter itu – terutama di social media – adalah klub-klub asing, khususnya Barclays (Red. tadinya sayaย tulis British, diingatkan sama pembaca blog ini di comment, ‘darmagun’, thanks, Bro) ย Premier League (BPL). Apakah sebuah kebetulan, agama yang dipeluk oleh orang Indonesia saat ini pun semuanya adalah agama yang diturunkan/diwahyukan di negeri asing. Agama-agama asli orang Indonesia, malah tidak ada hari liburnya. Jangan tersinggung, ini hanya membahas kenyataan. Kadang-kadang – maaf sering kali – kenyataan itu tidak enak untuk didengar.

Saya bertambah kesal karena sering terpancing dalam perdebatan ini, saya ikut-ikutan goblok. Nah, kemudian saya menganalisis kenapa kegoblokan ini terjadi? Apakah semua yang suka bola itu tadinya memang sudah goblok, lalu berbondong-bondong menjadi suporter bola? Atau tadinya orang-orang biasa, ada yang pintar juga mungkin, lalu setelah suka dan fanatik terhadap klub bola tertentu, akhirnya jadi goblok?

Saya suka menonton bola, dan saya suka beberapa tim. Saya suka Liverpool, karena saat saya kecil memang mereka yang hebat, tapi sebenarnya saat itu Liga Italia lebih hingar bingar dibanding Inggris, di Indonesia. Saya suka Liverpool, karena mendiang bapak suka itu. Saya ingat tahun 1985, final Champion, Liverpool Vs Juventus, Liverpool kalah 0-1, karena penalti Platini. Saat itu kami sedang tidak punya TV, jadi kami mengungsi ke rumah Pak Uda (paman) yang kebetulan satu komplek dengan kami. Liverpool kalah, padahal kami sudah belain bangun tengah malam dan pergi ke rumah Pak Uda. Bapak saya sedih, mulai saat itu ada ikatan bathin dengan Liverpool. Saya tidak tahu kenapa bapak sedih, mudah-mudahan bukan karena kalah taruhan. Kalau dibilang saya Glory Hunter, mungkin juga. Tapi enggak juga ah, sejak 1985, di lokal Inggris memang masih berjaya sampai 1990, tapi sehabis pertandingan final Champion itu terjadi kerusuhan hebat. Klub-klub Inggris dilarang tampil di kancah Eropa, dan Liverpool dapat hukuman lebih lama. Berapa lama, ah tidak penting, bisa kalian googling sendiri. Intinya malah sejak saat itu prestasi Liverpool turun dan turun terus. Saya tetap suka karena kenangan menonton bersama bapak.

Saya suka PSMS, walau saya lahir dan besar di Bandung. Sebuah kebetulan atau apa, tapi pertengahan 80an di kompetisi perserikatan, tim yang hebat saat itu PERSIB dan PSMS. Dua musim berturut-turut, finalnya selalu menampilkan dua tim itu, dan PSMS selalu menang. Yang satu – PERSIB – tempat saya lahir dan tinggal, satu lagi – PSMS – darah saya. Sejak kecil saya dihadapkan dengan dilema. Ini serius, saya sempat dimusuhi teman-teman komplek. Saya dan beberapa teman anak-anak Batak tidak tinggal diam. Saat itu banyak orang Bandung – pendukung PERSIB – menempel poster-poster yang mereka buat swadaya, intinya mari berdoa untuk kemenangan PERSIB. Kalau lagi sepi, kami anak-anak Batak, saya ingat ada tiga orang di komplek itu, sering melakukan kegiatan vandalisme, dengan merobek poster-poster itu, hahaha. Tapi habis final, beberapa minggu, anak-anak Batak kembali bergabung dengan anak-anak komplek yang lain, akrab lagi. Lucu juga kalau diingat-ingat.

Sekarang sudah era social media, pertengkaran suporter ini beralih ke social media, saling lecehkan dll. Tak apa, itu hak, jauh lebih bermartabat dibanding pukul-pukulan di Istora gara-gara twitwar berkepanjangan. Itu juga hak. Tapi ada yang cedera, sayang sekali. Kabarnya pertengkarannya soal mobil Proton. Ah mobil itu lagi. Dan MoU tetap ditandatangani walau kita sudah sampai pukul-pukulan. (Baca artikel: Kalau Esemka Bisa Ngomong: Kenapa Harus Proton)

Kembali ke soal fans bola. Yang menggelitik adalah pola pikir fans. Bagi saya bola itu tontonan, hiburan. Artinya membuat kita bahagia, membuat kita senang. Lawan katanya, ya sedih atau tidak bahagia. Jadi saya, kalau Liverpool kalah, ya saya sedih. Kalau menang ya saya senang. That’s all. Anehnya, kok kalau Liverpool kalah, atau Liverpool sudah puasa gelar lama, lalu sering ada yang mention ke akun twitter saya, “Malu nggak tuh, timnya puasa gelar, nanti yang diomongin masa lalu terus, History Football Club, wkwkwkwwk.” Saya tidak marah dibilang seperti itu, tapi tetap saja saya harus bilang, pendapat dan komentar seperti itu adalah goblok. Nanti saya jelaskan. Lalu dilanjutkan dengan sebuah statement, “You never win anything in your life…” Hah, ini kegoblokan dalam dua statement berututan.

Satu, kalau Liverpool juara, ya saya senang, bahagia, apalagi kalau saya pasang taruhan dan dapat, ya lebih senang lagi. Tapi apakah saya bangga? Apa effort saya untuk Liverpool, sehingga saya harus bangga kalau Liverpool jadi juara. Bangga adalah bentuk senang/sukacita yang lebih spesifik menurut saya. Bangga adalah senang karena keberhasilan seseorang karena kontribusi kita. Kenapa kita bangga ketika tim kita juara? Toh dengan pindah menjadi fans tim lain pun bisa. Langsung deh juara. Nanti akhir musim BPL, lihat siapa paling berpeluang menjadi juara. Langsung jadi pendukungnya. Juara BPL deh, habis itu bangga dong. Logikanya nggak bisa saya terima, bahkan oleh akal saya kalau lagi sakit, apalagi akal sehat saya.

Lalu, Liverpool kalah, ya saya sedih. Kok disebut, malu? Apa yang saya lakukan sehingga saya harus malu terhadap kekalahan mereka? Kalau gitu tinggal saya pindah mendukung tim yang mengalahkan Liverpool saja, akhirnya saya tidak jadi malu.

“You never win anything in your life, Loser!” Lho, kok mendukung tim yang sedang miskin gelar itu Loser? Aneh nggak sih. Mungkin saat ini Liverpool loser, terus pendukungnya Loser? Saya pernah masuk grup para pendukung Liverpool, isinya ada politisi, pengusaha, profesional di middle-up management. Loser kah? Lalu seseorang yang baru diputusin pacar, diselingkuhi dengan laki-laki yang lebih tajir, ditinggal kawin, dipecat dari pekerjaan, itu winner gara-gara dia dukung tim yang juara BPL? Tolong jelaskan logikanya pada saya.

Mungkin salah saya sih, saya mengganggap sepak bola hanya hiburan, belum menyatu dengan diri saya seutuhnya. Tapi melihat fenomena ini, saya jadi takut ah menyatu dengan sepak bola. Takut pola pikir saya rusak.

Nah ini orang sudah goblok sebelum jadi suporter bola atau jadi suporter bola akhirnya jadi punya pola pikir yang goblok. Atau memang sudah goblok, akhirnya jadi tambah goblok lagi.

Sammy Not A Slim Boy – penikmat bola sebagai hiburan.

Pertanyaannya: berapa jumlah kata goblok dalam artikel ini?

Advertisements

32 thoughts on “Ada Apa dengan Kita

  1. Gue ga tau harus mulai drimana, tpi overall tulisan bang sam masuk logika dan bisa dipertanggungjawabkan..gue kdang nyengir2 sendiri liat postingan2 fans2 club bola yg isinya diluar nalar kita sbgai manusia, terlalu bnyk kata “seandainya” bagi tim yg mereka dukung jika kalah, “seandainya ga ada krtu merah,psti mng”, “seandainya penalti itu msk, psti mng” dan sebaliknya kalo tim yg kita dkung mng, dgn entengnya muji2 pemain yg cetak goal, kiper yg melakukan saves, manajer/pelatih yg membuat keputusan jitu, dsb..gue emg fans fanatik dri club BPL, ga perlulh disebutin nama clubnya, toh ga ada hubungannya dgn tulisan bang sam..ya walaupun gue fans fanatik, gue ga tertarik sama sekali buat yg namanya ngejek2 fans club lain even itu dlam konteks ‘bercanda’, kalopun mrk yg dluan yg ngejek “ah payah masa bisa kalah” dsb gue cuma menanggapinya tanpa membalas, justru malah saya support balik club yg di dkung oleh tman2 saya..hanya membuang2 waktu saya buat ngejek tman2 saya.. Hahaha sorry bang kalo kepanjangan dan ‘mbulet’ :p

    Like

  2. Gue juga YNWA nih. Sering di ejek2 juga gegara Liverpool emang lagi bedebah banget. Tapi namanya suka, gak ngaruh juga sih di ejek-ejek gitu. Buat lucu-lucuan aja malah kadang jadi seru.

    Tapi kayaknya gue suka liverpool bukan karna bola nya, melainkan gara-gara The Beatles asalnya dari sono. Jadi kepatri aja gitu di kepala.

    Like

  3. Untuk dukungan kepada klub asing, saya kira itu oke.. cocok, bung.. tapi beda cerita kalo itu klub lokal (Indonesia),, ’emosinya’ lebih nyentuh karena orang2 sudah ngerasa klub itu sudah jadi bagian dari identitas dirinya,, kayak dikau yang dukung PSMS karena darah Batak .. hehee .. tapi tulisan ini keren, isinya cerdas kayak dikau ๐Ÿ˜‰

    Like

  4. dari zaman perang dunia kedua sudah begitu :mrgreen: … penonton olah raga menggunakan atlete/klub untuk memuaskan nafsu mereka untuk menjadi “pemenang” hanya dengan melihat saja ๐Ÿ˜† …

    Playstation dan winning eleven/EA sport tidak membantu juga mengurangi keberingasan para pencari “kemenangan” ini …. mungkin harus rajin olahraga supaya tahu apa itu sportifitas … jadi supporter doang mah gak sehat ….

    Like

  5. gw dukung liverpool pertama kali karena main FM 2008 squadnya keren keren, gw malah ga pernah tau kalo dulu udh punya titel juara. sampe akhirnya nobar sama bigreds bandung.. Fans sama timnya emang “Juara”

    menang senang kalah ya udh tenang, toh itu cuma seputar hiburan.. Karena haknya fans cuma sebatas itu buat gw pribadi. makanya suka heran sama orang yang ribut dan berantem cuma gara gara bola.

    setuju sama bang sammy malu itu haknya official

    Like

  6. Hahaha asik bacanya bang Sam, kadang dibikin serius dan tiba-tiba nyengir-nyengir. Saya juga suka Liverpool, dan jaman SMP dulu pas pola pemikiran masih “bocah” banget, saya malu bang kalau di ejek loser lah jamban lah. Tapi pas mulai SMA saya punya pola pemikiran kayak bang Sam ini. Bola itu cuma buat hiburan ๐Ÿ˜€

    Tapi kadang agak sebel juga sih kalau banyak yang ngejekin waktu kalah, hahahaha

    Like

  7. hahahhahahaha menghibur .luamayan mendidik. saya suka bgt sama Barca, dan goblok juga sih sebagai fans, tapi bang di situ seruuu nya berperang coment lewat twiter dll.maaf nieh sebelumnya Bang. logikanya sama kaya klo kita lagi jalan sama teman trus tiba tiba teman kita jatuh ke parit dengan posisi dan cara jatuh yang amazing banget hal pertama yg kita lakukan. klo saya dan teman teman sih bakalan ketawa ngakakkkk sepuasnya baru nolongin dan hal itu bakalan terus kita omongin sampe pas dia nikah. bisa jadi kaya gitu bang lagian menurut saya comet2 di twiter or sosmed ngomongin bola ampe berantem di sosmed adalah hal yg bagi saya sedikit wajar apalagi yg di ktainn teman sendiri, ada kebahagian tersendiri

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s