Anak-Anak Orde Baru

Ini adalah kisah nyata ketika saya bersekolah di sebuah SD di Bandung. Saya menulis dengan metoda ingatan. Tidak mewawancara kembali orang-orang ada pada cerita ini, sehingga ada kemunkinan detail percakapan tidak seperti ini.

Saya kemas dalam bentuk cerpen dengan beberapa informasi sejarah saat kejadian ini terjadi. Walau ini ditulis dengan metoda ingatan, ini adalah gambaran umum yang terjadi pada anak-anak sekolah saat itu.

 

 

Anak-anak, minggu depan kita tidak belajar di sekolah.”

“Ayikkk!! Libur ya, Bu?” Kata Diman, salah satu temanku.

“Bukan! Siapa yang bilang libur, kita tetap belajar tapi tidak di sekolah.”

Anak-anak dalam kelas termasuk aku saling berpandangan. Kami tidak mengerti apa yang dimaksud belajar tapi tidak di sekolah. Kami semua saling bertanya satu sama lain sehingga kondisi kelas cukup berisik.

“Diam anak-anak!!”

Semua terdiam.

“Begini, kita akan nonton film sama-sama di bioskop. Judulnya: Pengkhianatan G30S/PKI. Kita semua tetap kumpul di sekolah jam 07.00 dan bersama-sama jalan ke bioskop tempat kita akan menonton.”

Anak-anak riuh, senang rasanya bisa nonton ke bioskop bersama-sama.

“Coba dengar lagi, nanti akan ada surat untuk orang tua kalian. Kalian semua harus membayar Rp 300,00 saja, jangan lupa sampaikan ke orang tua kalian masing-masing.”

Demikian akhirnya kami semua menerima sebuah surat pengantar dari sekolah untuk disampaikan ke orang tua masing-masing.

*

Aku lahir di Bandung, 1976.

Tahun 1984 ada sebuah film yang menghebohkan di Indonesia, judulnya: Pengkhianatan G30S/PKI. Saat film itu diluncurkan aku masih duduk di kelas 3 SD di sebuah sekolah milik yayasan TNI-AD di Bandung.

Di sekolah, kami sudah mempelajari tentang sejarah perjuangan bangsa, jadi peluncuran film ini begitu menarik bagiku, ingin sekali aku menontonnya.

Sampai suatu saat wali kelasku mengumumkan bahwa ada acara nonton bareng film ini, tentunya aku dan teman-teman sekelasku menyambut  dengan antusias.

Dua hal yang menyenangkan, tidak perlu pergi ke sekolah, habis itu pergi bersama teman-teman ke bioskop.

Pagi itu kami semua sudah berkumpul di sekolah, pukul 07.00 sesuai dengan jadwal kami mulai berjalan menyusuri Jl. Jend. Gatot menuju Bioskop Citra di Jl. Karapitan, Bandung. Bioskop ini sudah tidak ada sekarang.

Jarak dari sekolahku ke bioskop itu cukup jauh, tapi karena kami berjalan bersama-sama dengan riang, membentuk barisan dua banjar, perjalanan sama sekali tidak terasa melelahkan. Mungkin rombongan kami jumlahnya sekitar tiga ratus orang. Kami dikawal oleh tentara bersenjata. Maklum kebanyakan kami anak-anak kolong dari anak pangkat rendah sampai anak jendral.

Sesampainya di bioskop kami langsung digiring menuju bangku kami masing-masing. Semua wali kelas terlihat sibuk mengatur murid-muridnya masing-masing. Termasuk Ibu Nunik wali kelas kami.

Sesuai dengan tempat yang ditunjukkan oleh Bu Nunik akhirnya aku duduk sebuah bangku. Di kiri kananku masing-masing ada teman-temanku, mereka adalah Diman dan Bowo.

Film belum juga dimulai, aku, Diman dan Bowo masih mengrobrol. Diman rupanya sudah tahu dari kakaknya yang sudah menonton terlebih dahulu. Dia bilang film ini lama dan menyeramkan. Dia bahkan sengaja menakut-nakuti anak-anak perempuan yang duduk di belakang bangku kami.

“Diman, duduk jangan begitu,” hardik Bu Nunik, “Itu filmnya sudah mau mulai kamu nonton yang benar jangan mengganggu yang lain.” Diman tidak tahu Bu Nunik ada di barisan belakang bersama murid-murid perempuan.

Diman segera duduk, karena memang film pun akan segera dimulai.

***

Film pun diputar, dimulai dengan pembakaran piringan hitam Michael Jackson. Aku tahu Michael Jackson, tapi aku sungguh tidak mengerti adegan ini, ingin bertanya pada Bu Nunik tapi posisi dia ada di bangku belakang bersama dengan teman-teman perempuan.

Di awal-awal film banyak cerita tentang sejarah yang terus terang membosankan bagiku, dan aku yakin teman-temanku juga pasti bosan dengannya. Film mulai menarik ketika ada latihan baris-berbaris tentara pemuda rakyat.

Saat layar menayangkan seorang tokoh jendral yang diperankan oleh aktor Amoroso Katamsi, dan ada subtitel yang bertuliskan “Mayjend Soeharto”, sontak seisi bioskop bertepuk tangan, termasuk aku, Diman dan Bowo.

“Wo itu Pak Harto, Wo lihat,” kataku pada Bowo.

“Iya memang aku nggak bisa baca. Tapi kok nggak mirip ya?” Kata Bowo sedikit kritis.

“Itu kan Pak Harto masih muda, ya begitu mungkin mukanya Wo,” kata Diman.

“Ssttt, jangan ngobrol.” Suara Bu Nunik dari bangku belakang.

Kami pun kembali menonton. Wajah D.N. Aidit ditampilkan di layar. Kami semua berteriak mencemooh tokoh ini.

“Ini dia penjahatnya,” kata Diman.

Aku dan Bowo tidak ikut berkomentar karena takut kena semprot lagi sama Bu Nunik yang ada tepat di belakang kami.

Demikian cerita dalam film terus mengalir. Setiap ada tokoh baik dalam film seperti Soeharto, Sarwo Edhie pasukan RPKAD kami selalu bersorak sambil bertepuk tangan. Sebaliknya, kami mencemooh, saat tokoh-tokoh antagonis seperti D.N. Aidit dan Letkol. Untung tampil di layar.

Saat adegan masuk ke peristiwa penculikan dan penyiksaan banyak teman-teman perempuan di belakang yang berteriak-teriak kecil.

“Tutup saja matanya, nanti kalau sudah lewat Ibu kasih tahu ya.” Terdengar suara Bu Nunik menenangkan mereka yang duduk di bangku belakang.

Yang mengharukan bagiku adalah adegan ketika Ade Irma Suryani tertembak dan ayahnya Jendral Nasution berhasil melepaskan diri karena ajudannya Tendean mengaku “Saya Nasution” kepada pasukan penculik, luar biasa, begitu heroik.

Jendral favoritku tetap Achmad Yani, yang begitu berani mengusir pasukan penculik. Walau akhirnya dia harus mati di rumahnya dan digotong dengan cara yang tidak sopan oleh pasukan penculik itu. Melihatnya kebencianku terhadap PKI memuncak.

Adegan yang menegangkan adalah saat pasukan tersebut menuju ke rumah M.T. Harjono. Dikisahkan pasukan penculik berhasil masuk secara paksa ke dalam rumah. Sang Jendral bersembunyi di kamarnya dan karena suasana gelap salah satu prajurit membakar kertas untuk menerangi kamar. Sang Jendral gugup mencoba meloloskan diri tapi segera diberondong oleh serentetan tembakan.

Yang paling horor adalah kisah Soeprapto. Dia sedang membuat desain sebuah musium di Jogja. Istrinya berkomentar desain yang dibuat oleh suaminya itu mirip dengan gambar kuburan. Ternyata itu sebuah firasat tentang ajalnya. Film sejarah yang kami tonton berubah menjadi film horor.

Puncak kebencianku terhadap PKI ada pada penangkapan D.I. Pandjaitan. Dia sudah berpakaian lengkap karena memang pasukan penculik mengatakan bahwa dia harus menghadap presiden segera. Di teras rumah Pandjaitan masih sempat berdoa di depan para pasukan penculik ini. Pasukan tidak sabar dan segera melepaskan serentetan tembakan ke arah Brigjend D.I. Pandjaitan.

Sang Jendral kemudian diseret oleh pasukan itu, dan seorang putrinya berlari ke arah genangan darah ayahnya, mengambilnya dengan tangan dan sambil menangis meraung-raung membasuhkan darah itu ke mukanya. Aku begitu larut dalam adegan itu, sehingga tanpa aku sadari aku meneteskan air mata ketika menyaksikannya.

“Kamu nangis?” Kata Diman mengagetkanku.

Kaget campur malu aku buru-buru menghapus air mataku. Sialan Si Diman orang lagi asyik nonton malah diganggu. Kami kembali fokus menonton film itu hingga selesai.

*

Hari-hari kemudian di sekolah berminggu-minggu kami dilingkupi sebuah euforia film ini. Seperti kebanyakan anak SD, saat istirahat sekolah kami selalu saja bermain di pekarangan sekolah. Mulai dari bermain kelereng, karet atau sekedar main kejar-kejaran.

Semua permainan kami lupakan, yang kami lakukan hanya mendiskusikan aksi kejam PKI dan hebatnya Soeharto dalam menumpas gerakan ini.

Paling banter kami main kejar-kejaran, biasanya kami memakai tokoh kucing dan tikus, atau penjahat dan polisi. Sejak menonton film ini, kami mengubah tokoh menjadi para Jendral dan pasukan PKI. Pihak yang dikejar memakai nama ketujuh pahlawan revolusi sedangkan pihak yang mengejar menggunakan nama Untung atau Aidit. Konyol, tapi itu lah yang kami lakukan saat itu.

*

Di rumah sudah seminggu lebih aku susah untuk tidur di malam hari. Rumah kami tidak besar tapi bapak membuat sekat-sekat dari tripleks untuk memisah kamarku dengan abang dan kakakku, kebetulan aku anak paling kecil. Setiap aku memejamkan mata aku selalu terbayang kekejaman yang terjadi dalam film itu. Saat aku dewasa aku baru sadar bahwa film ini sebenarnya bukan konsumsi anak seumuranku.

Suatu hari aku memutuskan untuk tidur dengan orang tuaku karena sudah hampir tengah malam tapi aku belum juga bisa tidur.

Bapakku anggota TNI, dia tidak suka anaknya jadi cengeng, harus mandiri katanya. Tapi malam itu aku nekat saja karena ketakutanku ini sudah sebegitu mengganggu.

“Pak.” Aku memanggil

“Iya, kenapa? Kok belum tidur? Sini masuk.”

“Pak, aku tidur sama Bapak ya?”

“Kenapa?”

“Takut Pak.”

“Takut apa? Kalau takut ya berdoa.”

“Sudah berdoa tapi tetap aja takut.”

“Ya sudah sini naik.”

Aku tidur diapit Bapak dan Ibuku.

“Takut apa sih?” Bapak ternyata penasaran.

“Takut PKI.”

“Hah! PKI sudah tidak ada.”

“Iya Pak, sejak acara nonton dari sekolah itu aku takut kalau Bapak diculik sama PKI.”

“Hahahaha,” bapak tertawa.

Aku heran mengapa bapak malah tertawa.

“Kenapa Bapak kok malah ketawa?”

“Tenang saja, Bapak ini cuman Peltu[1], tidak akan ada yang mau culik Bapak. Sudah sana tidur.”

Aku tidak mengerti apa yang bapak katakan saat itu, tapi beberapa hari kemudian aku masih tetap tidur satu ranjang dengan orang tuaku. Sampai akhirnya aku benar-benar berani tidur sendiri.


[1] Peltu. Pembantu Letnan Satu. Salah satu pangkat dalam militer di Indonesia yang masuk dalam golongan Bintara Tinggi. Satu tingkat di bawah Letnan  Dua.
Advertisements

4 thoughts on “Anak-Anak Orde Baru

  1. bukannya filmnya sadis yah? kok bisa-bisanya anak SD disuruh nonton film sadis di bioskop :mrgreen: … wah … masih sempet yah bang sammy nonton dengan 300 perak 😆 saya dulu SD disuruh nonton film perjuangan 17 agustus (gak inget apa judulnya, yg jelas kayaknya itu film jadul yg (sengaja) tayang kerjasama guru sama yg punya bioskop utk nyari lebihan :mrgreen: ) 3000 perak. inget dibekelin 5000, sisanya beli calpico sama chiki :mrgreen:

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s