Kalau Esemka Bisa Ngomong: Kenapa Harus Proton?

Hallo,

Sammy Not A Slim Boy di sini.

Ini adalah tulisan pertama kali di blog saya yang bukan ditulis oleh saya ataupun si samdputra. Ya kami memang bipolar. Kenapa saya akhirnya membuka blog saya untuk orang lain berkontribusi. Silakan baca tautan ini.

Tentu tulisan yang akhirnya di-post sudah melalui tahapan seleksi dan edit. Pemilihan topik tergantung dari concern kontributor, namun cara memandang pemasalahan sudah terlebih dulu didiskusikan dengan saya. Saya mengambil kontributor yang tentu seleranya sama, atau setidaknya hampir sama, dengan saya. Karena saya yakin orang membaca secara rutin blog manapun – termasuk blog ini – karena keunikan topik, atau pola pikir penulis, jadi saya coba pertahankan itu.

Saya membaca setiap detil kalimat sebelum di-publish ke blog. Bagian dalam tanda kurung dan diawali dengan (Red…) adalah tambahan dari saya.

Blog bukanlah kitab suci yang tidak bisa didebat, oleh karena itu ada fasilitas comment. Hampir semua artikel dalam blog ini adalah opini, tapi tentunya opini yang berdasar pada interpretasi dari informasi yang valid. Informasi yang sama bisa dicerna dengan cara yang berlainan, jadi silakan bila tidak setuju, bisa diam, bisa juga langsung memberikan comment di bawah tulisan ini, atau langsung ke ruangan khusus utk melakukan perdebatan (ilmiah maupun tidak) di blog ini yaitu: Ruang Berantem & Sotoy.

Kontributor bisa saja berpendapat lain dengan saya, jadi blog ini bukan hanya memfasilitasi orang-orang yang seide, tapi orang-orang yang kritis, punya argumen dan highly opinionated. Kebetulan dalam hal ini saya setuju dengan sang kontributor.

Selamat membaca.

Judul Asli: Kenapa Harus Proton

Beberapa waktu lalu ramai diberitakan mengenai penandatanganan MoU antara Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton untuk pengembangan mobil nasional. Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan oleh Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak di Kuala Lumpur. Penandatanganan itu tak mendatangkan banyak komentar dan mendapatkan perhatian masyarakat serta disinyalir penuh dengan kepentingan politik balas budi. Bahkan sejumlah tokoh pemerintah dan tokoh penting lainnya ikut mengomentari soal rencana Proton yang menjadi mitra dalam pengembangan mobil nasional. Yang mungkin menjadi pertanyaan adalah, kenapa harus Proton dan kenapa harus Adiperkasa Citra Lestari (ACL)?

Kenapa Harus Proton ?

Kita lihat bersama bahwa di jalan raya di Jakarta dan juga di Indonesia bertebaran mobil-mobil produksi produsen otomotif dari berbagai negara. Sebut saja, hampir semua merek dan tipe mobil ada di Indonesia. Dari yang harganya ratusan juta sampai miliaran rupiah. (Red. Dari yang kredit, sampai yang sudah lunas. Kebanyakan sih kredit)

Banyak yang sangsi dengan kualitas Proton. Pengamat transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia, Darmaningtyas, mengatakan bahwa Proton itu dijadikan taksi saja tidak laku apalagi dijadikan mobil nasional. Penolakan juga dilakukan oleh sejumlah politisi, diantaranya politikus Demokrat Ulil Abshar Abdala yang mempertanyakan dari sekian banyak partner potensial, kenapa Proton? dan kenapa Hendro (Red. pemilik ACL) ? Kenapa oh kenapa? Tau nggak, Proton sudah memiliki perwakilan di Indonesia, dan konyolnya ternyata Proton Indonesia malah belum mengetahui adanya kerjasama antara Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton Malaysia. Tentunya sekarang Proton Indonesia sudah tahu. Kan sudah di kasih tahu sama media.

Kenapa harus Adiperkasa Citra Lestari?

Pertanyaan yang kedua, ini yang pertanyaan yang lebih seru dari pertanyaan pertama. Kenapa harus ACL? Atau lebih tepatnya pertanyaan yang diajukan adalah kenapa harus Hendropriyono?

Selain ditanyakan oleh Ulil, Roy Suryo, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, juga mepertanyakan hal ini (Red. Kadang-Kadang doi bisa bener juga). Ia menilai bahwa Jokowi tidak menepati janjinya saat berkeinginan mengembangkan mobil karya anak bangsa, Esemka, sebagai mobil nasional. Ia mengatakan bahwa dulu Jokowi pernah mempunyai mimpi memiliki mobil nasional. Kok Esemka tidak diteruskan dan malah tiba-tiba bikin kesepakatan baru dengan Proton.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) juga bereaksi, kaget (Red. kayak baru denger petasan). Seorang sumber yang enggan namanya diberitakan mengatakan bahawa keberadaan ACL menjadi kasak kusuk panas beberapa hari ini. Sebagai pelaku industri otomotif, Gaikindo saja tidak pernah mendengar keberadaan perusahaan Hendropriyono ini, apalagi saya (Red. maksudnya penulis). Anda pernah mendengarnya?

Semakin jelas MoU ini bernuansa politis, disinyalir politik balas budi kepada Hendropriyono, karena telah memiliki peranan penting sebagai tim sukses dalam pemilu tahun 2014 kemarin. Sebegitu istimewakah, sampai-sampai penandatanganan MoU (baru MoU, belum kerjasama) dihadiri oleh kepala negara dari 2 negara itu. Apalagi ACL bukan BUMN?

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan, anak bangsa sebetulnya memilki potensi dan kemampuan intelektual yang sama dengan negara lain. Karenanya, ia yakin para anak bangsa juga mampu untuk membuat mobil nasional. Hanya saja, lanjutnya, hal tersebut tergantung dari political will pemerintah. Katanya kan lebih mudah buat mobil dari pada pesawat, membuat pesawat saja kita bisa kenapa buat mobil tidak bisa? (Red. Dulu kita buat pesawat, dan tidak laku, malah ditukar ketan. Harusnya bikin pertanian ketan saja. Itu proyeknya Habibie, itu yang filmnya laku. Tau gitu kan dari dulu bikin film saja, jangan bikin pesawat)

Dari dua pertanyaan di atas, pemilihan Proton nampaknya patut dipertimbangkan kembali. Indonesia merupakan pasar dari semua produsen otomotif. Jangankan Toyota, Ferari dan Lamborghini saja ada di Indonesia. Kenapa tidak kita memintakan semua produsen otomotif tersebut menyumbangkan pemikiran dan tenaga ahli untuk terlibat dalam pengembangan mobil nasional? Jangan hanya kita dijadikan sebagai tambang pengeruk keuntungan saja oleh para produsen mobil tersebut.

Terus, Esemka apa kabarnya ya? Padahal Esemka punya potensi yang sangat besar untuk menjadi mobil nasional. Kalau kita mulai dari Esemka kan kita tidak perlu memulainya dari nol besar. Tidak harus ke Malaysia. Kalau mau balas budi ya balas ke budi (bukan Budi Gunawan) saja langsung, tidak perlu ke Adi apa tadi namanya (Red. perkasa Cipta Lestari) ? Atau kalau susah-susah tunjuk saja BUMN yang ada untuk memproduksi mobil nasional.

Mungkin Esemka bisa dijadikan BUMN yang akan ditunjuk untuk membuat mobil nasional, setidaknya embrio.  Coba tuh suruh juga yang bisa bikin pesawat, suruh bikin mobil nasional. Dirgantara Indonesia misalnya, bisa ditunjuk untuk membentuk divisi khusus yang akan menangani mobil nasional. Atau kalau saran ini terlalu ngawur, kita bisa memalingkan mata kepada Pindad yang memiliki pengalaman memproduksi mobil tempur. Atau jika masih tidak memungkinkan pemerintah dapat membuat satu BUMN khusus tersendiri untuk memproduksi mobil nasional. Langkah ini memiliki berbagai keuntungan, termasuk diantaranya tentu saja membuka lapangan pekerjaan yang baru. Tidak harus Proton ! Tidak harus Adi.. (apa tadi namanya?)

Kontributor: Fakhrurroji (twitter @rojihasan WordPress Blog: fakhrurrojihasan.wordpress.com)

Penulis adalah seorang profesional di dunia perbankan yang profil lengkapnya bisa kamu temui di tautan LinkedIn ini.

Advertisements

7 thoughts on “Kalau Esemka Bisa Ngomong: Kenapa Harus Proton?

  1. Pernah denger kalau Proton itu pakai mesin (yang disebut-sebut produk gagal) buatan Inggris.
    Saya lebih tertarik di bagian Habibie nih. Tulis dong, bang. Apa bener pesawat Habibie gagal karena campur tangan IMF? Gimana pendapatnya?

    Like

  2. jujur td sempat skeptis setelah baca awal dari tulisan ini hah bukan bang Sammy yg nulis kayanya janggal deh uda mau skip tapi baca dulu aa siapa tau bagus, dan ternyata hasilnya sekalipun ngak terlalu memuaskan tapi cukup bagus untuk di baca apa lagi ada red nya yg di dalam kurung.
    Mobil Nasional klo saya ngak salah baca or dengar Bang sammy pernah mengatakan bahwa beberapa tahun kedepan bbm bakalan Habis, dan jalanan yang udah mulai sempit karna semuanya punya mobil. bukannya transportasi umum yang di perbaiki. dan megenai Habibi buat flim kerenn bgt comentnya sekalipun sedikit kena sih.

    Mobil esemka toh bahan dan peralatannya dri luar negri kan rakitanya doang di sini dan mengenai mesinnya yg katanya juga sebagian di buat sama esemka come on mereka lihat contoh di internet juga kali, kebayang ngak klo yang nemukan mobil listrik pertama minta hak apa gitu kya perlindungan konsumen gitu, kan ngak semua bisa gratis apalagi klo mau di buat kan or di produksi masal . ouhh hak paten maksud gua.
    kecuali mobil esemka ini semuanya buatan dalam negri klo itu mah bolehh bgt kan hak patennya punya Indonesia.

    ya mau bagaimana Indonesia bangsa yang besar banget , suku adat budaya dan agama merupakan hal yang tidak mudah untuk di persatukan dengan sistem pemerintahan kita yang di pusat hampir suku yang sama semua kan hehehehhe…
    tapi kembali lagi masih ada harapan di mana masih banyak warga Indonesia yang percaya bahwa Indonesia masih harus banyakk belajar dri pengalaman yang ada dan negara2 percontohhan yang tersedia/
    …and fuck politik dah …

    Like

    • Terimakasih Mas Carlos sudah mau tetap membaca tulisan ini. Terimakasih juga untuk pendapatnya. Mudah2an kedepannya tulisan saya berikutnya di blognya bang Sammy bisa lebih memuaskan.

      Saya setuju dengan pendapatnya Mas Carlos. Orang Indonesia banyak kok yang mampu menciptakan banyak hal, bukan cuma mobil nasional aja loh ya. Dan sayangnya, politik kita lebih dipergunakan untuk mendapatkan kekuasaan dan menggunakan kekuasaan itu untuk kepentingan segelintir golongan. Padahal kekuasaan itu amanah yang seharusnya dipergunakan untuk menciptakan hal-hal yang membawa dampak positif buat masyarakat. Dan pemilihan Proton ini sayangnya kemungkinan besar kurang membawa dampak yang positif.

      Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s