The Victim of “Too Much Information” Era

Hallo, Sammy Not A Slim Boy di sini.

Kali ini saya akan menampilkan lagi satu tulisan dari seorang kontributor blog saya. Ini adalah berita yang cukup lama, kejadian Oktober 2014. Tapi justru itu, blog ini bukan blog informasi, tapi blog yang menampilkan opini. Opini terhadap sebuah informasi yang lampau akan tetap terus bisa dinikmati kapanpun. Portal berita adu cepat menyajikan berita. Saya tidak yakin mereka semua punya wartawan atau kontributor resmi. Jangan-jangan hanya copy paste lalu ubah sedikit redaksi. Atau jangan-jangan tidak diubah sama sekali redaksinya, hanya mengubah font. Hahaha.

Saya pernah tulis tentang era informasi, ternyata bukan 100 persen kemajuan pemikiran manusia di era ini. Malah bisa dibilang era “Too Much Information, Dude”. Silakan didownload edisi ke-30 dari Male Magazine di male.detik.com.

Silakan membaca dulu artikel dari kontributor saya tentang berhentinya tabloid sepak bola Soccer. Di akhir artikel nanti saya akan bagikan kenangan saya tentang tabloid ini.

Judul asli: #SoccerPamit

Pada 01 Oktober 2014, akun twitter @duniaSOCCER mengajak para SoccerMania untuk memamerkan koleksi produk dari Tabloid SOCCER (selanjutnya disebut SOCCER) yang dikumpulkan lewat tagar #akudansoccer. Seketika lini masa riuh oleh para SoccerMania, sebutan untuk pembaca SOCCER, yang mengupload koleksi SOCCER mereka. Tak ada sedikit pun pikiran bahwa SOCCER, tabloid yang saya baca sejak SMP, akan berhenti beroperasi. Tetapi, seminggu kemudian, tepatnya kamis, 9 Oktober 2014 ternyata menjadi akhir dari 14 tahun perjalanan SOCCER menemani SoccerMania. Dan beberapa kicauan bertagar #akudansoccer tersebut dimuat dalam terbitan rerakhir mereka yang bertajuk #SOCCERPamit.

 

Nampaknya alasan klasik yang menjadi penyebab ‘tutup’ nya SOCCER. Teknologi, dalam hal ini media online yang sedikit banyak mulai merebut pasar dari media cetak. Setidaknya itu yang dituliskan Kang Jalu, salah satu punggawa Tabloid SOCCER, dalam blognya.

 

Banyak yang menyesalkan berhenti beredarnya tabloid ini. Itu terlihat dari berseliwerannya tagar #SOCCERpamit di Twitter, yang bahkan sempat menjadi trending topic Indonesia. Tagar yang mayoritas (karena ada ‘kaum’ minoritas berwujud bot-bot sialan yang numpang nimbrung) berisi rasa tak percaya, kesedihan, puja puji dari pembaca setia dan yang tak setia. Tak sedikit dari mereka yang menghidupkan kembali kenangan bersama tabloid yang pertama kali beredar tahun 2000 ini dengan mengupload entah itu tabloid terbitan lama, koleksi poster-poster yang menjadi bagian tak terpisahkan dari SOCCER, sticker yang terkadang hadir sebagai bonus, juga produk-produk terbitan SOCCER yang lain.

 

Tapi ada daya, nasi sudah menjadi bubur, palu sudah diketuk, Farhat Abbas terlanjur dibenci, keputusan tetap bahwa Tabloid SOCCER berhenti beredar. Kini tidak akan ada lagi editorial khas Asis Budhi Pramono, rubrik rising star yang setia berdampingan dengan playmaker, kolom pembaca yang kebanyakan jawabannya bisa dicari di Google, tak perlu menunggu balasan dari readaksi, rubrik SoccerKlopedia yang sarat info, Soccer Bloopers yang kocak dan rubrik-rubrik khas Soccer lainnya.

 

Ada beberapa pengalaman dan kenangan saya bersama tabloid ini. Manis maupun pahit. Seperti yang telah ditulis di atas, saya membaca tabloid ini dari SMP. Karena saya tinggal di kampung yang tak terjamah loper koran, kesempatan saya membeli tabloid ini adalah saat ada kesempatan ke kota. Bahkan tak jarang saya membeli tabloid ini dua edisi sekaligus, edisi terbaru dan edisi sebelumnya. Di fase ini, karena frekuensi pembelian saya masih jarang, belum ada nada protes yang keluar dari mulut kedua orang tua saya. Di fase ini juga kamar saya yang berukuran cukup kecil, mulai ‘dikotori’ dengan poster-poster dari SOCCER. Mulai dari poster Petr Cech yang belum ber-‘helm’, Joaquin Sanchez yang masih berbaju hijau putih Real Betis sampai poster Kosin Hathairattanakool saat berbaju Persib yang cetakannya sedikit blur.

 

Dengan parameter membeli tabloid ini tiap minggu, ‘predikat’ SoccerMania saya dapatkan saat memasuki masa SMA, dimana saya hijrah dari kampung ke kota. Gabungan antara tak ada kontrol orang tua dan penjual koran yang letaknya persis di sebrang sekolah, membuat hukum membeli tabloid SOCCER menjadi wajib walaupun dengan jatah uang saku yang terbatas. Di kamar kos yang ukurannya tak lebih besar dari kamar saya di kampung, kardus-kardus mie instan beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan tabloid-tabloid lama.

 

Saat ada waktu luang, tabloid-tabloid dalam kardus tersebut saya sortir, mana artikel yang akan ‘basi’, mana artikel yang temanya tak habis dimakan waktu. Nada-nada protes mulai muncul dari kedua orang tua saat mengetahui uang bulanan jatahnya dibagi dengan tumpukan koran. Apalagi saat SOCCER menerbitkan edisi khusus yang harganya di atas harga normal, sempat terpikir apakah pilih pangan atau koran. Namun seiring berjalannya waktu, mereka terbiasa dengan hobi anaknya.

 

Saat sudah bekerja dan menikah, kenangan saya bersama SOCCER semakin banyak. Tapi tetap, ada manis dan pahitnya juga. Yang paling diingat adalah saat keliling dari tukang koran yang satu ke tukang koran yang lain demi mencari edisi khusus Piala Dunia 2014. Wajar sih karena kita keliling hari Minggu, sedangkan SOCCER sudah mulai edar hari kamis. Hehehe… Pahitnya? Saat awal pernikahan, istri kaget bukan main saat pindah rumah saya membawa beberapa kardus mie instan yang isinya apalagi kalau bukan koran-koran bekas. Tapi kalau dipikir-pikir, semua pengalaman pahit tersebut, berasa manis kalau sekarang dikenang lagi.

 

Lalu, entah kebetulan atau memang disengaja, kedatangan dan kepergian SOCCER memegang teguh prinsip datang tampak muka, pergi tampak punggung. Datang pertama kali dengan label Hai Soccer, mereka memberikan bonus poster bergambar MUKA Alex Del Piero, lalu saat tiba waktunya pergi, mereka menghiasi cover depan dengan  PUNGGUNG Cristiano Ronaldo.

 

Terakhir, walau peluit telah dibunyikan, semoga hadir kembali ‘pertandingan’ yang tak kalah menarik nantinya.

 

Kontributor: Gangan Januar Nurfajar (twitter @gangan_januar) WordPress Blog: ganganjanuar.wordpress.com

Kepergian tabloid Soccer ini cukup menyedihkan buat saya. Di awal-awal tabloid ini muncul, saya menjadi pembeli rutin. April 2005 anak saya yang pertama, perempuan, Sharon, dilahirkan. Iya Sharon, sudah diberi nama sebelum dia lahir. Saat dalam kandungan pun kami sering berinteraksi dengan Sharon. Tak heran dia jadi sangat talkative hari ini. Beruntung, kalau ada saudara datang dan saya sibuk, dia mengambil alih fungsi untuk menemani tamu mengobrol. Keep up Sharon.

Ada kenangan tabloid Soccer dengan Sharon. Di hari persalinan Sharon – iya itu nama Yahudi memang – saya begitu gugup. Saya sudah menjadi profesional IT, saat itu bekerja untuk sebuah multinational Company. Berinteraksi, presentasi, ke orang-orang bule sampai Menteri pernah saya lakukan. Hari itu saya ditemani satu koran Indo Pos, dan satu tabloid Soccer. Ya, saya tidak pernah mau ketinggalan berita sejak dulu, belum menjadi comic pun. Dari malam sebelumnya kontraksi sudah terasa, maka kami segera pergi ke RS Bersalin terdekat. Tapi sampai jam 5 pagi belum juga mau keluar dari rahim ibunya itu si Sharon, betah banget. Saya membaca-baca terus bolak-balik  koran dan tabloid. Seorang yang begitu berpengalaman di dunia IT, tetap begitu gugup, karena hari itu status saya masih seorang suami, belum seorang ayah. Perubahan status ini membuat saya begitu gugup. Saya ingat ada liputan kemenangan Liverpool di tabloid Soccer. Itu pun tak mampu membuat saya tenang. Tabloid Soccer penuh dengan kenangan.

Sejak saat itu, bila melintas lapak koran dan ada tabloid Soccer, saya selalu ingat Sharon, yang sekarang sudah kelas 4 SD.

Mungkin tabloid ini harus pergi, karena update score sudah berseliweran setiap terjadi gol di twitter dan Facebook. Tabloid ini harus pergi, tapi kenangannya tidak. The victim of too much information era. 

Sammy Not A Slim Boy – sudah menjadi ayah 10 tahun (dan belum pinter juga…)

Advertisements

7 thoughts on “The Victim of “Too Much Information” Era

  1. saya memahami kesedihan mz sammy … saya juga sedih sekali ketika satu demi satu majalah dan tabloid kesayangan saya berhenti. mulai dari MUMU (masih ingat tabloid musik circa 2000 awal?) … terus yang terakhir INFOLINUX … 😥 … majalah yang dari pertengahan 2000 menemani saya mempelajari sistem operasi di luar windows. benar-benar membuka “jendela” :mrgreen: … setiap bulan saya seperti anak kecil menanti distro linux apa yg di bundle di DVD 9, bonus INFOLINUX….
    sekarang sih memang internet sudah kencan dan ganpang untuk donlot ISO linux dan dapat informasi/tutorial di internet secepat kilat. namun tetap saja pengalaman membuka majalah selembar demi selembar tidak akan bisa digantikan sensasinya dengan ipad/tablet 😦

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s