Seandainya Inspektur Vijay Jadi Kapolri

Hallo, Not A Slim Boy di sini.

Kontributor saya dengan nama pena Perspektif ini punya segudang data. Dia sering mendebat saya di http://www.notaslimboy.com/ruang-berantem-sotoy/

Sebenarnya di blog ini saya tuhan, tapi apadaya di sini boleh didebat. Itu makanya, kitab suci tidak diturunkan dalam bentuk digital apalagi ada fitur comments.

Saya suka tulisan ini. Hubungan film India dan pemilihan KAPOLRI yang tertunda-tunda. Kita sering underestimate sama film India. Kuch Kuch Hota Hai, ternyata lebih romantis dari Sleepless in Seattle. Three Idiots ternyata lebih lucu dan mengharukan dari Forest Gump. Dan terakhir PK jauh lebih blak-blakan dibanding Noah. Hollywood ternyata cupu.

Tapi apakah polisi India mampu jadi KAPOLRI?

Selamat membaca.

Apa yang akan terjadi seandainya Inspektur Vijay menjadi orang Indonesia? Pertanyaan itu tetiba saja hadir dalam benak saya. Inspektur Vijay, polisi dari India yang gagah berani dalam menegakkan keadilan dan melawan kebathilan mungkin saja akan membawa secercah harapan untuk penegakan hukum yang bermartabat. Tapi apakah Inspektur Vijay jika ia menjadi orang Indonesia sanggup mengatasi peliknya penegakan hukum di Indonesia. Mari kita telaah.

Karakter

Karakter adalah hal yang paling prinsipil yang wajib kita cermati dari seorang penegak hukum. Ia dikenal jujur dan memiliki integritas yang baik. Komitmennya terhadap penegakan kebenaran patut diacungi jempol disaat polisi-polisi lain bisa dibeli oleh Takur Singh, tuan tanah yang korup. Menarik untuk disimak, bagaimana seandainya Inspektur Vijay berbaur dengan oknum-oknum polisi di Indonesia. Selain itu sikapnya yang sederhana dimana harta berharganya paling-paling hanya pistol revolver dan mobil fiat. Tentu saja dari sini, barangkali dapat kita prediksi bahwa Inspektur Vijay kemungkinan besar tidak memiliki rekening gendut.

Kompetensi

Inspektur Vijay dikenal sangat jago berkelahi melawan para penjahat dan anak buah musuh bebuyutan Tuan Takur yang bau tanah itu. Kemampuan menggunakan pistol revolver tak diragukan lagi, keahliannya mengemudi dalam kejar mengejar dengan penjahat juga tak kalah dengan pembalap formula satu. Tapi inspektur Vijay tidak akan mengebut di jalanan dan ia sangat menaati peraturan lalu lintas, sehingga besar kemungkinan ia tidak akan ditilang dan karenanya tidak perlu berurusan dengan “salam damai” dengan oknum-oknum polisi. Tapi juga yang patut di kritisi adalah ruang lingkup pengalamannya dimana lingkup Inspektur Vijay adalah regional dengan musuh utamanya hanyalah Tuan Takur, seorang tuan tanah. Bayangkan jika ia disini, harus berhadapan dengan kepentingan-kepentingan politik yang penuh dengan benturan-benturan.

Yang juga menjadi pengganjal adalah kewarganegaraannya Inspektur Vijay. Coba bayangkan seandainya Inspektur Vijay ini di naturalisasi dan menjadi Warga Negara Indonesia. Apa yang akan terjadi? Besar kemungkinan rakyat Indonesia akan protes dan mempertanyakan “memangnya tidak ada polisi yang jujur di Indonesia? Sampai harus mencari ke India segala?”. Selain itu coba lihat adakah manfaat dari naturalisasi di Indonesia? Pemain tim nasional sepakbola Indonesia hasil naturalisasi saja tidak ada yang mampu membawakan prestasi. Atau tengok perusahaan asing yang di”naturalisasi” di Indonesia yang khususnya mengekploitasi sumber daya alam tanpa memberikan kontribusi yang signifikan kepada rakyat Indonesia.

Ataupun kalau bersikeras memaksakan Inspektur Vijay menjadi warga negara Indonesia atau apalagi jadi Kapolri, apakah ia mau? Bukankah ia cinta India. Tidak mungkin dia mau memiliki kewarganegaraan ganda. Barangkali pun ia akan berkomentar, ktp ganda di Indonesia saja jadi perkara, apalagi kewarganegaraan ganda. Kan tidak boleh di Indonesia.

Silakan klik icon dengan nama kontributor di atas judul untuk informasi detil kontributor.

Advertisements