Politik Itu Berat?

Hallo, Not A Slim Boy balik ke blog.

Senang sekali saya punya kontributor seperti Bung Perspektif ini. Dia bukan anonim, profilnya bisa anda lihat dengan jelas. Bedakan antara anonim dan nama pena. Not A Slim Boy bukan anonim, tapi nama pena atau lebih tepatnya stage name.

Kontributor saya ini terinspirasi menulis artikel ini karena dia membaca twit saya tentang ‘politik kok dianggap berat’. Dia tidak 100% setuju, atau lebih tepatnya memandang dari perspektif yang lain. Selamat membaca.

Tulisan ini terinspirasi dari tweetnya Bang Sammy yang menyampaikan bahwa politik itu sebenarnya ringan. Kenapa politik itu berat? Karena menurutnya itu adalah maunya politisi, supaya para politisi itu bisa seenaknya ke anak muda. Ia juga menyampaikan bahwa bila kita menganggap kalau berpolitik itu berat, maka itu artinya mereka (politisi) telah berhasil melakukan doktrinisasi kepada kita.

Jujur terus terang, saya adalah termasuk kedalam orang yang menganggap bahwa politik itu berat, atau setidaknya berpolitik itu yang berat. Sama seperti ilmu apapun di dunia ini, politik adalah ilmu yang bisa dipelajari. Yang susah itu kan pada implementasinya. Terlebih lagi contoh-contoh yang dipertontonkan oleh para politisi kepada kita, lebih banyak ngawurnya daripada benernya. Meskipun tidak semua, politikus yang akhirnya menjadi “tikus” dengan melakukan korupsi banyak sekali. Perang pendapat diantara para politikus yang berakhir ricuh, pun sering terjadi. Membanting meja di ruang sidang, juga pernah dilakukan oleh para politikus yang katanya mengaku menjadi wakil rakyat. Inikah wajah wakil rakyat kita?

Tidak cukup diruang sidang, perdebatan politik itu juga terjadi di media massa. Saling serang, jatuh menjatuhkan lumrah terjadi. Permainan “bola panas” yang terjadi saat pemilihan Kapolri, antara Kapolri vs KPK, lalu melebar kepada sejumlah politisi dari partai berlambang banteng yang ikut menambah api untuk “bola panas” yang sedang bergulir di kaki Presiden kita yang jadi ikut pusing, ini “bola panas” mau di tendang kemana? DPR yang tahu “bola panas”nya mau diarahkan ke dia, mendadak bikin semua orang mules dengan manuver yang tak terkira. Babaliyeut, seperti dalam benang kusut lalu mengkerut.

Terlalu banyak intrik, polemik, konflik dan keripik. Inikah wajah politik di Indonesia? Politik adalah alat untuk menggapai kekuasaan, dan kekuasaan itu seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia, untuk manusia, bukan untuk sekelompok orang saja. Bukankah juga seharusnya kesetiaan kepada parpol berakhir ketika terpilih oleh rakyat dan karenanya harus mengedepankan kesetiaan kepada rakyat.

Atau tengok juga seorang politikus yang menunjukkan inkompetensinya dengan mengatakan bahwa hak angket itu adalah hak bertanya. Sekedar informasi, kalau hak bertanya yang dimaksud oleh seorang politikus (yang mantan artis itu) adalah hak interpelasi. Barangkali kini kita benar-benar wajib cemas, tidak hanya cenderung korup, tetapi juga para wakil-wakil itu harus dipertanyakan kemampuannya. Inikah wajah wakil rakyat kita.

Apa sih di Indonesia yang tidak terkait politik? Memilih Kapolri saja erat kaitannya dengan benturan-benturan kepentingan politik. Apa iya, kita perlu merekrut polisi jujur bernama Inspektur Vijay dari India untuk menjadi Kapolri? Kenaikan harga bahan bakar minyak waktu itu juga katanya penuh dengan aspek politik juga. Pemilihan Proton menjadi mobil nasional juga katanya ada kepentingan politik balas budi. Semuanya selalu dikait-kaitkan dengan politik. Memangnya tidak ada hal-hal yang tidak terpengaruh oleh politik?

Dunia usaha pun terpengaruh oleh politik, karena kebijakan-kebijakan ngawur atau penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh oknum politisi. Krisis ekonomi tahun 1998 adalah salah satu bukti konkrit bahwa politik yang carut marut adalah resep mujarab untuk kehancuran ekonomi. Bagaimana para pelaku ekonomi di Indonesia mau bisa bersih kalau sering dipalak ketika mengurus perijinan, atau selalu diganggu intervensi politik.

Barangkali itulah sebabnya politik atau berpolitik menjadi berat. Sebabnya juga adalah biaya berpolitik di Indonesia kelewat mahal. Harus bikin baliho, spanduk, brosur, umbul-umbul, poster. Harus bayar orang buat ngurusin facebook, twitter, buat bikin video profile supaya bisa di taruh linknya di facebook, twitter dan mungkin juga youtube. Harus bayar artis, sewa panggung, sewa sound system supaya orang-orang berbondong-bondong datang menghadiri kampanye. Tak cuma itu, kadang harus memberikan uang sangu untuk warga masyarakat yang datang. Oh ya tak lupa amplop buat yang hadir meliput.

Semua itu kalau dihitung-hitung berapa modalnya? Kapan balik modalnya? Terus bagaimana cara di waktu yang tersisa (lama menjabat dikurang berapa tahun balik modalnya) supaya bisa mendapatkan modal buat kampanye untuk menjabat di periode berikutnya. Inikah wajah para wakil rakyat kita?

Jadi kesimpulannya, apa yang sudah di contohkan oleh para politisi kita, dan juga biaya berpolitik yang kelewat mahal yang membuat kebanyakan orang akan berkata, politik (atau berpolitik) itu berat. Banyak orang-orang berkompeten dibidangnya, akhirnya enggan berpolitik. Kebanyakan dari mereka akan berkata, dengan menjadi seorang politisi, maka separuh badan saya sudah ada di penjara. Benarkah seperti itu?

Politik itu jangan dianggap berat, tetapi juga jangan di anggap ringan. Seperti yang saya sudah sampaikan bahwa politik adalah alat untuk mencapai kekuasaan dan kekuasaan itu hendaknya dipergunakan untuk kepentingan bersama, maka dalam berpolitik ada tanggung jawab kepada rakyat dan juga Tuhan.

Tapi menyerahkah kita sama keadaan politik yang carut marut ini? Teruslah memberikan kritisi melalui kegiatan apapun yang bisa anda lakukan, melalui berbagai macam media yang anda miliki. Suara anda adalah suara rakyat, dan karena suara rakyat adalah suara Tuhan, maka suara anda adalah suara Tuhan juga.

Kontributor: Perspektif

Tanggapan saya. Saya setuju, politik itu berat dalam biaya untuk saat ini. Apa faktor dan sebabnya? Saya pernah menjadi panelis untuk membahas hal ini, bersama seorang Budiman Sudjatmiko, waktu itu penyelenggaranya Majalah Tempo. Dia menuturkan bahwa utk ‘manusia politik’ seperti dia, rupanya tidak mengeluarkan biaya banyak untuk tembus ke parlemen. Mari kita percaya statemen dia, walaupun politisi sukar sekali dipercaya. Ternyata bisa tembus senayan dengan biaya ‘murah’. Seharusnya Budiman Sudjatmiko menulis sebuah buku dengan judul populer, saya mau jadi ghostwriter dia. Usulan judul: “Kiat Masuk Parlemen dengan Biaya Murah Ala Budiman Sudjatmiko” .

Politik uang dan uang dalam berpolitik. Money politics dan cost of politics. Apa bedanya? Kalau saya lagi tidak malas, saya bahas dalam sebuah artikel. Tapi singkatnya, kenapa saya bilang politik itu mudah? Lebih baik pakai analogi. Membuat film, mahal, tapi apakah memahami film mahal juga?

Sammy Not A Slim Boy.

Advertisements

11 thoughts on “Politik Itu Berat?

  1. Oke,kalo perpektif saya politik itu kaya anak mau naik kelas tapi pakai sogokan ke guru untuk bisa naik kelas tapi enol prestasi,mau jadi anggota DPR hambur hamburkan uang segitu buat naikkan popularitas dia tapi belum tentu cerdas beneran.. banyak orang yg cerdas berpolitik tapi karena ngak ada dana dia bikin blog seperti ini :v

    Like

    • Apakah semua yang mengerti politik harus jadi politisi? Itu pertanyaan. Banyak orang seperti saya, mengambil jalur profesional biasa, lalu tetap mengkritisi. Berjalan di jalur profesi masing-masing, seperti tulisan saya soal Budiman dan Adian Napitupulu, itu sebuah kritik terhadap aktivisme yang luntur. Kenapa bisa luntur? Karena dasar aktivisme yang tidak jelas, dan tidak adanya skill di profesi tertentu. Silakan ubek-ubek blog ini, itu tulisan belum lamam. Terima kasih.

      Like

    • Motivasi orang menjadi politisi macem2. Ada dari jalur aktivitis – mau merubah keadaan – jadi politisi – kemudian ikut arus. Aktivis – mau merubah keadaan – jadi politisi – mau merubah keadaan – tidak ikut arus – dikerdilkan peranannya oleh politisi lain. Ada juga pengusaha, artis atau masyarakat biasa (silahkan bikin pola sendiri). Intinya tujuannya macem2. Ada yang demi kepentingan bisnis, ada yang mau tambah kaya, ada juga yang murni mau merubah keadaan jadi lebih baik (semoga yang model begini masih ada). Masalahnya, pasti banyak orang yang berkompeten tidak ikut jalur politik praktek. Pertanyaannya kenapa? Ya sudah kadung muak dengan dogma2 sebagaimana yang ada dalam tulisan ini. Tapi apa itu lantas bikin kita nyerah. Ini seperti melihat komentator bola mengomentari pemain bola. Belum tentu komentator bisa bermain bola sebagus pemain bola beneran. Itu betul. Tapi apa kita harus diem aja saat pemain bola itu bukannya memberikan prestasi, tapi malah ikut berperan menghancurkan timnya? Banyak peran yang bisa kita maksimalkan. Banyak jalan menuju roma.

      Like

  2. hehe .. kirain bung prespektif itu om wimar witoelar :mrgreen: ternyata bukan …

    saya juga baru tersadar karena omongan bang sammy tentang sebenarnya politik itu ringan … dan sepertinya kita yang membuat hal tersebut menjadi berat, prespektif masyarakat harus di ubah kembali …

    Like

    • Salam kenal gadgetboi.

      Betul saya setuju kalau politik itu ringan. Yang menjadi tidak ringan itu berpolitik. Seperti yang saya contohkan faktor-faktornya adalah perilaku para politisi yang lebih sering memberikan contoh negatif, biaya politik dan juga risiko yang dihadapi karena intrik politik, itulah yang membuat perspektif politik itu berat.

      Perlu edukasi yang terus menerus soal itu supaya masyarakat bisa melek politik.

      Like

  3. Menarik, tapi dapil mana dulu, berapa pengguna social media di dapil tersebut, berapa yang bakal dateng ke tps, susah memang jadi DPR, susah juga buat forecast perolehan suara meskipun sudah keluar uang banyak, yang paling mudah sebar orang pagi-pagi buat kasih DP 50rb ke calon pemilih tiap tps, pulang nyoblos lunasin 50rb, sisanya buat sogok KPPS, PPK dan KPU, biayanya bisa lebih murah malah bang :))

    Like

    • Pandangan ini sebenarnya secara umum dimana ada kecenderungan berpolitik itu harus mengeluarkan biaya. Biaya komunikasi politik mungkin masih bisa dipertanggungjawabkan. Tapi biaya “ngasi amplop” itulah yang membuat politik menjadi kotor. Ditambah lagi begitu murahnya warga kita menjual masa depannya hanya dengan amplop (paling berapa sih, 3 merah maks?). Yang harusnya ditonjolkan dalam politik itu kan aspek kebijakannya. Apakah kebijakannya pro rakyat atau tidak?

      Like

      • Ya saya setuju, ini bisa dibilang lingkaran setan, caleg baru menghadapi rasa tidak percaya masyarakat dengan janji, akibat caleg terdahulu yang sering ingkar janji, berat bagi caleg baru memberikan pengertian, jual program juga kadang masyarakat acuh saja, jadilah mereka maen uang. Menurut saya sih ini akibat kaderisasi yang buruk dari partai, multipartai alih alih menampung sebanyak mungkin aspirasi masyarakat, malah bikin politikus karbitan masuk partai. Asal bayar mahar dikit bisa nyalon, apalagi partai baru, kere, belum ada DPRnya, padahal gak punya kapabilitas dan elektabilitas. Yah begitulah om

        Like

  4. Analogi film tepat sekali bang, saya setuju ongkos politik yang mahal sekaligus gaji dan tunjangan yang terlalu besar jadi magnet bagi pedagang suara rakyat, kalo kata budiman biaya politiknya murah, mungkin, kalo dibandingkan rata-rata biaya yg dikeluarkan calon lain, tapi berapa? Kalo orang lain untuk jadi DPRRI bisa sampe 2-3 M, Budiman berapa? Kita asumsikan 500-700 juta, murah sekali ya, bisa balik modal cepat itu..hehehe

    Like

    • Waktu itu sih Budiman secara implisit saya simpulkan, maaf kalau simpulan saya salah, bahwa ongkos politik dia tidak ada untuk bagi-bagi uang. Tobas sendiri yang tidak lolos, kabarnya habis sekitar 500jt, itu hanya ongkos kampanye, tanpa bagi-bagi uang. Ah, sayang sekali uang segitu. Lebih baik untuk beli Ruko, bisa jualan deh.

      Tapi perlu dicoba, saya jadi calon legislatif 2019. Terus sama sekali gak keluar uang. Pakai twitter dan blog aja. Bisa lolos nggak hahaha.. kalau lolos, saya bikin buku. “How to become parliament member using social media.”

      Liked by 1 person

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s