Tentang Kehilangan

Dengan Kak Sammy Not A Slim Boy di sini.

Terbukti saya adalah orang yang mengakomodasi kepentingan orang yang tidak sependapat dengan saya. Kontributor Saya @gangan_januar ini ternyata seorang fans Chelsea, salah satu tim BPL yang saya benci. Tim pertama yang merusak persepakbolaan Inggris menjadi pusat kapitalisme sepak bola di dunia. Fans Chelsea selalu mengagung-agungkan Lampard, atau Terry, atau Mou. Huh, tidak ada pahlawan di Chelsea, selain Roman Abramovich. Keberhasilan Chelsea, ya setelah kepemilikan diambil alih olehnya.

Tulisan ini awalnya terlalu  panjang dan terlalu banyak data. Blog ini adalah blog opini, karena data dengan mudah kita bisa dapat dicari di google atau wikipedia. Jadi saya banyak ringkas. Ini masukan juga untuk pembaca yang ingin menjadi kontributor di blog saya. Tulisan tentang bola sah saja di blog ini, tapi tentunya bukan laporan pandangan mata, tapi opini yang lebih personal.

Komentar saya, seperti biasa diawali dengan (Red. ).

Selamat membaca.

7 Mei 2009

Kamis dinihari. Kopi dingin yang masih utuh, belum sempat diminum barang seteguk, juga TV 14 inchi merk Cina yang masih menyala dari sebelum saya ketiduran. Juga terdengar sekilas percakapan orang-orang yang nonton bareng di kamar sebrang.

Mungkin itu gambaran kecil yang masih saya ingat saat menyaksikan laga leg kedua semifinal Liga Champions musim 2008-2009 yang mempertemukan klub kesayangan saya, Chelsea yang berhadapan dengan Barcelona, yang menjadi klub idola istri saya, yang waktu itu belum saya kenal.

Sampai peluit akhir hampi bebunyi, Chelsea masih memimpin dan saya sangat percaya diri Chelsea akan mencapai final.

Namun Tuhan belum rela fans Chelsea terjerumus dalam kesombongan (Red. apa yang disombongin sih, orang kita juga tidak berperan, cuman nonton), juga tak rela untuk mempertemukan kembali dua tim Inggris di final. Mimpi untuk menjadi tim London pertama yang meraih trofi UCL (kemudian sombong pada fans Arsenal) pupus sudah (Red. Baguslah, dari pada sempat sombong untuk alasan yang nggak jelas). Ungkapan “banyak jalan menuju Roma (Olimpico)” memang benar adanya, tapi bagi Chelsesa nyatanya hanya sebuah jalan buntu. Bagaimana tidak, beberapa menit sebelum wasit meniup peluit panjang, saat Pep dan Hiddink sudah bersalaman, saat saya dan jutaan fans Chelsea siap berteriak FINAL!!, Iniesta mengubah rute final dari London – Roma menjadi Catalan – Roma dengan gol yang tak kalah cantik dari yang dibuat Essien di awal laga.

Kalau ada yang lebih wah dari ungkapan “bagai petir di siang bolong”, mungkin itu yang mewakili saya. Lebih terasa sakit saat seminggu kemudian, tabloid SOCCER yang saya beli berbonus poster Iniesta saat merayakan gol ke gawang Chelsea. Sakit. (Red. Untung waktu itu belum musim lagu, Sakitnya tuh di sini..)

(Red. silakan baca tulisan ini, Ada Apa dengan Kita, kenapa saya terlihat sedikit skeptis terhadap kesombongan terhadap klub kesayangan)

24 Januari 2015

Petir yang enam tahun lalu menyambar, datang kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat. Pukul 01.30, adik dari ibu mertua saya datang ke rumah dan mengabarkan ayah istri saya meninggal dunia. Saya menangis, sementara istri saya masih terdiam tak percaya. Tak percaya karena Maghribnya beliau, dengan segelas kopi hitam kesukaannya, masih mengasuh anak saya, cucu kesayangannya. Tak percaya karena pukul sembilan malam, istri saya masih menelpon beliau untuk komplain karena mesin cuci yang beliau perbaiki seminggu yang lalu, rusak lagi.

Semakin sedih saat kami tiba di kediaman beliau, memandangi sesosok yang kini terbujur kaku sambil mendengar kronologis yang diceritakan istrinya dengan terbata-bata. Pergi dengan mendadak (tanpa sakit) meninggalkan seorang istri yang menyediakan pelukan hangat saat beliau menghembuskan nafas terakhir, anak sulung, istri saya yang mau tak mau menjadi seorang ayah false nine, empat anak lainnya yang masih sangat butuh bimbingan layaknya pemain muda yang membutuhkan mentor dan cucu yang hanya tujuh bulan mendapat polesan. Bagi saya, kepergian beliau adalah akhir dari tempaan untuk menjadi suami yang kuat.

Selain keluarga, beliau juga melewatkan dua momen yang sangat penting dalam hidupnya. Satu Maret kemarin adalah tepat dimana beliau berusia 63 tahun. Sementara di akhir bulan Juni nanti, beliau di atas sana hanya akan menjadi penonton saat pesta ulang tahun cucu pertama. Cucu kesayangan.

Hari ini, 4 Maret 2015 peringatan 40 hari sejak beliau meninggalkan kami. Do’a yang setiap hari kami kirim, hari ini akan mengalir lebih deras. Yang tenang di sana yah.

Ah saya mulai nangis.

—-

Saya sama sekali tidak edit bagian kehilangan yang ke-2, karena ini benar-benar masalah personal. Semoga kesedihan @gangan_januar sudah berkurang, penghiburan selalu datang dari Tuhan, alam dan sahabat. Saya terpancing untuk menulis kisah-kisah hidup yang lebih personal karena tulisan ini. Terima kasih untuk kontributor saya, yang mengingatkan saya yang sudah kurang menulis hal yang sangat pribadi. Selalu tentang negeri dan pemerintahan negeri ini. Kecuali tulisan saya terakhir Kembali ke 98 yang begitu emosional.

Saya akan post cerita singkat saya di artikel lain.

Advertisements