Ketika Manusia Berperan Sebagai Tuhan

Hallo dengan Kak Not A Slim Boy.

Blog saya kian ramai, dengan kehadiran dua kontributor. Banyak yang melamar juga sih, tapi sepertinya modal asal-asalan males. Saya stay dengan dua kontributor dulu. Kecuali tiba-tiba ada penulis sekelas Saut Sitomorang atau Agus Noor yang tiba-tiba mau masuk jadi kontributor di sini, ah tapi mereka mana mau.

Senang punya kontributor yang produktif seperti Bung Perspektif. Membuat saya ingin terus menulis. Saya malu kalau tulisan dia lebih banyak (dan lebih bagus) dari saya. Selamat membaca.

By: Perspektif

Hukuman mati. Sebuah isu yang akan selalu menjadi perdebatan di seluruh dunia. Ketika rakyat Indonesia, yang terkena hukuman mati, kita marah dan menuntut pemerintah agar melakukan segenap upaya untuk bisa mencegah hukuman mati menjadi ya sekurang-kurangnya hukuman seumur hidup. Maka pun sebenarnya menjadi wajar ketika sejumlah pemerintah dari berbagai negara melakukan hal yang sama ketika pemerintah Indonesia memutuskan hukuman mati kepada para tersangka bali nine. Tapi pertanyaan yang paling hakiki adalah siapakah kita (manusia) dalam memutuskan hidup atau tidaknya seorang manusia lain?

Dengan segenap rasa simpati saya yang besar kepada para keluarga dan sahabat orang-orang yang akan mengalami hukuman mati dan juga segenap simpati saya yang lebih besar untuk para keluarga dan sahabat dari orang-orang yang meninggal karena menjadi korban narkoba, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menentukan benar atau salahnya hukuman mati itu diterapkan. Tapi lebih kepada membuka sejumlah perspektif dalam melihat hukuman mati ini, karena saya bukanlah pemerintah yang memiliki wewenang dalam memutuskan hukuman mati dan bukan Tuhan yang menentukan nyawa seorang manusia.

Kemanusiaan

Perspektif pertama yang dikedepankan saat memandang hukuman mati adalah tentu saja perspektif kemanusiaan. Hampir sebagian besar dari negara yang menerapkan hukuman mati akan dituding sebagai negara yang tidak berkeprimanusiaan. Tapi benarkah seperti itu adanya? Apalagi jika Tuhan dibawa-bawa kedalam urusan hukuman mati. Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang saja mau mengampuni seorang manusia yang penuh dengan dosa.

Agama

Tapi dosa apa dulu yang boleh diampuni. Apakah menjadi pengedar narkoba adalah sebuah dosa yang tak termaafkan (dalam konteks agama) sehingga harus dikenakan hukuman mati? Entahlah, saya bukan seorang pakar Agama. Secara awamnya dapat kita katakan begini, sejumlah agama memang mengijinkan hukuman mati tetapi tidak selalu menuntut adanya hukuman mati. Ada seorang pemuka agama yang mengatakan hukuman mati itu tidak menjadi masalah diterapkan, asalkan dilaksanakan guna menegakkan keadilan, bukan merupakan tindakan balas dendam. Hal ini perlu dilakukan sebagai efek jera agar orang lain tidak melakukan kesalahan yang sama.

Hukum dan Sosial

Agar orang lain tidak melakukan kesalahan yang sama ini dapat kita persepsikan sebagai hukuman mati dapat dilihat sebagai perspektif penegakan hukum. Penerapan hukuman mati untuk para terhukum ini dilakukan dengan mempertimbangkan dampak narkoba yang sangat membahayakan nyawa dan tatanan hidup masyarakat.

Saya sendiri sangat ngeri ketika membayangkan bagaimana putri saya, Khansa Tiara Althea akan bergaul di masa depan yang penuh dengan bahaya narkoba, pergaulan seks bebas dan berbagai ancaman kehidupan lainnya jika penegakan hukum terhadap penyakit sosial seperti penggunaan narkoba dan juga pengedaran narkoba tidak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di masa kini. Jika kita menegakkan hukum saat ini untuk para pembuat, pengedar dan pengguna narkoba di masa kini, barangkali kita bisa lebih tenang membayangkan masa depan yang (semoga) lebih aman untuk putra dan putri kita.

Hubungan Internasional

Perspektif lain yang patut juga dikedepankan adalah dampak politis dan hubungan internasional antara Indonesia dengan negara lain, khususnya negara-negara yang warganya dikenakan hukuman mati oleh pemerintah Indonesia. Banyak kita baca melalui pemberitaan di berbagai media mengenai ancaman sejumlah negara akan melakukan boikot terhadap pemerintah Indonesia. Bahkan sampai ada yang mengungkit bantuan kemanusiaan yang pernah diberikan kepada Indonesia. Tentu saja, pendapat semua manusia di negara manapun terbelah menjadi dua, setuju dan tidak setuju. Hal ini terjadi di Indonesia, juga terjadi di negara yang warganya dikenakan hukuman mati.

Yang saya khawatirkan bukanlah soal menyoal dampak kepada negara ini. Saya yakin dengan segala potensi yang dimilikinya, negeri ini akan mampu bertahan menghadapi boikot dari negara lain. Yang saya takutkan adalah bagaimana warga negara kita di negara lain. Jangan-jangan salah sedikit bisa di hukum mati sebagai bentuk praktik balas dendam kepada pemerintah Indonesia. Tapi mudah-mudahan kekhawatiran saya ini tak beralasan.

Setelah merenungi beberapa perspektif dalam bagaimana memandang hukuman mati ini pun, saya tak berani membayangkan diri saya berada dalam sudut pandang pemerintah, sudut pandang terhukum ataupun sudut pandang keluarga dan sahabat keluarga terhukum, apalagi sudut pandang mereka-mereka yang pernah kehilangan anggota keluarganya gara-gara narkoba.

Tak terbayangkan wajah dan raut muka mereka yang harus memikirkan negara ini demi tegaknya hukum tetapi juga harus berbenturan dengan prinsip hakiki paling mendasar yakni hak untuk hidup. Tak terbayangkan wajah para terhukum dan para keluarganya yang cemas, takut dan getir menanti detik-detik terakhir hidup mereka. Tak terbayangkan wajah para keluarga yang geram dengan narkoba karena anggota mereka meninggal karena narkoba, dan karenanya menuntut keadilan yang seadil-adilnya kepada para pelaku kejahatan di dunia narkoba. Tak terbayangkan juga nantinya bagaimana nasib putri saya menghadapi ancaman bahaya narkoba jika narkoba masih dibiarkan bebas peredarannya karena tidak adanya penegakan hukum.

Tak terbayangkan apa yang ada dalam benak para eksekutor nanti saat hendak menarik pelatuk.

Kontributor: Perspektif

Kembali ke Not A Slim Boy.

Saya lupa, novel apa yang pernah saya baca, tapi tentang eksekutor yang akhirnya jadi gila. Menurut saya, nyali pembunuh harus lebih besar dari yang dibunuh. Sebagai orang yang dibunuh, tinggal pasrah dan terpejam. Pembunuh harus menarik pelatuk.

Hukuman mati macam-macam. Untuk hukuman dengan cara tembak, yang saya baca, penembak ada beberapa orang, katakanlah 10. Hanya 2 penembak yang senjatanya berisi peluru tajam, sisanya peluru kosong. Jadi mereka tidak merasa bersalah saat selesai melakukan eksekusi. Ada hukuman dengan suntik mati. Di Amerika (beberapa negara bagian) hukuman dengan kursi listrik. Sebuah kisah mengharukan tentang ini ditulis oleh Stephen King, diangkat menjadi film dan diperankan oleh Tom Hanks, Green Mile. Di Malaysia, hukuman yang dipakai adalah hukuman gantung.

“Sayang, kamu seperti pemerintah Malaysia, suka gantung-gantung cinta aku..”

“Habis, kamu tidak seperti pemerintah Amerika sih, kamu nggak ada setrumnya lagi..”

Byeee…

Advertisements

3 thoughts on “Ketika Manusia Berperan Sebagai Tuhan

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s