Label “Selebtwit”

Ya kita sering sekali mendengar quote ini, “Don’t judge book by its cover.”

Di twitter beredar istilah selebtwit. Lalu konotasi terhadap golongan ini adalah orang-orang yang followernya banyak, banyak pun relatif, ukurannya berubah-ubah, seiring dengan inflasi jumlah follower twitter. Saya sampai ingat, ketika follower saya menyentuh 1000 saya kasih hadiah bagi-bagi buku. Sekarang follower 1000 bisa dibeli di kaskus, harganya murah sepertinya.

Follower penting kah? Tergantung sudut pandang dan cara kita menggunakan twitter, menurut saya. Bisa jadi penting, bisa jadi tidak. Kalau follower tersebut pengguna aktif twitter maka menjadi penting bila seseorang menggunakan media tersebut untuk promosi kegiatan mereka, bisnis ataupun sosial.

Saya pernah (bahkan sampai saat ini) dilabeli selebtwit, padahal kan saya seleb beneran #uhuk. Definisi selebtwit sepengetahuan saya adalah, orang-orang yang hanya terkenal di ranah twitter, lalu kalau pergi ke mall atau ke tempat umum, tidak ada yang kenal. Tapi follower twitternya, bejibun. Follower 90ribu itu lebih besar dari kapasitas stadion GBK dipikir-pikir. Follower Radit, lebih banyak dari jumlah penduduk Singapore. Tapi Radit sih seleb beneran, kalau saya sedang merangkak dari selebtwit menuju seleb beeneran, perlahan tapi (tidak) pasti. Ah saya sih seleb kulit, sama kayak Mas Butet.

Golongan selebtwit ini sering dicap, kerjaannya hanya buzzer, bikin puisi cinta picisan, twit gombal, twit lucu biar banyak di-RT, lalu tidak ngapa-ngapain selain itu. Hanya hidup untuk itu dan untuk itu hanya hidupnya. Pokoknya, ngetwit terus, dan nggak ngapa-ngapain.

Kalau aktivis, nah ini baru keren. Punya kepedulian pada bangsa, pada isu-isu terkini bangsa ini, memikirkan arah kemajuan bangsa, mantap. Selebtwit itu cupu. Aktivis baru keren, hesteknya juga keren #SaveKPK #SaveAhok #SavePLN #SavePDIP #SavePolri #SaveApaAjaNantiBisaDiisiSendiriTerserahMauEloEloPade.

Tapi mari kita kembali ke, don’t judge the book by its cover (bukan ke laptop).

Akun twitter saya sempat menulis dalam bio, “Pengamat hal nggak penting.” Itu memang benar, ini sindiran atau kenyataan. Nggak penting, kadang-kadang penting. Seolah penting, ternyata nggak penting-penting amat. Beberapa “selebtwit” follow saya. Karena mereka follow, ya saya folbek lah, saya kan alay. Nanti diunfollow kan sayang. Saya kan ingin nambah follower, biar bisa jualan kaos.

Beberapa yang follow saya itu, sering RT twit-twit galak saya. Nah, berarti kan punya kepedulian juga terhadap hal-hal yang saya galakin. Apa itu hal yang saya galakin, ya pokoknya saya galak. Tapi jangan khawatir, saya hanya galak di twitter, aslinya mah saya, lebih galak lagi…

Saya memantau, bisa dibilang stalker, stalker demi kebaikan. Kebaikan siapa? Kebagikan saya sendiri, ngapain ngurusin orang. Ini hasil stalking saya, terhadap kegiatan-kegiatan selebtwit, yang menurut saya pun mugkin masih banyak luput dari pengamatan saya. Saya kira hal-hal seperti ini tidak dikategorikan riya. Ini sebuah gerakan, untuk memicu yang lain. Mungkin saja yang tidak pernah menulis namanya dalam daftar kegiatan amal, memang mungkin tidak pernah beramal. Budaya philanthropy membuka nama dan jumlah sumbangan perlu ditelisik, apa itu riya atau transparansi? Semua kan tergantung sudut pandang. Jadi saya melakukan jurnaslime investigasi, seperti acara TV itu, hanya bukan terhadap bakso tikus atau bakso boraks. Ya dapat juga nih, lumayan. Siapa tau habis ini mau buat gerakan #SaveSelebTwit

Garage Sale Sinabung

Sebagai orang Batak Karo, saya mau berterima kasih secara khusus kepada orang-orang yang ada di dalam poster di bawah ini. Mereka bikin kegiatan garage sale untuk daerah nenek moyang saya, Karo. Bencana Sinabung yang panjang, membuat saudara-saudara saya kehilangan lahan garapan. Mereka bukan pengemis, petani, kehilangan lahan garapan, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Sudah menjual perhiasan mereka, akhirnya habis juga. Saya berterima kasih untuk gerakan sederhana di bawah ini:

garage-sale-adel

Ada @bentarabumi, @aMrazing, @__azza, @adelladellaide, @elwa_, @PerempuanThicka, @itsibarani_.

Saya lihat poster ini, saya ingat. Badan saya besar seperti gajah. Tapi, untung, elephant never forget. Terus saya ya tanya-tanya, dapat berapa sih garage sale, ke salah satu mereka yang saya kenal. Saya kaget euy. Sesuai semboyan kita di twitter aja lah, no pic hoax. Jadi mendingan saya kasih tau aja deh picturenya.

Screen Shot 2015-03-09 at 4.15.05 PM

Nggak usah saya tulis ya, kalau kurang gede gambarnya, silakan pakai kaca pembesar.

@AnjingGombal

Ini akun gombal-gombalan, followernya gelo banyak banget. Memang bangsa kita suka gombal ya, pemerintahnya aja gombal abis, janji melulu. Habis ini saya akan mengubah pendekatan twit saya jadi gombal, biar agak laku dan nambah follower.

Saya kesal sama akun ini. Saya sering kirim twit gombal saya ke mereka, nggak pernah dapat RT. Asssuuuu. Padahal gombal saya elegan. Sialan. Selera gombal saya lain dengan empat orang pelopor AnjingGombal: @rahneputri, @jonathanend, @tweesca, @luluiii. Sialan kalian.

Lalu mereka kumpulkan semua gombal-gombal itu dalam sebuah buku (yang jelas buku penuh dengan gombal lah). Saya juga pernah bicara dengan salah satu founder mereka @jonathanend (yang sempat mencoba jadi comic, tapi gagal), ternyata semua penjualan buku gombal mereka disumbangkan ke sebuah yayasan. Wuidihhh… Rahne bilang dapetnya lebih dari 16jt. Wuidihhh lagiiii.. #SaveAnjingGombal ahhh…

Angjin-Gombal-Buku-harga

Mari kita ngegombal habis ini, gombal bermanfaat coy. Padahal saya pernah twit seperti ini: “Ngapain ya saya beli buku kumpulan twit, kan cukup stalking..” Meep ye meep.. Follower mereka sekarang di atas 1 juta. Adminnya keroyokan bareng-bareng: @sepatumerah, @sugahpuff, @ijotoska, @dwikaputra. Ehhh, bagi password dong… Gua hack lo kalau enggak. Ada rencana dijual nggak? Mungkin Denny JA, mau beli mahal lho #uhuk

@LebahBooks

Ini gerakan juga nggak kalah pentingnya. Mereka kumpul-kumpulin buku, sambil kopdar, lalu kirim buku-buku ke daerah-daerah terpencil. Kata guru SD saya dulu, buku adalah gudang ilmu pengetahuan dan membaca adalah kuncinya. Itu kata guru SD saya lho, kalau nggak setuju, cari aja. Namanya Ibu Haryati. SD saya SD militer, hati-hati aja. Ya gerakan ini penting, buat apa punya kunci, gudangnya aja nggak punya.

Pelopor gerakan ini @sidhancrut, sepertinya pernah jadi MC di sebuah acara yang saya terlibat di dalamnya. Mereka kumpulkan buku-buku itu dan antar sendiri ke Pulau Seram. Nggak percaya? Googling aja. Dapetnya juga dari situ.

Lebahbooks-foto

Lebah-books-poster

Lebah-books-foto

Sekian jurnal investigasi petang ini. Sepertinya cukup segitu dulu deh. Takut ada yang tambah nggak enak gimana gitu lho…

– Not A Slim Journalist

Advertisements

14 thoughts on “Label “Selebtwit”

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s