Anjing

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Nuelandreas yang berjudul Anjing! Tulisan tersebut dengan gaya khas tersendiri mengomentari soal ricuh antara Gubernur DKI dengan DPRD saat melakulan mediasi mengenai APBD di Mendagri. Ricuh ini dimulai dari beda pendapat soal anggaran yang menurut pak Ahok ada anggaran siluman pengadaan USB, -maaf maksud saya UPS- sementara DPRD menekankan bahwa anggaran melalui e-budgeting tidak sesuai dengan pembahasan bersama dan karenanya Pak Ahok dinilai melanggar hukum.

Yang menjadi permasalahan tambahan adalah bumbunya. Pak Ahok dinilai kurang ajar oleh DPRD dalam caranya menyampaikan tuduhan. Sementara Pak Ahok menilai anggaran siluman itu melanggar etika. Yang satu bicara jeruk, yang satu bicara sayur asem. Jelas tidak akan nyambung sampai kapanpun. Coba kalau satu bicara jeruk dan yang satu bicara kelapa muda pasti Mendagri akan nikmat dalam melakukan mediasi. Ya sudah dibuat saja es kelapa jeruk. Gitu aja kok repot atau bukan urusan saya?

Bumbu itu konon kabarnya jadi semakin sedap ketika ada oknum anggota DPRD yang menyebut atau menghina Pak Ahok dengan sebutan anjing.

Kalau saya dibilang anjing oleh seseorang, terus terang saya bingung harus marah atau tidak marah. Marah kok ya sama saja mengakui saya itu sama dengan anjing. Tapi saya kan bukan anjing, jadi kenapa harus marah?  Saya memiliki 2 tangan dan 2 kaki, sehingga tidak bisa dipersamakan dengan anjing yang memiliki 4 kaki.Tapi kalau dibilang anjing saya diam saja, bukankah itu sama saja mengakui saya anjing. Ah lagi-lagi perspektif yang berbeda-beda kalau dituruti kedua-keduanya malah bikin saya galau.

Mamalia bernama anjing (canis familiaris) dan juga beberapa kawannya seperti monyet (macaca) dan babi (porcus atau sus) bernasib kurang baik karena sering dijadikan umpatan sebagai bentuk kekesalan kepada orang atau objek lainnya (bisa juga karena keadaan dan kegalauan). Mereka tak seberuntung seperti Singa, Elang, Garuda, Rajawali yang sering dipersepsikan dengan kegagahan. Tak heran Singa, Elang, Garuda dan Rajawali seringkali nampang di bendera negara ataupun menjadi lambang negara. Klub sepakbola juga banyak yang memakai binatang -binatang yang gagah itu sebagai logo klub. Memangnya ada negara atau klub sepakbola yang mau memakai logo anjing, babi atau monyet?

Yang cukup beruntung karena tidak separah anjing, tapi tetap saja mencemaskan adalah nasib si macan. Apalagi jika ditambahkan awalan aih dan akhiran bok. Macan yang garang tetiba saja langsung berubah menjadi “aih macan bok”.

Tapi tunggu dulu bukankah seorang pemimpin negara atau pemimpin suatu daerah juga bisa dikategorikan sebagai simbol suatu daerah ya? Jadi jika anda menghina seorang pemimpin daerah, maka dengan serta merta anda bisa dianggap menghina suatu daerah?

Terus terang, memang perdebatan yang berakhir dengan umpatan kata anjing itulah yang membuat saya pesimis, miris sembari teriris-iris melihat para perilaku politisi kita yang lagi -lagi mempertontonkan sebuah drama absurd ditengah-tengah masyarakat. Tapi, -tanpa bermaksud membela oknum DPRD yang mengumpat dengan kata anjing tersebut- sejak kapan kita menjadi orang suci? Ayolah akui secara jujur bahwa mungkin saja secara tidak sengaja anda pernah mengumpat dengan kata anjing. Jadi, marilah kita berhenti menggunakan anjing dan teman-temannya itu sebagai umpatan apalagi kepada sesama manusia.

Misalnya ketika kita disalip kendaraan lain di jalan raya, berhentilah mengumpat dengan dasar (maaf) anjing dan beralihlah dengan menggunakan kata dasar pengendara mobil tak tahu peraturan lalu lintas! Agak janggal sedikit absurd memang terdengarnya ditelinga kita, tapi yakinlah bahwa kalau sudah terbiasa pasti akan nyaman dalam mengucapkan atau mendengarnya.

Ada satu lagi yang membuat saya miris ketika ada wacana bahwa setiap parpol akan didanai sebanyak 1triliun setiap tahunnya. Bagi anda yang tidak mengetahui seberapa banyak 1 triliun itu maka 1 triliun itu bisa untuk :

50 buah lamborghini yang dimiliki oleh haji lulung

kalau seorang stand up comedian yang populer satu kali manggung perjam dibayar katakanlah 25 juta, maka dengan 1 triliun kita bisa menyaksikan 40 ribu jam penampilan seorang stand up comedian atau 40 ribu stand up comedian satu jam manggung bareng.

Cicilan sebesar 7-8 persen untuk pengembalian dana bantuan Australia saat bencana tsunami yang kabarnya mencapai 13 triliun (belum termasuk bunga, syarat dan ketentuan berlaku).

1.111.111 tabung LPG 3 kg yang katanya langka itu (berdasarkan harga resmi Rp 90.000) plus uang kembalian. Harga bisa berbeda per wilayah.

3.846.153 tabung LPG 12 kg yang katanya mau naik terus itu harganya (berdasarkan harga resmi Rp 260.000) juga plus uang kembalian. Harga bisa berbeda per wilayah.
Jika anda orang bogor maka anda bisa membeli 8,9 juta liter beras rojolele plus uang kembalian.

8.196.721 USB San Disk 16 giga di salah satu online shop (pas saya buka kebetulan lagi diskon 50%).

Jika anda tinggal di Jawa dan Bali maka anda bisa membeli 145 juta liter (dengan menambah beberapa ratus ribu lagi). kemudian jika anda menggunakan proton -yang katanya akan menjadi mobil nasional- katakanlah proton exora, maka anda bisa berpergian bolak balik Jakarta Bandung sebanyak 6,6 juta kali, belum termasuk biaya beli mobil dan biaya tol serta biaya makan, parkir dan beli oleh-oleh.

Luar biasa bukan apa yang bisa anda lakukan dengan uang 1 triliun (nol nya ada 12). Yang bikin kaget, terhenyak, terkejut, adalah usulan tersebut dilontarkan saat semua harga barang-barang lagi naik. Jadi antara oknum dprd yang mengumpat dengan kata anjing dengan wacana ini, mana yang lebih ……?

Advertisements

10 thoughts on “Anjing

  1. Hehehehe, tapi kalo 1T cuma dapet 1.111.111 kembaliannya kebanyakan, min. Kasih hitungan yang lebih banyak jumlahnya dari yg tabung 12Kg biar lebih enak dibacanya, hehehe

    Like

  2. Dengan 1T bisa dapat 1.111.111 tabung gas 3Kg berikut kembalian dan 1T bisa dapat lebih dari 3jt tabung gas 12Kg berikut kembalian, mohon jangan bodohi kami dengan hitungan.

    Like

    • Apa tuh kira2? Kerupuk? Berapa biji kerupuk yg bisa dibeli dengan duit 1 triliun? Hehehe. Sekedar ilustrasi kok ini. Cuma mau menggambarkan bahwa 1 triliun itu duit bukan daun.

      Like

      • Saya pernah tulis di blog Friendster hal serupa. Sialan tuh Friendster, tutup, blognya ikut ilang. Waktu itu saya sering naik KRL Jabodetabek, sekitar tahun 2004. Kembali bertugas di Jakarta. Banyak penumpang gelap di KRL, keluar stasiun dicegat oleh petugas. Ketahuan gak punya karcis, dipermalukan, disuruh push-up. Banyak di antaranya usia 40-an ke atas. Menurut saya tidak setimpal, mereka dipermalukan di depan publik. Mereka salah, tapi kok gitu amat ya aparat kita. Saat itu Akbar Tanjung baru saja menang saat Kasasi di MA. Pengadilan Negeri dan Tinggi memutuskan dia bersalah dalam kasus dana Bulog, lalu menang di Kasasi. Law is not justice.

        Like

  3. wuiiihhhh ! terliun bisa berapa banyak sekolah di pedalaman kaltim ama tanganin kerusakan lingkungan akaibat batubara oleh beberapa perusahaan, Terus pak ahok kasihan bgt tuh orang bwaannya kena apes melulu semenjak masuk jakarta, ada apa dengan pandangan positif saat ini ?

    Liked by 1 person

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s