Mie Instant

Saya suka sekali dengan mie goreng. Rasanya enak sekali. Membaca sejumlah pemberitaan beberapa waktu lalu, katanya mie goreng Indonesia itu salah satu mie terenak didunia. Terlepas dari benar tidaknya kabar itu, saya akan tetap suka dengan mie goreng. Lalu saya juga pernah membaca berita bahwa ada orang-orang yang meninggal dunia karena kebanyakan makan mie instant. Benar atau tidak, saya akan tetap memakan mie goreng kesukaan saya, namun memang jumlahnya saya batasi. Saya upayakan paling banyak 1 kali setiap minggunya. Paling banyak pun sekali makan mie 2 porsi. Itu pun karena mengikuti “instruksi” istri saya yang membatasi makan mie instant. Walaupun memang saya juga bingung, mie goreng itu sama sekali bukan mie yang di goreng, tetapi direbus. Paling nikmat makan mie goreng itu sembari menonton dvd (bukan dvd bajakan) Inspektur Vijay sedang mengendarai mobil proton.

Bagi saya mie goreng itu hanyalah makanan alternatif, bukan makanan pengganti. Artinya saya tetap makan nasi setiap harinya. Terkadang diselingi dengan roti. Saya patut bersyukur, bahwa saya tidak kekurangan makan sedikit pun. Pun begitu dulu waktu kuliah, saya tidak pernah harus memakan mie goreng karena kurang uang. Jadi saya membeli mie goreng karena ingin, bukan karena keterbatasan apapun. Sampai sekarang kita mendengar bahwa mie instant adalah makanan favorit anak kost atau anak rantau, karena katanya uang kiriman setiap bulan bisa diirit-irit. Benar atau tidak, atau apakah itu Cuma anekdot semata, saya bersyukur karena saya tidak pernah mengalaminya.

Barangkali ada benarnya juga kalau mie instant itu irit dari sisi biaya. Mie instant sebungkus cuma Rp2.000,-. Kalau katakanlah saya makan mie setiap hari, dan setiap hari saya makan tiga kali sehari, maka saya hanya membutuhkan Rp180.000,- untuk biaya makan. Jumlah itu tentu relatif lebih ringan daripada makan di warteg setiap harinya untuk anak kost.

Tapi sungguhlah aneh jika seorang menteri pertanian mengatakan bahwa konsumsi beras masyarakat menurun karena adanya pergeseran konsumsi karena masyarakat mengonsumsi bukan cuma beras, tetapi mie instant. Kalau saya pribadi, saya akan merasa malu. Penurunan konsumsi beras terjadi bukan karena adanya pergeseran konsumsi yang terjadi secara sengaja. Tetapi penurunan konsumsi beras terjadi karena penurunan daya beli masyarakat terhadap harga beras yang terus naik.

Saya hidup dengan dogma bahwa Indonesia adalah negara yang mampu mencapai swasembada pangan. Dulu ketika saya masih kecil, saya selalu diajarkan oleh guru-guru saya di sekolah adalah bahwa Indonesia itu negara pengekspor beras, bukan pengimpor beras seperti belakangan ini. Sawah-sawah bertebaran luas, setiap kali saya pergi jalan-jalan keluar kota bersama orang tua saya. Karena itu pernyataan menteri pertanian tersebut sungguhlah aneh.

Betul bahwa kita memerlukan alternatif panganan lain selain nasi. Di daerah lain pun ada panganan alternatif lain. Tapi bukan mie instant! Mie instant itu alternatif, cemilan kalau lagi iseng bukan kepengen makan mie. Bukan karena harga beras naik, kemudian karena keterbatasan ya akhirnya makan mie instant saja. Atau memang sudah kebanyakan mecin pak jadi tidak bisa memikirkan bagaimana caranya menyuapi ratusan juta penduduk Indonesia?

Advertisements

7 thoughts on “Mie Instant

  1. sejarah/ilmu sosial kita sekarang seperti iklan provider … tidak sesuai dengan kenyataan … :mrgreen: … Tapi saya tetap yakin kita akan bisa swasembada pangan kok … tapi ya itu … seperti halnya untuk memenangkan sebuah perang, akan ada korban … menolak impor, maka ya harga akan naik karena stok dalam negeri kurang …

    BTW, saya sama dengan mas perspektif, mie instan paling enak itu yah mie goreng indomie … sekarang semenjak mengenal ramen jepang yg seporsinya 50 kali lipat harga mie instan, makan mie kuah jadi tidak selera *sombong* 😆 .. karena ada orang bijak bilang “once you’ve taste good wine, cheap wine taste like cat piss” :mrgreen: … hal itu berlaku mulai dari kopi, teh, dll. You can’t go back eating cheap crap … tapi untuk mie goreng, entah kenapa beda 😀

    Like

    • nah itu tugasnya menteri dan orang-orang pinter buat memastikan supaya stok beras kita cukup buat ngasih makan perut ratusan juta orang Indonesia. Kebanyakan mecin kali dulu jadinya analisanya begitu.

      Mie goreng is the best. Apalagi kalo gratis. Hehehehe

      Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s