Dongeng Asburd Untuk Anak Cucu

Sewaktu kecil, barangkali kita sering mendengar cerita-cerita hebat tentang bagaimana negeri ini dibangun diatas perjuangan para pahlawan yang mengorbankan nyawanya demi memerdekakan Indonesia tanpa memikirkan imbal balas budi dari negeri ini. Kita juga sering mendengar cerita hebat mengenai ketegasan Presiden Soekarno yang menggetarkan dunia.

Saya tidak hidup di jaman perjuangan memperebutkan kemerdekaan ataupun pada masa pembangunan awal-awal setelah kemerdekaan. Satu hal yang pasti sejarah menceritakan kepada kita bahwa Indonesia mampu melewati masa-masa sulit pada masa itu, masa yang disebut sebagai Orde Lama. Awal-awal masa kehadiran saya didunia dimulai ketika Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soeharto, dalam sebuah perjalanan panjang bernama Orde Baru. Tentulah saya masih seorang anak kecil untuk bisa merasakan dampak kepemimpinan Presiden Soeharto. Barangkali inilah dongeng orang tua saya untuk saya.

Tapi pastinya, saya mensyukuri bahwa ketika saya masih menjadi anak kecil saya tidak pernah mengalami kekurangan, setidaknya untuk makan tiga kali sehari. Saya pun tidak merasakan apa yang disebut-sebut sebagai kepemimpinan yang otoriter dan represif.

Ketika saya beranjak remaja, atau tepatnya di tahun 1998, Indonesia mengalami pergulatan politik yang sangat hebat dimana terjadi kerusuhan massal yang diawali oleh krisis ekonomi sebelumnya. Pada masa ini pun saya relatif tidak mengalaminya, karena tempat tinggal saya relatif jauh dari pusat-pusat kerusuhan, walaupun memang saya merasakan juga nuansa yang mencekam pada saat itu. Saya hanya melihat di televisi, mahasiswa turun ke jalan, terjadi bentrok dengan aparat penegak hukum di Indonesia. Mungkin inilah awal “perjumpaan” saya dengan dampak politik dan kepemimpinan di Indonesia. Bukan dongeng, tapi saya hidup didalamnya.

Ketika saya mulai kuliah, persinggungan saya dengan dunia politik di Indonesia pun sebatas berita di televisi. Tapi saya mulai memperhatikan fakta bahwa memang politik di Indonesia sungguhlah banyak intrik, konflik dan menarik untuk ditonton sembari makan keripik. Presiden BJ Habibie yang memimpin Indonesia dalam waktu yang relatif sebentar tersebut hanyalah menjadi cuilan cerita sejarah kepemimpinan di Indonesia. Lebih menarik menyaksikan film Habibie & Ainun. Tapi faktanya adalah Presiden Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama yang dibuatkan film otobiografinya. Memang ada film G30SPKI yang menyisipkan pesan kehebatan Soeharto dalam membasmi pemberontakan G30SPKI. Namun film itu lebih menekankan kepada G30SPKI nya ketimbang sosok seorang Soeharto. Baru kemudian Presiden Soekarno mendapatkan kehormatan menjadi Presiden kedua yang dibuatkan film otobiografinya.

Saya baru mulai mengamini bahwa politik di Indonesia sungguhlah penuh intrik dan konflik pada saat pemilihan presiden. Kalau tidak salah Abdurrahman Wahid yang dikenal juga dengan sebutan Gus Dur dan Megawati yang bersaing memperebutkan kursi kepresidenan, lalu entah bagaimana caranya saya lupa, melalui berbagai macam jurus poros, ada poros tengah kalau tidak salah, akhirnya Gus Dur yang terpilih sebagai Presiden. Barangkali salah satu yang fenomenal dari Gus Dur yang akan selalu dikenang adalah fakta bahwa ialah Presiden RI yang kedua yang menerbitkan Dekrit, yang sayangnya malah melapangkan jalan Megawati menjadi RI 1 untuk melanjutkan sisa waktu kepemimpinan Gus Dur.

Dalam periode yang singkat selama 6 tahun, Indonesia mengalami masa kepemimpinan oleh 4 Presiden. Megawati adalah Presiden wanita yang pertama. Tapi barangkali ia bukan dikenang untuk aspek ini. Isu-isu penjualan asset negara kepada asing yang menyangkutpautkan dirinya masih terdengar kencang hingga saat ini.

Lalu kemudian datanglah era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang populer dengan sebutan SBY selama 2 periode kepemimpinan yang disebut sebagai Orde Reformasi. Terlepas dari segala kekurangan, harus diakui memang dalam 10 tahun kepemimpinannya praktis tidak ada pergolakan hebat. Betul, bahwa ada kenaikan harga-harga juga pada jaman ini, tapi akan selalu ada alasan-alasan yang masuk akal yang seringkali memang disebabkan oleh faktor eksternal. Selain sebagai kepala negara dan kepala pemerintahannya, kita juga mengetahui karya-karya seninya. Presiden SBY adalah Presiden RI pertama yang meluncurkan album musik.

Tapi entah kenapa kok sekarang rasanya semua menjadi lebih ngawur saat ini. Politik di Indonesia menjadi semakin carut marut. Contoh-contoh yang dipertontonkan jauh lebih ngawur. Atau memang dari dulu sudah ngawur tapi karena belum ada sosial media jadi politik belum jadi seheboh ini. Dulu jaman SBY ada juga bentrok Cicak VS Buaya, tapi kenapa kisruh Cicak Vs Buaya jilid 3 lebih heboh dan terasa lebih kuat terlihat dagelan politiknya. Atau barangkali karena sutradara jilid 3 ini berbeda dengan 2 jilid pendahulunya? Lagipula ini bagaimana produsen Cicak VS Buaya, kalau mau bikin trilogi yang konsisten dong.

Atau kebijakan-kebijakan yang sangat vulgar yang mempertontonkan kedekatan Pemerintah dengan kroni-kroninya yang membuat kita mempertanyakan objektivitas Pemerintah dalam membuat berbagai kebijakan. Salah satu contoh yang bisa di sorot adalah Mobil Proton.

Dulu pun ada kenaikan harga BBM, tapi disaat harga minyak dunia juga ikut naik. Lah ini harga BBM naik di saat harga minyak dunia turun. Kan tidak bisa dinilai sehat dalam akal yang sakit. Atau memang politik Indonesia sudah sakit dari dulu, cuma baru didiagnosa sekarang? Politik pencitraan yang dipelopori dari zaman SBY, semakin menemukan trendnya pada saat ini. Dimana sepertinya semua ingin tersorot kamera, semua latah blusukan. Pencitraan sepertinya benar-benar digunakan secara maksimal. Pencitraan untuk menjadi Presiden 2019?

Betul politik adalah ajang untuk merebut kekuasaan. Kekuasaan yang ingin didapatkan melalui pencitraan, kalau perlu tanpa hasil kerja yang nyata. Hasilnya malah terlihat seperti kebanyakan makan mecin ketika ada yang mengatakan bahwa turunnya konsumsi beras karena rakyat Indonesia banyak makan mie instant.

Kita jadi seperti ingin berteriak meronta-ronta menjawab IYA kepada mereka-mereka yang menggoda kita dengan ucapan PENAK JAMANKU THO. Jadi kalau ingin menilai kinerja seorang Presiden, cukup dengan melihat apakah nantinya setelah tidak menjabat, beredar meme Penak Jamanku Tho di sosial media.

Barangkali dongeng-dongeng jaman dahulu tentang Indonesia yang ramah tamah dan gotong royong yang sering diperdengarkan kepada kita adalah sebuah absurd belaka. Buktinya dari jaman dulu, (jaman kerajaan-kerajaan kuno) sesama kita memang sering berperang memperebutkan kekuasaan dan wilayah. Inikah dongeng absurd untuk anak cucu kita?

 

NB : Penulisan ASBURD pada judul bukan salah ketik. Disengaja karena sudah saking Absurdnya politik di Indonesia saat ini.

Advertisements

One thought on “Dongeng Asburd Untuk Anak Cucu

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s