Kita (Selalu) Tidak Ada Pilihan

Saya akan menulis berdasarkan sesuatu yang terjadi dalam rentang hidup saya. Sejarah yang saya rasakan, yang saya tangkap dari TV atau media cetak saat saya hidup. Ini terkait dengan pemimpin negeri ini. Sepertinya rakyat Indonesia selalu jadi bulan-bulanan pemimpin, lalu terjebak dalam buah simalakama, selalu dalam kondisi, “kita tidak ada pilihan.”

Pergantian Soekarno ke Soeharto, kita skip, karena saya lahir 1976. Saya belum lahir saat “suksesi” ini berlangsung.

Pasca reformasi, tentu sesuai UUD 45, karena Soeharto turun, maka Habibie (sebagai wapres) menggantikannya. Kita tidak ada pilihan, ya ngikut saja. Habibie pun jadi presiden. Salah satu tugasnya adalah menyelenggarakan pemilu dan  Sidang Istimewa 1999. Pemilu dan SI 1999 pun dilaksanakan. Laporan pertanggungjawaban Habibie tidak diterima. Presiden kala itu masih dipilih oleh MPR. Ketua MPR adalah Amien Rais. Kita (rakyat) tidak ada pilihan, hanya bisa menonton manuver Amien Rais. Memunculkan Gus Dur sebagai calon presiden, dengan semangat asal bukan Mega yang jadi Presiden. 2001 pun kita tidak punya pilihan, lagi-lagi kita harus melihat manuver Amien Rais Jilid 2, menjatuhkan Gus Dur dan memunculkan Mega sebagai presiden.

Tahun 2001 saat bursa wapres di MPR, muncul nama SBY. Figur Jendral santun yang harus kalah dalam voting di MPR namun terlanjur menyita perhatian publik. Publik jatuh cinta pada SBY. Cinta itu kemudian bersemi selama dua periode. 2004-2009 dan 2009-2014. SBY adalah presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia. Kita tidak ada pilihan, sipil gagal menerima kepercayaan publik dan malah saling menjatuhkan dalam manuver di MPR, akhirnya publik merindukan sosok militer (yang santun). Kita tidak ada pilihan.

2014, ini paling seru. Militer vs Sipil, head to head. Pasangan calon mengrucut menjadi dua saja. Jokowi 2008 masih walikota di Solo. Program percepatan dari walikota, gubernur menjadi presiden membuat sebagian orang ragu akan kapasitasnya. Namun di sisi lain lawannya punya track record yang buruk soal pelanggaran HAM dan penculikan aktivis. Di sisi lain, eh ada Jendral Hendro Priyono juga yang punya track record yang belum jelas juga soal pelanggaran HAM terkait kasus Munir, masuk jadi tim sukses Jokowi.

Jokowi melenggang ke Istana. Dengan carut-marut yang terjadi hari ini, akhirnya kita kembali hanya bisa berkata, “Kita tidak ada pilihan,” saat itu.

Advertisements

One thought on “Kita (Selalu) Tidak Ada Pilihan

  1. Nasib orang Indonesia … dalam segala hal kita akan mengalami dilema seperti ini … Angkutan umum jelek, dengan dalih (katanya) kalau mau nyaman harus punya kendaraan pribadi … mulailah era motor yang tidak memecahkan masalah …

    dalam masalah internet pun saya tidak punya pilihan … fastmedia gagal datang ke komplek saya, max3 sama innovate apa lagi … akhirnya mau engga mau telkom ..https://gadgetboi.wordpress.com/2015/03/31/review-indihome-telkom-di-rumah/ *halah! :mrgreen: pinter euy saya ngehubung-hubungin … *bilang aja mau nitip link*

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s